Chapter 10 - Kenyataan Yang Menyakitkan

1836 Kata
Nadia Setelah melewatkan hari yang melelahkan karena mendengar ocehan Revan dengan dokter Aurel yang saling berdebat dan meledek satu sama lain, kami memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan, sembari mengemudikan mobil BMW Z4-nya Revan tak berhentinya mencium tanganku, benar-benar berbeda seperti biasanya aku tak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. “Mas,” Panggilku. “Apa, Sayang?” “Kenapa kamu aneh banget si hari ini?” tanyaku. Revan tersenyum sembari memamerkan dimpels andalanya itu. “Aku aneh karenamu.” “Karena a-.” “Bukan karenamu si juga si sebenarnya,”sela Revan, “Tapi, karena makhluk kecil yang ada di dalam perutmu itu.” Aku terdiam cukup lama. ku gigit bibir bagian bawahku. Entah apa yang harus aku katakan saat ini. Senang atau sedih. Hari yang membingungkan untukku. Ya, aku benar-benar tak percaya di dalam perut rataku ini mulai tumbuh sesosok makhluk yang akan membuatku kewalahan karena aku harus bulak-balik ke toilet. Sesosok makhluk yang akan memanggilku bunda.. “Apa kamu seneng, Mas?” “Bukan cuman seneng Nad,” sahut Revan, “Aku merasa hari ini adalah fase terindah hidupku. Ternyata setelah sekian lama aku berdoa dengan tuhan doaku di kabulkan juga.” “Mas....” “Terima kasih untuk kado ulang tahunku, Nadia,” sahut Revan. “Ulang tahun kamu kan masih sebulan lagi,” kataku. “Memang... tapi aku senang di kasih kado special di tahun ini sama kamu.” Revan tersenyum riang. “Kamu nggak mau sesu—” “Dengan adanya makhluk kecil yang tubuh di rahim kamu itu udah cukup jadi kado buat ulang tahunku,” sela Revan. Aku hanya dapat tersenyum. Akhirnya dia mulai berhenti bersikap manja. Biasanya setiap tahun pasti selalu minta kado yang aneh-aneh. Menyuruku menggunakan lingerie yang cukup seksi, menyuruku mengatakan aku mencintainya di depan orang umum, menyuruku membuatku kue dan itu bukan keahlianku. Terimakasi, Tuhan engkau sadarkan hati suamiku yang anek ini. “Mas Revan.” “Iya, Sayang?” “Gimana kalau aku jadi gendut dan nggak cantik lagi?” tanyaku ragu. Well, ini lah alasan kesekian aku tak ingin memiliki anak secepatnya. Aku akan menjadi gendut, bergelembir dan mungkin aku tak akan cantik lagi dimata Revan... dan... “Buat aku, kamu itu tetep cantik dalam keadaan apapun,” jawab Revan, “Walau nanti kamu gendut atau apa lah, untukku kamu tetap cantik.” “Gombal!” dengusku. “Lah tadi nanya kan?” Revan mengakat alisnya yang tebal itu, “Kamu nanya ya aku jawab dong. Kok kamu bilang gombal si?” “Pria itu kan raja gombal,” sindirku. “Dan aku nggak,” sahut Revan riang, “Apa yang aku katakana tentangmu itu semuanya jujur.” “Baiklah aku ngalah.” Aku mendesah kuat, “Mas, kita jalan-jalan yuk?” “Kemana?” “Kemana aja. Oh iya, aku mau minum Green Tea Ice blend masa. Terus, aku mau makan Ramyeon yang di panci gitu ala drama Korea,” kataku, “Ayo, kita beli!” Revan mengacak-ngacak rambutku. “Green Tea Ice blend? Bukanya kamu suka Iced Caramel Coffee Jelly Latte ya? Oh... Ceritanya lagi ngidam ni? Well, ayo kita beli deh. Dari pada anakku kenapa-kenapa nanti.” “Hu... kamu jadi sekarang akunya nggak di perhatiin ni?” ujarku pura-pura merajuk. “Ya pasti dong kamu tetep aku utamain.” Revan tersenyum jail denganku, “Kamu kan... segalanya wahai istriku yang paling cantik bak malaikat yang turun ke bumi.” “Rayuan gombalnya bisa aja.” ##### Dikta Hari yang emosional, mungkin sangat emosional untukku. Dimana setelah dua puluh tujuh tahun aku lahir dan hidup tanpa sosok ayahku, kini aku menemukanya. Kini aku bisa memeluknya. Dan ini... bukan mimpi lagi. Memang, aku membencinya tapi rasa rindu yang aku rasakan mengalahkan semuanya. “Ayah,” panggilku. “Iya Samir?” Sahut Ayah sembari terus memelukku. “Apa Ayah merindukanku?” “Aku sangat merindukanmu... maafkan aku... maaf aku pernah meninggalkanmu... dan Ibumu.” Aku merasakan tetesan air mata mengalir di pundakku. Ya tuhan... sepertinya aku salah selama ini membenci pria ini. Ternyata dia tak seburuk apa yang aku pikirkan selama ini. “Aku sudah memaafkanmu, bahkan sejak 26 tahun ayah meninggalkan aku dan Ibu.” sahutku. Ayah melepaskan pelukkanya. Terlihat kedua matanya nampak memerah karena ia menangis. Aku berusaha keras untuk tidak menangis saat ini tapi ternyata usahaku gagal. Kedua mataku mulai terasa perih. “Dimana ibumu?” tanya Ayah. “Ibu... Ibu... Ibu... sudah meninggal sebulan yang lalu,” kataku dengan suara parau. Ayah kembali mendekapku lagi di peluknya. Pelukanya benar-benar hangat. Ya tuhan... aku... aku... “Samir...” “Ibu udah nggak ada, Yah. Ibu udah pergi. Pergi selama-lamanya.” Dan tangisanku pecah seketika. “Ya tuhan... terkutuklah aku selama ini. Samir, maafkan Ayah... maafkan Ayah selama ini meninggalkanmu dan ibumu.” “Ayah....” “Samir,” panggil Ayah, “Ayah janji Ayah nggak akan ningalin kamu lagi. Ayah akan berusaha jadi Ayah yang baik untukmu. Kamu mau kan, kamu mengajarkan Ayah tentang itu?” Aku mengangguk. “Iya Ayah...” #### Revan Aku memarkir mobilku di depan coffee shop. Dengan cepat aku turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nadia. Terlihat Nadia sangat senang dengan sikapku ini. Mungkin aku terkesan cuek denganya sesekali tapi sekarang aku rasa tidak. Aku akan berusaha memperhatikanya lebih. Aku teringat kejadian sebulan yang lalu, dimana aku terpaksa berbohong... mengatakan istriku hamil di hadapan Raina demi membuatnya berhenti mengejarku. Apa aku salah berbohong? Semuanya ku lakukan demi menyelamatkan pernikahanku sendiri. Tapi sekarang... Nadia benar-benar hamil dan aku benar-benar tak percaya dengan semua hal yang terjadi saat ini. “Ayo sini aku bantuin kamu turun.” aku mengulurkan tanganku. “Tumben banget kamu!” sindir Nadia. “Tumben kenapa?” “Biasanya cuek banget,” cibir Nadia, “Sekarang, tumben banget nggak.” Aku membantu Nadia turun dari mobil. “Semua orang bisa berubah kan? Sekarang aku mau jadi suami yang romantis mengalahkan keromantisan antara Brad Pitt sama Angelina Jolie.” “Romantis atau gombal?” goda Nadia. “Romantis lah, Nad,” sahutku, “Mau bukti?” “Apa?” Aku memeluk pinggang ramping Nadia dengan erat. Kini kami saling bertatapan satu sama lain. Kedua mata cokelat tua milik Nadia menatapku sangat dalam. Seperti biasa aku tergoda denganya ya tergoda untuk mengecup bibir tipisnya itu. “Ini buktinya.” Sejenak aku mengecup bibir tipis Nadia. Terlihat kedua mata cokelat tua Nadia terbelanga karena dia sangat kaget. “Mas!” erang Nadia setelah aku mengecup bibirnya. “Pipi kamu merah banget, Kurcaci” ledekku. Nadia meninju lenganku. “Kamu mah selalu aja begitu. Curi-curi kesempatan aja!” ####### Raina Kupandangi Latteku yang mulai dingin dengan tatapan tak berselerah. Rasanya hari ini aku ingin menghubungi Revan hanya sekedar mengajaknya mengobrol, tapi jika aku mengingat kejadian sebualnya yang lalu dimana harga diriku di injak-injak denganya. Suasana coffee shop hari ini cukup sepi. Mungkin hari ini karena sehabis hujan sehingga orang engan beranjak dari kantor atau dari rumah. Tiba-tiba, kedua mataku menangkap pemandangan yang membuatku ingin mengutuk hari ini lebih dari apa pun. Dari kejauhan, aku melihat Nadia si wanita sialan yang selalu merebut kebahagiaanku itu masuk kedalam coffee shop. Kali ini dia tidak sendiri tapi di temani oleh seorang pria. Dan tahu kah? siapa pria itu pria itu Revan. Perasaan kesal, kecewa, dan marah menyelimuti diriku saat ini. Rasanya aku ingin berdiri di hadapanya lalu menampar pipi putih bah mayatnya. Aku benci dia. iya aku benar-benar benci dia! kenapa dia harus ada di hidupku? Kenapa dia selalu merebut kebahagiaanku? Sudah cukupkah dia memberi tamparan keras untuk hidupku delapan tahun lalu? Dan sekarang apa lagi? Kenapa dia harus merebut pria yang aku cintai seumur hidupku kenapa?! “Kak Raina!” seru Nadia saat ia melihatku. Aku melemparkan senyum cangung. “Oh, hey Nad!” Nadia dan Revan menghampir mejaku yang kosong. Terlihat di kedua tangan Nadia memengan dua gelas Green Tea Blend. Wajahnya begitu ceria, mungkin sangat ceria berbeda dengan raut wajahnya saat terakhir aku menemuinya enam tahun yang lalu setelah kematian Om Stefan yang aneh itu. “Tumben mampir ke coffee shop di daerah sini?” tanyaku cangung, “Bukan kah ini jauh dari tempat kerjamu?” Revan membantu Nadia untuk duduk di kursi yang kosong dihadapanku, setelah itu ia menarik kursi lain yang berada disamping Nadia. Kini kami saling berhadapan satu sama lain. Terlihat wajah Revan begitu salah tingkah saat kami berdua beradu pandang. “Aku habis dari dokter kandungan,” sahut Nadia, “Terus, mampir deh kesini.” “Kandungan?” Jadi benar-benar apa yang di katakan Revan sebulan yang lalu? “Iya, aku periksa kandungan Kak.” Nadia tersenyum riang denganku. Aku hanya dapat menahan semua amarah yang menyelimuti diriku saat ini. Aku benci kamu Annnadia Septiva Rahardhian aku benci kamu! Ya tuhan ingin aku membunuh wanita jalang yang ada di hadapanku ini. “Udah berapa bulan?” tanyaku sok perhantian. “Baru sebulan-an lah, Kak,” sahut Nadia, “Kak Rai, nggak kerja?” “Masih jam istirahat, Nad,” elakku, “Bosen ah, di kantor terus. Mending ngopi-ngopi cantik dulu deh disini.” “Kak Rai, apa kabar?” Nadia mulai mengalihan pembicaraanya. “Selalu baik, kamu?” “Baik. kak Rai udah tinggal di Indonesia, kok nggak pernah mampir ke rumah sakit tempat aku kerja si? Aku kangen sama kak Rai!” dumal Nadia. “Aku sibuk,” kataku bohong. “Kak Rai, suaminya apa kabar? Aku belum pernah kenalan sama Mas Dio ni. Kapan kita bisa ketemuan?” Aku tersenyum miris. Suamiku? Dio? Perduli apa wanita sialan ini dengan Dio? “Baik. Ya, aku sama Dio lagi sibuk sibuknya sekarang, Nad.” “Oh iya!” tuas Nadia, “Kak Rai, aku lupa dari dulu kepengen banget kenalin suamiku sama Kakak. Ini suamiku yang sering aku ceritain sama Kakak. Mas Revan, ini kakak sepupuku yang lulusan dari Jerman.” “Revan.” Revan mengulurkan tanganya denganku. “Raina.” Aku membalas uluran tangan Revan. Sianya, Revan langsung menarik tanganya saat berjabat tangan denganku. Apa si yang ada di dalam pikiranya saat ini? “Ganteng juga ya, Suamimu,” sindiriku. Harusnya aku yang menjadi istrimu... Revan Agustaf Putra Dharmawan, bukan wanita jalang ini. Sampai kapanpun aku tak pernah mengkhilaskan sesuatu yag harusnya menjadi milikku kamu rebut, Annadia. “Iya ganteng, kan mantan playboy!” cibir Nadia. “Kurcaci!” dengus Revan kesal. “Aku bukan playboy tau!” “Tapi, Elena sama Dokter Aurel bilang kamu playboy,” sahut Nadia dengan nada meledek. Revan mendekap tubuh mungil Nadia lalu ia menjitak lembut kepala Nadia. “Bandel ya kamu, Sayang. Udah dibilang jangan dengerin kata mereka.” Aku hanya membeku melihat tingkah mereka berdua. Dadaku benar-benar sangat nyeri saat ini menyaksikan sebuah pemandangan yang menyakitkan. Lebih dari saat aku di tolak universitas yang terbaik di negeri ini atau dipakas ibu pergi ke Jerman. “Aw! Sakit tau, Mas!” ringis Nadia. Revan mengecup puncak kepala Nadia dengan Lembut “Maaf ya, Sayang.” Aku mengepakan kedua tanganku dengan kuat. Menyebalkan! Awas kamu Nadia, akan ku buat hidupmu berantakan setelah ini! Lihat saja aku akan merebut apa yang harusnya menjadi milkku! *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN