Revan Kupacuh mobil BMW Z4-ku membelah jalan protokol kota jakarta. Pikiranku benar-benar carut marut saat ini. Pikiranku melayang akan kejadian beberapa hari yang lalu. Raina benar-benar pantas di juluki wanita sinting saat ini. Dia benar-benar hebat menjebakku bersamanya dalam dosa tak terampuni. Entah setan apa yang merasuki saat itu, kenapa aku bodoh sekali mau bertemu denganya untuk makan malam bersama? Kenapa... kenapa aku bodoh sekali mau tidur bersamanya? Dimana akal sehatmu Revan? Apa seorang Nadia belum cukup untukmu? Gila kamu Revan! Tega sekali kamu mengkhianati istrimu yang begitu baik itu.. bersama saudaranya sendiri. Dimana hati nuranimu Revan? Handphonku berdering dengan kecang. Kurogoh kantung celana jeansku terlihat jelas nama

