PROLOG
"Maaf, Nak. Tapi Papa dan Mama belum bisa menjenguk Nenek. Terlebih, perusahaan sedang dalam masa krisis. Papa mohon pengertiannya, 'ya? Papa usahakan nanti malam akan mentransfer uang untuk biaya administrasi Rumah Sakit Nenek. Papa tutup dulu telponnya," ucap Zaidan terdengar begitu singkat, padat, dan jelas dari seberang sana.
"Tapi Pa, yang Nenek butuhin itu Papa. Bukan hanya uang Papa. Papa kenapa egois banget, sih?! Kenapa Papa selalu minta dimengerti sedangkan Papa sendiri sulit untuk mengerti?" sela Aira saat sambungan hendak terhenti.
Terdengar helaan napas yang cukup panjang, membuat tubuh Aira kembali bergetar menahan tangis. Ini yang tidak ia inginkan sejak awal. Ini yang sangat ia cemaskan.
"Sudahlah, Papa tidak mau memperdebat. Papa tutup telpon."
Sebelum Aira kembali menyela, nada dering tanda sambungan terputus sudah terlebih dahulu terdengar.
Gadis dengan pakaian seragam berwarna Putih-Biru yang masih lengkap dengan dasi itupun mencengkeram ponselnya kuat, meluapkan kekesalannya pada sang papa.
Tetapi ia sadar, Aira tidak sekuat itu. Aira masih membutuhkan sandaran. Bukan hanya sekedar khayalan.
Ia menelungkupkan kepalanya di atas ranjang. Menangis sesenggukan di dalam sana.
"Kenapa sih, Papa sama Mama gak peduli? Kenapa Papa dan Mama gak pernah mau pulang? Kenapa, Nek?" gumam Aira sambil mendongakkan kepalanya sedikit. Menatap wajah Eva, neneknya dengan bendungan air mata.
Tiba-tiba saja pergerakannya seolah terhenti saat melihat napas Eva tak beraturan. Apa neneknya sudah siuman?
"Nek? Nenek sudah siuman??" tanya Aira cepat sambil bangkit dari duduknya. Tidak ada jawaban dari Eva, napas beliau masih tak beraturan.
Dengan cepat Aira bergegas keluar, memanggil dokter untuk segera diperiksa. Tak menunggu lama, seorang dokter dan suster pun datang.
"Dok, Nenek saya sudah siuman!!" Aira berucap dengan sedikit meninggikan suaranya membuat dokter tersebut mengangguk.
Dokter itupun segera memeriksa detak jantung Eva menggunakan stetoskop.
Aira hanya memperhatikan itu semua dari sudut ruangan.Sejujurnya ia takut.
Namun belum sempat ia mencerna, suara alat monitor hemodinamik dan saturasi mendadak terhenti, disertai tubuh Eva yang sudah tidak bergerak lagi membuat napas Aira semakin tercekat.
"Dok! Kenapa alat monitornya sudah tidak bersuara lagi?!! Apa alatnya rusak? Pasti! Alatnya rusak, 'kan, Dok?!!"
Dokter itupun memberi kode kepada suster untuk memeriksa monitor, sedangkan ia berusaha untuk mengecek nadi Eva, ia mencabut selang infus yang terpasang di hidung dan tangan Eva.
Keduanya saling memandang sebelum kemudian menggeleng. Mengalihkan pandangannya kepada Aira yang kini tengah berjalan mendekat ke arah Eva.
"Catat waktunya, jam dua lebih lima belas menit tiga puluh dua detik."
Mendengar itu, suster tersebut pun mengangguk. Segera mencatat jam yang dokter katakan di sebuah buku, tak lama kemudian suster itupun pergi dari ruangan menyisakan dokter dan Aira berdua di dalam ruangan.
"Kenapa, Dok?! Monitornya rusak, 'kan? Duh, Dokter kalau monitornya rusak gak usah ditaruh di ruangan dong, bikin jantung saya kumat," kata Aira sambil menghela napasnya sedikit lega.
Ia mengambil satu tangan Eva, Aira mengelus punggung tangan itu dengan sayang.
"Nek?" ucap Aira memanggil Eva. Senyumannya masih terbit manis di bibir mungil itu.
"Dek," sahut dokter tersebut dengan gelengan membuat Aira mengernyit.
"Kenapa?"
Sebelum menjawab, terlihat sang dokter menelan salivanya dengan kasar. Sebenarnya ia tidak tega menyampaikan hal ini.
"Papa dan Mama kamu ... di mana?"
"Ada.Tapi sedang bekerja di luar kota. Memangnya ada apa?"
"Apa mereka tidak bisa ke sini sebentar?" tanya dokter itu lagi membuat kerutan di dahi Aira semakin dalam.
"Memangnya ada apa, Dok?"
Pertanyaan Aira berhasil membuat dirinya mati kutu. Terdiam sejenak sebelum kemudian memutuskan untuk memberitahu. Toh, nanti Aira juga pasti akan tahu.
"Tuhan lebih menyayangi Nenek kamu," ucap dokter itu.
Aira menegang, mencoba mencerna setiap kata yang terlontar dengan mulus dari bibir dokter itu.
"Maksud Dokter bagaimana? Iya, saya tahu kalau Tuhan menyayangi Nenek saya. Karena Nenek saya setiap hari beribadah," balas Aira mencoba menepis setiap arti yang masuk ke dalam otaknya. Sangat mustahil jika pikiran negatif itu benar adanya.
"Maafkan saya, tapi Nenek kamu sudah tiada."
Deg!
Tanpa adanya benda tajam, d**a Aira kini terasa sakit. Napasnya tidak beraturan bersamaan dengan kepalanya yang mendadak berat.
"Maksud Dokter?"
Satu kalimat tanya yang berhasil keluar dari bibir gadis itu sebelum matanya benar-benar tertutup.
Mengedarkan pandangan, ia sedang berada di kamarnya. Namun ia mengernyit saat telinganya mendengar suara tangis yang bersusul-susulan.
Mengingat kejadian tadi, matanya membelalak. Kemudian ia segera bangkit dari kasur dan berjalan menuju ruang tengah. Terlibat sudah banyak orang berkumpul di sana. Ditambah lagi dengan Eva, neneknya yang kini tengah terbaring lemah di atas tikar membuat Aira segera berlari menghampiri sang nenek. Memeluk Eva dengan erat, seolah tidak mau kehilangan.
"Nek! Bangun, Nek," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan lengan Eva. Berharap bahwa neneknya akan cepat bangun.
"Jangan tinggalkan Aira, Nek," lanjut gadis itu sambil sesekali terisak.
Kenapa? Kenapa Eva begitu cepat meninggalkan dirinya? Bahkan, selain Eva, tidak ada yang benar-benar peduli kepadanya. Bahkan, di saat-saat terakhir Eva, tidak ada pesan yang beliau sampaikan membuat Aira semakin dirundung rasa bersalah. Andai saja, beberapa hari lalu ia menyetujui saran Eva agar beliau segera dioperasi, pasti saat ini Eva masih tetap ada di sini. Masih tetap bersamanya.
Kini rasa bersalah dan penyesalan itu datang membuat Aira semakin memeluk erat tubuh Eva. "Nek, Aira masih butuh Nenek."
"Sudah, Nak."
Aira berhenti terisak saat mendengar suara yang tidak asing baginya. Begitu familyar. Orang tersebut menarik lengan Aira dan mendekapnya dari belakang.
Dengan cepat Aira membalikkan tubuh, ia tercengang saat melihat orang itu adalah papanya. Aira menjauh, ia bangkit dari duduknya membuat semua pandangan kini terpusat kepadanya.
"Papa jahat! Papa jahat sama Nenek dan Aira! Papa jahat! Papa selalu mementingkan diri Papa ketimbang dengan kami! Papa selalu mementingkan uang! Aku benci Papa!" teriak Aira dengan menggebu-gebu.
Semua orang yang menyaksikan itupun dibuat tercengang, mereka mula8 berbisik-bisik. Tidak menyangka jika Zaidan dan Alisya yang terkenal ramah itu bisa setega itu.
Melihat itu, Zaidan dan Alisya pun bangkit. Segera menarik paksa tangan Aira menuju ke halaman rumahnya, rumah Eva.
"Aira!" bentak Zaidan mencengkeram kuat tangan gadis itu, membuat Aira memekik menahan sakit.
"Papa kerja itu untuk kamu! Tidak sepantasnya kamu bersikap seperti itu!"
"Kamu pikir, di sini hanya kamu saja yang terluka? Papa juga, Aira. Apa kamu tidak bisa mengerti keadaan Papa?"
Lagi. Kalimat itu yang selalu Zaidan ucapkan membuat Aira semakin terisak.
Menghela napas, Zaidan mencoba tenang saat tangan Alisya kini berada di punggungnya.
"Sudahlah, ayo kita urus pemakaman Ibu," ajak Alisya membuat Zaidan segera pergi dari tempat itu.
Aira memegang pergelangan tangannya yang terasa panas. Gadis itu terisak sendirian di halaman belakang rumah.
"Diam. Lo terlalu mengusik ketenangan gue."
Namun suara seseorang membuat Aira terkejut. Yang lebih mengejutkan lagi, saat Aira melihat kaki lelaki itu tidak menapak di atas tanah.