Rain melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Tapi, sampai sekarang Aira belum pulang ke rumah. Ia sengaja pulang lebih awal, karena Rain merasa sangat cemas. Apalagi ponsel Aira sangat sulit untuk dihubungi. Rain beranjak dari duduknya saat melihat mobil Aira masuk ke halaman rumahnya. Ia lalu bergegas menghampiri istri kecilnya itu. Aira yang baru keluar dari mobil begitu terkejut saat tiba-tiba Rain memeluknya dengan sangat erat. “Sayang, akhirnya kamu pulang. Om pikir kamu nggak akan pernah kembali ke rumah ini lagi.” Aira melepaskan pelukan suaminya. “Apa maksud, Om? Kenapa Om berpikir seperti itu?” tanyanya terkejut. “Om kira kamu akan pergi bersama dengan Bagas dan akan meninggalkan Om untuk selamanya.” Aira tersenyum, ia lalu memeluk s

