I don’t like the truth; it’s sucks and hurts.
Well… lies too…
(Aku tidak suka kebenaran. Itu menyebalkan dan menyakitkan…)
(Yah…kebohongan juga…)
…………………………………………………………………………………………….
Kediaman Johan, keesokkan paginya….
“Ya, Dian. Tolong kau buatkan surat rujukan sebagai pengantar untukku. Ok?”
“Tidak apa-apa. Aku sangat percaya padamu. Kau sudah menjadi dokter langganan keluarga kami selama 25 tahun terakhir dan apapun kau sarankan, pasti akan kuturuti. Baiklah. Sampai jumpa lagi nanti…”
Walaupun didiagnosis sakit sebelumnya, mata Mama Sharren terlihat berbinar dan raut wajahnya bersinar gembira pada pagi hari itu. Malam kemarin, setelah Johan membawa Wina pulang ke rumahnya dan mengenalkan gadis tersebut sebagai “pasangannya”, hal itu langsung membuat mood wanita tua yang sebelumnya murung dan kuyu, spontan berubah. Dengan sangat antusias, Mama Sharren lalu mengajak Maya a.k.a Wina untuk duduk bersama di meja makan dan mengobrol selayaknya seperti sebuah anggota keluarga sendiri. Wina sendiri yang tadinya bersikap canggung dan malu-malu, akhirnya pelan-pelan bisa menyesuaikan dirinya sendiri dan ikut larut secara luwes dengan obrolan santai yang dilakukan oleh wanita tua tersebut. Sementara Johan sendiri tidak banyak bicara dan hanya duduk sambil terus mengamati interaksi kedua wanita yang ada di meja yang sama dengannya saat itu.
Sambil terus menyuap makan malamnya dan menyesap minumannya, ingatannya kembali pada percakapan yang ia dan Wina lakukan di dalam ruang VVIP hotel beberapa hari sebelumnya.
……………………………………………………………………..
Hotel Ragasa, Ruang VVIP, seminggu sebelumnya….
“Jadi katakan padaku, Wina, kenapa kau bisa berada di dalam bisnis ini?” tanya Johan lagi sambil berjalan kea rah gadis tersebut, mengambil kursi dan duduk tepat di sebelahnya. Kedua bola matanya tak lepas mengamati gadis cantik yang kini hanya bisa membisu seribu bahasa tanpa sekalipun bisa membalas ucapan maupun tatapannya. Ekspresi wajahnya terlihat rumit dan sukar diartikan.
Bukan seperti Wina yang dulu ia kenal. Wina yang dulu….
Setiap kali Johan mendesaknya dengan sebuah pertanyaan, ia pasti akan berkelit mati-matian dan adu mulut dengannya sampai mereka berdua kehabisan kata-kata sebagai bahan pertengkaran. Tapi, Johan tahu setiap sisi mantan pacarnya ini. Wina bagaikan sebuah buku yang terbuka untuknya.
Bahkan setelah mereka terpisah selama belasan tahun pun, Johan yakin sejadi-jadinya, wanita ini masih merupakan orang yang sama. Dan, ekspresi yang ditampilkan oleh Wina saat ini adalah ekspresi ketika gadis tersebut sedang menyembunyikan sesuatu.
Apa?
Apa yang sebenarnya terjadi?
“Wina…”
Johan mulai bergerak lebih dekat untuk mengambil tangan gadis tersebut ketika tiba-tiba Wina spontan mendelik ke arahnya dengan judes dan menggeser kursinya ke samping. Menjauhi pria tersebut.
“Kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut, Tuan Johan Alvaro. Dan itu pun bukan urusanmu juga…” balas Wina sinis.
Johan menghela nafas panjang sambil tersenyum mengejek.
See? She’s still there. Exactly the same person like he knew before.
(Lihat kan? Dia masih di sana. Benar-benar orang yang sama seperti yang ia tahu sebelumnya.)
“Aku bertanya kepadamu bukan sebagai “Vermillion”, Wina. Aku bertanya padamu sebagai Lidwina Andrea. Sebagai seseorang yang pernah kukenal dulu. Sebagai teman dan sahab…”
“Oh, f*ck..cut the crap, Johan!!” potong Wina tajam sambil tiba-tiba bangkit berdiri dan memandang pria tersebut dengan garang.
“It’s done! We’re over! Can’t you just move on…”
(Sudah selesai! Kita sudah berakhir! Tidak bisakah kau melanjutkan hidup..)
“Please?”
Sejenak, air mukanya berubah. Ada segurat kesedihan dan penyesalan di sana. Tapi tak lama, sikapnya berubah datar dan kembali dingin.
“Okay…”
“Do you want me to tell you the truth, Johan? Fine…”
(Kau ingin aku mengatakan yang sebenarnya, Johan? Baiklah..)
Wina akhirnya mengalah dan melonggarkan pertahanannya. Sebentar lagi mereka berdua akan menjadi mitra bisnis dan terus terang, Wina sangat membutuhkan bantuan finansial dari Johan untuk bisa melunasi sebagian hutangnya lagi. Lalu, setelah itu, mereka berdua akan benar-benar selesai.
Tapi, siapkah hatinya jika tiba waktunya bagi mereka untuk kembali berpisah sekali lagi?
“I need money. A lot…” kata Wina lagi tanpa basa-basi.
(Aku butuh uang. Banyak…)
Sementara Johan hanya mengangguk singkat tanpa ragu. “Baiklah…”
“Tidak masalah. Kau tahu aku selalu bisa membantumu untuk masalah tersebut dari dulu. Kau tahu kan?”
“Lalu, satu lagi. Aku ingin kau melacak keberadaan pria ini…”
Wina lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan foto seorang pria tampan kepadanya.
“Namanya Mario Jonathan. Temukan ia untukku. Dengan pengaruh dan kekuasaan yang kau miliki, menemukan dirinya sepertinya bukan masalah besar bukan?”
Kening Johan langsung berkerut bingung saat menerima foto tersebut di layar ponselnya.
“Okay…”
“But, who is this guy?” (Tapi siapa pria ini?)
“It’s none of your business, Johan Alvaro…” balas Wina lagi dengan cuek.
(Itu bukan urusanmu, Johan Alvaro…)
“Baiklah..” Johan hanya bisa menghela nafas panjang sambil kembali memasukkan ponsel tersebut ke dalam sakunya.
Kau tidak mau jujur sekarang padaku, Wina? Tidak masalah. Pada waktunya, aku akan mengetahui semuanya.
Berikutnya, mereka berdua lalu membicarakan kesepakatan harga untuk setiap kali pertemuan sesi kemoterapi yang harus dilakukannya saat mendampingi Mama Sharren. Dan mungkin beberapa pertemuan lain yang harus dilakukannya demi mendukung perannya sebagai “kekasih palsu” Johan. Nama “Maya Lareita” lalu dipilih oleh Wina sebagai nama samaran sehingga identitas aslinya tetap terjaga dengan sempurna.
Pertemuan mereka berdua berlangsung singkat, padat, dan menyenangkan karena mereka berdua tidak banyak menuntut serta sudah saling mengenal karakter masing-masing sebelumnya. Wina lalu mengirimkan kontrak kerjasama secara virtual kepada Johan dan segera ditandatangani oleh pria itu saat itu juga.
Selesai.
“Berikutnya, aku akan meneleponmu lagi untuk membaeritahukanmu seputar daftar list seputar makanan favorit serta hal-hal lain yang perlu kau ketahui tentang ibuku. Bagaimana?”
Wina mengangguk singkat dan tersenyum datar sambil bangkit berdiri dan bersiap pergi. Sebelumnya, ia lalu mengulurkan tangan untuk mengajak pria itu bersalaman.
“It was a great deal. Nice meeting you, Johan Alvaro…”
(Itu adalah sebuah kesepakatan yang bagus. Senang berjumpa denganmu, Johan Alvaro..)
Mereka berjabat tangan.
Singkat..
Tapi sentuhan tersebut kembali menimbulkan percikan listrik yang kembali membuat jantung Wina bergemuruh kencang. Sial!! Wina terus mengutuki dirinya sembari kakinya melangkah keluar dari dalam bangunan hotel. Begitu ia sudah memasuki mobil, tangannya spontan mengambil ponsel dan menekan nama seseorang di sana.
“Dina!!!”
“Gue mau ke tempat lo sekarang!!”
………………………………………………………………
Di kamar kos Dina, satu jam kemudian…
“Gue harus gimana, Din? Gimana?” tanya Wina sepanik-paniknya begitu Dina membukakan pintu dan mengizinkan sobat kentalnya tersebut masuk ke dalam kamarnya.
“Gimana apanya, Wina?” tanya Dina balik dengan dahi berkernyit bingung.
“Johan Alvaro….” desah Wina dengan wajah sendu seperti seorang prajurit kalah perang. Ia lalu menutup wajah dengan kedua tangannya dengan frustasi.
“I screwed up!! After all these years…”
(Aku berantakan!! Setelah selama ini…)
“I still fall in love with him, Dina. Tell me…what should I do?”
(Aku masih jatuh cinta padanya, Dina. Beritahu aku…apa yang harus kulakukan?)
………………………………………………………………………
Hotel Ragasa, Ruangan VVIP
Johan masih terdiam di dalam ruangan tersebut dan menutup matanya perlahan. Wangi parfum Wina masih sedikit tertinggal di sana dan ia menghirup aroma lembut nan feminine itu dengan khidmat. Seakan-akan wangi tersebut adalah hal terakhir yang akan diingatnya sebelum ia meninggal nanti. Tanpa terasa, sebuah percikan lama dan denyut asing kembali terasa di detak jantungnya.
Ingatan dan memorinya kembali mengisi relung kosong di dalam kepalanya. Dan ia menyadari kalau selama itu…
Rasa itu masih tertinggal di sana….
Di dalam relung hatinya…
Detak bernama cinta pertama…
……………………………………………………………………..