bc

Selimut Luka

book_age18+
9
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
second chance
arranged marriage
kickass heroine
drama
bxg
wild
like
intro-logo
Uraian

Kisah yang rumit terjadi kepada Sinta. Suaminya selalu pergi merantau meninggalkan dia sendiri, membuat Sinta sedih dan merasa kesepian.

Dijauhi suami membuat Sinta tidak mendapatkan perlindungan, bahkan dia pun sampai dinodai karena tidak ada yang melindungi dia.

Bagaimana Sinta melalui hidupnya setelah hal yang sulit ini terjadi?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
"Dek, besok Abang harus berangkat lagi," ucap Rama kepada Sinta. Sinta terlihat kecut dan malas untuk menjawab ucapan dari Rama. "Hey, kok kamu gitu sih, Dek? Abang kan pergi untuk cari uang," terang Rama tahu apa yang ada di dalam benak Sinta. Melihat sikap Sinta yang acuh membuat Rama yakin kalau dia tidak mengizinkan Rama untuk pergi. "Ya pergi saja, Bang. Sinta tidak apa-apa," jawab Sinta sambil mengerucutkan bibirnya. Sinta lelah kalau harus terus mengatakan dia ingin Rama tinggal dengannya. Rama tersenyum tidak enak, "kalau kamu tidak apa-apa. Kenapa juga kamu kecut begitu, Dek?" goda Rama. "Haduh, Bang. Kalau mau pergi, ya sana. Pergi saja," ucap Sinta dan langsung pergi dari meja makan. Rama yang sedang menyuap makanan pun langsung tertegun melihat sikap Sinta yang terlihat marah. Saat ini Sinta sedang berbaring dan memunggungi Rama. Dia tidak suka jika Rama pamit untuk pergi kerja merantau lagi besok. Rama memegang bahu Sinta, "Please, Dek. Kalau kamu tidak suka, bagaimana kita bisa merubah nasib kita? Abang kan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan masa depan kita agar lebih cerah." "Iya, Bang. Aku ngerti. Aku kan dari tadi juga bilang tidak apa-apa," jelas Sinta mulai emosi. Sebenarnya, Rama sendiri yang merasa tidak enak karena meninggalkan Sinta terus. Padahal dia baru saja pulang dari rantau, tapi sekarang harus pergi lagi. *** Sekarang waktu sudah pagi, dan waktunya untuk Rama pergi merantau lagi. "Jaga dirimu baik-baik ya, Dek," ucap Rama ingin Sinta menjaga diri. "Hem," jawab Sinta hanya berdehem sambil mencium punggung tangan suaminya. Sinta sungguh terluka dengan kepergian Rama saat ini, dari semalam dia acuh kepada Rama karena berniat untuk pergi merantau lagi. Padahal Sinta sudah punya bisnis di sini dan mengatakan kepada Rama untuk memulai bisnis bersama. Sayangnya Rama malah memilih untuk pergi jauh dan merantau, padahal Sinta sudah menjelaskan berkali-kali bahwa dia tidak ingin ditinggalkan terus. Namun, Rama selalu mengatakan 'tidak bisa memulai bisnis dengannya' dan hal itu membuat Sinta malas berbicara kepada Rama dan terus saja membiarkan Rama pergi. "Andai kamu tahu, Bang. Aku sakit hati karena kamu tidak mau memulai bisnis bersama denganku dan memilih untuk pergi merantau meninggalkan aku sendiri," gumam Sinta mengelap air mata yang mulai berderai. Sinta berbaring diatas ranjang, dia menangis dengan kepergian Rama untuk bekerja. "Aku kesel sama Abang. Abang lebih memilih untuk pergi merantau dibanding kita berbisnis bersama disini," kesal Sinta. Sinta memendam rasa sakit dan amarahnya terhadap Rama. Dia lebih memilih untuk melampiaskan kekesalannya sendiri di kamarnya setelah Rama pergi. "Apakah Abang Rama tidak suka sama Sinta dan terpaksa untuk menikah?" gumam Sinta bersuudzon. Pernikahan mereka memang baru seumur jagung, baru dua bulan lamanya dan Rama terus menerus pergi merantau membuat Sinta sedih namun tidak bisa mengatakannya. Sinta masih menangis, "Abang, bahkan hanya menghabiskan masa pengantin bersama Sinta itu cuma satu Minggu saja. Sekarang baru pulang sudah pergi lagi," kesal Sinta dan sampai-sampai meremas guling yang dia peluk. "Sekarang usia pernikahan kita sudah memasuki bulan kedua. Akan tetapi, Abang juga terus pergi lagi. Sungguh Bang, Sinta kesel sama Abang." Sinta terus saja bermonolog sendiri. Sebenarnya Sinta ingin sekali meluapkan emosinya kepada Rama, tapi ada rasa takut juga yang menjalar di hati Sinta. Pasalnya Sinta juga jarang berkomunikasi dengan Rama, jadi Sinta ragu untuk terbuka. Pikiran Sinta pun jadi teringat dimana dia berbicara kepada Rama pada waktu awal akan menikah dengan Rama. "Bang setelah menikah nanti, aku akan membangun bisnis jual beli pakaian di desa ini. Aku akan menjual dengan metode mengkreditkannya. Jadi, para warga disini akan ringan membayar." "Boleh saja, Dek. Abang mendukung, tapi Abang akan tetap merantau untuk menambah kebutuhan beban rumah tangga kita nanti," jawab Rama. "Tapi, Bang. Aku ingin kita memulai bisnis bersama saja. Jadi, dengan beg—" "Dek, Abang tidak bisa. Kamu sendiri saja yang menjalankannya, sedangkan Abang akan tetap pergi merantau," jelas Rama. Hanya karena perkataan Rama seperti itu, sampai sekarang Sinta pun tidak bisa menjelaskan bahwa dia ingin kalau Rama tidak merantau lagi dan menjalankan bisnis jual beli bersama dia saja. Bahkan Sinta juga pernah sekali lagi mengatakan bahwa dia ingin berbisnis bersama Rama. Namun, Rama masih mengatakan tidak bisa dan membuat Sinta tidak bisa meluapkan emosi dan apa yang dia rasakan. Setelah beberapa saat, Sinta pun langsung teringat akan cucian yang menumpuk di kamar mandi. "Astaghfirullah, aku bahkan lupa untuk mencuci gara-gara teringat akan Bang Rama," gumam Sinta yang masih mengenakan daster modis yang panjangnya selutut. Sinta pun dengan sigap langsung pergi ke kamar mandi dan mencuci pakaiannya. "Nasib, nasib, pengantin baru seperti aku ini malah sendirian terus seperti ini," gumam Sinta, lalu bersenandung merdu untuk menghibur dirinya sendiri. Sekarang sudah waktunya untuk menjemur pakaian yang sudah Sinta cuci. Sinta pun langsung pergi ke luar rumah dengan satu ember yang berisikan pakaian. "Heh, Sinta. Suaminya pergi lagi, ya?" Sinta menoleh ke sumber suara tersebut dan menjawab, "ya, Mas. Seperti biasa." Setelah beres menjemur pakaian, Sinta pun berniat untuk masuk ke dalam rumah kembali. Namun, betapa terkejutnya dia karena rupanya ada Rival yang sudah ada di terasnya itu. "Heh, masih disini Mas Rival? Ngapain?" tanya Sinta. Tangan Sinta tiba-tiba saja ditarik masuk ke dalam rumahnya oleh Rival yang statusnya itu adalah duda keren di kampung ini. "Arrrrggghhhhhh, apa yang akan kamu lakukan, Mas?" Tangan Sinta ditarik masuk ke dalam rumahnya dan Rival pun langsung melakukan aksi beja*tnya dengan paksa. Sinta berontak dan mencoba melawan, tapi tenaganya tidak bisa mengalahkan tenaga Rival yang begitu kuat. Sinta berada di pojokan kamarnya, dia menangis tersendu-sendu melihat Rival yang sedang memakai pakaiannya sendiri. "Kamu jahat, Mas. Kamu tega melakukan ini kepadaku," teriak Sinta, menggenggam selimut yang menutupi tubuhnya. "Aku hanya membuat kamu terhibur, Sinta. Kamu sudah ditinggalkan terus oleh suamimu itu. Jadi, aku ingin menghiburmu," terang Rival sambil tersenyum. "Dasar gila! Kalau sampai Bang Rama pulang aku akan mengadukan sikapmu kepadanya." ancam Sinta. "Silahkan saja, dengan begitu aku akan menghabisi nyawa Rama," terang Rival tertawa jahat. "Kau ini pria b***t. Kalau begitu aku akan laporkan kamu ke polisi sekarang juga," ucap Sinta dan langsung saja beranjak dari tempatnya kini sambil menutupi dirinya dengan selimut. Dia akan memakai pakaiannya dan akan pergi ke kantor kepolisian. Rival langsung memeluk tubuh Sinta dari belakang, membuat Sinta terkejut dan emosi. Sinta pun berontak, tapi Rival mengeratkan dekapannya. "Kalau kamu berani, maka aku akan menghabisi keluargamu," bisik Rival membuat Sinta merinding. Sinta pun mulai mengalirkan air mata, dia begitu terluka karena sampai-sampai mengkhianati suaminya sendiri. Walaupun Rival yang sudah memaksa dia, tapi Sinta sungguh merasa telah mengkhianati Rama. "Mas Rival, hatimu terbuat dari apa?" tanya Sinta dengan suara yang serak. Rival tertawa, "aku sangat menginginkan kamu, Sinta. Semenjak aku melihat kamu, aku langsung jatuh cinta kepadamu. Sayangnya kamu malah memilih Rama dibandingkan aku." kesal Rival. Sinta merasakan dekapan tangan Rival mulai melemah, dia pun langsung membalikan badan dan menampar pipi Rival. Plak!!! "Pria j*****m! Durjana! Kalau kau tidak bisa memiliki apa yang kau inginkan tidak seharusnya kau menodai istri orang!" amuk Sinta. Sungguh Sinta merasa rapuh, bagaimana dia bisa bertemu dengan suaminya nanti setelah dirinya kotor seperti ini? "Jangan berani menamparku Sinta. Aku sudah sabar dengan membiarkan kamu menikah dengan Rama, tapi setelah tahu kalau kamu terus ditingkatkan olehnya membuat aku kesal. Aku tahu kalau kamu sering menangis sendiri dan melihat kamu murung. Jadi, aku tidak tahan untuk memilikimu dan menyentuhmu." Sinta tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Sinta pun menatap ke arah Rival dan berteriak. "Pergi!!! Pergi dari sini sekarang juga, Pergi!" amuk Sinta. Rival yang melihat Sinta sudah murka akhirnya menurut dan langsung meninggalkan Sinta sendiri dengan keadaan yang rapuh. "Bang Rama … Bagaimana ini? Ini semua gara-gara Abang yang tidak bisa menjaga dan melindungi aku. Abang malah lebih memilih untuk pergi merantau dibanding beke kerja bersamaku disini. Beginilah aku jadinya, Bang," Isak Sinta.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook