Bekasi, 2009 Hidupnya sial, sungguh sial. Tidak ada yang lebih sial dari dirinya di dunia ini. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Keringat membentuk anak-anak sungai di dahi lalu turun ke pipi. Kepalanya pusing, mata berkunang-kunang dan perutnya lapar sekali. Suri memeluk dirinya sendiri saat keseluruhan tubuhnya bergetar, kakinya bergerak-gerak gelisah, ia tak henti-hentinya menengok ke belakang, mengintai tempat duduk halte yang masih penuh, berharap ada satu yang tiba-tiba saja kosong. Paling tidak, ia ingin duduk, melepas sedikit bebannya pada siang itu. Ia butuh memejamkan mata sejenak agar pusingnya berkurang dan kakinya yang lelah berdiri bisa beristirahat barang sekejap. Dalam hati ia berdoa, agar Tuhan memberikan sedikit belas kasih padanya berupa sepetak tempat duduk ya

