Shafea mengambil cuti lagi, pagi harinya kali ini berbeda dari biasanya. Fea terus saja memandangi cangkir teh yang isinya masih penuh. Lamunannya telah berhasil menyihirnya menjadi lemah seperti yang terlihat pagi ini. Furla sudah berfirasat kalau hal ini akan terjadi. Tidak perlu ada komunikasi antara orang yang terbiasa saling berkepentingan hanya untuk memastikan sesuatu hal terjadi. Rasanya sangat tidak bisa jika Furla tidak menceritakannya kepada Nevan. Aktor pendatang baru itu tengah serius menghafal naskahnya. Furla mendatanginya “Hai Nev.” Sapanya. “Hai La. Mana Fea?” dengan nada suara sebal Nevan menjawab. “Kok bisa sih lo bersikap seperti itu Nev? Jahat tau.” “Nggak ngerti lagi gue. Semoga dia segera sadar.” “Maksud lo?” Batas kesediaan Nevan untuk bersikap biasa saja suda

