Akhirnya Mala bisa bernapas dengan lega. Dia sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Setidaknya, dia menepati ucapan kepada teman-temannya untuk datang tepat waktu.
"Bapak menunggu saya?" tanya Mala. Dia melihat ke arah tangannya, jam sudah menunjuk angka 7 dan kemungkinan besar acara malam ini akan memakan waktu yang cukup lama sekali.
"Ya. Saya menunggu."
"Munggkin lama, maaf ya, Pak." Mala berucap tak enaknya.
"Tak apa-apa, Nyonya."
Mala keluar dari mobilnya. Rumah besar dengan dua tingkat itu tampak cukup ramai dengan beberapa mobil yang sudah terparkir dengan rapih pada bagian depannya.
Kakinya melangkah, memasuki rumah itu dan melihat beberapa pelayan yang bertugas untuk menyambut tamu dan menunjukkan arah tamu untuk pergi ke tempat acara.
Acara malam ini digelar di tempat yang terbuka, yaitu taman. Saat kakinya menginjak rumput, Mala bisa melihat dengan jelas beberapa beberapa tikar yang sudah di pasang di atas ramput.
Seperti sedang piknik.
"Mala!" panggil beberapa wanita. Mereka melambaikan tangannya ke arah Mala dan menyuruh wanita itu untuk datang ke arah mereka.
Mereka adalah teman-teman Mala dan salah satu dari mereka sendiri adalah Putri yang tengah asik menikmati jus jeruknya.
Mala mendatangi mereka. Dia langsung mengambil tempat duduk, tepat di samping Putri. Dengan iseng, Mala menyentuh bahu Putri, sehingga wanita itu tersedak minuman.
Putri terbatuk-batuk dan memukul dengan kerasnya tubuh Mala. "Sialan kau." Wajah Putri berubah menjadi masam, tangannya memegang tenggorokan yang terasa sedikit sakit karena tersedak tadi.
"Habisnya kau, aku datang bukannya dikasih penyambutan yang baik. Kau, 'kan tuan rumah dan aku tamu." Wajah Mala tampak tak bersalah sedikitpun, biasa saja dan tak begitu peduli dengan Putri yang sedang menahan sakit di tenggorokan.
"Selamat datang Mala ku sayang," ucap Putri dengan bibir yang dipaksa tersenyum.
Mala terkekeh pelan. Dia sungguh senang dan rindu melihat wajah sahabatnya ini yang tampak sangat marah, terlihat menggemaskan sekali saat ini.
"Mala, kau tambah cantik dan elegan saja," ucap salah satu teman Mala. Memiliki pipi tirus, bibir tipis yang dilipstik merah dan juga rambut lebat bewarna cokelat gelap.
"Aku rasa, tak ada yang berubah." Mala menunduk, melihat penampilannya sendiri yang tampak biasa saja, lagian juga dulu dia sering berpenampilan seperti ini.
"Tidak, kau tambah cantik. Lihatlah, tak ada lagi komedo di hidung mu," ucap Bella, wanita dengan kulit gelap dan bibir yang tebal.
"Aku tak pernah memiliki komedo." Tanpa sadar, Mala menaikkan tangannya dan memegang hidung nya yang mancung itu.
"Kau saja yang tak pernah melihat. Dulu, kau banyak memiliki komedo dan juga jerawat, berbeda dengan sekarang, kau tampak cantik dan putih bersih."
Mala hanya diam saja. Percuma juga jika dia membalas ucapan mereka, yang pasti mereka akan terus mengajaknya berdebat tak penting dan membuat Mala kalah dalam debat ini.
"Terserah mu." Mala membuang wajahnya. Lagaknya tampak seperti orang yang tengah marah, membuat teman-teman nya terkekeh geli melihat kelakuannya itu.
Bella mengambil sebuah sosis yang sudah dipanggang, mendekatkan makanan itu ke era penciuman Mala, membuat wanita itu berkedip berkali-kali.
Aroma sosis panggang ini, berhasil membuat perut Mala terasa lapar.
Mala menoleh, secepat itu juga sosis itu langsung menjauh dan masuk ke dalam mulut Bella.
Mala mengumpat pelan. Dia melihat ke arah piring, makanan itu sudah habis.
"Kalian curang, tak menyisakan aku makanan," ucap Mala dengan kesalnya. Bahkan sisa mayones dan saus saja tak tersisa di piring itu.
"Masak tuh sendiri. Kita saja tadi masak sendiri."
"Temenin," rengek Mala. Tangannya menarik Putri dan menatap wanita itu dengan penuh permohonan.
"Masak sendiri."
"Namun, di situ ramai." Mala menengok, melihat ke arah salah satu pemanggang makanan yang tampak ramai. Jika ramai oleh wanita, maka Mala tak masalah, ini sebaliknya, para pria itu menongkrong di tempat tersebut seraya bercanda tawa.
Mana salah satu dari mereka menatapnya.
"Apa yang kau takutan?" Stella bertutur.
"Digoda."
"Tak ada yang menggoda mu," pungkas Stella.
"Mereka," sahut Mala.
Putri menggeleng pelan. "Ayo, aku temani." Dia bangun dari duduknya, begitu pula dengan Mala yang ikut bangun.
"Kau memang sahabat terbaikku." Mala memeluk tubuh Putri dengan sangat erat sekali.
Sedangkan Stella dan Bella hanya menatap Mala dengan malasnya.
Mereka pun pergi dari tempat itu. Jantung Mala rasanya mau copot kala kakinya terus melangkah, mendekati keberadaan mereka yang cukup ramai.
Para pria itu langsung kompak menengok ke arahnya dengan Putri yang datang. Beberapa dari mereka bersiul dengan pelan, membuat Mala semakin gugup.
"Ayo, buat. Aku akan menunggu."
Mala mengangguk. Dia berusaha menekan rasa gelisahnya dan mulai memasak. Tak peduli dengan mereka yang saling berbisik dan membuatnya merasa terganggu.
Putri mendekatkan ke arahnya dan membisikan, "Aku pergi ke toilet dulu. Kebelet."
Tanpa menunggu jawaban dari Mala, Putri sudah pergi dengan kecepatan lari yang snagat tinggi. Saat itu, Mala hanya bisa meringis pelan, sungguh dia merasa lebih gelisah lagi daripada sebelumnya.
"Putri sialan," umpatnya dengan pelan. Dia harap, makanan yang dibuatnya ini cepat jadi dan bisa pergi dari tempat ini.
Punggungnya terasa panas, dia sangat yakin beberapa dari mereka tengah menatapnya dengan lekat.
Mereka saling berbisikan dan salah satu dari mereka pun berdiri. Pria dengan penampilan yang cukup rapih itu menatap lekat punggung Mala. "Aku akan mendekatinya," ucap dia.
Dia langsung menghampiri tempat keberadaan Mala dan wajah wanita itu. Tak ada yang dilakukannya lagi, selain melihat Mala saja.
Membuat Mala semakin merasa kesal sendiri. Mala mengangkat kepalanya dan menatap pria itu dengan tajamnya. "Kalau tak ada keperluan, jangan menatap ku seperti itu." Mata Mala melotot, berusaha untuk menakuti pria itu.
Namun, apa yang didapatkan olehnya, pria itu justru tertawa kecil seolah apa yang Mala lakukan adalah sebuah kesalahan kecil.
Mala menggeram kesal. Apalagi kesalahannya untuk hari ini? Sangat menyebalkan sekali.
"Kau sangat lucu dan cantik sekali."
Mala menatap datar. Tak ada pengaruh sedikitpun ucapan pria itu kepadanya. Memuji seribu kali pun, Mala tak akan pernah menunjukkan reaksinya.
"Pergilah." Mala kembali melanjutkan pekerjannya lagi. Sosisya sudah jadi, dia buat dalam porsi yang banyak agar tak perlu lagi balik ke tempat ini.
Mala mengambil piring, menyajikan sosisi itu dan menaruh saus dan mayones di atasnya.
"Siapa nama mu."
"Kau tak ada hak untuk mengetahuinya," sahut Mala.
Makanannya sudah jadi. Mala tersenyum gembira dan tatap nya teralih ke pria itu. Dia mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah cincin yang ada di jari manisnya.
"Aku sudah menikah."