Bab 01. Debat
Naima merapikan lembaran catatannya di baris depan kelas saat bunyi langkah sepatu kulit mahal bergaung di lantai keramik. Suara benturan tumit sepatu itu terdengar konstan, memecah kesunyian ruang kuliah yang mendadak hening.
Seorang pria bertubuh jangkung melangkah mantap menuju meja dosen, meletakkan map kulit hitam tanpa suara.
Pria itu berbalik, mengambil sepotong kapur putih, lalu menuliskan satu kata besar di papan tulis, MORALITAS.
Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap seluruh isi ruangan dengan pandangan menilai. Senyum tipis yang dingin terbit di bibirnya saat matanya berhenti tepat di wajah Naima.
"Ada yang tahu kenapa kata ini selalu jadi topeng paling nyaman untuk orang-orang lemah?" suara Naldo bernada berat, menggema di setiap sudut kelas.
Ia berjalan mendekati pembatas panggung kecil di depan kelas, melipat kedua tangannya di d**a. Matanya menyapu barisan mahasiswa yang duduk terpaku, tak ada satu pun yang berani bersuara.
"Saya tanya sekali lagi," lanjut Naldo sambil menaikkan satu alisnya. "Siapa di ruangan ini yang merasa dirinya paling bermoral?"
Suasana kelas makin mencekam, hanya terdengar hembusan pendingin ruangan yang mendengung pelan. Beberapa mahasiswa menundukkan kepala, enggan bertatap mata secara langsung dengan dosen baru mereka.
Naldo terkekeh pelan, sebuah tawa singkat yang tidak tersentuh rasa humor. Ia melangkah turun dari area panggung kecil, berjalan santai di selasar antar bangku.
"Kalian diam karena bingung atau memang tidak punya pendirian?" bisik Naldo pedas.
"Kami sedang menunggu penjelasan Bapak," sahut seorang mahasiswa di barisan tengah dengan suara agak ragu.
Naldo menghentikan langkahnya, menoleh ke arah mahasiswa tersebut. "Penjelasan? Saya bukan mesin pembuat jawaban untuk otak yang malas berpikir."
Ia kembali melangkah, mengitari meja mahasiswa hingga posisinya tepat berada di samping bangku Naima. Naldo melirik sekilas ke arah jilbab lebar yang dikenakan Naima, lalu memindahkan pandangannya ke buku bacaan di atas meja mahasiswi itu.
"Sering kali, orang bersandar pada pakaian rapi dan aturan kuno hanya karena takut menghadapi realita," ujar Naldo sambil menatap lurus ke depan. "Mereka menukar kebebasan berpikir demi rasa aman yang semu."
Naima memegang pulpennya lebih erat, merasakannya sebagai bentuk sindiran yang terarah secara halus. Ia menghela napas pendek, berusaha menjaga ritme napasnya agar tetap tenang.
"Aturan itu bentuk kepatuhan buta," sambung Naldo dengan nada meremehkan. "Kalian membiarkan hidup kalian diatur oleh teks ribuan tahun lalu tanpa berani mempertanyakan keabsahannya secara rasional."
"Bisa jadi itu bukan kepatuhan buta, Pak," potong sebuah suara jernih dari barisan depan.
Naldo menghentikan kalimatnya, berbalik cepat menatap Naima. "Kamu memotong ucapan saya?"
"Saya hanya menanggapi premis yang Bapak lempar ke forum," balas Naima tenang tanpa mengalihkan pandangannya.
"Baik," Naldo menyilangkan tangan di d**a, menatap Naima dengan pandangan menantang. "Coba jelaskan di mana letak kesalahan premis saya."
Naima menegakkan posisi duduknya, menatap lurus pada dosen muda di sebelahnya. "Bapak mengasumsikan bahwa semua orang yang memegang prinsip agama sedang melarikan diri dari kebebasan berpikir."
"Memang begitu kenyataannya, bukan?" sela Naldo cepat.
"Tentu tidak," jawab Naima mantap. "Kebebasan berpikir tanpa batasan nilai justru menciptakan kekacauan moral baru. Akal manusia itu terbatas, Pak."
Naldo tersenyum sinis, melangkah satu pijakan lebih dekat ke meja Naima. "Jadi kamu butuh dogmatis kuno untuk mengatur cara berpikirmu sendiri?"
"Ini bukan soal dogmatis kuno," tegas Naima dengan suara yang tetap teratur. "Ini tentang kesadaran atas batas rasionalitas. Ibnu Rushd dan Al-Ghazali sudah lama membedah ini jauh sebelum filsuf barat yang Bapak kutip menyusun teorinya."
Beberapa mahasiswa di belakang mulai berbisik-bisik, terkejut melihat kebaranian Naima meladeni argumen dosen mereka. Naldo mengetukkan jarinya di pinggir meja Naima, matanya memicing tajam.
"Kamu membawa nama-nama klasik ke dalam kelas saya," kata Naldo penuh penekanan. "Tapi kamu lupa, analogi moral yang kamu agungkan itu runtuh begitu dihadapkan pada pilihan bebas manusia."
"Analoginya tidak runtuh, Pak. Cara Bapak memandangnya yang terlalu sempit," sahut Naima lugas.
"Sempit?" Naldo membelalakkan matanya sedikit, merasa tersengat oleh ucapan mahasiswinya.
"Bapak memandang nilai moral sebagai pengekang," lanjut Naima tanpa rasa gentar. "Padahal nilai itu berfungsi sebagai kompas. Tanpa kompas, kebebasan berpikir yang Bapak banggakan cuma berubah jadi kesesatan yang dijustifikasi oleh ego."
Ruang kelas mendadak hening seketika, tak ada satu pun mahasiswa yang berani berbisik lagi. Naldo bergeming di tempatnya, menatap tajam ke dalam manik mata Naima yang teduh namun penuh ketegasan.
"Menarik," bisik Naldo pelan, menghentikan ketukan jarinya di meja.
Ia melangkah mundur dua tindak, merapikan lengan kemejanya yang tergulung rapi. Ekspresi wajahnya berubah, ketegangan yang tadi dipancarkannya berganti menjadi rasa penasaran yang mendalam.
"Siapa namamu?" tanya Naldo sambil berjalan kembali ke depan papan tulis.
"Naima, Pak," jawab Naima singkat.
Naldo mengambil spidol di atas meja, lalu membuka dokumen presensi mahasiswa yang tergeletak di sana. Tangannya bergerak menyusuri lembaran kertas hingga berhenti pada satu baris nama.
"Nama yang indah, Naima Putrian," ucap Naldo pelan sambil membaca lembaran kertas tersebut.
Ia menutup dokumen itu dengan satu gerakan cepat yang menimbulkan suara pukulan ringan. Naldo berbalik, menatap Naima dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Mari kita lihat berapa lama argumenmu bisa bertahan di kelas saya," pungkas Naldo menutup perkuliahannya hari itu."