Chapter 3

2149 Kata
Pagi hari sisa-sisa basah karena hujan semalaman masih terasa sangat pekat. Sesekali terdengar bunyi tetes air mengenai permukaan yang padat. Aroma hujan yang meresap ke dalam dedaunan menebarkan kesejukan ringan. Dalam suasana yang masih nyaman untuk menarik selimutnya lagi, Fea sudah berada di dapur menyiapkan nasi tim yang sehat untuk Sondea, sarapan untuk dirinya dan suaminya. Sejak masa kanak-kanak sampai remaja, saat orang tua masih sangat memperhatikannya, Fea tergolong anak yang penurut dan mau mempelajari banyak hal. Termasuk keahliannya dalam mengerti pekerjaan rumah. Mengurus rumah sudah menjadi kebiasaan bagi Fea. Fea menyincang daging salmon sampai halus. Mencampurkannya ke dalam nasi tim. Berikutnya serutan wortel, kentang, dan tomat. Sebagai pemberi citarasa ditambah sedikit garam dan gula. Rasa kasih seorang ibu dari Fea terhadap Sondea sebagai micinnya. Fea mengecap seujung sendok masakannya untuk tes rasa. Merasa cukup puas dengan rasa yang telah terbentuk, dia pun mematikan kompornya. Sayup – sayup terdengar suara tangisan Sondea membuat Fea mempercepat gerakan pisaunya. Terlalu buru-buru membuat ujung jari lentiknya tersayat pisau yang sedang mengiris cabai. “Aduh perih, sial!” batin Fea. Segera dia mencuci tangan sembari membersihkan lukanya. Tangisan Sondea semakin keras terdengar. Fea berjalan menaiki tangga ke kamarnya sambil mengibas-ngibaskan telapak tangan karena terasa perih. Sesampainya di kamar, tak disangka Dr. Arthur telah menenangkan Sondea. Sudah pula mengganti popok Sondea yang gelnya ternyata sudah penuh. Mungkin itu penyebab tangisannya, karena merasa tidak nyaman. “Sungguh aku tidak sedang bercanda, kali ini aku merasakan kamu seperti telah menjadi pahlawan di kehektikan pagi hariku. Percayalah aku merasakan sesuatu yang berbeda terhadapmu.” Fea membuka percakapan dengan senyuman lebar dan mata berbinar, merasa terharu bercampur riang. Selama ini dia tidak pernah melibatkan Dr. Arthur dalam mengurus Sondea. “Entah kenapa aku ingin merasakan pula kedekatan dengan Sondea.” Jawab Dr. Arthur tak mengerti. “Ya, pikirkanlah sendiri.” Sambung Fea ketus. Melihat sedari tadi Fea mengibas-ngibaskan tangannya sambil meringis kesakitan, mampu merobohkan kegengsian Dr. Arthur untuk tidak mengkhawatirkannya. Akhirnya terucap juga pertanyaan “Kenapa tanganmu?” “Tidak apa-apa, hanya sedikit terluka.” “Hmmm kau bahkan boleh meminta bantuanku untuk itu.” Sambil tersenyum geli, Fea menjawab “Aku tak selemah itu Dr. Arthur. Ini perkara kecil.” Sebentar kemudian Fea melanjutkan kalimatnya “Maksudku menyebut kamu sebagai pahlawan pagi ini, bagiku itu karena kau telah menolong pekerjaanku secara tak terduga. Bukan berarti aku mengizinkanmu untuk menolongku lebih personal.” Fea selalu berusaha menunjukkan kekuatan dan kemandiriannya. Sedikit penyebabnya adalah rasa trauma ketika pernah bekerjasama dengan temannya dulu. Sungguh memang sulit memahami manusia. Tapi Fea tidak menyalahkannya sama sekali, menurutnya manusia selalu dihadapkan dengan fakta dan insiden tak terduga yang siap datang setiap waktu. Fea bisa memahami itu. Meski demikian tidak bisa dipungkiri bahwa mengkhianati teman dengan cara tidak terhormat, tetap mendapat nilai minus dari semesta. Dan mungkin permasalahan usangnya dengan teman lamanya itu, adalah wujud penyelamatan secara alami oleh dunia dari kerugian yang lebih banyak darinya. Tak bisa dipungkiri pula kalau Fea adalah aktris tulalit yang bijaksana. “Tunggu sebentar. Lalu apa yang kau maksud dengan perasaan berbeda untukku?” tanya Dr. Arthur menghentikan langkah Fea untuk meninggalkan kamar. “Ahhh itu hanyalah ungkapan terkejut yang sudah menyublim suamiku.” “Ohhh baik, kuharap juga begitu.” Jawab Dr. Arthur dengan songong. Lima belas menit setelah Dr. Arthur berangkat ke Rumah Sakit Eternity, tempatnya bekerja, Fea masih sibuk mengemasi perlengkapan Sondea dan sedikit berkas yang telah dilingkarinya. Fea ingin menanyakan poin-poin yang tidak dia pahami kepada calon pengusaha muda yang memberinya tawaran tempo hari. “Haduh tumben lama sekali si Furla. Bosnya selalu disiplin gini, eh dianya seenak jidat.” Begitulah raungan Fea di sela-sela kegesitan tangan dan kakinya sambil menunggu kehadiran manajer pribadinya. Tidak sengaja Fea menemukan satu eksemplar tipis berkas yang terselip di box file, yang menempel di tembok ruang kerjanya. Fea memicingkan mata, “Berkas apa ini? Aku tidak pernah melihatnya.” Berkas itu memang sengaja disembunyikan dan terlupakan untuk segera dibuang. Fea meniup debu yang menyelimuti kertas itu dan mulai membukanya perlahan. Fea membaca bagian kepala surat. Tangan kirinya meremas bagian kertas yang tergenggam sampai bekas luka tadi berdarah lagi. Nafas Fea memburu naik turun tak beraturan. Ya, Fea marah mengetahui satu fakta yang disembunyikan darinya. Seorang wanita turun dari mobil berwarna merah cabai. Betisnya terlihat putih berkilau seperti porselen, bertumpu pada kaki yang dibalut dengan high heels berwarna merah pula. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Furla, sang manajer Shafea. Setibanya di teras rumah Fea, Furla langsung nyelonong saja masuk ke dalam rumah. Furla mengamati Fea dari ambang pintu ruang kerja. Terlihat wajah Fea menyiratkan tanda tanya penuh selidik. Fea memelankan laju napasnya dan berhasil membuatnya kembali stabil. Mulai bisa mengendalikan emosinya yang hampir meledak. Fea membatin “sudahlah akan kubicarakan nanti di waktu yang tepat dengannya. Fakta ini tak boleh menjadi beban untukku. “Take it easy” Fea memerintah dirinya sendiri. “Lo mikirin apa Fe serius amat?” pertanyaan Furla mengembalikan kesadaran Fea. “Ng ng engga papa” jawab Fea gelagapan. “Ngga papa kok sampe pucat gitu?” “Beneran La gue ga papa. Lupa pakai blush on nih gue”. Fea mengambil palet blush on untuk menegaskan bahwa memang benar begitu. Dan menguaskannya sampai terbentuklah fever blush on di kedua pipi bagian atas tersambung melewati lengkungan hidung mancungnya. Sepertinya trik kecil-kecilannya itu berhasil membuat Furla percaya. “Yaudah buruan berangkat, ini doang kan perlengkapan Sondea yang mau dibawa?” karena sudah terbiasa Furla merasa yakin akan jawabannya, dia berlalu begitu saja membawa tas tentengan menuju mobil Fea. Fea membuntuti di belakangnya sambil menggendong Sondea yang tengah tidur. “Pengertian sekali anak ini, tau waktu-waktu hektik maminya dan memilih bersikap anteng. Menggemaskan kamu Sondea.” Fea memuji anaknya sambil tersenyum di dalam hati. Tiba di kantor bakal perusahaan kosmetik, yang baru-baru ini sudah menemukan nama brand yang akan diusung bersama Shafea. Furla dan Fea menunggu di salah satu waiting seat dekat ruang manager divisi pemasaran. Keterlibatan Fea dalam proyek ini terletak di bagian promosi. Mengingat Fea mempunyai banyak fans dan setiap hari malang melintang di layar televisi. Saneige begitulah brand yang akan mereka usung. Produk yang dijadikan andalan ketika launching nanti adalah creammatte dengan 365 pilihan warna. Jumlahnya sama persis dengan jumlah hari dalam setahun. Bisa mengekspresikan 365 suasana hati wanita yang mudah membolak-balik dan 365 apapun lainnya. Pintu ruangan terbuka, Mr. Ransom mempersilakan Fea dan Furla masuk. Setelah setengah jam lebih berdiskusi dan bernegosiasi tentang peran Fea sebagai brand ambassador, akhirnya menemukan titik temu yang saling menguntungkan. Furla berbisik kepada Fea “Gila sih ini Fe, murah hati banget Mr. Ransom.” “Ini semua kan demi kebaikan Sondea La, biar dia tetap nyaman dan aman selama ngikutin jadwal keseharian gue.” “Banyak banget permintaan lo yang mesti ada ini ada itu, mesti begini mesti begitu.” disertai bola mata Furla berputar saat bicara. Fea hanya tersenyum nyengir menanggapi ocehan manajernya itu. Tapi tiba-tiba dia menyambung lagi percakapannya dengan Furla. “Apalah artinya pekerjaan gue kalau gue harus mengorbankan perkembangan Sondea La. Ini bukan tentang siapa yang diuntungkan atau dirugikan tapi seberapa penting kerjasama ini harus tetap dilakukan supaya diperoleh keuntungan besar.” Tak dirasa Fea sudah berbicara sarat makna tanpa skenario. “Iya-iya paham gue Fe, secara lo kan punya nama besar gak salah juga sih Mr. Ransom memberikan banyak fasilitas buat lo sama Sondea lebih tepatnya.” “Nah itu tau. Sekarang agenda kita kemana La?” “Kita lanjut pemotretan dari agency yang diwakili Egi itu Fe. Lo masih ada kontrak tujuh setengah bulan ke depan. Ya meskipun gak tiap hari photoshoot, gue sekedar ngingetin aja.” Lokasi photoshoot dilakukan di area outdoor yang modern. Semua peralatan sudah dipasang dan siap pakai. Tinggal menunggu sang dewi beraksi di depan kamera. Fea menitipkan Sondea kepada Furla. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membangun kemistri diantara Furla dan Sondea. Sondea bisa sangat nempel dengan Furla, bahkan ketika maminya sudah selesai take. Di hamparan halaman yang tersusun oleh batu-batu kecil yang rapi, Fea siap berpose disana. Memakai outfit brand fashion yang diusungnya, bawahan menggunakan celana embroidery pleated short pants berwarna biru muda, atasan cross over top berwarna putih. Kaki mulusnya dibalut dengan square toe high heels berwarna hitam pekat. Ya, Fea terlihat sangat seksi dan cantik yang memang selalu demikian. Fotografer, Mas Andre mengarahkan pose Fea. Fea sudah bergaya dan tersenyum manis. Mas Andre memberi aba-aba “Tiga... dua... eh sebentar sebentar. Bu Fea bisakah Ibu lepaskan dulu hansaplast yang membalut jari telunjukmu.” “Huh!” Fea kesal sudah capek-capek menahan pose bermenit-menit. Karena semua kru tertawa cekikikan, Fea bisa sedikit menyunggingkan senyuman di sudut bibir sensualnya. Fea melepaskan hansaplastnya dalam satu tarikan. Dia meringis mengaduh kesakitan. Jam di ponsel Furla menunjukan pukul lima sore lebih delapan belas menit, semua peralatan sudah bersih dari pandangan, lokasi photoshoot pun mulai sepi. Sondea masih lengket berada di pangkuan Furla. Sementara Fea sedari tadi sudah tertidur di dalam mobil. Furla menggoyang-goyangkan lengan Fea. “Fe... Fea! Feeee!” Fea hanya sedikit memberikan respon. Mengubah posisi kepala dengan membuang mukanya membelakangi Furla, dalam posisi pertengahan antara duduk dan telentang. “Ampuuun dah ni bos kalau udah begini mah susah urusannya.” Furla merutuki bosnya. Sampai cahaya matahari mulai digantikan cahaya lampu pun Furla masih dengan sabar menunggu bosnya terbangun dengan sendirinya. Furla sudah sangat paham bahwa pantang menyerah untuk membangunkan Fea adalah suatu kesia-siaan tak terbantahkan. Berusaha mengusir kebosanan, Furla memainkan ponselnya, berpose lucu bersama Sondea kemudian mempostingnya di instastory, tak lupa membubuhkan tulisan menunggu sleeping beauty terbangun. Tak sabar menunggu Fea terbangun dari tidurnya, Furla memerintah supir untuk segera jalan saja menuju cafe yang sering disambangi untuk makan malam. Setelah tiga puluh menit perjalanan, Fea akhirnya terbangun, wajahnya kusut tapi tetap cantik. “Jalan kemana ni La?” kalimat pertama yang terucap oleh Fea setelah siuman dari tidurnya. “Tempat biasa kita makan malam Fe.” “Oh ok baguslah, laper gue hahaha.” “Anak lo ni kehausan, elonya malah enak-enakan tidur. Untung gak rewel dia.” Furla protes sambil mengembalikan Sondea ke maminya. Fea tertawa sambil menimang Sondea dengan kata-kata permintamaafan, yang disambut dengan seringaian menggemaskan dari gigi Sondea. Tak lama kemudian mereka sampai di cafe tujuan. Saat berjalan menuju bangku yang kosong, mereka melewati bangku ramai. Angin sepoi berhembus santai tapi mampu mengoyak rambut Furla yang halus, terpaksa Furla mengibaskan rambut supaya tak mengganggu pandangannya, dia reflek menengok ke arah bangku ramai itu. Dilihatnya sosok Nevan sedang ngobrol dengan beberapa orang. Jelas sekali mereka itu bukan teman Nevan. Meskipun kebersamaan Furla dan Fea lebih karena faktor pekerjaan, tapi Furla sangat mengerti perasaan Fea kepada Nevan. Dia kebingungan mau memberitahu Fea atau malah pura-pura tidak tahu. Furla masih menimbang-nimbang akan berbuat apa. Tapi ternyata perbuatannya itu benar-benar tidak berguna. Fea akhirnya menyadari keberadaan Nevan dengan sendirinya. Fea tersenyum dalam hati berbunga-bunga, layaknya perasaan orang yang sedang kencan romantis pas lagi sayang-sayangnya. Fea mulai mengendalikan perasaannya, kini giliran logikanya yang harus bekerja. “Sebenarnya aku sangat rindu Nevan, tapi aku tidak berani bertaruh dengan respon Nevan yang bahkan tak bisa kutebak kalau kuhampiri dia. “Sedih mengapa tiba-tiba menjadi selemah ini” sesalnya dalam hati. Hati Fea bergejolak tak tau apa yang harus diperbuatnya. Fea sudah terduduk di bangku tujuannya. Furla segera memanggil seorang waitress. Sesaat kemudian mulai memilih-milih menu yang akan mengenyangkan perutnya. Cukup lama dia bercapcipcup ria. Sementara Fea masih terjebak dalam gravitasi Nevan. Sampai akhirnya Furla sudah menentukan pilihan menu, dia melirik Fea. Merasa jiwa Fea tak disisinya, Furla menepuk lengannya. Fea tersentak hampir marah tapi urung karena jiwanya sudah kembali dan sadar di depannya ada waitress yang menunggu. Fea memilih menu dengan asal, supaya dia segera kembali ke jebakan Nevan yang entah masih saja terasa nyaman. Kali ini Fea memilih menjadi wanita lemah. Fea mantap memutuskan untuk tidak menghampiri Nevan. Nevan adalah laki-laki yang sangat Fea cintai, dia tidak mau memberatkan beban perasaan Nevan. Terlebih hubungan diantaranya kini telah dibatasi portal yang kokoh. “Nevan harus terlepas dari belenggu kenangannya tentangku yang menyusahkan ini” Fea mencoba mengalahkan perasaannya sendiri. Diantara gelak tawa dan keramaian percakapan dengan beberapa orang disekelilingnya, ternyata tak cukup mampu menutup dunia lelaki yang hatinya masih terpaut pada wanita bersuami. Radarnya masih cukup berfungsi dengan baik meski telah terkacaukan oleh frekuensi yang sudah tak lagi sama. Insting Nevan menangkap keberadaan wanita sempurnanya, Shafea. Matanya menatap tajam penuh semangat untuk menghampiri kesana. Tanpa pikir panjang Nevan mengambil langkah menuju bangku tempat Fea menanti makanannya. Fea terkejut, lelaki yang baru saja dienyahkannya dengan setengah hati itu sekarang sudah berada tepat di depannya. Jantung Fea berdegup cepat, terkejut olehnya. Nevan tersenyum, senyuman yang masih sangat terekam jelas diingatan Fea. Yang bahkan untuk menghapuskannya pun enggan. Setelah sekian lama saling menjadi orang asing, kalimat yang terucap dari mulut Nevan hanyalah sapaan santai sebagai pembukanya. Fea menanggapinya secara seimbang, tapi binar matanya tak bisa menutupi bahwa sebenarnya timbangan itu lebih berat di Fea. Furla mempersilakan Nevan untuk duduk. Fea menunggu-nunggu dengan cemas kalimat selanjutnya yang akan Nevan ucapkan.  To be continued....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN