Saat Rain sampai di rumah sakit, saat itu juga Aira sudah selesai menjalani operasi. Bagas dan mamanya menghela nafas lega, karena operasi Aira berjalan dengan lancar. Tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan lagi. Hanya tinggal menunggu Aira sadar dan menjalani masa pemulihan. Aira dipindahkan ke ruang perawatan. Mama Bagas sengaja memesan ruangan VVIP, karena ia tau, jika Aira sangat penting untuk putra satu-satunya. Saat mengetahui ruang rawat Aira, Rain bergegas menuju ke ruang rawat inap itu. Rain bahkan masuk ke dalam ruangan VVIP itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rain melihat Aira yang tengah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit dengan kepala yang di perban. Ia juga melihat Bagas yang tengah menggenggam tangan Aira. “Sayang....” Rain melangkah

