Ada cerita lama yang terlupa antara kau dan aku…
Ada sebuah romansa di sana…
Tapi ketika aku tersadar, kau bukanlah lagi milikku…
Dia yang sekarang menggenggam tanganmu..
Adalah orang yang membuatmu tersenyum saat kau kembali memandang dunia…
…………………………………………………………
Alvaro Corp, ruang meeting
Di dalam ruangan besar bernuansa minimalis itu hanya ada tiga orang yang berada di dalamnya. Johan Alvaro selaku direktur utama, Renata Maria dan Gustav Accardi selalu pemilik perusahaan dan investor utama dari Accardi Inc. Pagi itu, Johan menyampaikan laporan perjualan serta persentase laba perusahaan selama satu semester terakhir. Dengan Bahasa Inggris yang fasih, Johan menjelaskan setiap perincian laporan yang ada dengan sangat mendetail sementara Renata dan Gustav hanya mendengarkan dengan sangat serius.
Tidak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa ngilu di dalam hati Johan saat melihat mantan istrinya sudah bersanding dengan pria lain di sisinya. Tapi melihat rona wajah Renata dan senyum manis yang terus ditunjukkan oleh wanita cantik itu, Johan sadar kalau bukan dirinya lah yang sekarang berhak mendampingi wanita tersebut. Renata sudah menemukan arti hidup dan kebahagiaannya bersama dengan Gustav Accardi.
Meeting mereka tersebut juga berjalan singkat. Kurang lebih hanya sekitar dua jam karena baik Gustav dan Renata juga sudah merasa sangat puas dengan hasil presentasi Johan. Tak lupa, persentasi profit perusahaan juga sudah ditransfer oleh bagian keuangan ke perusahaan Gustav di Italia.
Johan lalu mengantar kedua tamunya keluar gedung dan tak lama kemudian, ia kembali masuk ke dalam ruangan kantor pribadinya.
Derry yang sedari tadi sudah menunggu, langsung tersenyum lebar saat melihat kedatangannya.
“Bagaimana, Boss?”
“Kau sudah bertemu dengannya?” tanya Derry dengan nada antusias karena ia tahu kalau Johan sudah menemukan kandidat yang sesuai dengan kriterianya untuk menyamar sebagai “kekasih palsu”nya. Johan sendiri hanya mengangguk singkat tanpa mengatakan apapun. Tapi kemudian, ia tiba-tiba teringat sesuatu.
“Derry…”
“Tolong panggilkan Dullah untukku…”
“Oh, kenapa?” tanya Derry heran. Tidak biasanya Johan menyuruh dirinya untuk memanggil pria tersebut. Kecuali…
Kecuali Johan ingin melakukan sebuah pengecekan atas background seseorang atau tugas-tugas lain yang bersifat sangat rahasia dan berbahaya. Satu-satunya orang yang bisa melakukan hal tersebut adalah Dullah. Orang yang sama yang telah mengabdi kepada Papa Benito sewaktu ayahnya itu masih hidup sebelumnya.
“Kau ingin menyelidiki sesuatu?” tanya Derry lagi penasaran.
“Sekali lagi kau bertanya macam-macam, akan kusuruh kau yang melakukan tugas ini…” desis Johan galak pada bawahannya tersebut dengan mata memicing tajam. Ia memang paling tidak suka dengan mulut usil Derry padahal pemuda ini sangat kompeten dengan pekerjaannya sebagai asisten pribadinya.
“Baik, Boss…” kata Derry lagi dengan sigap sambil berjalan keluar ruangan.
Tak berapa lama kemudian, seorang pria jangkung dengan tatapan mata setajam elang dan wajah datar lalu memasuki ruangan pribadinya.
“Apakah Anda ingin bertemu dengan saya, Tuan Johan Alvaro?”
Raut wajahnya datar tapi sikapnya sangat waspada. Hasil penempaan bertahun-tahun selama di dunia militer telah terbentuk jelas di dalam karakter dan sikapnya. Lugas, tegas berkata-kata dan bertindak seperlunya sesuai perintah atasan. Sesederhana itu.
Johan lalu mengirimkan sebuah foto melalui ponselnya.
“Temukan keberadaan pria ini dan gali semua informasi sebanyak-banyaknya tentang orang ini. Latar belakangnya, identitas aslinya, pekerjaannya, semuanya. Lalu laporkan padaku…”
Dullah hanya mengangguk singkat sambil menjawab. “Baik…”
“Namanya?”
“Mario Jonathan…”
“Tapi kurasa itu bukanlah nama aslinya…”
Dari kali pertama Johan mendengar nama itu keluar dari mulut Wina, ia tahu kalau ada sesuatu yang tak beres dengan pemuda itu. Dan, instingnya biasanya tak pernah salah. Kali ini, ia akan mencari dan menguak kebenaran dengan caranya sendiri…
Dullah tidak mengatakan apapun lagi dan hanya kembali memasukkan ponsel ke dalam saku serta undur diri dari hadapannya. Setelah pria itu menghilang dari pandangannya, Johan lalu kembali menelepon seseorang.
Kali ini, raut wajahnya berubah. Lebih lembut dan rileks.
Tak lama kemudian, seseorang menjawab panggilan teleponnya di seberang sana.
“Halo, ini aku. Aku ingin mengajakmu makan siang hari ini…”
“Kau ada waktu?”
………………………………………………………………………
Kampus Untari, Bandung
Wina baru saja selesai kuliah hari itu ketika sebuah dering telepon mengagetkannya. Dengan cepat, ia lalu mengangkat telepon dan menjawab panggilan.
“Bonjour?”
(Halo?)
Suara di seberang sana langsung membalas sapaannya dengan nada riang.
“Sis, c’est moi!!”
(Kak, ini aku!!)
“Marianne..” pekik Wina riang sambil cepat-cepat menyingkir ke dalam salah satu area yang cukup sunyi untuk bisa mengobrol lebih nyaman adik tirinya tersebut.
“Comment allez-vous?”
(Apa kabarmu?)
“Je vais bien. On va bien..”
(Aku baik, Kak. Semuanya baik-baik saja…)
“Et vous, ma soeur?”
(Kakak bagaimana?)
“Je vais bien, Marianne. Qu’est – ce qui ne va pas?”
(Aku baik, Marianne. Ada apa?)
“Je vais me marier cette anne, ma soeur…”
(Aku akan menikah tahun ini, Kak..)
“Viendras-tu? Je veux que tu sois ma demoiselle d’honneeour, soeur…”
(Akankah kau datang? Aku ingin kau menjadi bridesmaidku, Kak..)
Wina sontak terdiam. Sudah berapa lama ini? Sudah berapa lama ia memutuskan untuk tidak bicara dengan ibu kandungnya sendiri yang kini sedang berada di Benua Eropa? Walaupun hubungannya dengan sang ibu sangatlah dingin, tapi berkebalikan dengan sang adik tirinya. Hubungan mereka berdua sangat akur dan akrab layaknya sepasang saudara walaupun mereka berbeda ayah.
Marianne berselisih usia beberapa tahun lebih muda dari dirinya tapi sikapnya sangat dewasa dan anggun. Berlawanan dengan dirinya yang lugas dan blak-blakan. Beberapa orang mencapnya malah sebagai perempuan barbar dan urakan.
Dan, selayaknya seorang wanita, Wina tahu kalau pernikahan merupakan satu-satunya peristiwa sacral yang mungkin terjadi pada seorang perempuan.
Sekali… seumur hidup…
“Quand est-ce? Je viendrai pour toi..”
(Kapan itu? Aku pasti akan datang untukmu…)
Marianne segera menyebutkan tanggal pernikahan serta lokasi acaranya. Setelah berbincang selama beberapa saat, Wina lalu mengakhiri percakapannya. Wina langsung menghela nafas panjang dengan berat hati. Seandainya saja ia punya seseorang untuk bisa berbagi perasaannya sekarang…
Semenit kemudian, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini, seseorang yang sangat familiar kembali menghubunginya.
“Halo, ini aku. Aku ingin mengajakmu makan siang hari ini…”
“Kau ada waktu?”
………………………………………………………….
Note:
Cerita Wina dan Marianne nanti akan ada di bab-bab berikutnya ya? Pantengin aja dan baca terus aja okeh?? Follow aku di IG dan jangan lupa tap love untuk cerita ini ya?
Untuk yang belum tahu kisah Johan dan Renata, bisa baca dulu buku sebelumnya. Satu Jam Saja
………………………………………………………………..