Kuntum bunga dan potongan daun pandan yang menghiasi tanah merah, tempat peristirahatan terakhir Erin, telah layu dan mengering. Sekering hati Kean yang belum juga puas menangisi kematian sang adik. Lebih dari tiga jam, gadis kecil itu terpekur di depan pusara Erin. Menyesali hidupnya yang kini sebatang kara.Berulang kali ia bertanya dalam hati, untuk apa hidup jika hanya seorang diri. Untuk apa dirinya masih bernapas, jika Erin yang selalu menempel padanya telah tiada. Awan mendung yang menggantung di langit, mulai meneteskan air. Membasahi tubuh Kean yang masih enggan bergerak dari samping batu nisan sang adik. Pelukan anak itu semakin erat saat Mbok Min menepuk pundaknya. Mengajak pulang sebelum hujan menjadi lebat. “Kita pulang Kean,” lirih Mbok Min.Hanya itu kata yang dapat keluar d

