Chapter 8 - Kekacauan Hati

1666 Kata
Revan Aku terpaksa membuka kedua mataku. Ku lirik sekelilingku, tidak tadi itu hanya mimpi. Ku lihat Nadia sedang tertidur pulas sembari memelukku. Ya ternyata itu cuman mimpi dia masih di sampingku dan tak akan meninggalkanku. Mimpi yang menyeramkan dan menakutkan, dimana aku melihat tubuh mungil Nadia wanita yang aku cintai terbaring tak bergerak sama sekali. Senyum malaikatnya tak pernah lenyap, semua orang menangis memandanginya. Dan aku mulai menyadari... dia telah pergi selamanya. Dia pergi meninggalkanku sendirian. “Mas,” Aku mengelus pipi putihnya itu. “Kenapa, Sayang?” Ia memelukku erat. “Aku kok rasanya beberapa hari ini aku tuh mau meluk kamu terus ya?” “Peluklah aku sepuasmu.” Keheningan menghampiri kami, Nadia masih memelukku erat. Kukecup puncak kepalanya terus menerus seolah-olah aku tak ingin kehilanganya. Mungkin ini aneh, karena mimpi itu. “Kok kaamu belum tidur si? Kenapa badan kamu keringetan begini?” tanya Nadia. “Panas,” sahutku bohong. Ia melepaskan pelukanya. “Ganti baju gih, nanti kamu sakit lagi.” “Nggak ah, malas!” “Mas... Ayolah, kamu jangan bandel dong!” erang Nadia. Aku terduduk di atas tempat tidur. Ku lepaskan kaus oblong yang membalut d**a bidangku ini dan melemparkan asal. Kini aku bertelanjang d**a. Mungkin ini bukan yang pertama untuk Nadia melihatku tidur bertelanjang d**a. “Kamu nggak lagi godain aku kan?” tanya Nadia nampak kesal, “Aku-.” “Ge-er deh.” godakku. Nadia menghela napas. “Biasanya kamu semangat banget kalo masalah begituan.” Aku menarik tangan Nadia dan mendekap tubuh mungilnya. Terasa desah nafas Nadia di dadaku dan mengelitik syaraf-syarafku saat ini. “Coba kamu dengerin deh, detak jantungku,” kataku. Nadia menempelkan telinganya di dadakku. Kedua matanya terpejamkan membuatnya kini terlihat sangat manis. Kedua bibirnya terkatup rapat seolah-olah sedang mengodaku untuk mengecupnya. “Kenapa detaknya terdengar abnormal?” “Ini yang aku rasain... selama lima setengah tahun kita hidup bersama,” sahutku. “Kamu nggak mau ke dokter aja? Jangan-jangan kamu sakit lagi.” Aku mengeleng cepat. “Detak jantungku, akan terus seperti ini jika aku di dekatmu. Karena setiap aku di dekatmu aku merasa sedang bersama dengan seorang malaikat.” Rona merah muda Nadia makin terlihat jelas menghiasi di kedua pipi putihnya. “Gombalnya mulai kan kamu!” “Ini jujur tahu!” gerutuku, “Nadia, aku benar-benar bahagia memilikimu saat ini. Kamu itu malaikat terindah di hidupku. Aku mencintaimu, Kurcaci jelek.” “Udah ah, masih tengah malam gombal terus deh.” Nadia meninju lenganku, “Aku juga mencintamu, Dokter gila nan babo.” “Nad,” “Ya?” “Kamu setuju gak kalo kita... tinggal sendiri,” ujarku ragu. “Sendiri? Maksudnya?” “Ya!” tegasku, “Kita tinggal sendiri dan hidup mandiri. Aku nggak enak lah udah lima tahun kita nikah tapi kita masih tinggal sama Papi Mami. Aku mau kita mandiri sama keluarga kecil kita.” “Boleh... tapi masalahnya mami sama Papi kau izinin nggak?” “Sekarang Elena kan udah pulang,” tambahku, “Ada dia bukan?” “Iya juga si ya? Kayanya mulai sekarang kita harus coba hidup mandiri. Malu juga lama-lama tinggal sama Mami Papi.” ##### Nadia Sarapan berjalan hening seperti biasa. Di meja makan besar ini hanya ada aku, Revan, Mami, Papi dan Elena saja. aku dan Revan bersiap menjalankan aktivitas kami seperti biasa. Pergi ke rumah sakit demi menangani pasien-pasien kami. Saat, aku menyendokan sesendok bubur oatmelt sesuatu membuatku merasa saat mual. Aneh padahal biasanya aku selalu memakan bubur oatmelt sebelum aku berangkat ke rumah sakit dan kenapa saat meliat bubur oatmelt dihadapanku aku merasa sangat mual? Aku buru-buru berlari menuju toilet. Kubanting pintu toilet dan menguncinya. Terdengar Revan mengedor pintu toilet sembari berteriak memanggilku. Aku tak menyahut sama sekali. terserah dia lah mau gimana. Perutku benar-benar sangat mual pagi ini. Entahlah, mungkin aku keracunan makanan lagi. Tapi ini aneh, mungkin selama sebulan ini aku merasa sesuatu yang aneh di diriku sendiri. Dua hari yang lalu aku pingsan di rumah sakit. Ini koyol memang, dokter Satya begitu panik melihatku pingsan saat itu mungkin memang kondisi fisiku kurang prima seminggu ini karena aku harus shift malam selama dua hari dan tidak tidur sama sekali. Sejak kematian tante Nina, aku memang tak pernah menguhubungi Dikta lagi. Malam itu, setelah mengunjungi Dikta aku memilih untuk pulang karena arah pembicaraanku dan Dikta sudah melenceng kearah dimana dia ingin memaksaku untuk meninggalkan Revan. Sesampainya dirumah, Revan begitu marah denganku. Dan apa yang terjadi setelah itu? Dia melampiaskan kemarahanya dengan melakukan ‘itu’ denganku. Aku benar-benar tak kuasa menolak permintaanya, karena aku sangat menghormati sengala hal yang dia utarakan walau di dalam hatiku terkadang aku merasa aku tak ingin. Aku terlalu lemah mungkin. dan bodohnya aku saat aku melakukan ‘itu’ aku lupa meminum pil KB-ku. Bodoh kan aku ini? Kalau aku hamil bagaimana? Siapkah aku dengan suatu perubahan di dalam hidupku? Dan banyak kejadian aneh yang di luar logikaku. Tiba-tiba, aku menjadi manja dengan Revan. Mungkin Revan senang dengan sikapku ini tapi aku merasa ini jangal. Saat aku berada di rumah sakit, aku benar-benar tak bisa berjauhan dengan Revan sedetik pun hingga membuat dokter Satya dan Vania kesal denganku. Masa bodo lah toh Revan suamiku kan? Tak ada yang salah bukan? “Nadia, buka pintunya!” Aku tak menyahut. Benar-benar sangat mual. Aku ingin menangis saja saat ini karena perutku bagaikan di aduk-aduk di dalam mixer. “Nadia please, buka pintunya! kamu kenapa?” tanya Revan was-was. Aku terduduk lemas di atas lantai. Sakit perutku benar-benar sakit. Tenggorokanku terasa tercekik karena aku terus berusaha mengularkan segala isi perutku tapi aku sendiri belum memakan apa pun pagi ini. Dan... aku teringat sesuatu. Tanggal menstruasiku. Ya harusnya dua minggu yang lalu skilusku sudah datang. tapi.. kenyataanya? Aku terlambat dua minggu... Mungkinkah aku...? tidak jangan sekarang aku belum siap. “Nadia kalau kamu nggak buka juga, aku akan dobrak pintunya!” Tuas Revan. Dengan sigap aku membuka pintu toliet dan memutuskan untuk keluar. Aku langsung memeluk Revan erat seolah-olah aku merasa ketakutan saat ini. Aku ketakutan karena aku belum siap dengan kenyataan yang terjadi. Tidak aku belum mau hamil. “Kamu nggak apa-apa?” Revan membelai rambutku yang lepek pagi ini karena aku berkeringat. “Mas... aku takut,” ujarku. Revan melepaskan pelukkanku.  Ia tersenyum denganku seperti biasa ia memamerkan dimples andalannya itu yang selalu membuat detak jantungku abnormal. Kini kedua mata hitamnya menatapku sangat dalam. “Takut kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?” “Aku... aku takut. Sekarang, aku cuman butuh testpack...” bisikku dengan suara yang sangat rendah. “Kamu butuh apa?” ulang Revan. “Testpack.” “Mau aku beliin sekarang?” tawarnya. “Bukannya, di laci toilet kamar kita ada?” tanyaku, “Bulan ini aku belum memakainya sama sekali.” “Kamu masih nyimpen emangnya?” “Masih kok,” kataku. “Mau aku bawa—” “Biar aku yang keatas.” ##### Dikta Sebulan setelah kepergian ibuku, hidupku benar-benar terasa hampa luar biasa. Tidak ada lagi sosok yang cerewet setiap pagi menyuruku sarapan dulu baru berangkat ke kantor. Tidak ada lagi sosok yang selalu memelukku di saat aku membutuhkanya. Aku merindukanya. Sangat merindukanya. Walau di masa lalunya, dia bukan wanita yang baik-baik tapi menurutku dia tetap wanita terbaik yang aku miliki. Aku mencintainya, sama seperti aku mencintai diriku sendiri dan wanita yang membuatku patang arah selama sepuluh tahun ini. Nadia. Nama itu masih terukir di dalam hatiku, nama itu masih terpatrih di otakku. Sekuat tenaga aku berusaha melupakanya semuanya gagal. Karena dia benar-benar bagaikan racun yang merusak sistem tubuhku. Ku pandangi kamar ibuku yang terasa sunyi ini. Sejak sebulan ia pergi, aku tak pernah mau masuk ke kamar ini. Menyakitkan. Seperti aku menghadapi semua kenyataan yang ada bawah aku kehilangan dua wanita yang begitu berarti di dalam hidupku. Wanita-wanita itu pergi karena kebodohanku. Ya, aku memang bodoh, t***l dan kolot. Kamar ini benar-benar berantakan dan berdebu. Ya, selama sebulan tidak pernah di bereskan atau di sentuh lagi. Dan ingatanku mulai mengreplay semua hal tentang ibuku. Senyumannya, ocehanya, pelukanya segala hal tentangnya begitu aku rindukan saat ini. Aku benar-benar merindukanya saat ini. Ku duduki tempat tidur tua yang kosong itu. tempat tidur tua yang setiap hari ia tiduri. Kuputuskan merebahkan diriku di atas tempat tidur tua ini. Kupejamkan kedua mataku seolah-olah aku sedang menyaksikan pertunjukan film-film yang sedang di putarkan oleh memori otakku. Tiba-tiba tanganku tak sengaja menyengol lampu tidur yang ada di samping tempat tidur ini hingga pecah berkeping-keping. Dan di bawah  lampu tidur itu terdapat secarik kertas yang di lipat dan nampak sudah lusung. Dengan rasa penasaran aku membuka kertas itu. Untuk anakku tersayang, Pradikta Anakku sayang, mungkin saat kamu membaca surat ini ibumu yang tua ini sudah pergi meninggalkanmu dengan tenang. Anakku, maafkan ibu selama satu setengah tahun membohongimu tentang penyakit yang ibu derita. Maafkan ibu karena selama 27 tahun hidupmu ibu hanya memberikan penderitaan untukmu.. Anakku, satuhal yang membuat ibu merasa ibu beruntung nekat mempertahankanmu 28 tahun lalu. Kamu selalu memberikan ibu kebahagiaan-kebahagiaan yang tak terkira untukku. Sejak mendengar tangisanmu aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena memiliki anak tampan dan pintar sepertimu. Kamu adalah anugerah terindah yang pernah ibu miliki, nak. Dikta sayang, bolehkah ibu memohon satu hal denganmu. Mungkin ini permintaanku yang terakhir denganmu. Dikta, ibu mohon kembali lah kamu dengan ayahmu. Aku tahu kamu masih membenci ayahmu karena ia mencapkan ibu dulu. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui. Hubungan seorang anak dan ayahnya tidak akan pernah putus sampai kapan pun. Ibu mohon denganmu, berhentilah membenci ayahmu. Bagaimana pun ia ayahmu. Berhentilah membenci dokter nak. Semua tak ada yang bersalah disini. Jaga dirimu baik-baik, pelita hatiku. Jangan pernah kamu melewatkan jam makan siangmu dan tidur hingga larut pagi lagi. Kurangi kopimu dan minuman berakohol. Jaga kesehatanmu selalu setelah ini. Ibu mencintaimu, sangat mencintamu, Samir Pradikta Rahardhian. Aku membeku. Ya tuhan apa yang ada di dalam pikiran ibu saat ia menuliskan surat ini? Kembali dengan si pria sialan yang tega meninggalkanku dan ibuku? Pria b******k yang membuat ibuku menderita? Tidak aku tak pernah sudih bertemu dengan dokter sialan itu. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN