Bab. 1 Tangisan Fika Tengah Malam
"Mas, mau kemana malam-malam begini?" Aletta sangat terkejut ketika tiba-tiba suaminya beranjak dari ranjang di tengah-tengah tidur malam mereka.
Tomy yang masih sibuk berganti pakaian ini menoleh sebentar pada istrinya, "Anak Arman menangis mencari ayahnya, mas ke sana dulu untuk menenangkannya ya," sahut Tomy, lalu mendekat ke arah Aletta dan mencium kening istrinya, "kamu tidur saja jangan menunggu mas. Setelah Fika tenang mas akan kembali pulang," ucapnya lalu segera turun dari ranjang mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju rumah almarhum teman baiknya.
Hati istri mana yang tak cemas melihat suaminya pergi di tengah malam seperti ini, apalagi yang di datanginya adalah rumah seorang janda dari almarhum teman baiknya sendiri.
Walaupun karena alasan anak kecil tetap saja Aletta tak bisa tenang, pasalnya bukan hanya kali ini suaminya lebih mementingkan anak yang bernama Fika itu. Tomy bahkan rela mengambil cuti kerja hanya untuk melihat Fika tampil menari di sekolah taman kanak-kanaknya.
Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat kepergian suaminya menggunakan mobil menerjang gelapnya malam itu hanya untuk rasa kasihan pada seorang anak kecil yang bahkan tak ada hubungan darah sama sekali dengannya.
Aletta menghela nafas berat, baru saja ia dan Tomy akan memadu kasih tapi hanya karena satu panggilan telepon saja suaminya bisa secepat kilat meninggalkannya.
Tomy memarkirkan mobilnya persis di depan rumah Arman, sesosok wanita berparas cantik memakai piyama berlengan panjang berwarna maroon terlihat buru-buru ke luar dari rumah.
Di gendongannya ada Fika yang masih menangis tersedu-sedu, berkali-kali memanggil sang ayah.
"Maaf ya mas, aku menelepon mas Tomy tengah malam begini. Sejak pukul sepuluh tadi Fika sudah merengek terus memanggil ayahnya tapi semakin lama tangisannya tidak reda-reda dan malah seperti ini," jelasnya sambil satu tangannya membuka gembok pagar rumah.
"Tak apa, aku juga belum tidur," jawab Tomy kemudian langsung mengambil alih Fika dari tangan Marisa.
"Mari masuk,mas" Marisa membuka lebar pintu rumahnya agar orang dari luar bisa melihat mereka yang ada di dalam.
Dalam pelukan Tomy, Fika masih tersedu-sedu ia usap punggung anak kecil itu agar tangisannya reda.
"Cup..cup... sayang, sudah ya nangisnya ayah di sini temani Fika sekarang," serunya menenangkan, gadis kecil itu kerap kali menganggap Tomy sebagai ayahnya oleh sebab itu jika Fika merenge-rengek seperti ini pasti Marisa langsung menghubungi Tomy agar tenang.
Tak lama tangisan Fika meredah, hanya sesekaki saja terdengar sengukkan dari sisa tangisnya.
"Aku tak enak dengan mbak Aletta sudah mengganggu suaminya tengah malam begini, sebab aku tak tahu harus apa sedangkan aku di rumah ini hanya berdua dengan Fika saja. Mas Arman terlalu cepat meninggalkan kami," kini Marisa yang terlihat mengusap air matanya. Tomy yang tak tega melihat istri sahabatnya ini menangis mengusap lengannya untuk memberi kekuatan
"Sudah, jangan begini. Kasihan mas Arman kalau kamu masih belum bisa merelakannya, namanya takdir tidak ada yang tahu,Mar" Tomy terus mengusap lengan Marisa agar wanita ini tenang.
"Aku merasa kami sangat merepotkan mas Tomy, tapi bagaimana lagi karena hanya mas Tomy yang aku kenal sebagai teman mas Arman. Kami juga jauh dari keluarga," katanya lagi makin mendramatisir keadaan.
"Tak apa, selama bisa aku bantu akan aku bantu. Kamu tak usah pikirkan itu, semasa mas Arman hidup juga dia sangat baik denganku jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan," ucapnya.
Terlihat Fika sudah tertidur dalam pelukkannya, Tomy mengusap paras cantik anak perempuan ini wajahnya selaras dengan sang ibu, sama-sama memiliki bulu mata yang lentik menambah cantik parasnya. Sayang pernikahannya dengan Aletta belum juga dikaruniai seorang anak, untuk itu ia tak merasa keberatan saat Fika bermanja-manja dengannya.
"Mari aku tidurkan di kamar mas, Fikanya," tawar Marisa namun di tolak oleh Tomy.
"Biar aku saja, nanti takutnya malah terbangun jika berpindah tangan," sahut Tomy yang langsung beranjak dari duduknya, Marisa mengangguk setuju ia menunjukkan kamar tidurnya dan Fika.
Dengan perlahan-lahan Tomy meletakkan Fika di atas sebuah ranjang, dengan sangat hati-hati ia menarik tangannya agar gadis kecil itu tidak terbangun. Sejenak Tomy duduk di sisi ranjang melihat ke arah Fika untuk memastikan anak itu masih terlelap.
"Terima kasih ya,mas!" Satu tangan Marisa sudah menopang pada tangan Tomy yang menjadi tumpuan di samping tubuhnya.
Tomy tersentak kaget, Marisa berani menyentuhnya walau hanya menggenggam tangannya tapi tak ada niat sama sekali dirinya untuk menepis tangan Marisa yang ada di atas punggung tangannya.
Yang ada kini Tomy malah membalikkan tangannya seakan mereka berdua saling menggenggam, "Sama-sama,Mar. Jangan sungkan untuk meminta bantuan apalagi itu untuk Fika. Kasihan jika dia belum bisa menerima ayahnya telah pergi untuk selamanya"
Kini Tomy yang meremas telapak tangan Marisa bahkan satu tangannya lagi ikut menopang di atas tangan Marisa.
“Baiklah aku pulang dulu, ya. Jika Fika menangis lagi telepon saja. Aku akan datang,” ucapnya berpamitan. Marisa mengangguk mengantarkan Tomy sampai ke depan rumah, “jangan lupa kunci semua pintu dan jendela ya, Mar!”
Tomy segera masuk ke dalam mobil, wanita itu masih memperhatikan Tomy sampai perlahan mobil hitam mulai melintas meninggalkannya.
Di rumah Aletta gelisah menunggu suaminya yang tak kunjung pulang, ini lewat tengah malam sedangkan suaminya berada dalam satu rumah dengan seorang perempuan yang bukan istrinya walaupun alasannya adalah anak.
Deru mesin mobil mulai terdengar, ia menengok ke jendela sebuah mobil hitam mulai masuk ke dalam garasi rumahny. Cepat-cepat Alietta berdiri dari duduknya untuk membukakan pintu buat suaminya.
“Sayang, belum tidur?,” tanya Tomy saat turun dari mobil melihat Aletta berdiri di ambang pintu.
“Aku nungguin mas pulang, kenapa lama sekali?,” serunya.
“Ya, karena Fika tadi menangis terus. Mas mengendongnya sampai ia berhenti menangis dan tertidur,” jawab Tomy, lalu merengkuh pundak sang istri untuk ia ajak masuk ke dalam.
“Tunggulah di kamar, mas bersih-bersih dulu habis dari luar” Aletta menangguk, sudah kebiasaan mereka untuk ke kamar mandi dahulu bersih-bersih sebelum masuk ke dalam kamar.
Ia melihat ke arah pintu dengan bersandar pada kepala ranjang, menunggu suaminya masuk ke dalam. Tak lama terlihat Tomy sudah melepas pakaiannya yang tadi dan berganti dengan piyama tidur sebelumnya.
“Fika sepertinya sayang sekali denganmu ,mas” sindir Aletta karena beberapa kali kejadian seperti ini.
“Ya, kamu maklumi saja sayang. Dia kan kehilangan ayahnya di saat umur sekecil, itu belum paham jika ayahnya sudah tiada. Jika ia merindukan ayahnya hanya mas yang bisa menenangkannya Marisa sampai kewalahan menenangkannya. Ia merasa bahwa mas adalah ayahnya,” ungkap Tomy.
Aletta melengos mendengarnya, ia tak tahu apakah Tomy murni hanya merasa kasihan dengan Fika, atau sebenarnya suaminya sudah sangat ingin memiliki seorang anak. Maklum pernikahannya yang menginjak dua tahun belum juga tanda-tanda hadirnya seorang anak.
“Asal bukan Marisa yang merasa kamu suaminya dan lama-lama menjadi ayah Fika sungguhan,” sahut Aletta yang sewot dengan ucapan Tomy. Tomy langsung terbayang akan kejadian tadi dimana Marisa berani menggenggam tangannya.
Paras Aletta memang cantik, tapi namanya laki-laki pasti merasa bergetar jika menyentuh yang bukan menjadi miliknya, rasa penasaran seakan menyengatnya dibandingkan bersentuhan dengan istrinya yang dengan bebas bisa ia sentuh.