Mama Pergi

1701 Kata
Mata jernih Kean memindai keadaan sekeliling dapur yang bersih dan tertata rapi, mencari sosok Widya yang sejak tadi tak terlihat. Hanya sebuah tudung saji plastik yang terletak di tengah ruangan, mengeluarkan aroma manis makanan yang ada di dalamnya. Mengundang rasa lapar di perut gadis kecil itu. Tanpa sadar ia membuka tudung saji, melihat tiga gelas s**u panas dan tiga tangkup roti yang sudah diberi meses. Entah mimpi apa Kean semalam, baru saja terbangun dari tidurnya yang lelap beberapa menit lalu, tetapi sudah mendapati pemandangan yang menggiurkan. Makanan yang selama ini sangat ia inginkan, sekarang ada di depan mata. Seakan Widya sengaja menyiapkan s**u hangat dan roti tawar yang ditaburi meses, untuk sarapan mereka bertiga pagi ini. Kean semringah, menyadari perilaku mamanya dalam dua hari ini amat berbeda dari biasa. Lebih perhatian, baik hati, dan sabar. Wanita itu juga tidak enggan menuruti semua permintaannya dan Erin. Namun,  meskipun heran,  gadis kecil itu amat bersyukur. Semoga saja mama selalu seperti ini, doa Kean dalam hati. Derit pintu dapur yang terbuka membuyarkan lamunan Kean. di sana telah hadir sosok Widya yang datang dari arah belakang rumah. Wanita itu tampak cantik dengan riasan sederhana dan pakaian rapi yang ia kenakan. "Mama, dari mana?" tanya Kean. Sedikit memicingkan mata, silau terkena cahaya matahari yang masuk dari pintu dapur. Pertanyaan yang dibaluti rasa curiga kalau ibunya akan pergi lagi hari ini.  "Menjemur baju yang baru selesai dicuci," jawab Widya singkat. "Erin sudah bangun?" tanyanya lagi. Mengalihkan perhatian Kean yang menatapnya tanpa berkedip. Wanita itu berjalan ke arah meja kompor, mengelap sisa tumpahan air panas yang belum sempat ia keringkan sejak tadi. Ia juga mengambil tikar kecil yang tergeletak tak jauh dari meja kompor dan menggelarnya di lantai, tepat di depan Kean, untuk mereka duduk saat sarapan nanti. Kean menggeleng pelan sebagi ganti jawaban yang tak terucap dari mulutnya. Gadis itu kemudian pergi ke kamar mandi, mencuci muka, serta menggosok giginya secepat kilat. Tidak sabar ingin mencicipi air s**u dan roti meses buatan Widya. Apalagi tikar sudah digelar oleh sang mama,  menandakan kalau dirinya harus cepat bersiap kalau tidak ingin ketinggalan sarapan.  Sejenak Kean melupakan sedikit rasa khawatir pada penampilan Widya. Ketakutan akan ditinggal berdua bersama Erin di rumah, menyusut. Gadis kecil itu berpikir, ibunya telah begitu begitu baik mengambil alih tugas membuatkan mereka sarapan, tidak pantas untuk dicurigai macam-macam. "Bangunkan Erin, kita sarapan sama-sama!" perintah Widya tanpa melihat pada putri sulungnya. Widya mencuci beras di dalam sebuah baskom kecil, kemudian memindahkannya ke dalam panci rice cooker. Setelah selesai ritual memasak nasi, ia pun beralih pada satu kaleng ikan sarden yang kemarin mereka beli di pasar. Tangkas wanita itu membuka tutup bagian atasnya dengan pisau dapur dan menuangkan seluruh isinya ke dalam wadah kecil dari kaca. Tidak lama kemudian Widya pun segera mengupas dan merajang bumbu untuk ikan sarden kalengan yang akan ia masak sebagai lauk makan siang kedua putrinya. Kean mempercepat ritual gosok gigi dan mengguyur wajah sekedarnya. Mencuci muka tanpa berniat mandi. Udara dingin pedesaan membuat gadis kecil itu enggan menyentuh air lama-lama. Setelah selesai ia pun bergegas kembali ke kamar, membangunkan Erin yang masih tidur lelap. Alam pedesaan yang tenang disertai udara yang menyejukkan, memang sebuah perpaduan yang pas untuk membuat siapa pun enggan meninggalkan peraduan. Kean menggugah tubuh Erin, mengguncangnya perlahan agar bocah itu segera bangun. Erin mengucek-ngucek matanya perlahan, sekilas tersenyum manja pada Kean. Kakak yang sering kali berganti peran sebagai seorang ibu untuknya. "Ayo, bangun! Mama sudah buatkan s**u dan roti untuk sarapan," ajak Kean, membuat senyum Erin semakin merekah. Semenjak ayahnya meninggal, Kean dan Erin memang jarang sekali menikmati hidangan lezat. Minuman mewah mereka hanya air teh manis, itu pun sangat jarang bisa mereka nikmati. Sisanya hanyalah air putih yang menjadi minuman mereka setiap saat. Makanan terenak yang sering mereka nikmati hanya telur atau Indomie yang dijadikan sebagai lauk makan nasi. Itulah sebabnya kedua anak kecil itu sangat gembira ketika Widya membelikan dua kaleng s**u dan roti, ketika mereka belanja di pasar. Sesaat keduanya merasa seperti anak orang kaya yang bisa makan enak. "Gendong," pinta Erin sambil mengulurkan tangan.  Gadis kecil dengan rambut sebahu yang terurai kusut tersebut, memandang sendu pada Kean. Berharap sang kakak bersedia menggendongnya ke dapur. Meskipun jarak usia mereka berdua tidak terlalu jauh, tetapi Kean sangat bisa menempatkan diri sebagai Kakak yang menjaga adiknya dengan sangat baik. Itulah sebabnya Erin lebih sering bermanja pada Kean dibandingkan kepada ibu mereka. Widya terlalu sibuk bekerja mencari nafkah di luar rumah, membuat keduanya tidak dapat lagi merasakan kehangatan kasih sayang dan kelembutan wanita itu. Mereka menikmati kasih sayang Widya hanya dalam bentuk nafkah yang diberikan sang mama. Sedangkan perhatian yang mereka rindukan tak pernah lagi dirasakan. Kean menggendong tubuh mungil Erin, membawanya ke kamar mandi, kemudian mencucikan wajah dan menggosok giginya. Setelah selesai barulah mereka berdua duduk berdampingan. Bersama nikmati roti dan segelas s**u hangat buatan Widya. "Selesai sarapan, Mama sudah harus pergi bekerja. Kean dan Erin baik-baik di rumah. Jangan nakal dan jangan pergi ke mana pun, tunggu di rumah sampai Mama pulang!" titah Widya pada Kean dan Erin. Seketika kedua anak kecil itu terdiam. Roti yang sudah siap masuk ke mulut mereka, diletakkan kembali di piring. Seketika rasa manisnya s**u yang baru saja mereka nikmati berganti menjadi rasa pahit akibat kecewa yang menumpuk.  Kean membantu, enggan menghabiskan roti meses miliknya. Lembutnya roti yang tadi ia makan, berubah menjadi duri di leher. Menusuk hingga ke hatinya yang merasa kecewa. Hari ini sang mama akan meninggalkan mereka lagi untuk bekerja. Tidakkah terlalu terburu-buru untuk meninggalkannya dan Erin, sepagi ini? "Mama, sudah harus kerja hari ini? Kita baru pindah kemarin, Kean dan Erin masih takut ditinggal sendirian," lirih gadis kecil bertubuh ringkih itu.  Entah mengapa, sejak kepindahan mereka ke mari, Kean merasa berat melepas Mamanya pergi, sekali pun untuk bekerja. Seakan ada bisikan yang sangat kuat, menyuruhnya untuk menyuruh Widya tetap berada di sisinya dan Erin. "Kean, kalau Mama tidak pergi bekerja, dari mana kita dapat uang untuk makan dan bayar sewa rumah ini? Kita butuh uang untuk bertahan hidup. Kamu juga bilang ingin sekolah lagi seperti teman-teman. Itu sebabnya Mama harus segera bekerja keras, cari uang banyak untuk memenuhi kebutuhan kita dan membiayai sekolahmu," jelas Widya berusaha memberi pengertian pada putri sulungnya. Roti yang masih tersisa separuh ditangan Widya, diletakkan kembali ke dalam piring. Ia seolah menahan kesal mendengar permintaan Kean. Wanita itu tidak perlu merasa khawatir pada Erin. Putri bungsunya itu sudah tidak peduli lagi padanya. Di mata gadis kecil itu hanya ada sang kakak ... kakak ... dan kakaknya saja. Erin tidak pernah membutuhkan Widya dalam hal apa pun. Dalam situasi apa pun, bocah itu selalu mencari Kean. "Tapi ... sore nanti, Mama pulang, 'kan?" tanya Kean memastikan kalau Widya akan segera kembali ke rumah setelah selesai jam kerja. Entah mengapa, jauh di dalam hatinya, Kean merasa kalau sang mama pergi tidak akan kembali. Gerak-gerik Widya yang terlihat berbeda beberapa hari kebelakang, tepatnya setelah mereka ke desa ini, membuat hati gadis kecil itu merasa kalau sang mama sengaja menjauh dan menghindar dari dirinya dan Erin. Widya mengangguk. "Mama pasti pulang, Nak. Kalian tunggu saja di rumah, dan jangan ke mana-mana." Widya berusaha meyakinkan putri sulungnya. Perubahan wajah Kean begitu kentara ketika dirinya mengatakan ingin pergi bekerja.  Kean menunduk. Seberat apa pun, ketakutannya ditinggal berdua dengan Erin di rumah ini, tetapi ia lebih takut lagi jika mereka tidak memiliki uang untuk makan dan membayar sewa rumah. Di mana mereka akan tinggal jika tidak mampu membayar sewa? Perlahan kepala Kean mengangguk, mengizinkan Widya pergi meski dengan berat hati.  Widya kembali meneruskan sarapannya yang tinggal sedikit dengan bibir tak henti mengukir senyum. Sengaja berlama-lama menikmati roti miliknya sembari menunggu Kean dan Erin selesai sarapan. Setelah semuanya beres, Widya pun pergi, meninggalkan Kean dan Erin yang melambaikan tangan padanya. *** Hari telah menjelang maghrib. Pekat malam mulai mengintai, menutup sinar matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat. Kean dan Erin masih duduk di teras rumah menunggu kepulangan Widya. Tidak mereka rasakan gigitan nyamuk yang selalu mengintai bagai lebah. Mata keduanya hanya tertuju pada jalan, berharap sosok sang Mama segera datang. "Masuk yuk, Kak. Di sini banyak nyamuk!" ajak Erin setengah memaksa. Tangannya saling silih berganti menggaruk bagian tubuh yang bentol akibat gigitan nyamuk.  Sesekali Erin berusaha menangkap nyamuk yang terbang di depannya dengan menangkupkan kedua telapak tangan. Namun, usaha itu sia-sia, karena nyamuk kecil itu begitu lihai menghindar. mengundang kekesalan di hatinya. Hari semakin gelap, pohon-pohon besar di seberang jalan telah berganti menjadi bayangan hitam tinggi. Bulu kuduk Kean bergidik ngeri, tetapi dirinya masih enggan masuk ke dalam. Berniat menunggu Widya pulang dan hadir di depan mereka berdua. "Sebentar lagi, ya, Dek. Siapa tau Mama sebentar lagi sampai," pinta Kean, mencoba bernegosiasi sekaligus menghibur Erin yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam rumah.  "Erin lapar, Kak. Tunggu Mama di dalam saja, sambil makan," keluh Erin lagi. Memaksa Kean menuruti keinginannya. Kean mengangguk, mengabulkan permintaan Erin yang sejak tadi merengek. Sejujurnya, perut gadis kecil itu juga sudah lapar sejak tadi, tetapi karena ibunya belum pulang, rasa lapar itu ia tahan. Kean dan Erin masuk ke dalam. Mengunci pintu rumah rapat-rapat, mhawatir jika ada orang asing yang masuk ke rumah. Apalagi saat ini, Widya sedang tidak ada. Rasa takut itu semakin membuncah. "Erin mau makan pakai lauk sarden yang tadi pagi dimasak Mama," pinta Erin ketika melihat Kean mengambilkan sepiring nasi untuknya.  Kean cuma mengangguk. Melayani semua kemauan Erin dalam diam. pikirannya masih bermain ke sana ke mari, teringatkan ibunya yang belum juga pulang.  Disuapinya Erin yang makan dengan lahap tanpa suara. Meskipun sesekali ia juga menuruti kemauan adiknya untuk bersama-sama menikmati nasi yang terlihat enak dengan lauk sarden. Namun, selera makan gadis itu benar-benar telah hilang, membuatnya tidak merasa lapar sedikit pun. "Erin cepat makannya, setelah itu masuk kamar. Kita tunggu Mama di dalam saja!" Ajak Kean setengah memaksa, agar Erin cepat menghabiskan nasi yang tersisa sedikit. Gadis kecil itu menghabiskan suapan nasi terakhir yang sudah tidak diinginkan Erin. Ia letakkan begitu saja piring kotor bekas makan di atas meja kompor. Mengambil air minum di dalam sebuah botol dan membawanya masuk ke dalam kamar.  Berdua mereka di dalam kamar yang sepi, tanpa berani keluar. Saling berpelukan ditemani suara nyanyian jangkrik, hingga ujung malam, dan akhirnya tanpa sadar terlelap. Lelah melewati detik demi detik, menunggu sang mama yang tak kunjung pulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN