Nadia
Revan membawaku ke sebuah rumah sakit ibu dan anak. Ya ya ya, hari ini aku pergi ke dokter, dokter kandungan lebih tepatnya hanya memastikan hasil testpack itu apa salah atau tidak. Aku harap, hasilnya 100% salah. Dan hari ini aku terpaksa cuti lagi karena aku harus pergi ke dokter kandungan.
Mendengar aku cuti karena untuk pergi ke dokter kandungan dokter Satya nampak shock. Ia tak percaya bahwa aku ini sudah menikah yang parahnya lagi Revan dengan santainya mengatakan dengan dokter Satya aku ini istrinya dasar bodoh dia benar-benar mengali kuburannya sendiri! Kebohongan yang selama empat tahun kami ciptakan terasa sia-sia.
Sejak melihat hasil testpack-ku yang kali ini menunjukan garis merah dua, Revan terlihat begitu bahagia. Ia tak berhenti-hentinya memelukku, mencium keningku dan tingkah-tingkah aneh lainnya. Mungkin saat ini aku merasa cangung karena aku belum pernah melihat Revan seperti sekarang. Revan nampak seperti orang kesetanan yang menang hadiah lottre.
Setelah menunggu cukup lama, namaku pun di panggil untuk menemui dokter kandungan. Saat aku memasuki ruangan praktik dokter itu terlihat seorang wanita cantik berumur sekitar 30-an berkulit putih mulus. Ia menggunakan jas putih yang sama seperti milikku. Lalu tersenyum melihatku kedatangan bersama Revan.
“Oh, jadi ini... istri lo, Dokter playboy?” Tanya wanita itu.
“Playboy playboy enak aja!” dengus Revan, “Gue ini pria setia, Aurel!”
Wanita yang di panggil Aurel itu tertawa meledek. “Setia? Jaman kita kuliah sampai ko-as situ kan playboy cap obat nyamuk banget, Van!”
Aku hanya menahan tawaku. Benarkah suamiku seorang mantan playboy yang insyaf? Hebat kamu Annadia Septiva Rahardhian, kamu berhasil membuat seorang playboy bertekuk lutut tak berdaya di hadapanmu. Terbuat dari apa si kamu itu?
“AUREL!” teriak Revan, “13 tahun nggak pernah ketemu sikap lo tetep aja nyebelin ya?”
“Itulah gue.” Aurel tersenyum bangga, “Ayo, duduk lah kalian.”
Revan menarik sebuah kursi hitam di depan dokter Aurel untukku. Sedetik kemudiab ia baru menarik kursi untuknya sendiri. Aku terus memandanginya, ia tak berhenti-hentinya tersenyum sejak melihat hasil testpackku. dia benar-benar mirip orang gila ya? Apa dulu papa seperti ini saat melihat mama hamil? Dasar pria itu aneh!
“Jadi kenapa kalian datang kesini? Mau KB? Atau mau-.”
“Gue mau USG ni,” potong Revan.
“USG?” Dokter Aurel menaikan alisnya. “Siapa yang hamil? Elo? Wesh, emansipasi pria sekali ya?”
“Sialan lo!” dengus Revan, “Ya nggak lah, Rel. Istri gue dong masa gue.”
“Memang nggak coba test kehamilan dulu?” tawar dokter Aurel.
“Saya udah coba test si tadi pagi, Dok,” sahutnya
“Lalu?”
“Garis dua,” kataku ragu.
“Ya berarti itu positif dong, An-.”
“Panggil aja Nadia,” potongku.
“Well, baiklah. Berarti anda postif hamil, Nadia. Kapan terakhir anda menstruasi?”
“Kira-kira sebulan atau dua bulan yang lalu. Dan sekarang saya terlambat dua minggu dari jadwal rutin saya, Dok.” ujarku ragu, “Apa ini akibat saya stres atau—”
“Mungkin bisa seperti itu,” jawab dokter Aurel. “Butuh pemeriksaan lebih lanjut seperti untuk memastikan anda positif hamil atau tidak anda harus menjawab pertanyaan saya, Nadia.”
“Baiklah.”
“Mual di pagi hari?”
“Hampir dua minggu ini, sering.”
“Pusing atau sakit kepala kepala?”
“Ya, beberapa minggu ini.”
“Keram perut?”
“Sebulan ini si, sering.”
“Tidak bisa mencium sesuatu yang aneh?”
“Saya nggak bisa cium bubur oatmeal yang biasa saya makan sebagai sarapan.”
“Pingsan?”
“Dua hari yang lalu, saya pingsan di IGD.”
“Kamu perawat, Nad?” tanya dokter Aurel ragu, “Kalau iya mulai—”
“Saya dokter,” selakku.
“Wah emang gila lo, Van!” sindir dokter Aurel, “Terlaksana juga lo nikah sama dokter?”
Revan tersenyum bangga. “Iya dong! Keren kan gue keturutan juga gue nikah sama dokter juga? Eh, istri gue kan adik kelas kita loh.”
“Serius?” Dokter Aurel menatapku seolah tak percaya.
“Baru lulus, beberapa tahun yang lalu si, Dok.” Aku mengigit bibir bawahku.
“Gila lo! Emang lo gila! dari dulu gila lo nggak sembuh-sembuh, Revan Agustaf Putra Dharmawan!” Dokter Aurel mengacak-ngacak rambut cokelat tuanya frustasi, “Jadi beda usia kalian jauh? Sepuluh tahun? Wah nggak waras ni orang emang.”
“Ya terserah deh lo ngomong apa, Rel,” sahut Revan.
“Lo jahat!” rengek Aurel, “Nikah nggak ngomong-ngomong sekarang dateng depan gue udah hamil aja istri lo. Emang lo errr!”
“Gue mau ngomong gimana lo aja sibuk kuliah spesialis kan?” tanya Revan, “Bukan salah gue dong?”
“Udah nikah berapa tahun lo?”
“Otw enam tahun bulan Desember besok.” kata Revan acuh.
Dan raut wajah frutasi pun benar-benar tergambar di wajah dokter Aurel. Aku hanya dapat mengigit bibir bawahku karena aku benar-benar malu melihat tingkah Revan saat ini.
######
Dikta
Berbekal secarik kertas bertulisakan sebuah alamat, aku memacuh mobil sedan tuaku di jalan tol lintas Jakarta-Bogor. Bogor kota yang tak asing untukku karena sembilan tahun lalu aku datang ke kota ini demi menutut limu dan mengejar cita-citaku sejak kecil, menjadi seorang arsitek. Dan karena inilah aku harus berpisah dengan Nadia. Ya menyakitkan dimana aku dan dia harus terpisah akibat perbedaan cita-cita. Walau jarak Bogor dan Jakarta dekat tetap saja aku kesulitan untuk bertemu denganya.
Aku menghentikan laju mobilku di sebuah rumah yang nampak lusuh di tengah-tengah rumah mewah di kompleks ini. Apa benar orang yang meninggalkankku dua puluh lima tahun yang lalu tinggal di sini? Kenapa aku baru tahu sekarang? Aku menetap selama tiga tahun di Bogor ternyata dia juga tinggal di sini.
Kumatikan mesin mobilku. Aku mendesah kuat. Pikiranku mulai melayang entah kemana, apa yang harus aku katakan juga lakukan dengan pria itu? memanggilnya dengan sebutan ayah? Memeluknya? Aku rasa itu menjijikan.
Aku langsung memencet bel yang ada di depan pintu pagar rumah tua ini. Selang kemudian seorang pria paruh baya keluar dari rumah itu. garis keriput dan rambut dua warnanya tidak dapan membohongi usianya sudah lebih dari setengah abad.
“Siapa ya?” tanya pria itu.
“Dengan, Bapak Roberth Rahardhian?” tanyaku ragu.
“Iya saya sendiri, ada apa ya?”
“Oh... nggak kok, cuman—”
“Mari, silakan masuk. Sebentar lagi mau hujan.” potong pria ini.
Aku membuka pintu gebang ini dan mengikuti pria paru baya ini masuk kedalam rumahnya. Saat aku membuka pintu rumahnya, berbeda dengan ekspestasi yang aku pikirkan selama ini. Aku awalnya berfikir dia hidup bergelimang harta dengan banyak mobil juga rumah bak istana tapi kenyataannya? Rumahnya begitu sederhana, bahkan di garasi mobilnya hanya ada sebuah mobil kijang tua berwarna hitam dengan catnya yang mulai terkelupas. Dan aku meragukannya saat ini. Apa benar dia seorang profesor? Apa benar dia seorang dosen di universitas yang terbaik di negri ini? Kenapa rumahnya begitu sederhana?
“Mau minum apa Nak—”
“Panggil saya Dikta saja,” selaku
“Baiklah, kamu mau minum apa Dikta? Teh? Kopi? Air putih?” tawar pria ini
“Apa saja deh, Pak.”
Ia langsung berlalu meninggalkanku sendirian. Kedua mataku melirik kesemua arah rumah ini. Benar-benar sepi dan sunyi. Tak ada kehangatan disini. Bahkan... tak ada sentuhan seorang wanita disini.
######
Revan
Aku hanya terpanah saat aku melihat monitor hasil USG. Aku benar-benar tidak percaya apa yang aku lihat sekarang. Di dalam perut rata Nadia kini tumbuh sesosok makhluk hidup yang kelak akan memanggilku dengan ayah? Jika ini mimpi maka aku tak ingin terbangun selamanya.
Entah, aku ingin menamai hari ini hari apa. Yang jelas hari ini bukan hari ulang tahun yang orang bilang itu adalah hari yang sangat special. Dan hari ini... aku bisa menamainya dengan hari yang sangat luar biasa, setelah aku harus bersabar selama tiga tahun menunggu cinta Nadia, setelah selama dua setengah tahun aku menahan semua hasratku. Semuanya terbayar hari ini... dengan sosok mungil yang kini sedang berkembang di perut rata Nadia.
“Janinnya masih berupa gumpalan darah,” kata Aurel, “Dan ini masih sangat rawan.”
“Rawan?” Nadia mengerutkan keningnya. “Maksud dokter? Rawan terjadi kegugurann gitu?”
“Iya tepat sekali. Biasanya pendarahan sering terjadi pada trimester ini, dan well resiko terbesar di trismester ini adalah keguguran.”
“Serius lo?” tanyaku dengan Aurel.
“Yeh batu deh!” dumal Aurel.
“Kan gue nggak terlalu ngerti masalah beginian. Kalo, masalah kesehatan paru-paru gue baru ngerti,” kataku.
“Tau deh dokter paru-paru mah beda ya?” sindir Aurel.
“Jangan ngambek si, Rel.” godaku.
“Idih ke-pede-an elo nggak ilang-ilang ya, Van? Dasar dokter playboy!”
“Dibilang gue bukan playboy juga!” dengusku kesal.
Keheningan menghampiri kami bertiga, Aurel masih asik mengerakan alat sensor di perut Nadia yang masih rata. Aku benar-benar terpanah hari ini. Bukan karena aku bertemu Aurel temanku saat kuliah dulu yang bertambah cantik sekarang tapi karena makhluk kecil yang berada di dalam rahim Nadia yang sedang berkembang itu.
“Berapa kira-kira usianya?” Nadia memandangi layar monitor seolah-olah ia takjub dengan pemandangan yang ada.
“Sekitar lima sampai enam minggu, Nad,” sahut Aurel, “Kamu jangan kecapeaan ya. Masih rawan banget ini.”
“Tapi kan, aku—”
“Nadia, kamu harus banyak istirahat.” Sela Aurel, “Jangan kerja sampai larut malam. Nanti aku kasih kamu vitamin deh biar janin kamu kuat.”
“Sepenting itu kah sampai harus di beri vitamin?” tanyaku heran.
Aurel menjitak kepalaku. “Ya penting lah, Van! Lo nggak mau kan istri sama calon anak lo kenapa-kenapa?”
“Aw! Sakit Aurel!” aku mengelus puncak kepalaku, “Ya nggak lah. Gue mau mereka sehat walafiat semua.”
“Dan lo!” tuas Aurel, “Jagain istri lo ya. Bumil trimester pertama itu rawan banget! Kalo morning sickess lo juga harus perhatiin jangan sampe istri lo nggak makan karena mual hebat, oke?”
Aku mengangguk khidmat. “Pasti lah gue jagain istri gue.”
######
Dikta
Setelah menunggu beberapa saat, pria itu kembali kehadapanku sembari membawa segelas kopi. Astaga aku lupa pesan ibu aku tak boleh banyak minum kopi bukan?. Dengan perasaan cangung aku menyerumput gelas kopi itu. well, kopi ini benar-benar seleraku saat aku di rumah. Cappuchino dengan ekstrak s**u kental manis.
“Anda siapa ya?” tanya pria itu tiba-tiba.
Aku yang sedang menyeremput segelas kopi tersedak saat ia berbicara seperti itu. harus kah aku menjawabnya... aku ini anak yang kamu telantarkan selama lebih dari dua puluh lima tahun? seperti itu kah aku harus menjawab.
“Saya....”
“Apa kamu salah satu mahasiswa yang membutuhkan konsultasi atau bimbingan untuk skripsi?” tanya pria itu. “Tapi... saya nggak membuka konsutasi skripsi secara pribadi seperti ini.”
“Bukan....”
“Lalu?”
“Saya....”
Pria itu kini mendekat kearahku. Aku benar-benar merasa cangung. Ya, sangat cangung karena selama dua puluh tujuh tahun aku hidup aku tak mengenalnya. Mungkin, saat dulu memang dia pernah mendampingi hidup ibuku dan aku tapi itu hanya sebentar. Ya saat aku berumur satu tahun ia pergi meninggalkan ibuku seperti sampah. Benar-benar pria menjijikan.
“Kenapa... aku menatap matamu seperti aku pernah melihatmu ya? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Ya kita pernah bertemu sebelumnya... 25 tahun yang lalu.
“Kenapa warna rambutmu cokelat? Dan matamu... kenapa... kenapa mata Hazelmu mengingatkanku...”
Karena aku memilik gen rambut cokelat dari ibu dan mata cokelat sus dari ibu yang dipadu dengan gen mata cokelat tua darimu... ayah.
“Apa anda kenal... Nina Ameliani?” tanyaku dengan suara bergetar.
Ia terdiam. Kedua mata cokelatnya memandangiku tak berkedip. Dadaku terasa nyeri saat ini aku benar-benar ingin menangis dan memakinya. Tapi... dia itu ayahku.
“Kamu...”
“Aku... aku... aku anak dari Nina Ameliani... wanita yang anda tinggalkan 25 tahun yang lalu, dan... wanita yang telah anda hancurkan hidupnya 28 tahun yang lalu.” tersirat amarah dalam kalimat-kalimat yang aku ucapkan.
Ia langsung memelukku erat. Di kecupnya puncak kepalaku terus menerus. Aku ingin menangis saat ini juga entah menangis bahagia atau menangis kesedihan. Ibu... andai ibu disini.
“Samir...” katanya.
“Apa anda ingat denganku... Profesor Roberth Rahardhian? Hmm?” sindriku.
“Aku mencarimu, Nak... berpuluh-puluh tahun aku mencarimu,” bisiknya
“Kalau anda mencariku, kenapa anda mencapakanku? HA?!”
“Maafkan, Ayah Samir... maafkan Ayah....”
*****