Leon POV
"Pagi, Mom." Sapaku kepada Mama. Pagi ini aku turun dengan semangat empat lima, khas para pejuang yang ingin merebut kemerdekaan.
"Wow... My son hari ini semangat banget?" tanya Mama begitu melihat senyum merekah di wajahku.
"Bagaimana Anda bisa begitu peka, Nyonya Ghazali Pranaja?" tanyaku dengan gaya formal sambil mencium pipi wanita tercintaku.
"I know you sampe kedalem-dalem Tuan Pranaja muda...." kata Mom sambil memukul lenganku lembut.
"Dad mana? Biasanya udah ready menunggu Mom sambil baca berita." tanyaku kala tidak melihat Dad duduk di kursi kebesarannya dan melihat-lihat berita hari ini.
"Lagi sama Anto, sama Rudi di kebun. Katanya ada ular." Kata Mom sambil wira-wiri mengambil makanan dan menyiapkan peralatan makan kami.
"Hah? Kok gak panggil pawang aja? Kan bahaya, Mom?" aku segera bangkit dan sedikit berlari menuju kebun belakang untuk melihat Dad dan dua pekerja kebun.
Sampai di kebun, ku lihat Dad dan dua pekerja tengah duduk santai di bawah pohon mangga. "Loh, kata Mom ada ular?" tanyaku bingung.
"Hi, son. Iya kayaknya sarangnya di bawah sana." jawab Dad sambil menunjuk salah satu pohon yang di duga menjadi sarang ular. Rudi dan Anto memberikan ruang untukku dan Dad untuk mengobrol.
"So, Dad mau gimana?" tanyaku bingung.
"Mau Dad kasi orang yang mau pelihara. Katanya Rudi, tetangga dia ada yang pecinta ular. Ini lagi nunggu tetangganya datang. Kamu ngapain ke sini? Sana berangkat cari uang." kata Dad dengan santai.
"Ya ampun, Dad. Aku kesini itu khawatir karena Dad tiba-tiba jadi pawang ular kata Mom. Tapi kenyataannya malah duduk santai. Yuk sarapan. Ada yang mau aku omongin penting." kataku mengajak Dad yang masih asik memperhatikan pohon yang katanya ada sarang ular di dalamnya.
"Ya udah tunggu di dalam sana. Dad bilang Rudi dulu." kata Dad yang langsung bangkit dari duduk dan berjalan menuju ke arah dua pekerja yang khusus untuk menangani kebun sementara aku langsung menuju ruang makan.
Di tanah seluas tiga hektar ini tidak hanya berisi rumah yang di huni olehku, kedua orang tuaku serta beberapa orang pekerja. Di bagian belakang rumah, ada berbagai tanaman yang menjadi hobi Dad. Dad hobi berkebun sehingga beragam tanaman dari buah-buahan hingga beragam jenis bunga ada di sini. Dan luas kebun jauh lebih besar dari rumah yang hanya seluas seribu meter persegi.
"Mau ngomong apa sih, Le?" pertanyaan itu mendarat mulus di telingaku begitu Dad memasuki ruang makan.
"Dad, Mom, aku uda nemuin calon istri." sengaja aku menghentikan kata-kata untuk melihat reaksi orang tuaku. Benar saja. Mereka terkejut.
"Siapa, le? Bawa ke Mommy dong, Nak. Mommy uda pengen banget punya menantu. Nanti kamu tinggalnya jangan jauh-jauh ya... Beli rumah yang deket sini aja biar Mom bisa hang out sama menantu Mom." kata Mom yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Leon Pranaja... Kenapa diem ajaa? Lanjutin." titah Dad padaku ketika tidak ada tanggapan dariku atas permintaan Mommy.
"Tenang, Mom. Prosesnya masih panjang untuk sampai ke tahap menantu." kutarik nafasku untuk melegakan hati. "Aku emang uda ketemu orangnya, tapi belum ada apa-apa." jelasku.
"Maksud kamu tuh gimana sih, Le?" tanya Dad yang bingung dengan penjelasanku.
"Aku belum bilang ke dia kalau aku suka dia, Dad. Aku masih mau membereskan cewek-cewek yang selama ini kayak parasit sama aku. Aku gak mau pas aku uda serius sama satu wanita, mereka masih ngerusuhin hubunganku. Tapi kalau Mom mau tau orangnya, nanti aku ajak ke rumah." kataku pada Mom dan Dad.
"Gak usah gitu-gitu deh, Le... Cewek-cewek kamu itu pasti bakal nyingkir kalo liat kamu sama cewek lain. Apalagi kalau uda tunangan. Sekalian Dad minta ke orang tuanya gimana?" Dad mencoba melakukan penawaran. Karena memang, orang tuaku sudah ingin melihat cucu-cucu berlarian di rumah ini. Dan harapan satu-satunya hanya padaku. Sebagai anak tunggal, aku diharapkan memiliki anak banyak nantinya. Hal yang tidak bisa diberikan Mom pada Dad karena kandungan Mom yang lemah.
"No... Big no!" kataku pada Dad. "Aku mau semuanya berproses, Dad. Aku juga belum tau perasaan dia gimana ke aku." kataku menjelaskan agar Mom dan Dad tidak asal bertindak karena jika seorang Ghazali Pranaja bertindak, semua akan instan. Yah, kalian taulah khas pengusaha sukses yang semua urusan maunya beres dalam waktu singkat.
"Mom and Dad doain yang terbaik aja buat aku. Aku yakin dia jodohku. Sekarang, aku mau cari uang dulu. Aku berangkat ya..." kataku sambil beranjak dari meja makan dan meninggalkan kedua orang tuaku.
"Son, semangat!!" teriak Dad sambil mengepalkan tangannya ke udara.