Beberapa hari sebelumnya, kamar kos Dina, setelah pertemuannya dengan Johan di Hotel Ragasa…
“Kesambet apa lo, Win?” tanya Dina sambil menghembuskan asap rokoknya yang mengepul putih ke langit -langit kamarnya.
“Kesambet s*tan!!” umpat Wina kesal sambil memeluk bantal di atas sofa sementara sobat kentalnya itu hanya tertawa cekikikan setelah mendengar keseluruhan cerita Wina sebelumnya.
“Gilaaaaa….”
“Makanya udah gue bilang juga. Cari kerja tuh yang halal. Jangan model kerjaan kayak gini lo jabanin, bebs. Berasa kan lo kena batunya sekarang…heheheheh…”
“Jadi, gimana rasanya ketemu mantan pacar, Win?”
“Ada getar-getar apa gituu? Di sini….” ledek Dina sambil menunjuk dadanya dan nyengir lebar dan dijawab dengan sebuah timpukan bantal yang tepat langsung mengarah ke wajah gadis tersebut.
Wina tidak menjawab tapi tidak bisa dipungkiri, sejak seminggu yang lalu ia kembali bertemu dengan mantan pacarnya tersebut, ia harus mengakui kalau rasa itu masih ada di sana. Menunggu dalam diam sampai akhirnya kembali keluar dan memenuhi seluruh rongga hatinya tanpa jeda.
Bahkan ketika Johan kembali menggenggam jemarinya pun, ia ingin sekali meloncat-loncat gembira karena bahagia tapi ingatan akan ucapan pedas yang dulu dilontarkan oleh ibu kandung Johan kembali terlintas di dalam benaknya dan menampar pipinya sekali lagi. Menorehkan kembali luka yang sama di dalam hatinya. Kembali berdarah dan terasa perih berdenyut-denyut sekarang.
“Johan minta apa sama lo, Win?”
“Gue jadi pacar sewaannya dia dan nganter ibunya setiap kali sesi kemoterapi..”
“Anjayyyyy…. Maksud lo, nenek lampir itu? Orang yang sama yang bikin elu dan Johan putus dulu? Nini-nini sableng yang bakal ngancem pecat bokap lo dulu?”
Wina mengangguk sekali lagi. Dari semua temannya, memang hanya Faradina yang mengetahui semua rekam jejak kehidupannya. Termasuk urusan hutang ratusan juta akibat kartu kredit Wina yang dibobol Mario dan sampai sekarang, pemuda tersebut masih tak jelas di mana rimbanya. Ia juga tahu persis betapa hancurnya Wina setelah perpisahannya dengan Johan.
“Yakin lo sanggup, Wina?”
“Gue ga tahu, Din…” bisik Wina lirih. Ia terlalu lelah untuk berpikir sekarang.
“Kenapa lo ga mundur aja kalo gitu?”
“Karena gue butuh uangnya, Din. Seberes kontrak gue selesai sama Johan, gue bisa lunasin semua utang kartu kredit gue, dan gue bisa pulang ke rumah lagi…”
“Gue udah kangen berat sama orang-orang rumah, Din…”
“Okeh. You have my support, girl. Whenever you need me, just say it. I’ll be there for you…”
(Aku mendukungmu. Kapanpun kau membutuhkanku, katakana saja. Aku akan berada di sana untukmu…)
kata Dina lagi sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar yang segera disambut dengan sebuah pelukan hangat dari Wina.
“Thanks, Din. It means so much for me…”
(Terima kasih, Din. Ini sangat berarti untukku…)
“That’s friends what for, girl…”
(Itulah gunanya teman, say…)
……………………………………………………………………………..
Kediaman Johan Alvaro, beberapa hari kemudian…
“Ma, ini….”
Wina spontan menahan nafas dan terkesiap kaget saat Johan dengan mesra menggandeng tangannya ketika membawanya masuk ke dalam rumah. Kenangan sembilan tahun yang lalu saat dirinya diancam oleh ibu kandung dari mantan pacarnya ini sontak muncul di dalam ingatannya.
Ia ingat hari itu…
Hari dimana tiba-tiba ponselnya berbunyi dan sebuah nomor asing tak dikenal muncul di layar teleponnya. Tanpa menunda lagi, ia segera menjawab teleponnya.
…………………………………………………………………………….
Empat belas tahun yang lalu…
“Halo…”
“Selamat siang, apa ini dengan Nona Lidwina Andrea ?”
“Ya, dengan saya sendiri….” balas Wina ragu-ragu. Suara ini terasa begitu asing untuknya.
“Nama saya Sharren Alvaro. Saya adalah orangtua dari Johan Alvaro. Apa kamu ada waktu siang ini? Ada hal penting yang saya mau bicarakan denganmu…”
Wina menarik nafas panjang. Dari nada bicaranya yang terdengar pongah dan angkuh, gadis itu sudah bisa mengira kira-kira topik apa yang ingin dibicarakan oleh nenek tua itu. Johan Alvaro sendiri bukanlah orang sembarangan. Kedua orangtuanya terkenal kaya raya dan memiliki jaringan bisnis yang luas. Bahkan ayahnya Wina sendiri sekarang bekerja di salah satu perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Johan.
……………………………………………..
Di dalam salah satu ruangan private bernuansa Jepang itu, seorang wanita berpakaian mewah tengah duduk tegak di atas sebuah bantal khusus. Wajahnya cantik tapi terlihat sangat berkelas. Menilik dari seluruh aksesoris serta pakaiannya yang serba branded, semua karyawan tahu kalau wanita ini bukanlah berasal dari golongan biasa tapi dari golongan masyarakat kelas atas yang bahkan tidak tahu mengecap kata “miskin” atau “susah”. Ditambah kehadiran dua pengawal berbaju hitam yang selalu berdiri tegak di kiri kanannya dengan tatapan waspada dan wajah sangar.
Tak lama, pintu ruangan dimana ia sedang menunggu pun bergeser. Salah satu karyawan restoran lalu mempersilakan masuk seorang gadis remaja berwajah cantik yang masih mengenakan baju seragam putih abu-abunya.
“Selamat sore, Tante…” sapa Wina dengan senyum kecut yang dipaksakan. Dari perjalanannya waktu ia dijemput di sekolah dan sampai di tempat ini, firasat buruk terus membayanginya tanpa henti. Tapi di satu sisi, ia juga tak mungkin kabur. Maka, dengan sangat terpaksa, diterimanyalah undangan tersebut. Walau ia sangat gugup setengah mati saat harus berhadapan muka dengan wanita ini. Aura tegang terasa sangat mengintimidasi dirinya.
Demi apa ya, Tuhan?
Seumur-umur seusai sekolah ia harus menemui nenek tua yang berwajah seperti vampire kesiangan ini. Benar-benar mimpi buruk…
Begitu pantatnya menyentuh bantal duduk di bawahnya, tanpa menunda lagi, Mama Sharren langsung bersuara.
“Terima kasih karena sudah menyediakan waktu untuk datang menemuiku, Nona Lidwina Andrea. Nah, kita langsung saja menuju inti pembicaraan. Menurut kabar yang kudengar, katanya saat ini kau sedang menjalin hubungan dengan anakku, Johan Alvaro?”
Wina spontan mengangguk dan membenarkan berita tersebut. Lalu, seulas senyum dingin muncul di wajah Mama Sharren.
“Okay, berapa yang kau minta, Nona?”
Wina spontan tersentak kaget saat mendengar pertanyaan tersebut.
“Maksud Anda, Tante?”
“Sepertinya kau mengetahui maksudku bukan? Dan, kau juga pasti mengetahui kalau Johan bukanlah seorang anak dari kalangan keluarga biasa-biasa saja. Ia adalah pewaris tunggal dari Alvaro Corp dan kalaupun sekarang kau memacarinya, berarti kau sendiri ada motif khusus untuk bisa terus dekat dengannya bukan?”
BRAKKKK!!!
Wina spontan menggebrak meja di depannya dengan keras sambil memandang geram pada wanita sinting yang sedang duduk di hadapannya dengan wajah polos tanpa merasa berdosa sama sekali.
“Jadi, maksud Anda adalah…”
“Saya berhubungan dengan Johan karena ia bocah kaya dan berasal dari keluarga terpandang, begitu?” dengus Wina kasar dengan nada sinis sambil mencondongkan dirinya mendekat ke arah wanita tak tahu diri ini. Wina sendiri tahu kalau ia harus menjaga sikap di depan orang yang lebih tua tapi ucapan tak tahu malu serta fitnah keji yang dilancarkan oleh wanita ini benar-benar membuat darahnya menggelegak marah sejadi-jadinya!! Dasar b******k!!
Seandainya saja ia tahu kalau Wina sama sekali tidak pernah mengambil keuntungan seperak pun sepanjang hubungannya dengan Johan. Untuk urusan makan di kantin sekolah saja, mereka berdua selalu membayar masing-masing walau Johan seringkali bersikeras untuk mentraktirnya, tapi Wina tak kalah keras kepalanya untuk tetap membayar apa yang dimakannya sendiri dengan uang jajannya. Ia tahu benar siapa Johan tapi ia sama sekali tak pernah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan walaupun statusnya sangat layak untuk itu. Jadi, tuduhan palsu yang dilemparkan mentah-mentah oleh ibu kandung dari sang kekasihnya ini, benar-benar membuatnya marah!!
“Asal tante tahu saja ya? Tak pernah sekalipun saya memakai uang atau barang Johan untuk keuntungan pribadi saya walau anak Anda sering menawari saya menggunakan barang-barang miliknya atau meminjamkan uangnya…”
“Saya tahu kalau keluarga kami tidak sekaya keluarga Tante, tapi bukan berarti Anda berhak untuk menuduh kami seenaknya!!” bentak Wina sekali lagi dengan nada berapi-api karena emosi.
Kedua pengawal yang berada di kiri kanan Mama Sharren mulai maju dan bersiap untuk menahan Wina tapi lambaian tangan wanita itu menahan laju mereka.
“Tidak apa-apa…”
“Jadi, kalau aku memintamu untuk memutuskan hubungan dengan putraku tidak akan jadi masalah besar kan?”
Wina langsung terdiam. Ok, ia memang sama sekali tidak pernah memanfaatkan status maupun harta yang dimiliki oleh Johan, tapi perasaannya terhadap pemuda itu benar-benar tulus dan jujur. Johan adalah kekasih dan sekaligus cinta pertamanya. Kehilangan pemuda itu dengan cara seperti ini, sama sekali tidak pernah diduga olehnya. Keraguan hatinya itu terlihat jelas di depan mata Mama Sharren.
“Kenapa?”
“Kau tidak berani?”
“Biar kuberitahu ya? Sebagai seorang pewaris tunggal usaha keluarga kami, akan ada benyak rencana besar yang sudah kami siapkan untuknya di depan. Tidak ada satu pun, bahkan cinta monyet kampungan seperti ini yang bisa menghalangi semua persiapan dan cita-cita yang sudah kami siapkan untuknya. Mengerti?”
Wina tetap terdiam. Membisu dalam ratusan kenangan manis yang selama setahun ini sudah dibuatnya bersama dengan Johan tanpa ada kepalsuan sama sekali walaupun mereka berdua berasal dari dimensi yang berbeda bagaikan bumi dan langit. Semua cerita indah dan tawa yang mereka buat bersama.
Melepas pemuda itu, sama saja dengan melepas separuh jiwanya.
“Bagaimana jika aku tetap ingin meneruskan hubungan ini, Tante?” tanya Wina dengan keteguhan di dalam sepasang sorot matanya.
“Maka aku terpaksa menggunakan cara lain untuk bernegoisasi denganmu…”
“Aku yakin membayarmu dengan sejumlah uang tidak akan pernah berhasil, jadi bagaimana kalau begini?”
Wanita itu lalu mengeluarkan sebuah amplop besar dan menyodorkannya kepada Wina. Gadis itu segera membuka isinya dan ia tercekat saat melihat foto ayah dan dirinya yang sedang tertawa serta makan malam bersama di sebuah restoran Korea. Orangtua Wina sudah lama bercerai sewaktu ia masih kecil dulu. Kini, ia hanya tinggal berdua dengan ayahnya yang notabene hanyalah seorang karyawan biasa.
“Nama ayahmu Donny Andrea, bukan? Lalu saat ini ia bekerja sebagai manajer produksi di salah satu cabang perusahaan retail kami. Dengan gaji pas-pasan dan usia tuanya serta dirimu yang masih sangat membutuhkan biaya untuk bersekolah. Lalu, biaya hidup sehari-hari, bisa kau bayangkan perasaannya kalau ia tiba-tiba kehilangan pekerjaannya?”
“Hmm…?”
Sekarang gantian Mama Sharren yang mencondongkan tubuhnya sambil tersenyum tipis tapi Wina merasa kalau seakan-akan pisau pemenggal kepala sudah diletakkan dibawah dagunya. Siap untuk memutus kepalanya kapan saja.
Dua bulir air bening mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.
Johan… Bisiknya pilu.
Tapi ia tidak berada dalam keadaan baik untuk bisa memenangkan negosiasi paksa yang dilakukan secara berat sebelah ini.
Setelah menimbang beberapa saat, Wina mengibarkan bendera putih. Menyerah kalah. Ia terpaksa mengalah. Demi ayahnya.
“Baiklah, Tante. Jika hal itu yang memang Anda inginkan…”
Senyum puas penuh kemenangan muncul di wajah congkaknya dan ia beringsut bangkit berdiri dari bantal duduknya.
“Baiklah kalau begitu…”
“Kutunggu kabar baik secepatnya darimu…”
Wina mendengar pintu geser di belakangnya menutup pelan seiring dengan isakan tangis dan air matanya yang berderai kencang. Sementara hatinya melolong pedih tanpa penawar.
Dan keesokkan harinya, Mama Sharren berhasil mendapatkan apa yang ia mau.
Johan dan Wina akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka sebagai sepasang kekasih.
…………………………………………………….
Kini, takdir kembali menggiringnya bertemu dengan musuh lamanya.
“Ma, kenalkan. Ini…”
“Maya Lareita…”
Mama Sharren menoleh dan sepasang mata tuanya menangkap sosok gadis cantik yang tengah digandeng oleh Johan sekarang. Seulas senyum muncul di bibir tipisnya.
“Akhirnya…”
…………………………………………………………………………