“Astaga ada apa ini ribut-ribut?” Dr. Arthur yang baru pulang dari cafe Orland harus menunda niatnya untuk meledeki Fea perihal kejadian tadi. Ada hal yang lebih penting untuk diatasi. “Arthur! Kamu juga! Kamu tuh jangan terlalu lembek menghadapi Fea. Batasi urusannya diluar rumah. Kalau perlu putuskan kontrak Fea dengan produser sinetron itu. Mama benar-benar sudah muak.” “Ma mama sabar ma, semuanya bisa diselesaikan baik-baik.” Dr. Arthur mendekati Ibu Renata mencoba menenangkannya. Mengelus bahunya. Ibu Renata menangis. Di sela-sela isak tangisnya dia masih berusaha menyadarkan Fea akan kesalahannya. “Shafea selama ini mama membiarkan kamu dengan harapan semakin lama kamu akan semakin mengerti. Tapi ini malah apa-apaan. Dikasih hati minta jantung.” “Sudah-sudah tenang dulu ma. Mama

