Lucky Me 8

1079 Kata
Hanya menunggu beberapa menit, kami telah dipersilahkan untuk menempati private room yang ada di restauran tersebut.  "Muka sama penampilan lo gak ada yang salah kok, Sa.. Maaf gue gak bilang sebelumnya. Gue kira lo tau siapa gue." dengan suara lembut Kak Leon berusaha memberiku pengertian. "Gue taunya seorang Leon itu ya partner bisnis Kak Bram a.k.a bos di cafe gue kerja." kataku dengan bingung karena memang itu yang aku tau. "Ya udah kita makan dulu. Keburu dingin makanannya ntar gak enak." Kak Leon segera mengajakku memulai santap siang ini tidak lama setelah makanan pesanan kami terhidang di depan mata. "Coba lo ambil handphone trus cari di pencarian Leon Rifiansyah Pranaja." kata Kak Leon sambil meletakkan sendok tanda Kak Leon selesai dengan santap siangnya. Jangan tanya makan siangku. Aku dengan cepat menghabiskan makanan pesanan yang tersaji di depan mata. Segera ku ambil benda pipih itu di dalam tas dan melakukan pencarian dengan kata kunci Leon Rifiansyah Pranaja. "Astaghfirullah." kata pertama yang bisa aku ucapkan hanyalah itu. Dengan mulut terbuka, aku membaca satu artikel teratas dalam pencarian itu. "Lo seterkenal ini ternyata?" kataku beberapa saat setelah berhasil menyelesaikan satu artikel tersebut. "Lo pengusaha sukses anak dari keluarga Ghazali Pranaja. Anak satu-satunya pula. Gila lo, kak. Dan gue gak tau. Bodoh banget deh gue..." aku menepuk jidatku setelah menjabarkan kenyataan yang ada di depan mata. "Gue gak mau kasi tau lo sih sebenarnya tapi lo kayak stress gitu tadi begitu sampai di resto. Gue tau lo gak tau, Sa. Dan itu gak papa. Gue malah suka lo gak jaim dan masih bisa jadi diri lo sendiri di depan gue. Banyak teman gue yang suka pura-pura di depan gue. Gue gak suka. Dan gue harap lo masih seperti ini setelah ini." Kak Leon menjelaskan panjang lebar. "Siapa bilang abis ini gue mo diajak makan siang lagi? Kalo pun gue mau lo ajak makan siang, kayaknya gue harus ke salon deh biar gak kumel-kumel banget kayak sekarang. Biar gak dihina netijen +62." kataku ke Kak Leon yang seketika tertawa terbahak. "Napa lo malah ketawa?" tanyaku heran. "Gue bayangin lo keluar dari salon dengan sanggul dan kebaya rapi." kata Kak Leon di sela tawanya yang masih belum berhenti. Dengan langkah cepat, aku yang semula duduk berhadapan dengannya sudah berada di samping kak Leon dan siap mencubit bagian tubuhnya yang dapat aku jangkau. Namun niatan ku gagal karena Kak Leon sudah mengetahui niat jelekku. Dia berhasil menghindar dari kecepatan tanganku. Alhasil ada kegaduhan yang terjadi di private room sebuah restauran ternama bersama orang terkenal seantero negeri ini kecuali olehku. ***** "Sa, kok telat?"suara bariton milik Eshan mengagetkanku. Aku sedang bersiap di loker untuk memulai tugas hari ini. "Maaf ya, Shan... Tadi pas gue otw dari fakultas, gue ketemu Kak Leon. Eh, malah diajak maksi. Jiwa anak kos gue bangkit dong secara di traktir. Rame ya?" kataku menjelaskan ke Eshan. "Jangan lagi ya. Gue emang gak sekaya kayak Bos Leon, tapi gue juga bisa kok traktir lo. Tiap hari juga gak papa." kata Eshan dengan muka yang serius. "Hah? Gak segitunya juga lah... Apaan sih lo?" jawabku agak sedikit tersinggung. Aku sedikit tidak nyaman dengan kata-kata Eshan barusan. Aku bisa kali beli makanan sendiri. Uang yang diberikan Papa masih utuh di tabunganku karena semenjak kerja di cafe corner, aku tidak pernah menggunakannya. Aku memaksimalkan uang yang aku dapat sendiri untuk kebutuhan sehari-hari. Aku bergegas menunaikan tugasku di belakang meja kasir meninggalkan Eshan yang akan beristirahat. Sudah ada beberapa pelanggan yang berdiri menunggu untuk dilayani. Sebenarnya masih ada Kak Bram yang berada di mesin kasir yang biasa aku pakai, namun ternyata pengunjung hari ini tergolong banyak untuk ukuran jam lengang. Di tempatku bekerja ini, ada jam yang di sebut jam padat dan jam lengang. Di jam padat, tidak boleh ada karyawan yang beristirahat dan sebaliknya di jam lengang karyawan akan bergiliran untuk istirahat. "Maaf ya, Kak." sementara hanya itu yang bisa gue katakan. Selanjutnya aku tenggelam dalam rutinitas melayani orang. ******* Leon POV "Lo bawa kemana anak orang?" tanya Bram begitu aku mulai duduk di kursi bar dekat meja kasir yang di pegang Bram. "Njiirr... Gue datang tu di tawarin apa gitu. Langsung ngegas aja..." jawabku sambil menggoda Bram yang sedang berkonsentrasi melayani beberapa mahasiswa yang datang untuk membeli kopi. "Gue tunggu kopi gue di sana ya." ku putuskan mencari meja kosong dan meninggalkan Bram bersama para mahasiswa yang ingin beli kopi. Cukup lama aku menunggu Bram yang sibuk mengurus cafe sampai akhirnya di bergabung denganku. "Hari ini rejeki banget gue. Uda karyawan satu diculik, cafe rame lagi." kata Bram memulai gencatan senjatanya. Sebenarnya Bram sedikit protes ketika tadi aku meminta ijin untuk mengajak Carissa makan siang. Kondisi cafe yang kala itu membutuhkan Carissa membuat Bram akhirnya turun tangan membantu Eshan untuk membuka meja kasir tambahan. "Alhamdulillah..." kataku tanpa melepas pandangan mata dari Carissa. "Bro, mereka sedekat itu?" ada rasa tidak suka melihat Carissa sangat akrab dengan Eshan. "Carissa anak baik. Gak usah lo buat sulit idupnya. Dia on the track. Gue gak mau lo nyemplungin dia ke kubangan kehidupan lo." kata Bram menasehatiku. "Emang hidup gue kenapa? Gue butuh istri. Dan gue rasa dia cocok jadi istri gue." kataku yang merasa hawa cafe semakin panas. "AC cafe rusak ya? Kok gerah?" "Lo seriusan suka Carissa?" kata Bram yang memutar tubuhnya ke arah ku. "Serius dia anak baik. Kalau lo serius, urus dulu cewek-cewek yang nempel kayak lalat sama lo. Kalo uda bersih, baru deh lo bisa deketin Carissa." kata Bram dengan nada super serius. "Lo gak masalah dia ntar jadi istri gue?" tanyaku. "Pede banget sih lo, njirrr... Belum tentu juga dia mau sama lo. She's unique. Lo ingetkan dia kerja di cafe karena apa? Alasan yang menurut gue waktu itu gak masuk diakal. Masak ada orang mau kerja cuma gara-gara koneksi WiFi di sini oke? Tapi itulah Carissa. Jadi gue ingetin sama lo, pikirin dulu sebelum lo melangkah untuk kali ini." Bram sepertinya benar-benar perduli sama Carissa. Cewek yang selama ini sering aku perhatikan diam-diam. Aku sering ke cafe hanya karena ingin melihat senyumnya. Senyum yang diberikan kepada semua orang. Oke, aku akan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan perwanitaan dalam hidupku. Selama ini aku tidak pernah berkomitmen dengan wanita. Yang menjadi permasalahan adalah semua wanita yang mendekatiku aku perlakukan dengan baik sehingga banyak dari mereka mengganggap bahwa aku tertarik dengan mereka. Saat ini, ada beberapa wanita yang sedang mendekatiku. Aku tidak yakin dengan jumlahnya. Jadi doakan aku, agar prosesnya gampang dan aku berjodoh dengan Carissa. Feeling-ku mengatakan bahwa Carissa merupakan jodoh yang selama ini aku cari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN