Persiapan Acara

1020 Kata
"Aku akan pulang," ucap Dewi. Dia mengambil tas nya dan juga rantang makanan yang dibawa olehnya tadi. Wanita itu menghampiri Bian dan memeluk tubuh pria itu untuk sejenak. Bian hanya diam saja. Dia tak membalas pelukan tersebut, tetapi dia juga tak menghindari pelukan itu. Matanya menatap kepergian Dewi, wanita itu sudah raib dari ruangan ini, menyisakan dirinya dengan Mala yang masih terduduk di atas sofa. 'Aku merindukan mu.' Bian berjalan menuju ke meja kerjanya. Ada beberapa pekerjaan penting yang harus diselesaikan olehnya saat ini. "Bian, aku ingin bicara." Mala bangun dari duduknya. Dia menghampiri tempat Bian berada dengan kedua tangannya yang saling bertautan. "Apa?" tanya Bian, fokus nya masih pada komputer dan tak sekalipun pria itu menatap atau bahkan meliriknya. "Malam ini, ada acara di Rumah Putri. Apakah, aku boleh pergi?" Bian hanya diam saja, tak menjawab ucapan Mala. Wanita itu langsung mengambil ponselnya, menunjukkan pesan di group yang membahas tentang acara malam ini, berharap kalau Bian akan percaya dengan ucapannya kali ini. Bian menengok, mengambil ponsel milik Mala dan membaca setiap pesan, memastikan jika istrinya itu sedang tak berbohong saat ini dan mengetahui detail acara apa yang akan diadakan. "Ada ibu di rumah. Aku yakin, ibu tak akan mengizinkan mu." Bian memberikan ponsel itu lagi. Mala jelas tahu makna ucapan Bian, pria itu sudah mengizinkannya untuk pergi, tetapi Sarah lah yang menjadi kerikil dalam masalahnya kali ini dan dia harus bisa mencari solusi agar bisa pergi. "Bian, aku ingin pergi, sebentar saja. Lagian juga, aku jarang pergi. Tolong bantu aku, ya." Mala memohon kepada suaminya itu, berharap kalau hati Bian akan tersentuh dan menuruti ucapannya. "Aku sangat malas berdebat sama ibu. Ibu tetap tak mengizinkan mu untuk pergi." Mala mulai kebingungan. Apa yang harus dilakukannya agar bisa pergi dari ke acara itu? Meyakinkan Sarah jauh lebih susah dibanding dengan Bian. "Kau tak memiliki solusi?" tanya Mala dengan takut-takut. Bian menggeleng, otaknya bahkan tak bekerja untuk menyelsaikan masalah yang dialami oleh Mala. Lagian juga, dia tak terlalu peduli dengan permintaan istrinya, biarkan saja wanita itu yang berpikir dan mencari solusi atas masalah ini. "Bagaimana jika aku pergi secara diam-diam? Ibu pasti tak akan menyadari jika aku pergi." "Terserah mu." Mala tersenyum dengan lebar. Dia sudah mendapatkan persetujuan dari Bian dan kali ini, dia hanya perlu memikirkan cara untuk kabur dari rumahnya ini. 'Semoga saja nanti ibu pergi.' *** Mala bersiul pelan. Memilih beberapa bajunya yang ada di dalam lemari. Baju yang tertutup dan mewah, lebih terkesan seperti putri kerajaan. Dia memakai dress putih yang menutup sampai lututnya, dengan rambut yang diikat kuda dan tas peach yang menggantung di bahunya. Dia memakai high heel yang memiliki tinggi heels nya sekitar 6 cm. Wanita itu keluar dari ruangan walk in closet. Menuju ke meja rias, memberikan polesan pada wajahnya dan juga membuat rambutnya keriting pada bagian bawah. Dia memundurkan tubuhnya, melihat penampilannya dari jauh yang terlihat sangat cantik sekali. Pintu toilet terbuka. Bian keluar dengan menggunakan baju handuk. Rambutnya masih menetes dan membahasi tubuhnya sendiri. Terlihat sangat seksi sekali. Pria itu langsung memasuki walk in closet, tak membuat pembicaraan sedikitpun kepada Mala. "Pria itu sangat datar sekali," ucap Mala. Dia pun beralih, mengambil jaketnya. Dengan memakai jaket, setidaknya dia tak terlihat rapih seperti akan berpergian. Dia juga menyembunyikan sepatunya di dalam jaket yang longgar itu. Kepalanya ditutup dengan jaket tersebut juga, hingga penampilannya benar-benar tertutup saat ini. Mala keluar dari kamarnya. Sepi. Dia bisa menghabiskan napasnya dengan kasar. Untuk saat ini, tak ada orang yang mengganggunya. "Mau kemana kamu?" Suara itu dapat mengagetkan Mala. Jantung wanita itu terasa berdetak lebih cepat daripada sebelumnya. Takut, itulah yang dirasakannya. Dia takut jika ada orang lain mengetahui niatnya untuk pergi. Wanita itu berbalik, melihat Dewi yang tengah menyandarkan tubuhnya di tembok. Melihat penampilan Mala dari atas sampai bawah. "Aku nanya, kau mau ke mana?" "Tidak, ke mana-mana," jawab Mala dengan cepat. Apakah Dewi sudah curiga padanya saat ini? Mala sangat takut jika nantinya Dewi akan mengadukan hal ini kepada Sarah, bisa habis dirinya, mendapatkan ucapan pedas dari Sarah yang membuat hatinya sakit. "Apa yang kau kenakan?" "Aku menggunakan jaket." "Kenapa?" "Dingin." Tangan Mala langsung terangkat, dia memeluk dirinya sendiri, yang menandakan kalau saat ini dirinya tengah kedinginan. "Bagian dalam jaket mu?" "Daster." Dewi mengangguk. "Kau ingat, wanita bersuami tak boleh pergi ke mana-mana." Wanita itu langsung pergi dari tempatnya, memasuki kamarnya sendiri dan meninggalkan Mala yang terdiam. Mala menggigit bibirnya, berusaha untuk menahan rasa takut nya saat ini. Apakah Dewi curiga padanya? Mala jadi ragu untuk pergi dari sini. "Apa yang harus ku lakukan?" "Pergi." Lagi, Mala merasakan kaget. Dia menengok dan melihat Bian dengan wajah datarnya yang membawa sebuah cangkir. Pria itu memberikan cangkir kepadanya dan sampai saat ini, Mala masih diam dan tak mengerti dengan maksud dari Bian. "Kau taruh cangkir itu di dapur, pergi lewati pintu belakang." Hanya kalimat itu saja yang terucap di mulut Bian. Pria itu kembali memasuki kamarnya. "Terimakasih," ucapnya Mala, dia berseru gembira dengan bantuan Bian. Benarkah itu Bian? Mengapa dia mau membantunya? Mungkin ini adalah kali pertama Bian membantunya dan bersikap baik padanya. "Aku sungguh mencintai mu." Dengan membawa cangkir kotor di tangannya, dia turun ke lantai bawah. Setidaknya, saat dia bertemu dengan Sarah, wanita paruh baya itu tak memberikan banyak pertanyaan juga. Sarah hanya melihat penampilan Mala sejenak dan kembali beralih ke arah cangkir. Tanpa dijelaskan, Sarah sudah mengerti dan melewati Mala yang sedari tadi menahan dirinya agar tak gelisah. "Selamat," ucapnya. Menuju ke dapur, tempat itu sangatlah sepi sekali, tak ada satupun orang yang ada di tempat ini. Wanita itu menaruh cangkir di wastafel dan melihat ke arah pintu belakang, pintu itulah yang membuatnya keluar dari tempat ini. Mala menuju ke pintu itu. Dia menengok ke belakang dan memastikan tak ada orang yang tengah mengawasinya. Saat semuanya sudah dipastikan oleh Mala, wanita itu langsung membuka pintu. Sebuah mobil sudah terparkir sempurna di pintu belakang. Mobilnya sudah siap dan kaca jencela terbuka. "Saya yang akan mengantarkan Nyonya." Mala masih terdiam di tempat. Dia tak percaya ini. Pasti ada yang merencakan nya. Apakah Bian yang menyuruh supir ini untuk menunggu di belakang? "Ya, Tuan yang menyuruh saya untuk menunggu Nyonya di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN