Mama Sangat Aneh

1781 Kata
Pagi masih sangat muda, tetapi Widya telah terlihat rapi dan cantik. Pagi-pagi sekali ia sudah membereskan seluruh pekerjaan rumah, tanpa menciptakan suara berisik yang bisa membuat kedua putrinya bangun. Sengaja menyelesaikan semua pekerjaan lebih cepat dari biasa, karena hari ini dirinya akan ke pasar. Berbelanjan bahan dapur untuk kebutuhan Kean dan Erin, sebagai persediaan stock makanan untuk beberapa hari ke depan selama dirinya pergi bekerja. Lokasi rumah yang jauh dari pasar mengharuskannya untuk berbelanja sebanyak yang ia bisa dan mampu. Di dalam kamar, Kean menarik selimut semakin rapat, berpura-pura tidur, sembari menunggu Widya membangunkannya seperti biasa. Berharap kalau wanita itu tidak akan terburu-buru pergi ke pasar seperti yang dikatakannya kemarin. Setidaknya mau menunggu beberapa saat lagi, hingga dirinya beranjak bangun atau setelah matahari agak sedikit tinggi.  Sejujurnya rasa takut di dalam hati Kean belum juga memudar, meskipun sudah mendapatkan banyak nasehat dari Widay kemarin malam. Rasa takut disebabkan rumah baru yang mereka diami ini sangat terpencil, sepi, dan jauh dari tetangga. Khawatir jika ada orang jahat yang bertandang di saat mamanya tidak ada. Apalagi kalau mengingat semalam mereka tidur, benar-benar dalam kesunyian, hanya bertemankan nyanyian jangkrik.  Rupanya harapan Kean tidak terwujud, Widya masuk ke kamar hanya untuk mengambil tas kecil, dan keluar lagi tanpa berniat membangunkannya juga Erin. Kean yang mengintip dari balik selimut, bergegas bangun, saat terdengar pintu ruang tamu terbuka. Menyusul Widya yang sudah berada di halaman. “Ma, Kean dan Erin ikut, ya. Kami masih takut!" pinta Kean separuh berteriak. Gadis kecil itu berdiri di ambang pintu wajah tertunduk penuh harap, menunggu Widya melangkahkan kakinya kembali ke rumah. Walaupun Widya tidak pernah berkata kasar ataupun meluapkan kemarahan pada kedua anaknya, tetapi  Kean tahu kalau wanita itu sangat tegas dan tidak suka di bantah. Setiap perkataannya adalah titah yang harus dipatuhi, sekalipun itu bertentangan dengan keinginan mereka. Widya yang sudah berada di bibir jalan, berbalik melihat ke arah Kean. Berat hati, ia melangkah kembali masuk ke halaman dan duduk di undakan teras. “Mama cuma ke pasar, Kean. Nggak sampai siang, Mama udah pulang!” sahutnya dengan nada kesal.  Wajah wanita cantik itu sedikit mengeras, mendengar permintaan putri sulungnya. Kean terdiam, jauh di dalam hatinya bertanya-tanya. Tidak tahukah ibunya bagaimana rasa ketakutan? Tidak mengertikah ibunya bahwa rasa takut itu bukan sengaja ia ciptakan, melainkan datang begitu saja menyusup ke dalam hati? Seandainya setelah kepergian sang mama ada seseorang yang masuk dan mengambil semua barang-barang di rumah, tidakkah wanita itu khawatir? Di rumah mereka memang tidak ada satu pun barang-barang mahal yang layak jual, selain sebuah kasur tipis, kompor, dan perabot dapur lainnya. Namun, bukankah barang-barang itu juga cukup beharga jika dicuri orang? Barang-barang tua itu masih bisa menjelma menjadi sedikit uang jika dijual, dan pastinya mereka sekeluarga pun akan kalang kabut jika kehilangan keseluruh perabot dapur dan kasur. “Hari ini saja, Ma. Kean belum terbiasa tinggal di rumah sepi seperti ini,” pinta Kean lagi. Mengangkat sedikit wajahnya, menatap sendu pada sang ibu. Lama Widya terdiam hingga detik berikutnya wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepala, menyetujui permintaan putri sulungnya. Mengalah pada keinginan Kean . Hati gadis kecil itu berbunga, melihat anggukan dan senyum yang merekah pada wajah cantik mamanya. Kulit putih kemerahan, serta rambut panjang wanita itu tampak berkilau dan tergerai indah. Menambah pesona kecantikan Widya yang selalu membuatnya kagum. Segera ia berlari masuk ke kamar, mengambil handuk kecil yang akan digunakannya untuk mengeringkan badan setelah mandi dan melintas cepat menuju dapur. “Jangan lupa bangunkan Erin, dan cepat mandi. Mama tunggu kalian di sini!” Pekik Widya, membuat Kean kembali masuk ke kamar, membangunkan adiknya yang masih terlelap. Diguncangnya perlahan pundak Erin yang masih tertidur nyenyak. Bocah kecil itu menggeliat, tetapi hanya sesaat karena detik berikutnya, ia kembali memeluk guling, enggan beranjak dari peraduan. Kean kembali mengguncang pundak adiknya, sedikit memaksa agar si bungsu segera beranjak meninggalkan kasur. Dirinya khawatir kalau Erin terlambat bangun, sang mama akan keberatan menunggu dan akhirnya pergi tanpa mereka berdua. Susah payah Kean membangunkan Erin, akhirnya anak itu bangun juga. Setengah memaksa, menyeretnya ke kamar mandi. Walaupun bagaikan bebek yang asal cemplung. Gosok gigi sekedarnya dan hanya membasahkan tubuh dengan air tanpa sabun. Semua mereka lakukan serba ringkas, selain udara dingin yang menusuk kulit, juga tidak mau membuat Widya menunggu terlalu lama. “Cepat, Kean. Mama nggak mau kita kesiangan!” teriak Widya dari arah teras. “Sebentar, Ma. Tinggal pakaikan Erin celana!” balas Kean dengan teriakan yang tak kalah nyaring, sembari mempercepat geraknya memakaikan sang adik baju. Di saat seperti ini, sering muncul rasa sesal di hati Kean. Seandainya sedari tadi Widya mau membantu memandikan dan memakaikan Erin baju, pasti sekarang mereka sudah siap. Mereka pasti sudah di jalan, menunggu angkot yang akan mengantarkan mereka bertiga ke pasar. Namun, sesalnya tidak berguna, karena selalu seperti inilah Widya. Wanita itu selalu menyerahkan semua tugas mengurus rumah dan Erin, pada Kean. Menganggap gadis delapan tahun itu bisa menyelesaikan semuanya sendirian tanpa bantuan. “Sudah selesai?” tanya Widya saat melihat Kean dan Erin sudah berdiri di depannya.  Kean mengangguk sambil merapikan rambut Erin yang awut-awutan. Wajah polos mereka tampak lusuh tanpa sedikit pun bedak yang menghiasi wajah. Rambut basah yang terurai panjang tanpa disisir, membuat keduanya seperti anak kecil yang tak terurus. Widya tersenyum, menyuruh kedua anaknya berjalan lebih dulu, sementara dirinya mengunci pintu rumah. Tidak berapa lama, wanita itu sudah dapat menyusul Kean dan Erin, bahkan berjalan mendahului mereka. Dari belakang, Kean memperhatikan baju yang dikenakan Widya. Ibunya tampak rapi, bersih, dan indah, semakin memancarkan kecantikannya. Berbeda jauh dengan baju yang ia dan Erin kenakan. Lusuh karena warna yang telah pudar dan terasa sempit di badan karena ukurannya yang kekecilan. Pantas saja Mama tidak pernah mau menggandeng tangan kami, saat jalan bersama. Rupanya Mama malu dengan keadaanku dan Erin yang sangat lusuh, batin Kean. Dalam diam gadis kecil itu mempercepat langkah tanpa melepas genggaman tangannya pada Erin. Terseok mengejar Widya yang telah berada jauh di depan mereka. *** Widya memasuki satu demi satu kios yang ada di pasar, sementara Kean dan Erin mengikuti langkahnya dari belakang. Wanita itu tampak kepayahan membawa keranjang belanjaan yang hampir penuh. Sudah cukup banyak yang mereka beli, tetapi sepertinya Widya masih enggan berhenti. Langkahnya lincah menyelusup di antara kerumunan orang yang keluar masuk kios, hingga mereka tiba pada sebuah toko yang menjual barang kelontong. Di belakang Widya, mata Kean liar menatap berbagai makanan kecil di toko yang mereka singgahi. Namun, ia tak berani meminta pada ibunya untuk membelikan mereka sesuatu. Ia hanya mampu melihat semua makanan itu dengan air liur menetes. “Kean dan Erin, mau beli apa?” tanya Widya tiba-tiba, membuat gadis kecil itu sedikit membulatkan mata.  Pertanyaan Widya bagaikan mimpi untuk Kean. Tidak pernah ibunya sebaik ini, bertanya apa yang mereka inginkan. Biasanya wanita itu belanja hanya keperluan dapur tanpa pernah membelikan apa pun untuknya dan Erin. "Adik kecil, mau beli apa? Mamanya nyuruh pilih sendiri, tuh," tanya ibu pemilik toko, memandang pada Kean dan Erin bergantian. Senyum lebar, mengambang di wajah ayu pemilik toko. Tangannya lincah menunjukkan satu demi satu makanan kecil yang sengaja digantung pada kayu kecil melintang, di atas kepala mereka. Sedikit menuntut pada kedua gadis kecil itu agar segera menjatuhkan pilihan. "Ayo pilih! Kalian bebas mau beli apa saja." Kembali Widya mengejutkan kedua anaknya dengan kebaikan hati yang selama ini jarang terjadi. Kean menunjuk pada satu kaleng s**u kental manis dan roti tawar. Sudah lama ia ingin menikmati kedua makanan tersebut. Makanan yang menurutnya sangat mahal. Dirinya dan Erin pernah memakan Roti yang ditaburi meses serta diberi olesan s**u, ketika bermain di rumah Ratih. Walau hanya satu kali dan sudah sangat lama, tetapi dirinya masih dapat mengingat dengan jelas, enaknya rasa makanan tersebut. Lembutnya roti yang diberi s**u dan manisnya butiran coklat meses, terasa lembut, manis, dan pecah menjadi satu di dalam mulut. "Ada lagi?" tanya Widya pada Kean, sembari berpaling pada putri bungsunya. "Erin, mau beli apa?" Widya mengambil dua kaleng s**u dan dua roti tawar yang dijadikan satu dengan belanjaan lain. Meletakkannya di atas meja kecil tempat pemilik toko menghitung semua belanjaan pelanggan. Wanita itu berbelanja cukup banyak. Beras dalam kantong plastik berukuran sedang warna hitam, sabun cuci, sabun mandi, minyak goreng, dan beberapa bumbu dapur. Semuanya ia letakkan jadi satu di atas meja kecil tadi. "Kalau ditambah meses, boleh, Ma?" tanya Kean pelan, sambil menunjuk pada kantong meses yang tergantung memanjang.  Tanpa menunggu persetujuan Widya, pemilik toko mengambilkan satu bungkus meses dan menjadikannya satu dengan belanjaan yang lain, sedangkan Erin menyerahkan satu bungkus besar snack pada pemilik toko. Snack yang sejak tadi peluk atas seizin Widya. "Masih ada lagi yang mau dibeli" tanya Widya membuat kedua anaknya makin tercengang. Kean terdiam. Ada apa dengan ibunya? Kenapa hari ini begitu baik hati? Wanita itu berbelanja seolah-olah ini terakhir kalinya membelikan mereka makanan.  Apakah ini bentuk kemarahan Mama pada kami, karena memaksa ikut pergi ke pasar? tanya Kean dalam hati. Wajahnya menunduk, tidak berani melihat Widya. "Belanjaan Mama sudah cukup banyak, kalau aku menunjuk dan meminta yang lain lagi, apakah Mama punya uang untuk membayar?" tanya Kean lirih, nyaris tak terdengar.  Selain khawatir akan kemarahan ibunya, Kean juga takut kalau Widya tidak punya cukup uang untuk membayar semua belanjaan mereka. Widya tersenyum, tangannya mengelus rambut Kean dan Erin bergantian. "Mama masih punya cukup uang, beli saja apa yang Kean dan Erin mau,"  Gadis kecil itu tersenyum lega, tangannya kian erat menggenggam tangan Erin. "Kean ingin sarden dan indomie, Ma. Buat lauk kita, nanti," pintanya pada Widya. Pemilik toko ringkas bergerak mengambilkan dua kaleng sarden dan beberapa bungkus indomie, kemudian meletakkannya di atas meja kecil, tempat semua belanjaan Widya terkumpul. Saat melewati Kean, disempatkannya untuk mengusap kepala gadis kecil itu. "Anakmu pintar, Mbak," ucap pemilik toko pada Widya yang mendapat balasan sebuah senyum samar. Ada sedikit kebanggaan terselip di hati Kean, ketika disebut sebagai anak pintar. Anak kecil itu tersenyum sumringah, sementara Erin hanya diam, tidak mengerti apa yang pemilik toko dan ibunya bicarakan. Widya membayar semua belanjaan dan memasukkannya ke dalam keranjang. Ia menyuruh Kean dan Erin untuk berjalan lebih cepat menuju terminal.  "Semua makanan yang kita beli ini, harus dihemat. Belanja banyak, bukan untuk sekali makan. Mama beli lima kilo beras, dua puluh bungkus mie, dan yang lainnya, semoga cukup untuk makan kalian berdua selama satu bulan," ucap Mama penuh harap.  Kean membisu, walaupun kata-kata Widya terdengar aneh, tetapi dirinya tetap mengangguk sebagai tanda dirinya mendengarkan apa yang wanita itu katakan. Widya bicara seolah-olah semua belanjaan itu hanya untuk dirinya dan Erin tanpa wanita itu ikut menikmatinya. Terminal sudah ada di depan mata, mereka pun mempercepat langkah, mengejar angkutan umum, yang akan melewati desa. Meskipun sudah hampir penuh dan dengan sedikit kepayahan, Widya masih bisa mendapatkan tempat duduk di bagian belakang sopir sambil memangku Erin, sedangkan Kean berdiri di sampingnya. Berpegangan pada ujung belakang kursi pak sopir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN