Lembar Tujuh: Berkelindan

1108 Kata
Pagar Alam, akhir 2007 Mereka berangkat dengan dua bus, berisi anak-anak kelas dua dari dua kelas. Guru-guru yang menyertai kebanyakan adalah mereka yang masih muda dan ada yang belum menikah seperti Pak Sabang yang kini sibuk mengabsen satu-persatu dari murid yang telah duduk nyaman di bangku masing-masing. “Ado bawa baju dingin?” tanya Pak Sabang. “Lupo bawa, Pak. Soalnya tadi pagi belum dikeluarkan ibu dari dalam kulkas.” Jawaban seorang murid membuat yang lain terkekeh. Pak Sabang mengoreksi pertanyaannya, apakah mereka ada membawa sweater atau jaket. “Suri idak perlu jaket, Pak,” jawab Sabrang dari bangku belakang. “Soalnyo gajah dak takut dingin.” Anak-anak lainnya tertawa bersahut-sahutan, mereka menertawakan Suri yang duduk di bangku paling depan, setengah ngantuk dan tampak tak peduli. Sebenarnya tadi ia ingin duduk di sebelah Aidan, tapi Inara sudah mendahuluinya. Gadis peringkat tiga itu memepet Ai ke jendela bus dan memborbardirnya dengan banyak pertanyaan yang tak perlu atau yang ia sendiri tau jawabannya. Yang lebih menyebalkan lagi, dua bangku di belakang Aidan dan Inara, Sabrang juga tengah asyik bersama Tiara, mantan teman SMP yang kini balik memusuhinya karena Suri terang-terangan membenci Sabrang. Gadis itu tak lagi “kecil” karena sejak masuk SMA tubuhnya sudah mulai mekar dan menonjol di beberapa bagian yang membuatnya semakin percaya diri untuk mendekati Sabrang, lelaki pujaannya sejak memasuki usia puber. Sedang Suri duduk dengan siapa? Sebenarnya tadi ada Fadli yang duduk di sebelahnya tapi anak lelaki itu memilih duduk di bangku lain karena Suri menghabiskan tiga perempat dari kapasitas tempat duduk sehingga membuatnya tak nyaman, jadi pada perjalanan kali itu, Suri memiliki bangku untuk dirinya sendiri. Haaah...gini amat nasibnya, batin Suri saat melihat sekilas ke belakang. Memandangi Aidan dan Inara serta Sabrang dan Tiara membuatnya berani mengambil kesimpulan, bahwa laki-laki yang disukainya, tidak menyukainya sedangkan laki-laki yang tidak disukainya juga tidak menyukainya. Seharusnya ia senang ketika tadi Mang Tuci mengatakannya cantik dan tak perlu diet. Mungkin pamannya itu juga ingin menambahkan bahwa Suri hanya perlu percaya diri terhadap dirinya sendiri, karena lelaki lebih menyukai perempuan penuh pemberani dan tau apa yang ia mau ketimbang perempuan pemalu, penggugup dan punya pembawaan halus sehalus jin. Melihat Inara dan Tiara, Suri jadi tiba-tiba saja melihat ke dirinya sendiri. Badannya besar, ia punya kekuatan dan tak takut pada apa pun. Suri terkadang blak-blakan kalau ada yang menyakitinya, senang berteman dan terkadang suka bertingkah konyol. Tapi apa iya, cewek seperti dirinya lebih disukai dibanding anak perempuan macam Inara dan Tiara yang kalau berbicara persis seperti pengisi suara para Barbie di film Barbie dan Kikir Kuku Kaki Ajaib? Kalau benar, kenapa anak tak bertampang menarik seperti Fadli juga menghindarinya? Dimana letak adilnya kalau betul semua orang ditakdirkan punya pasangannya masing-masing? Suri tertidur setelah begitu lelah berpikir dan tak tau kalau Sabrang dan Aidan memandangi pucuk kepalanya dalam temaram lampu bus. Mereka tiba di lokasi camping tepat pada saat matahari terbit. Anak-anak berhamburan turun dari atas mobil dan suasana langsung heboh tatkalamereka yang mungkin untuk pertama kalinya, melihat pemandangan begitu indah dari atas perbukitan. Warna jingga yang terbias dari cahaya matahari seperti buah persik nan ranum di batang. Kabut pagi yang mulai turun membuat mereka mengetatkan jaket dan membenamkan tangan jauh-jauh ke dalam saku, namun tak jua menyurutkan semangat. Angin yang menderu ringan mengipasi ujung-ujung rambut dan daun-daun muda pokok teh, membawa serta aroma tanah dan alam. Senyum Suri terkembang, ia memejamkan mata sambil melafalkan doa, agar hari-harinya bakal lebih baik dan apa yang diinginkannya terkabul. Ketika membuka mata, Tuhan teramat baik pada pagi itu karena Aidan kini berada di sisinya tanpa Inara yang banyak tanya. Pemuda itu tersenyum padanya dan Suri langsung menyalahkan matahari karena kalah cerah dibandingkan senyuman itu. Suri balas tersenyum lalu bertanya Aidan satu tenda dengan siapa. “Sama Sabrang dan yang lain.” Semangat provokasi Suri langsung membara. “hati-hati, Sabrang itu kalau malam bisa berubah jadi ular, nanti kau digigitnya.” Ganti Ai yang tertawa, ia tak semudah itu percaya dengan perkataan Suri tapi demi gadis itu ia berkata kalau ia akan berhati-hati pada Sabrang. Suri puas dan mengajak anak lelaki itu untuk menyusul teman-teman yang lain mendirikan tenda. Setelah semua tenda berdiri, anak-anak langsung menyerbu kolam berpancuran yang terletak di belakang area camping. Mereka membasuh muka dan menggosok gigi. Beberapa anak malah sempat-sempatnya menceburkan Suri ke dalam kolam lalu dibalas Si Gadis dengan menarik satu persatu si jahil ke dalam kolam untuk dibenamkan kepalanya. Suri puas dan mengancam akan mengelindingkan siapa pun yang mengisenginya ari puncak bukit hingga ke bawah, biar tau rasa karena sudah berani kepadanya. Makan pagi berupa pempek dan nasi goreng buatan Bu Guru Puspita dibantu beberapa orang murid dan karena mereka semua kelaparan, tak ada yang menyadari rasanya yang sedikit aneh. Suri menghabiskan jatahnya dalam sekali suap lalu memandang malu-malu jatah pempek Aidan yang masih utuh. “Untukmu saja,” ucap Aidan sembari mengangsurkan piring plastiknya pada Suri yang langsung Sumringah. “Terima kasih. Ai baik sekali.” Suri memaka pempeknya dengan hati berbunga-bunga. Tidak ada salahnya merasa demikian jika seharian itu Aidan begitu baik padanya bahkan terasa agak berlebihan perhatian yang diberikannya pada Suri. Ketika di kolam tadi ia mengusir anak-anak yang menjahati Suri, membagi jatah makanannya dan kali ini memberikan lengannya untuk jadi pegangan Suri selama mereka menuruni perkebunan teh. Kulit Suri yang putih tampak kemerahan oleh angin dingin dan perasaan cinta yang meledak-ledak di hatinya. Ia tak tau dan tak mau tau apa ada alasan lain dari sikap manis Aidan pada dirinya karena Suri sudah terlanjur mabuk oleh perasaan cinta dalam dirinya bahkan jika ia terjatuh lalu berguling ke bawah, ia akan menganggap kesialan itu karena tubuhnya telah keberatan rasa romansa. Dan benar saja, ada yang menyepak pantatnya dari belakang, gandengan tangannya terlepas dari Aidan dan Suri jatuh berguling ke bawah. Ledakan tawa meledak tepat setelah tubuhnya berhenti menggelinding. Ai cepat-cepat menyusulnya lalu membantu Suri berdiri kembali. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Aidan. Suri menggeleng sambil membersihkan tanah yang menempel di pakaiannya. Seseorang datang, Sabrang yang masih tertawa bersama kroni-kroninya, Aang dan Satria. “Lagak kau cak nyonya besar bae, pakai digandeng segala. Jalan sendiri! Idak sadar punya kaki sebesar bonggol batang pisang!” bentaknya dengan mata melotot. Tangan Suri berayun menyasar kepala Sabrang tapi tertahan di udara ketika Sabrang juga mengangkat satu tangannya, sasarannya adalah pipi Suri. “Berani, kau?” desis Sabrang mengerikan. Suri menatap Sabrang tak berkedip, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit dan amarah. Ia tak ingin meletup pertengkaran baru, ia hanya ingin hari ini penuh kedamaian, ia tak ingin Aidan melihatnya berkelakuan seperti manusia tak pernah dididik, ia hanya ingin Sabrang pergi selama-lamanya dari hadapannya. Ia mengalah dan kembali menarik tangannya lalu melangkah pergi seorang diri, sejauh mungkin untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN