Lembar Lima: Lelaki Penuh Warna

1176 Kata
Palembang, 2006 Nek Sarminah mati tak lama setelah liburan semester pertama kelas satu SMA. Suri menangis berhari-hari karena sangat kehilangan orang yang disayanginya. Ibu menyuruhnya untuk berhenti berduka cita karena bagaimanapun juga, kehidupan harus tetap berlanjut, ada atau tidaknya Nenek Sarminah. Malam ketujuh setelah Neneknya meninggal, ibu memberikan sebuah kebaya berwarna merah lengkap dengan kain jariknya. “Kain siapa?” Suri menyedot ingus dan mengelap mukanya yang cemong. Ia bangkit dan duduk di atas kasurnya, menghadap pada Ibunya. “Punya ibuk waktu nikah sama ayahmu.” “Baju pengantin?” Ibu mengangguk. “Kau boleh memilikinya.” Di rumah mereka, satu-satunya yang besar adalah Suri. Ibunya kurus, sebelum dan setelah melahirkan Suri bahkan sampai hari ini, berat badan beliau tak pernah tambah lagi. Jadi ketika kebaya itu dipastikan tak akan muat pada badannya, Suri merasa bahwa sang bunda tengah bercanda. “Ini dijual juga ndak bakalan laku, Buk.” “Lha, siapa yang nyuruh kamu jual. Ini Ibuk beri untukmu.” “Iya, tapi aku kan besar, Buk. Nggak muat.” Perempuan itu malah tertawa, menertawai anaknya yang lugu. “Apa kau ingin gemuk terus sampai tua?” Suri menggeleng cepat-cepat. Bayangan soal hal itu saja sudah menakutkan untuknya, apalagi kalau sampai kejadian. “Pakailah kalau sudah muat. Ibuk pengin lihat kamu memakainya.” Malam itu rasanya tidak ada yang salah. Baik dari pemberian kebaya atau perkataan ibu tentang betapa beliau ingin melihat Suri memakai baju pengantinnya dulu, semuanya terkesan biasa-biasa saja. Juga tidak menjadi tanda bahwa sesuatu akan terjadi. Suri tak mempercayai pamali, ia tak suka membaca buku-buku primbon, ia mencibir fengshui. Suri berada dalam logika seratus persen. Termasuk tak percaya kalau seseorang memberikan benda yang paling disayanginya ke orang lain berarti orang tersebut akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi. Malam itu, Suri menerima pemberian pertama sekaligus terakhir dari ibunya. Ia menyimpan kebaya dan jarik itu baik-baik di dalam lemari pribadinya, tidak menyadari bahwa ia akan butuh waktu lama untuk memakainya. Tak lama setelah Nek Sarminah meninggal dunia, malam itu Suri dan ibunya akhirnya kedatangan seorang tamu. Ketika membukakan pintu, Suri hampir berteriak ketakutan saat melihat makhluk tak jelas bentukannya dan entah pria atau wanita. Badannya kurus dan tinggi, semakin tinggi oleh hak selopnya yang tebal. Mukanya kelebihan bedak, putih tak keruan macam pocong. Rambutnya keriting kecil-kecil berbentuk sorban bulat pada wajahnya yang lonjong. Bibirnya merah menyala dengan tahi lalat buatan di sudut atas bibir. Lehernya coklat begitu pula keseluruhan kulitnya. Apa yang dikenakannya malam itu sebaiknya jangan ditanya, bayangkan saja badut salah satu restoran cepat saji. “Om siapa?” tanya Suri takut-takut. Lelaki entah perempuan itu mendengus. “Hah! Dasar Si Gendut. Aku ini bibimu.” “Bibi? Aku idak punyo bibi.” Lebih banyak lagi gerutuan yang keluar dari mulut lelaki entah perempuan ini. “Oyoyoi, ya jelas kau tak kenal aku, kau belum ada waktu aku pergi ke Korea.” “Korea?” pikir Suri bingung. “Om ngapain ke sana? Pergi perang?” “Aih!” Si Lelaki entah perempuan itu menepuk keningnya frustasi. “Sana, panggil ibumu!” Selanjutnya, Ibu dan manusia tak jelas ini sudah duduk menangis-nangis di lantai yang dingin. Ibu mencericit soal Nek Sarminah, mengungkit-ungkit bapak yang sudah lama mati dan meratapi hidupnya yang malang. “Ngapo idak Ayuk jual bae anak gemuk ini, cukuplah buat beli beras setahun.” Tangis ibuk semakin keras, Suri yang mendengar saran jahat itu ingin sekali memaku ubun-ubun Si Badut Banci. “Kau ndak balik-balik. Ndak kirim uang. Ayuk ndak bisa bawa mamak berobat.” Kali ini giliran Si Anak Durhaka yang tangisannya semakin heboh. Entah karena benar-benar terbawa emosi entah karena ingin menyemarakkan suasana, yang pasti, di telinga Suri, tangisannya terdengar palsu. Jadi, setelah pertemuan kembali itu selesai dan baik ibu maupun Mamang Tuci reda tangisnya, barulah mereka mulai saling bercerita. Jadi selama ini, Si Mamang merantau ke Malaysia lewat jalur laut yang ilegal, ia jadi buruh perkebunan sawit di sana, disiksa majikan dan tak diberikan gaji selama tiga tahun. Adik kandung bapak itu akhirnya dideportasi otoritas Malaysia dan setelah itu ia tak ada kabarnya lagi; malam ini tiba-tiba saja dia muncul di depan pintu rumah, membawa semua barang miliknya dan meminta diperbolehkan untuk tinggal sementara. Mamang Tuci menempati balai bambu yang dulu ditempati almarhumah. Lelaki itu berkata meskipun Sarminah adalah ibu tirinya tapi beliaulah yang membesarkannya dan menganggap Tuci putra kandungnya sendiri. Tuci juga balas menyayangi Sarminah, namun kerasnya hidup tak bisa membuat keduanya terus bersama hingga Tuhan meminta Sarminah untuk kembali ke pangkuan-Nya terlebih dahulu. “Mamang cari kos saja, jangan tinggal di sini.” Suara Suri terdengar ketus; ketika lelaki itu membungkuk membongkar isi tasnya, Suri tak sengaja melihat kolor merah jambu Mamang Tuci mengintip banyak-banyak dari celananya yang kedodoran. “Kenapa?” tanya ibuk. Beliau sudah bersiap untuk tidur. “Dia bukan muhrim ibuk. Nanti rumah kita kena gerebek warga.” Ibuk hanya menghela napas lalu berbaring, ia tak menjawab keengganan putrinya. Mamang Tuci berbalik memandangi Suri, kedua matanya menyipit dan roman mukanya terlihat tak suka. “Ayoyoi, di mataku, mak mu ini cuma percuma tak kan kulirik pun,” katanya mencibir. Suri sakit hati mendengarnya. “Ibuk aku tu cantik, Mang, badannyo bae yang kurus.” “Mau gemuk, mau cantik, mau pakai daun pisang, pakai wijen, aku tetap tak suka perempuan.” Suri kaget, matanya melotot, Tuci tertawa mencemooh sebelum melangkahkan kaki ke kamar mandi, meninggalkan Suri yang takjub dengan pengalaman barunya bertemu seorang gay. Homoseksual, lelaki yang menyukai lelaki dan dalam pikirannya, ia ragu hendak bersikap apa, apakah ia harus takut atau bersikap biasa saja. Mang Tuci datang tanpa diundang, tapi bukan berarti kedatangannya menambah jumlah pengeluaran ibuk. Lelaki itu pandai mencari uang untuknya sendiri, belum dua hari tinggal bersama mereka, Mang Tuci sudah dapat pekerjaan di sebuah salon, katanya sih sebagai penata gaya artis. “Artis mana? Ini Palembang, Mang, bukan Jakarta.” “Tsk. Kau tau apa soal kota ini. Kalaulah malam, banyak artis yang yang keluar dari sarangnya.” Lagi-lagi Suri bingung, apa ia betul ada artis yang kerjanya cuma di malam hari, itu artis atau kelelawar. Hah, entahlah. Ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Mang Tuci banyaklah anehnya dari pada pada yang bisa ditangkap Suri; lelaki itu menyebalkan. Setiap kali ada pengajian di rumah orang yang hendak kawin atau pengajian tiga dan tujuh hari orang meninggal, Mang Tuci akan menyaru di antara ibu-ibu majlis taklim untuk sebuah nasi kotak jika melayat ke rumah duka atau hampers yang sudah disiapkan pihak pengantin yang kaya raya. Lelaki itu akan berdandan layaknya perempuan, memakai bedak dan melengkapi penyamarannya dengan kerudung. Tidak ada yang tau siapa dia yang tiba-tiba saja muncul dalam rombongan majelis karena begitu sempurnanya ia sebagai seorang wanita. “Mamang bisa ngaji, apa?” tanya Suri suatu hari tatkala melihat Mang Tuci sibuk memilih kerudung ibuk. Ia hendak bersiap-siap pergi melayat. “Idak jugo’. Aku cuma bisa sebaris Surat Yasin saja sama berselawat dikit-dikit.” “Hah! Cari nasi kotak apa cari dosa, Mang?” “Halah, anak gendut tau apa! Sana!” Tangan Mang Tuci mengibas-ngibas, ia mengusir Suri yang banyak tanya dan terus berkotek layaknya ayam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN