Gunung yang menjulang di hadapannya terlihat sangat sulit untuk didaki. Tapi tidak untuknya, sejak kelas satu SMA, Sabrang sudah empat kali sampai di puncaknya dan itu tidak hanya Dempo, jika sudah memasuki masa liburan, pemuda itu lebih senang menghabiskan masa-masa istirahatnya dengan mendaki gunung: Kerinci, Singgalang, Salak dan Semeru, sudah selesai dijejakinya, merasakan udara dingin di kulitnya dan merasakan sensasi mistisnya. Bagi Sabrang, gunung adalah tempat pelarian terbaik jika sesak di d**a terasa hendak meledak, ketika ia merasa tak ada lagi yang mau mendengarkannya dan tak seorang pun benar-benar ingin menjadi temannya.
Gunung dan segala yang tumbuh dan hidup di dalamnya seperti tak tersentuh, begitu alami, begitu mengintimidasi, begitu berkuasa namun tak ada yang tak seindah dirinya. Ia adalah sebentuk rumah bagi makhluk-makhluk yang terusik, tempat berkumpulnya satwa-satwa yang bersembunyi dan titik-titik di dalam rerimbunan, di bawah kawah atau di atas bebatuan sungai bagi jasad-jasad yang tak ingin pulang, yang beberapa di antaranya berjalan dalam kabut dan menggoda mereka yang tak beriman.
Suara ribut anak-anak membuat bait-bait puisinya kocar-kacir, Sabrang memaki dalam suara keras kepada mereka yang merusak suasanya hatinya, ia berteriak soal sesuatu yang terdengar seperti hormat atau penghormatan. Sabrang tak peduli pandangan aneh beberapa murid atau tatapan penuh pemujaan dari beberapa gadis yang berkedip-kedip manja namun berlebihan, ia tak peduli pada orang-orang ini.
Kepalanya terlempar ke depan ketika satu ayunan tangan menamparnya. Suri berdiri di depannya dengan raut seolah Sabrang adalah seonggok kotoran bau.
“Yang dihormati itu bendera, idak b***k gilo hormat cak kau.” Suri balas memakinya. Gadis itu mencibir lalu berlalu mengejar Aidan yang sudah menanti dengan sebuah senyuman.
Pemuda itu tidak marah, meskipun ia bisa merasakan kepalanya berdenyut hebat. Sejenak, ia berpikir kalau Suri itu manis jika memang tak bisa dikatakan cantik. Kulitnya terang dan terlihat bersih. Tubuhnya yang tinggi mengaburkan fakta bahwa gadis itu memanglah gemuk, dengan lemak berlebih tanpa perlu repot-repot berubah menjadi otot, tapi tetap saja, pipi bulat dan hidung bangirnya membuat Sabrang ingin mencubit untuk memastikan bahwa daging itu bukan adonan kue mochi.
Pikiran ganjil itu hadir, bukan karena tiba-tiba saja timbul, tetapi ia memang sengaja memikirkannya sejak mereka mulai menginjak usia remaja. Kenapa ia yang sangat membenci Suri berubah menjadi seorang penilai akan perubahan fisik Sang Gadis, entah apa hubungannya dengan hormon remaja yang mulai memberontak atau kenapa ia mendadak suka memandangi gadis itu diam-diam dan memindainya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Tapi, syukurlah, Suri yang manis tidak sampai membuat Sabrang beralih menyukainya, meskipun Suri itu adalah manusia. Tidak ada pergolakan perasaan penuh sentimental atau padang bunga yang penuh warna, NO, karena tatapan Suri padanya juga masih sama sejak mereka bertemu: penuh selidik, bertanya-tanya, dan tak pernah memberikannya senyuman barang seulas. Hal itu menjadi penanda, antara dirinya dan si gadis tidak akan pernah membuhul cinta, bahkan tidak mungkin akan berteman.
Maka, hari itu, Sabrang memastikan bahwa ia masih bersama rencana yang telah di pikirkannya beberapa hari kebelakang, ia akan mengeksekusinya hari ini karena hati dan pikirannya terisi penuh tanpa bisa dibendungnya lagi. Sore itu, di antara petak-petak pohon teh, di antara hijaunya pemandangan, dengan kakinya, ia mendorong Suri ke bawah hingga gadis itu berguling-guling dari atas bukit sebelum terhenti oleh belitan akar tanaman yang memanjang. Suri bangkit dan marah tapi Sabrang jauh lebih marah, ayunan tangannya berhenti di udara, Sang Gadis mengalah dan pergi dengan perasaan tak tuntas.
Pada waktu dini hari, dalam kabut pekat yang berisikan air dingin, Sabrang menyebutkan syaratnya dan dibalas Suri dengan teriakan, betapa gilanya Sabrang dan permintaannya. Pemuda itu tak mau tau dan tak ingin tau bagaimana Suri akan melakukannya.
“Apa gunanya mengeluarkanku dari sekolah? Sebentar lagi kita akan Ujian Nasional!”
Sabrang mendengus keras. “Lebih cepat lebih baik kau hilang dari pandanganku! Aku sudah muak padamu!”
“Aku tidak membunuh satu pun orang yang kau sayangi, tapi yang kau lakukan akan membuat keluargaku mati satu persatu karena malu!!!” Suri menghapus air matanya dengan kasar, kelihatan ia tak ingin menyerah begitu saja.
“Bagus, memang itu yang aku inginkan,” bisik Sabrang tak mengenal belas kasih. Matanya melotot mengerikan, badannya yang besar telihat semakin besar, seolah ingin melumat Suri dalam satu ayunan lengannya yang kuat.
"Jangan ganggu keluargaku," suara gadis itu terdengar semakin lemah, namun hati Sabrang sudah lama membatu.
Suri ketakutan
"Kalau begitu, aku minta pergantian." Suri melangkah ke depan, sebuah keyakinan nan goyah terbaca jelas di matanya.
Tanpa sadar, Sabrang mundur satu langkah."Pergantian apa?"
Ia juga takut
Ketakutan, setelah menyadari apa yang dilakukan Suri tak lama setelah itu. Gadis itu menghambur dan menempelkan bibir mereka. Otaknya langsung kosong, matanya mengerjap karena mendadak perih oleh hamburan perasaan. Sabrang memutuskan kalau bibir mereka tak boleh hanya sekedar bertaut, karena ia ingin merasakan lebih banyak dari diri Suri, ingin tau apa yang tersembunyi dalam dirinya. Seberapa manis dirinya, apakah semua pertanyaan yang selama ini dipikirkannya bisa terjawab pada malam itu.
Dan, jawaban yang didapati Sabrang, hanya menjadikannya jauh lebih takut lagi.
Sabrang berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Suri yang isaknya masih terdengar di setiap kakinya melangkah. Iya, dia tau betapa keterlaluan dirinya, tingkahnya dan ucapannya. Gadis itu tak pantas diperlakukan demikian, seberapa bencinya ia pada Suri, namun nasi sudah jadi bubur, rencananya sudah berhasil meskipun ada hal-hal yang terjadi diluar perkiraannya. Ciuman itu salah satunya, ia tadi memang sengaja berlama-lama, ia memang sengaja menjadi laki-laki b******k, b******n, atau apa pun itu makian yang pantas untuk dirinya. Suri berhak marah, jikalau gadis itu tak mau menganggap dirinya ada, itu lebih baik untuk mereka berdua karena mereka benar-benar akan saling menjauh dan menganggap satu dan lainnya sudah mati.
Wajah Sigit, sang kakak tengah tersenyum di kepalanya. Kakak terbaik, idolanya, seseorang yang sangat disayangi dan dikaguminya, laki-laki yang bahkan lebih dihormatinya dari ayah mereka sendiri. Bagaimanapun, ia akan memasang badan untuk Sigit, ia akan buta dan tuli akan semua aib yang disembunyikannya. Sabrang akan membela Sigit meskipun ia sadar kalau yang dilakukan sang kakak tidak akan mendapatkan maaf dari dirinya sendiri. Sabrang akan melakukan apa pun agar rahasia Sigit tersimpan rapat-rapat dari siapa pun karena ia akan membawanya sampai ia mati kelak, dan mengubur rahasia ia bersama-sama dengan jasadnya.