Di luar, hati Suri tambah tak enak melihat Sabrang tengah menggeber-geber motor kesayangannya. Rumah sebelah dan rumahnya memang ada pembatasnya. Tapi entah disengaja atau memang begitulah modelnya, pembatas itu berupa pagar besi tinggi yang memungkinkan siapa saja untuk saling melihat. Pemuda itu menyeringai padanya, bunyi kenalpot meletup-letup dan suara bising mesin motor menambah keangkuhannya saja. Sabrang bahkan menghadiahi Suri jari tengahnya.
Suri mendekat ke pagar, menelengkan kepala lalu menantang mata Sabrang dengan matanya. Selalu begini jika mereka memulai keributan, harus ada satu yang menggertak sebelum yang lain terpancing dan membalas.
“Berisik!” bentak Suri.
Sabrang memelototinya dan semakin semangat menekan gas, sepertinya ia ingin menguji batas kesabaran Suri sampai dimana. Badan gembulnya semakin tampak lebar saat gadis itu berkacak pinggang. Pipinya seperti mau meledak karena begitu semangatnya merengut. Sabrang tertawa lalu mematikan mesin motor, ia berjalan ke arah Suri, dalam genggamannya ada selang air.
“Kau punyo telingo? Kupikir yang nempel di kepalo kau itu cendawan kayu,” ejeknya.
Suri membalas. "Lha, kupikir itu mulutmu ternyata lubang tempat berak lewat.”
Sabrang mendesis. “Makin gemuk saja kau, Sugeng. Kalau berasmu kurang, kau bisa makan semua kotoran di rumahku.” Ia pun tertawa puas lalu menyemprot Suri dengan selang air di tangannya.
Gadis itu sudah setengah tersiram saat ia lari menghindar. Tawa Sabrang menggelegar pada pagi penuh sial itu. Suri yang marah mengambil ember hitam yang sering digunakan ibuk untuk menyiram kembangnya yang tak banyak. Gadis itu berlari ke depan, menyendok air got yang busuknya minta ampun. Setelah terisi penuh ia berjalan cepat memasuki gerbang rumah Sabrang yang terbuka.
“Mau apa kau?!”
Pemuda itu bahkan tak sempat mengelak ketika Suri menyiraminya dengan air hitam penuh kotoran itu, bahkan ada yang masuk ke dalam mulutnya yang terbuka. Sabrang marah luar biasa, ia berteriak menyumpah-nyumpah lalu muntah banyak-banyak.
“Matilah kau!!!” teriak Suri tak kalah berang.
Sabrang ganti menyemprot seluruh tubuhnya dengan air selang, membuka bajunya lalu mengejar Suri yang telah kabur menjauh. Mereka berkejaran seperti anjing dan kucing, seperti korban dan seorang pencopet. Keduanya basah dan tak beralas kaki, menapak dengan cepat jalanan aspal kompleks yang berbelok-belok.
Meskipun berbadan besar, tapi Suri cepat juga larinya. Ia bahkan masih sempat memprovokasi Sabrang dari balik bahunya dengan kata-kata yang tak enak didengar. Sabrang semakin bernapsu menangkap Suri, ia tak mempedulikan lagi tubuh atasnya yang telanjang dan celana pendeknya yang menjeplak basah. Warga yang sedang menikmati minggu pagi yang cerah terkejut melihat perburuan tersebut, beberapa orang berteriak menyuruh mereka untuk berhenti, anak-anak yang tengah bermain terpaksa meminggirkan sepeda untuk memberi ruang bagi Suri melarikan diri dan Sabrang yang kalap.
Tapi, sejauh apa pun itu hendak berkejaran, pastilah tenaga bakalan habis juga. Suri mulai merasakan pusing tak kala berbelok ke komplek J, gadis itu bahkan hampir ditabrak tukang ojek karena belokan tajam itu membuatnya sedikit oleng. Di belakangnya dengusan Sabrang mulai terdengar, ia makin mempercepat larinya karena takut bakal tertangkap.
“Dapat kau gendut!!!”
Teriakan Sabrang terasa sudah di daun telinganya dan disaat itu pula ia menyadari kalau arah pelariannya sudah salah karena di ujung saja sudah tak ada lagi jalan alias jalan buntu. Suri memekik kaget, tak jauh di depannya ada sebuah tembok berlumut, ketika ia memutuskan untuk berbalik kakinya terjegal sesuatu, ia seperti melayang saat tubuhnya berputar, persis di depannya Sabrang sudah menghambur hendak menerkam, tapi lelaki itu juga tersandung sesuatu, akibatnya…
Sabrang jatuh tepat di atas badan Suri. Suri jatuh dengan kepala menghantam tanah dan bobot berat Sabrang menambah keras bunyi debumnya.
Ada sekelompok burung-burung kecil tengah berpusing di atas kepalanya lalu disusul suara derak tulang dan napas-napas yang tersengal. Kepalanya sakit, badannya jauh lebih sakit dan sakitnya satu level dengan hantaman truk tronton atau kejatuhan batang pohon kelapa. Dalam pikiran kusutnya, Suri sudah bisa mendengar penjaga mesjid kompleks tengah menyiarkan kabar kematiannya yang mendadak karena ditimpa pohon beringin raksasa.
Keluhan Sabrang membuatnya sadar. Lelaki itu masih berada di atas tubuhnya.
“Aaaa!!!” Ia cepat-cepat mendorong Sabrang hingga pemuda itu berguling ke samping, mengaduh-ngaduh dan mengumpat.
Suri bangkit dengan cepat tapi hal itu hanya membuatnya semakin pening. Ia limbung dan tak pasti dimana kedua kakinya berpijak. Untunglah ada tembok di sana, Suri menggapai dan bertahan sejenak untuk mendapatkan dirinya kembali.
Ketika berbalik, Sabrang juga sudah berdiri memeriksa sikunya yang lecet. Sesaat Suri tak pasti dengan apa yang dilihatnya tetapi setelah membuka matanya lebar-lebar, ia langsung menyumpah dan pusing di kepalanya kembali lagi. Bagaimana tidak, sejak kapan Sabrang punya otot sebanyak itu, sejak kapan d**a dan perutnya sedatar dan sekeras itu, belum lagi otot bisepnya, trisep dan Kang Asepnyayangyangyang…
Gadis itu berteriak dan membalikkan badan menghadap ke tembok dan bertumpu pada keningnya. Ia kesal dengan dirinya sendiri, bagaimana bisa seorang Sabrang membuatnya bisa terkagum-kagum seperti gadis centil tak tau diri? Lelaki itu adalah musuhnya! Seseorang yang tak pantas mendapatkan perasaan berbunga dari dalam dirinya! Sialan!
“OI!!!”
Suara bentakan itu memaksa Suri memutar badan, tapi belum sempat otaknya mencerna dan mulutnya menjawab, Sabrang sudah menempel ke tubuhnya, mengambil kepalanya dan menempelkan mulut mereka.
Apa?
Apa?
Apa yang terjadi? Satu dua tiga empat lima. Lima detik berlalu. Ada lidah yang masuk lalu liur mengalir ke dalam kerongkongannya.
“Hueeek!” Suri melepaskan diri lalu muntah-muntah ke tanah. Ia mengeluarkan semua isi perutnya, semua yang dimakannya sejak semalam habis terkuras.
“Mampus kau!!! Makan itu kotoran!”
Sabrang memaki, lalu mengelap mulutnya dengan lagak jijik. Ia sudah membalaskan dendam kesumatnya. Lelaki itu pergi dengan langkah puas, meninggalkan Suri terhuyung oleh karmanya sendiri.
“Apa yang kau lakukan, b*****t!” Suri berteriak-teriak kesetanan pada punggung Sabrang yang menjauh. Kalaulah hari itu hari terakhirnya di dunia, Suri tak ingin satu kenangan ini diputar di akhirat kelak, karena malunya lebih besar dari dosa-dosanya di atas dunia. Sungguh, Sabrang sudah membabat habis harga dirinya.
Kejadian itu seminggu yang lalu dan baik dirinya atau pun Sabrang tidak lagi mengungkitnya setiap kali mereka tak sengaja bersua. Ada satu yang disyukuri Suri dari peristiwa tersebut yaitu tak ada saksi mata yang menyaksikan harga dirinya tercabik-cabik oleh Sabrang karena menjelang jalan buntu tidak ada lagi rumah orang yang berdiri, hanya ada tanah kosong dengan satu dua batang pisang dan belukar yang tak pernah disentuh arit.
Masih jelas diingatannya saat memandangi punggung liat Sabrang pergi setelah merenggut ciuman pertamanya. Lelaki itu pergi dengan tenang seolah tak ada kejadian memalukan di antara mereka atau mungkin hanya Suri yang merasa demikian. Tidak ada tanda-tanda kalau lelaki itu mengenang kisah pahit itu, ia tampak biasa-biasa saja seolah sudah tak ada Suri dalam pantauan radarnya. Sialan memang!
“Sudah siap semuanya?”
Kehadiran ibuk yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Cepat-cepat Suri mengenyahkan semua hal yang berkecamuk dalam pikirannya dan memberikan ibuk sebuah senyum dan anggukan pasti. Hari ini ia dan rekan-rekan sekolahnya akan pergi camping, sebuah bagian dari pengenalan alam dan lingkungan yang digagas guru-guru muda di sekolahnya. Hari Jumat malam mereka akan berkumpul di sekolah untuk melakukan perjalanan 8 jam menuju Kota Pagar Alam. Perjalanan yang pastinya akan melelahkan lagi membosankan, namun tidak bagi Suri karena ia berencana akan tidur dan baru terbangun setelah Gunung Dempo sudah terlihat.
Mang Tuci berbaik hati mengantarkannya ke sekolah dengan sepeda motor butut yang baru dibelinya. Suri heran kenapa ia begitu baik dan semakin heran saat pria itu memberikannya uang saku tambahan saat mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.
“Bukan uang haram itu, ambillah.” Mang Tuci perlu menjelaskannya karena melihat kening Suri yang berkerut.
“Bukan itu,” sela Suri. “Aku cuma heran kenapa Mamang hari ini baik sekali.”
“Ibumu yang suruh,” katanya pura-pura tak peduli. Tapi Suri sudah bisa menebaknya karena lelaki itu tak bisa berbohong.
“Terima kasih, Mang,” ucap Suri malu-malu.
Sebelum pergi, Mang Tuci memberikan Suri sebuah nasehat. “Kau sudah cantik, tak payah diet. Kalau ada orang yang nyinyir suruh kau diet, makan saja dia sekalian.”
Suri tersenyum lalu mengangguk pada pamannya, tapi kebahagiaan itu hanya sesaat, ada suara keras yang menghardiknya dari belakang. “Oi gembrot! Kurangilah makan, lihat ban motor Mamang Ojek, kempes karena tak kuat angkut b****g besarmu itu!”
Gadis itu berbalik, secara mendadak menyerang Sabrang. Suri mencakau lengan Sabrang dengan giginya lalu dikunyahnya sedikit. Sabrang terpekik kesakitan, tangannya yang bebas membentuk cakar, terangkat dan siap menerkam Suri, tapi lagi-lagi anak perempuan itu bisa mengelak dengan tenang dan berlari menjauhi Sabrang yang kesetanan.
“Sudah kumakan, Mang!” teriaknya pada Mang Tuci yang tertawa-tawa di atas motornya.