bc

Drama Cinta si Brewok

book_age18+
475
IKUTI
3.5K
BACA
drama
twisted
humorous
like
intro-logo
Uraian

Azzura Yuana yang memiliki bos galak bernama Haidar, sikap otoriter dan tegas berlebih Haidar membuat Azzura membenci sosok lelaki brewokan itu.

Hingga suatu hari Haidar sangat menyesal karena melarang sekretarisnya itu pulang karena pekerjaannya masih ada yang salah, Azzura yang gelisah karena ibunya sakit pun akhirnya pingsan saat mendapat berita kalau sang ibu masuk ICU.

Azzura yang tak punya biaya nekat menjual kehormatannya senilah 50 juta pada seorang om genit, Haidar yang mengendus gelagat mencurigakan Azzura pun menguntit gadis itu.

Berhasilkah Haidar menggagalkan rencana bodoh Azzura itu?

Kisah Azzura-Haidar ini begitu manis dan indah, dibumbui pertengkaran juga drama yang bikin baper dan bucin.

chap-preview
Pratinjau gratis
-1-
SERANJANG DENGAN si BREWOK - 1 “Arini!” teriak Haidar dengan piyama basah dibanjiri keringat. Mesin pendingin ruangan yang menyala dengan suhu paling dingin, seolah tak berfungsi. Seperti biasa, dan seperti malam-malam sebelumnya, lelaki brewokan itu selalu saja bermimpi buruk. Mimpi yang sama setiap malamnya, yaitu bermimpi tentang wanita yang ia cintai, Arini. Seorang istri durhaka, yang demi harta dan kesenangan dunia tega meninggalkannya dalam keterpurukan. Napasnya terengah-engah. Matanya yang merah membulat sempurna. Kedua tangan mengacak rambut dengan kasar. “Aargh!” Dengan emosi, ia memukul kepalanya berkali-kali. Raut wajah lelaki itu penuh dengan kesedihan yang teramat sangat mendalam. Sang dewi yang didamba hilang bak ditelan bumi, meninggalkan rasa rindu yang tak terbendung. Setia yang ia jalani, masih tetap ia jaga. Walaupun sudah lima tahun lamanya sang istri pergi, tapi cintanya tak pernah terkikis sedikit pun. Haidar membuka laci meja yang terletak di samping ranjangnya. Ia mengambil bingkai foto, menatap wajah yang ada di sana, mengelus rambut yang tergerai lebat, dan mengusap kulit hitam manis milik Arini. Seperti anak kecil, ia terisak sambil memeluk foto tersebut. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Ia sadar bahwa apa yang terjadi dalam kehidupannya adalah sudah kehendak-Nya. Untuk itu, tak pernah sekali pun ia putus mendoakan agar sang istri dapat kembali bersamanya lagi. “Arini ... kamu di mana, Sayang? Lihat Sayang, aku sudah mapan sekarang. Aku sudah punya jabatan bagus di kantor. Dan, besok adalah hari pertamaku bekerja di kantor pusat. Aku dipromosikan untuk menjadi Districk Manager di sana, Rin. Kalau kamu ada di sini, bersamaku, tentunya kamu akan sangat bangga padaku. Dan, aku pun akan sangat bahagia karena perjuanganku selama tujuh tahun bekerja telah berbuah manis. Semua ini aku lakukan untukmu, Rin. Hanya untukmu,” lirihnya pilu. Azan subuh berkumandang, memanggil setiap insan yang masih terlelap dalam mimpi indah agar segera terbangun dan melaksanakan perinyah-Nya. Begitu pula dengan Haidar. Lelaki jangkung itu beranjak dari ranjang dan dengan langkah gontai berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudu. Dalam untaian doa yang ia panjatkan, selalu terselip nama sang istri yang sangat dirindukannya, berharap agar Sang Khalik suatu hari dapat mempertemukan dirinya kembali dengan sang bidadari yang sudah lama ia cari. Usai salat, Haidar keluar dari kamar. Ia duduk di sofa empuk yang berada di ruang tengah rumah barunya, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang berukuran cukup luas, bangunan yang kokoh dengan desain interior yang indah. Dilengkapi dengan perabotan mewah dan barang elektronik merek nomer wahid yang tertata rapi. Semua itu bisa ia dapatkan dengan kerja keras yang tinggi. Semenjak ditinggal minggat Arini, ia menjadi sosok pribadi yang gila kerja. Tak heran jika prestasinya di kantor cabang di Surabaya meroket, melesat cepat, yang akhirnya membuat karirnya cemerlang. Kesuksesannya itu ia dedikasikan untuk istri yang tidak tahu diri. Haidar seperti orang gila mencinta, tak jemu merindu dan menunggu. Dulu sebelum menjadi seorang manajer, Haidar hanyalah seorang marketing di bidang kontraktor. Selama tujuh tahun ia menggeluti bidang tersebut, tak kenal lelah dan juga tanpa pernah mengeluh. Semua ia jalani dengan tawakal dan ikhlas. “Seandainya kamu ada, Rin. Kamu pasti senang karena kini aku sudah punya semua yang kamu minta dulu. Harta dan jabatan yang bagus.” Haidar kembali teringat akan bayangan istrinya yang selalu menuntut ingin hidup mewah dengan harta yang berlimpah. Pekerjaannya yang hanya seorang marketer, tidak dapat menghilangkan rasa dahaga Arini akan kemilau harta. Padahal, kehidupan mereka pun terbilang berkecukupan. Namun, itulah manusia, tak pernah merasa puas dengan apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Cukup lama ia duduk termenung di pagi itu. Saat jam dinding klasik besar yang berdiri gagah di sudut ruang berdentang enam kali, barulah ia sadar bahwa sudah saatnya ia bersiap untuk menunaikan tugas dan kewajibannya terhadap perusahaan yang telah menjadikannya seperti sekarang. Logikanya kembali yang berperan. Ia beranjak dari sofa dan kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kantor barunya. Setelah berpakaian rapi, ia pun mempersiapkan kendaraan roda empat kesayangannya, yang ia beli dengan hasil jerih payah selama bekerja. Di garasi, ia memanaskan mesin mobil sejenak, kemudian melajukan mobilnya itu dengan santai. Dengan ramah, ia menyapa para tetangga yang tengah berada di depan rumahnya masing-masing. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu jam, ia pun sampai di kantor barunya, sebuah gedung pencakar langit yang berdiri kokoh nan megah. Sesampainya di basement, ia pun segera memarkirkan mobil. Lalu, melangkahkan kaki menuju lantai tiga, di mana ia akan menduduki posisi barunya sebagai districk manager, untuk menggantikan Cindy yang akan pensiun dini. Lelaki bertitel sarjana ekonomi tersebut berjalan dengan wajah yang dingin. Senyum yang tadi diumbar kepada para tetangganya, tak tampak di sini. Semua karyawan yang menganggukkan kepala untuk memberikan tanda hormat padanya tak diindahkanya. Dengan angkuhnya ia berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Sesampainya di depan ruangan Cindy, ia mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk setelah dipersilakan. “Selamat pagi, Bu,” sapa Haidar ramah. Cindy berdiri dan menyalami seseorang yang akan menggantikan posisinya itu. Mereka kemudian berbincang ngalor ngidul cukup lama. Di akhir perbincangan, wanita keturunan China itu pun mengajak Haidar untuk berkenalan dengan para pegawainya. Lelaki berjas abu-abu itu berjalan mengekor di belakang Cindy. Di luar ruangan, keduanya berdiri berdampingan. Semua pegawai pun berdiri dan berkumpul di tengah-tengah ruangan yang berukuran cukup luas itu. “Selamat pagi, teman-teman semua!” “Pagi, Bu!” jawab mereka serentak. “Perkenalkan, beliau adalah Pak Haidar Subagja. Yang akan menggantikan saya dan memimpin kalian di sini. Per hari ini, beliau sudah mulai bekerja di perusahaan ini. Itu artinya, hari ini adalah hari terakhir saya bekerja. Mulai besok, saya akan memakai seragam baru saya, yaitu daster. Pakaian ternyaman sedunia, di mana saya akan menjadi seorang ibu rumah tangga yang berkutat di dapur, sumur, dan kasur, hehe. Sebelumnya, saya minta maaf kepada rekan-rekan sekerja semua apabila selama saya memimpin kalian, saya pernah melakukan kesalahan baik dalam ucap maupun sikap. Jangan jadikan perpisahan ini sebagai akhir dari jalinan tali silaturahmi kita. Saya akan sangat senang apabila kalian bersedia menjadi teman saya. Sering berkunjung ke rumah. Pintu rumah saya selalu terbuka untuk kalian, tapi nggak 24 jam, ya, hehe.” Semua pegawai tersenyum getir. Ada juga yang terisak karena tak dapat menahan rasa sedih akan berpisah dengan atasan yang sangat baik itu. “Sudah ini suasana bapernya atau belum?’ goda Haidar kepada Cindy yang mengusap kedua pipinya yang basah berlinang air mata. “Silahkan Pak Haidar, lanjutkan!” Haidar pun mengangguk. “Ehm, selamat pagi, teman-teman semua. Salam kenal untuk semuanya. Nama saya kalian sudah tahu, ‘kan? Pasti tahu, karena sudah disebutkan tadi oleh Bu Cindy. Per hari ini saya mulai aktif di kantor ini. Saya minta kerja samanya, ya. Team work harus solid dan kompak. Jangan segan bertanya kepada saya, begitu pula sebaliknya. Sampai di sini, apa ada pertanyaan?” Semua pegawai saling berpandangan satu sama lain, lalu saling menggeleng. Suasana pun menjadi hening dan senyap. Tak ada satu orang pun yang memberikan pertanyaan padanya. Akhirmya, Haidar pun mempersilakan mereka untuk kembali ke meja kerjanya masing-masing. Haidar dan Cindy pun hendak kembali masuk ke dalam ruangan. Namun, langkah keduanya terhenti ketika mendengar suara langkah cepat dari ujung ruangan dekat lift . Tuk- tuk-tuk. Mereka menoleh. Mmuncullah seorang gadis yang berlari dengan tergopoh-gopoh. Napasnya terengah, mendekati atasannya. “Se-selamat pagi, Bu. Maafkan saya terlambat datang,” ucapnya ngos-ngosan. “Iya, Azzura. Tidak apa-apa. Kan, kamu sudah info tadi ke saya via WA, no problem.” “Thanks, Bu.” Cindy mengangguk dan tersenyum. “Come on, mulai bekerja!” “Siap, Bu.” Mata Haidar menatap tajam dan sinis pada anak buahnya yang datang terlambat tersebut. Tanpa gentar, Azzura pun menatap balik bos baru yang belum ia ketahui itu dengan tatapan yang jauh lebih tajam. “Mari Pak Haidar, kita kembali ke ruangan!” ajak Cindy. Rupanya ia lupa memperkenalkan sosok Haidar pada sekretarisnya. Haidar mengalihkan pandangan. Ia tersenyum dan berjalan memasuki ruangan. Sebelum masuk, lelaki berdasi garis-garis itu kembali menoleh ke arah Azzura. Sang gadis yang sadar kembali ditatap oleh pria asing di depan sana langsung mendongakkan kepala sambil melotot, seolah memberi isyarat sebuah pertanyaan mengapa lelaki tersebut sangat sinis terhadapnya. Tak sampai di situ, gadis bertubuh tinggi semampai itu pun berkacak pinggang dengan gagahnya. Semua pegawai yang menyaksikan mulai panik. Salah satu di antara mereka langsung menarik tangan Azzura. “Lu apa-apaan, sih?” tegur Dilla. “Bukan gue yang apa-apaan, tapi si Brewok itu. Baru juga ketemu, udah sinis banget ngelihatin gue dari atas sampai bawah. Dikira gue takut kali? Mentang-mentang badannya gede dan tampangnya nyeremin kaya gitu. Preeet!” Semua menggeleng. Ada juga yang menepuk jidat sambil berucap, “Kiamat ini mah judulnya.” “Gila! Cari mati lu? Yang elu pelototin tadi, itu adalah Pak Haidar, beliau adalah–“ “Ah, masa bodo. Gue kagak kenal sama itu orang. Mau Haidar, kek, mau Haidur, kek, yang jelas manusia songong kek dia kudu dijudesin, biar nggak ngelunjak.” “Elu yang ngelunjak, Oncom! Doski itu penggantinya Bu Cindy. Itu artinya Doski atasan kita. Dan, lo itu adalah sekretarisnya. Nyahoooo!” "APAAAAAAA?" Jreng ... jreng ... jreng ... zoom in ... zoom out. ?????????????? -BERSAMBUNG-

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook