OVERTHINKING

1170 Kata
"Yang, Aku udah on the way ke kosan kamu ya ini. Usahakan udah siap ya kalau aku nyampe. Soalnya aku hari ini harus ketemu sama klien di Bekasi," ucap Pandu dari seberang panggilan telepon diantara keduanya. "Lah udah mau tugas lari luar kota lagi, Yang? Baru juga hari Jum'at kemaren kamu pulang dari Nusa Tenggara Barat. Ini masih pagi banget, Yang? Ehm, masih jam enam lebih sepuluh menit lho. Aku juga baru aja mau mandi. Kalau kamu memang nggak bisa nganterin ke kantor nggak papa kok. Toh aku juga bisa naik motor atau bareng Dandi kan," ucap Larissa dengan menatap ke arah jam dindingnya untuk mengetahui waktu saat ini. "Nggak papa, Yang. Aku soalnya juga harus ngambil berkas dulu di kantor. Sama mau laporan dulu ke Pak Dadang pagi ini. Udah gih kamu siap-siap aja. Aku jadi takut malah kalau kamu goncengan sama Dandi lagi terus kecelakaan kayak sebelumnya," ucap Pandu dengan santai dan tenang. "Seriusan deh, Yang! Aku tuh nggak harus di jemput lho. Eh, Omongan kamu kok jelek banget sih, Yang. Yang kemaren itu kan namanya musibah. Mana tahu juga dan mau kita jadi kena kejadian kecelakaan gitu. Nasib baiklah kita berdua nggak parah kejadian kecelakaannya dan memakan banyak korban, " ucap Larissa dengan mantap dan tegas. "Ya ampun, Yang. Aku seriusan ini mau jemput kamu. Kan aku udah bilang nggak masalah kalau aku jemput kamu dan emang kemauanku untuk ngantar ke kantor. Bukannya punya pikiran jelek lah, Yang. Tapi ya buat jaga-jaga aja. Toh juga kita nggak tahu kan Dandi pagi ini bisa jemput kamu apa nggak kan. Janganlah ngerepotin dia lagi, Yang. Ada aku lho ini sekarang. Mau dikata apa ntar sama orang-orang kantor kalau kita berangkat sendiri-sendiri. Apalagi kalau kamu berangkatnya bareng sama Dandi. Tambah-tambah sudah rumor yang nggak enak tentang hubungan kita nantinya," ucap Pandu dengan lembut dan runtut. "Ya udah deh. Aku ngikut kemauan kamu aja Yang. Pokoknya untuk hari ini nggak ada paksaan dari aku ya buat acara antar-jemput yang kepagian ini. Ya udah deh aku tutup dulu mau siap-siap. Nanti kamu kelamaan nungguinnya lagi kan. Yang ada malah telat semua kegiatan kamu hari ini," ucap Larissa mengiyakan tanpa mendebat karena menurutnya percuma saja dia menolak. Daripada perdebatan mereka malah membuat kacau semua kegiatan yang ada antara mereka berdua. Jadi ia memilih pasrah saja mengikuti apa yang diinginkan oleh calon suaminya tersebut. "Haha, Iya iya deh. Lucu banget kamu, Yang! Ya udah kamu siap-siap dulu aja. Nanti kalau udah sampai depan kos-kosan kamu aku telpon atau chat lagi ya," ucap Pandu dengan terkekeh. "Apaan sih kamu nih, Yang. Oke, Aku tunggu kamu. Nggak usah buru-buru nyetirnya ya! Hati-hati di jalan. Bye Sayang!" ucap Larissa dengan cepat dan langsung mematikan sambungan telepon diantara keduanya setelah mendapatkan jawaban penutup dari bakal calon suaminya tersebut. Kemudian ia bergegas untuk menyiapkan segala keperluannya untuk bekerja hari ini. Dering handphone Larissa berbunyi kembali saat ia sedang memoleskan make up pada wajahnya. 'Yang, Aku udah di depan kos-kosan kamu ya. Kamu masih lama nggak kira-kira? Kalau iya aku cari sarapan dulu gimana? Nasi uduk depan mau?' ucap Pandu dalam pesan chat w******p yang ia kirimkan kepada Larissa. "Haduh! Kenapa pula sih pagi ini jadi keburu-buru nggak karuan gini? Padahal kalau aku nggak ikut dia juga nggak bakalan telat ke kantor. Ini mah yang ada aku kepagian nyampai di kantornya pula," ucap Larissa dengan mengeluh sembari merapikan lagi bedak yang ia taburkan pada wajahnya. 'Wait, Yang! Baru dandan nih. Tujuh sampai sepuluh menit lagi deh aku selesai dan keluar, ' balas Larissa untuk pesan yang dikirimkan oleh kekasihnya tersebut. "Pagi banget ngantornya, Mbak" ucap Linda yang baru saja dari dapur bersama dengan segelas teh panas di tangannya. "Iya nih, hehe. Soalnya yang jemput mau ada acara ke Bekasi pagi ini. Jadi ya udah deh ngikutin jadwalnya dia, hehe. Aku duluan ya, Lin. Udah ditungguin di depan tuh," ucap Larissa sembari menunjuk ke arah depan. "Haha, Oalah udah dijemput sama Bapak Pandu ya, Mbak. Ya udah hati-hati di jalan ya, Mbak!" ucap Linda dengan terkekeh. "Pagi, Yang! Nggak usah buru-buru jalannya mah," sapa Pandu dari mobilnya dengan posisi bersandar pada pintu mobilnya saat Larissa tergopoh-gopoh berjalan menghampiri dirinya. "Ishh! Nanti kita malah telat lagi. Udah ayok kita berangkat. Biar kamu juga bisa sarapan kan, Yang!" ucap Larissa dengan mendesis dan membuka pagar kos-kosannya. Keadaan mobil menjadi hening saat Pandu mulai fokus dengan jalanan yang mereka lewati. Sedangkan Larissa menikmati lagu yang mengalun dari tape recorder mobil Pandu serta melihat-lihat sekelilingnya. "Aku minta tolong ambilin kacamata hitam di dashboard boleh, Yang?" tanya Pandu dengan tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka berdua. "Hmm, Kenapa pula pakai kacamata hitam, Yang? Silau kah?" balas Larissa dengan mengerutkan keningnya. Namun tetap membuka dashboard yang berada dihadapannya untuk mengambilkan kacamata hitam tersebut. "Iya nih, Kayaknya mataku lagi kurang sehat deh. Belakangan ini jadi cepat banget ngantuk dan pegal gitu. Liat layar handphone pun kalau lama-lama juga gampang capek sekarang," ucap Pandu dengan mengurut tungkai hidungnya. "Kamu kurang tidur deh kayaknya, Yang. Kamu coba aja besok periksa ke dokter mata. Biar lebih jelas gitu apa penyakitnya dan dapat obat juga deh," ucap Larissa sembari mencari wadah kacamata hitam yang dimaksud oleh Pandu. Selama mencari-cari wadah kacamata hitam itu, Ada satu barang yang membuatnya penasaran. Dia baru menemukan dan melihat barang tersebut kali ini. Yaitu pouch make up berwarna hitam transparan yang menjadikan Larissa tahu apa saja merk-merk dan macam-macam make up yang berada di dalam pouch hitam transparan tersebut. "Kacamatanya belum ketemu, Yang?" tanya Pandu sembari melirik ke arah Larissa. "O-oh ini udah ketemu kok," ucap Larissa dengan gagap sembari mengeluarkan wadah kacamata hitam transparan itu dan mengeluarkannya dari wadah agar Pandu bisa langsung menggunakannya. "Makasih Sayang!" ucap Pandu saat menerima uluran kacamata hitam tersebut dari Larissa dan mengenakannya. "Sama-sama, Mas. Ehm, Oh iya ini pouch make up nya Ana ya? Isinya lengkap banget macam-macamnya, haha" ucap Larissa sembari menunjuk pouch make up warna hitam transparan yang berada di dashboard yang belum ia tutup tersebut. "Hah? Pouch make up?" tanya Pandu dengan mengernyitkan keningnya saat melirik ke arah yang ditunjuk oleh Larissa. "Iya. Ini kan isinya make up semua, Yang" ucap Larissa dengan mengambil pouch make up hitam transparan itu untuk ditunjukkan kepada Pandu. "Oalah. Kayaknya itu punya Ana dia kelupaan nggak dibawa turun pas udah sampai rumah. Kemaren kita kesiangan mau sembahyang di Gereja. Jadi dia dandan di jalan, Yang" ucap Pandu dengan tenang dan menatap ke arah pouch hitam transparan tersebut. "Oh gitu, Udah nggak kepikiran kali ya," ucap Larissa dengan menganggukkan kepalanya dan mengembalikan kembali pouch tersebut ke dalam dashboard. "Biasalah. Kamu kan tahu sendiri Ana suka lupa taruh barang walaupun baru juga lima menit dia letakkan," ucap Pandu dengan mengusap dagunya. "Haha, Iya juga sih" balas Larissa mengiyakan perkataan Pandu. Tapi ada perasaan yang mengganjal pada hatinya. Entah mengapa ia ragu jika itu milik Ana. Karena ia hapal sekali apa saja merk peralatan make up adik perempuan dari Pandu tersebut. Secara yang mengajarinya Larissa ber make up pun juga Ana dan otomatis pula Larissa juga banyak membeli merk yang sama karena rekomendasi dari Ana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN