Ibuk jadi semakin sering jatuh sakit sejak peristiwa jatuhnya Sofia dari tangga. Sehat dua hari, demam seminggu, bugar selama lima hari, hanya bisa berbaring selama 10 hari, berulang-ulang tak ada perubahan dan memaksa Suri turun tangan melanjutkan usaha jahitan ibunya meskipun ia tak selihai beliau menjahit baju. Suri hanya sanggup menerima jahitan setengah dari yang biasa diterima ibunya karena ia sendiri harus belajar untuk Ujian Akhir Nasional. Mang Tuci membantunya mencari uang untuk berobat ibu yag entah kenapa obat yang ditebus semakin hari semakin mahal sampai akhirnya dokter menyaran beliau untuk diopname saja di rumah sakit.
Yai Rachman datang tepat sebelum ibuk dibawa ke rumah sakit. Pria tua itu datang dengan seamplop uang dan diangsurkannya ke tangan Suri. “Kenapa kau tak menelepon Yai, kasih tau kabar ibumu,” katanya dengan raut sedikit menyesal.
Suri menahan rasa haru dan sedihnya, ia ingin terlihat baik-baik saja di hadapan Yai Rachman. “Tanjung Enim jauh, Yai. Kasihan Yai harus sejauh itu naik mobil.”
“Mano lah jauh, dekat lah itu.” Yai Rachman menarik napas, sebelum melanjutkan ucapannya. “Pakailah duit tu dulu, kalau kurang, kagek Yai tambahi.”
Air matanya tak tertahankan lagi, Suri menggenggam kedua tangan Yai Rachman, membungkuk dalam-dalam dan mengucapkan terimakasih dengan suara terbata-bata, ia berkata kalau entah dengan apa dan bagaimana caranya agar ia bisa mengembalikan uang yang baru saja diterimanya.
“Itu bukan hutang. Ibu kau sudah aku anggap anak, kau itu cucungku jugo.”
Yai Rachman sudah tua, mungkin ada 72 tahun. Tubuhnya masih tegap tapi ia harus dibantu tongkat saat berjalan, meskipun begitu, tetap saja beliau sudah uzur dan tak akan nyaman berkendara dari Tanjung Enim—dimana beliau tinggal, ke Kota Palembang. Maka dari itulah, Suri tak pernah mau memberikan kabar buruk apa pun pada beliau dan hanya menelepon untuk menanyakan kabar dan memberitahu kalau ia dan ibunya dalam keadaan baik-baik saja.
Pak Tua itu selalu baik kepadanya dan ibuk. Tidak sedikit bantuan yang datang saat mereka benar-benar kesusahan setelah ditinggal bapak meskipun sebagian besar ditolak ibuk karena merasa tak enak dikasihani terus menerus. Akhirnya Yai Rachman memutuskan untuk membiayai sekolah Suri di salah satu sekolah swasta mahal di Kota Palembang dan bersama-sama dengan cucu kandungnya—Sabrang, bersekolah dari SMP hingga SMA. Yai memaksa dan ibuk tidak bisa menolak, karena tujuannya sangat baik, untuk masa depan Suri agar bisa keluar dari rantai kemiskinan yang membelit keluarga mereka selama bertahun-tahun.
Suri punya hutang banyak pada kepada lelaki tua yang tidak ingin dibayar kembali dan melarangnya menyebut kata-kata hutang budi;Yai Rachman hanya meminta Suri untuk mengingatnya kelak jika ia sudah mati dan meminta gadis itu agar sesekali mendoakan arwahnya.
“Yai tidak akan mati secepat itu, karena Yai akan duduk dan berdoa di hari pernikahanku nanti.”
Ucapan yang tak disangka Suri akan berwujud pada sebuah pesta pernikahan, sepuluh tahun kemudian.
Apa yang lebih buruk dari sebuah kematian dibanding itu adalah kematian orang yang sangat engkau cintai?
Seharusnya, hari itu mendung lalu disusul hujan deras tak lama kemudian. Angin menderu tak bersahabat, petir menyambar membentuk ranting-ranting patah yang berserakan di atas langit. Tapi tidak, sejak subuh, alam sudah berbaik hati meluangkan dirinya sejenak, menunduk memandangi Suri yang tersedu-sedu di samping jenazah ibunya. Langit bersih dan cemerlang, awan membentuk gumpalan-gumpalan kapas bersih. Waktu menolak berdentang, membiarkan Suri bergumul dengan kesedihan daan tenggelam dalam air matanya.
Ibuk sudah tak kuat, itu yang beliau bisikkan berkali-kali saat berbaring di ranjang pasiennya. Kepada Mang Tuci, kepada dirinya dan kepada perawat yang datang memeriksa. Dokter Irawan masih menguatkan ibu, dengan senyumannya, lelaki itu berkata kalau ibuk akan baik-baik saja dan akan segera sembuh. Tetapi, penyakit tak melulu datang dari kesakitan yang bisa dirasakan oleh tubuh tetapi pikiran dan batin yang terluka lebi banyak lagi mendatangkan penyakit dan ibu memang sudah lama tak tersenyum apalagi bahagia.
Wanita yang paling disayanginya itu, wafat sehari setelah beiau diizinkan pulang oleh Dokter Irawan. Kepada Suri, beliau bilang kalau ibuk telah lewat dari masa-masa penuh kekhawatiran dan boleh melanjutkan pengobatan di rumah. Tetapi kuasa Tuhan di atas segala-galanya, jauh melampaui ilmu tertinggi yang dimiliki manuia. Jika Tuhan menginginkan ibuk kembali ke sisi-Nya, siapa yang bisa membantah, siapa yang bisa marah. Suri melepas ibunya pada pukul tiga dinihari, memandangi nyawa terlepas dari badan dan pelan-pelan, ibu tak bergerak lagi, pergi dalam tidurnya yang panjang.
Tidak banyak yang hadir di sisinya saat beliau terbujur di tengah-tengah rumah, hanya segelintir tetangga yang tidak sibuk dan teman-teman yang menyempatkan diri datang melayat di sela-sela setumpuk buku yang harus diperlajari menjelang ujian. Suri berterimakasih diantara tangisnya, meminta orang-orang untuk memaafkan orangtuanya dan jika ada hutang piutang, tolong segera diberitahukan.
Prosesi pemakaman ibunya dipimpin oleh Yai Rachman, suara beliau bergetar menahan haru saat menyampaikan permohonan maaf atas nama ibunya dan keluarga yang ditinggalkan dan meminta doa agar dosa-dosa beliau terampuni. Suri tak ingin pergi dari sisi ibunya yang kini terbaring di tempat peristirahatan terakhirnya, jauh di dalam sana, ditimbun tanah dan dinaungi kesedihan orang-orang yang ia tinggalkan.
Satu persatu orang-orang mulai meninggalkan pemakaman, tersisa Yai Rachman yang harus pulang karena ia tak bisa menghindar dari jadwal minum obatnya. Tersisa Mang Tuci yang menunggunya di bawah pohon kamboja kecil yang tak cukup bikin teduh tapi lelaki itu bersabar dan memberikan waktu sebanyak-banyaknya sampai ia sanggup untuk pulang dan membiarkan ibunya tenang dalam keabadiannya.
“Pulang?” ucap Mang Tuci saat Suri sudah sampai di dekatnya. Gadis itu mengangguk pelan dan kembali melayangkan pandangannya pada kuburan ibuk.
“Aku sebatang kara, Mang. Semua orang pergi meninggalkanku.” Air matanya turun lagi.
Mang Tuci membelai kepala Suri dengan sayang. “Aku belum. Aku sudah janji pada ibumu untuk sekolahkan kau sampai selesai kuliah.”
Tangisan Suri bertambah deras mendengar perjanjian yang tidak diketahuinya itu. “Mamang idak katek duit, aku dak usah kuliah.”
“Siapo ngomong aku idak katek duit? Duit tu ado, yang perlu Mamang perbuat tu tinggal mencarinyo.” Mang Tuci lalu menyuruh Suri menghapus air matanya karena hanya membuat Suri semakin jelek. “Nah, ayolah pulang. Mamang dah lapar.”
Hidup harus berlanjut, ada atau tanpa ibunya. Suri harus mengejar ketinggalan pelajaran karena waktunya tersita banyak saat menemani ibuk pada masa-masa sakitnya dan melanjutkan sisa jahitan yang tak sempat lagi dikerjakan almarhum. Mang Tuci kini tak lagi menginap di salon atau rumah pacarnya tapi kini selalu pulang ke rumah menemani Suri yang tidur sendirian. Berdua mereka mencoba bangkit perlahan-lahan dari cobaan yang datang pada keluarga mereka. Keduanya saling menguatkan dan menyemangati satu sama lainnya agar tak jatuh lagi dalam keterpurukan.
Tapi, kemalangan tak selesai begitu saja jika datangnya belum bertubi-tubi. Ujian tak mampir satu kali saja, ujian kedua muncul sehari setelah Ujian Akhir Nasionalnya selesai. Ketika ia sedang menjerang air panas di atas kompor yang menyala, seorang laki-laki gemulai datang ke rumah pada malam hari pukul sepuluh dan menceracau dalam ucapan yang tak bisa ditangkap Suri dengan baik, saking cepatnya ia berbicara.
“Aih, Mamangkaumamangkaugenduuut…akusudahbilangjanganpakainarkobalagi, tapidioidakpernahmaudengarakuentahapomasalahnyo. NdakbaikpakaiobatlebihbaikolahragadiJakaBaring, selainsehatkitajugabisacacamaricacowokcowokcakep. EndangmakYO! KutukupretbajingLoncat, gedebelescakcakcrottt!!!”
Suri pening mendengarnya. “Ngomong apo, kakak ni?”
“AIH! MAMANG KAU KENA TANGKAP POLISI!”
“POLISI?” jerit Suri
“IYO! NARKOBA!!!”
Suri menyambar jaket dan mengambil dompetnya, tergesa-gesa mengunci pintu depan dan melompat ke atas motor si teman Mang Tuci lalu pergi begitu saja dan lupa dengan air yang pelan-pelan mulai menggelegak di dalam periuk.