Lucky Me 7

1078 Kata
'Kak, gue datang pas jam masuk ya. Gue udah otw nih dari fakultas.' aku mengabari Kak Bram mengenai kedatanganku yang sedikit lebih lambat dari jadwal yang mengharuskan para pekerja datang lima belas menit lebih awal. Hal itu biasa kami gunakan untuk bersiap mulai mengganti pakaian hingga berdandan. 'Napa lo?' balas Kak Bram dengan cepat. 'Gue tadi ada kelas yang dosennya lama banget. Slow motion.' jawabku sambil terus berjalan menuju cafe. Tidak terasa, aku sudah sebulan ini bekerja di cafe corner. Aku sudah merasa kerja itu melelahkan, namun aku menikmati pekerjaanku ini. Teman-teman yang ada di cafe merupakan teman sekaligus rekan kerja yang baik. Sejauh ini tidak ada drama yang aku dapati. Kami bekerja pada tempatnya masing-masing. "Sa? Carissa..." terdengar suara lelaki yang belum terlalu aku hapal. Otakku mencari jawaban sambil aku menoleh kearah suara. Aku melihat Kak Leon tengah berjalan ke arahku. "Hai Kak. Kok bisa ada di kampus?" "Ada proyek sama kampus lo. Mo ke cafe?" tanya Kak Leon begitu berada di sisiku. Hanya anggukan yang aku berikan. 'Duh cakep bener deh niy orang. Hot guys... Hot...' jiwa perjombloanku meronta saudara-saudara. Jantungku berdetak lebih cepat ketika Kak Leon melebarkan senyumnya.  "Barenglah yuk. Gue mo istirahat bentar di cafe." kata Kak Leon sambil mensejajarkan langkah denganku. "Yuk. Tapi jalan cepat ya. Gue udah telat. Ntar di marahi bos Bram." jawabku terkekeh membayangkan Kak Bram sambil ngomel. "Lah? Lo takut di marahin Bram tapi kok ketawa?" tanya Kak Leon ketika melihat responku. "Gue bayangin mulut Kak Bram komat-kamit. Gue sering liat dia ngomel-ngomel." tawa tak bisa lagi aku tahan. "Jalannya jangan cepat-cepat dong. Capek gue." Kak Leon memperlambat jalannya. "Gue uda telat, Kak. Ayok..." kataku sambil menarik tangan Kak Leon. Bukannya mempercepat langkah, Kak Leon malah berhenti dan mengambil handphone dari saku celana bahannya. "Bram, anak buah lo telat. Gue pinjem bentar. Capek gue jalan cepat di siang hari tengah bolong begini." kata Kak Leon yang ternyata menelpon Kak Bram dan meminta ijin untukku datang telat hanya karena dia males jalan cepat. "Apaan sih, Kak... Gak kok Kak Bram. Gampang kok gue seret temen lo biar gue gak telat-telat banget sampe cafe." aku menginterupsi dengan mengambil handphone Kak Leon. "Eh, berani ya ambil handphone gue." kata Kak Leon dengan wajah jahil yang ya ampun cute abis menurut gue. "Jangankan handphone, hati lo juga bisa gue ambil." kataku sambil bercanda. "Canda, kak. Udah yok... Uda siang banget. Panas nih. Ntar gue item." kataku memotong percakapan unfaedah ini. Selain memang aku di buru waktu, suasana yang semakin panas akibat kata-kataku barusan membuat aku ingin cepat sampai ke cafe. Malu, saayyy.... "Bisa ngegombal juga lo." Kak Leon terkekeh. "Udah gue ijinin ke bos lo.. Jadi jalannya santai aja ya. Lagian cafenya juga gak jauh. Tuh uda keliatan ini. Maksi yuk." tiba-tiba Kak Leon menarik tanganku dan menbawaku ke arah berlawanan dari arah cafe. "Kak, gue mo kerja... Uda telat nih..." kataku berusaha protes. "Gue berubah pikiran. Kita maksi dulu ntar lo gue anterin ke cafe. Yuk buruan." Pegangan tangan Kak Leon tidak di lepas olehnya. Jadilah aku seakan bergandengan tangan dengannya. Kenapa aku bilang seakan? Itu karena sebenarnya bisa dikatakan dia lebih menarik bukan menggenggam seperti drakor-drakor romantis. "Masuk. Panas nih." titahnya begitu kami sampai di parkiran kampus. "Wih.. Mobil lo keren banget. Dengan tampang keren, mobil keren, pasti banyak yang ngedeketin lo, Kak. Tapi selama gue kerja di cafe, lo kok gak pernah bawa cewek sih? Lo gak mo diledekin ya?" kataku memulai percakapan dengan Kak Leon. "Lo bawel ya ternyata. Gue kira lo tu pemalu, Sa." bukannya menjawab pertanyaan basa-basiku, Kak Leon malah menilai kepribadianku. ddrrrttt... Benda pipih kesayangku tiba-tiba menunjukkam eksistensinya. Segera kuraih agar aku dapat mengetahui siapa yang meneleponku siang bolong begini. "Assalamualaikum, Ma." kataku memberi salam pada Mama yang tumben telepon siang-siang begini. "Sa, Bang Marvin lagi ada proyek di Jakarta. Mama bawain kamu makanan. Nanti langsung di masukin ke kulkas ya. Biar gak cepat basi. Ntar malam habis ketemu klien, Bang Marvin ke sana. Kamu telepon gih Abangmu sekitar sejam lagi karena dia baru naik pesawat. Papa sama Mama masih di perjalanan mau pulang setelah dari bandara. Udah ya... Papa nanti protes kelamaan Mama kacangin." kata Mama tanpa basa-basi. "Siap komandan. Dah Mama. Dah Papa. Ati-ati nyetirnya. Kenapa gak pake supir sih..." kataku begitu tahu Papa gak memanfaatkan supir di rumah untuk mengantar mereka. "Biasalah Papamu. Kayak kamu baru hidup setahun aja sama Papa." kata Mama " Ma..." suara Papa yang mulai protes karena Mama akan memulai sesi curhat kepada anaknya membuat Mama segera mengakhiri panggilan telepon denganku. "Udah ya, Sa. Jangan lupa solat. Assalamualaikum." Mama mengakhiri panggilan telepon. "Mau makan apa?" tanya Kak Leon akhirnya. "Makanan berat deh. Nasi timbel enak tuh kayaknya, Kak." kataku antusias. Jiwa anak kosku meronta sodara-sodara. "Lo lebih suka masakan tradisional ya?" Kak Leon bertanya dengan sedikit heran. "Masakan tradisional is the best, Kak. Enak, kenyang, murah juga."cengiran aku keluarkan sembari menjawab pertanyaan Kak Leon. Hanya butuh waktu setengah jam untuk kami sampai di restauran masakan Sunda. Aku bergegas turun dari mobil dan mengikuti langkah Kak Leon untuk masuk "Lo kok gak ada jaim-jaimnya sih sama gue, Sa? Secara gue bos lo plus cowok cakep juga." dengan percaya diri tinggi Kak Leon mengungkapkan rasa penasarannya. "Apa gue harus jaim sama lo? Gue sebenarnya agak risih jalan sama lo. Tau gak sih dari tadi kita di liatin orang? Lo artis ya Kak? Heran gue. Gue jadi insecure ." Protesku pada Kak Leon. "Lo gak mau lagi jalan sama gue?" tanya Kak Leon ketika kami sudah sampai di meja. "Kayaknya harus bener-bener di pikirin deh. Buat kewarasan gue soalnya." kataku. "Emang lo bisa gak waras gara-gara jalan sama gue?" Kak Leon bertanya dengan santainya sambil memilih-milih menu. "Kak, lo benar-benar gak sadar ya kalo dari depan sampe ke meja ini, orang pada ngeliatin kita. Even sampai sekarang. Atau gue salah? Jangan-jangan di baju gue ada sesuatu? Atau di muka gue ada sesuatu?" tanyaku semakin menggila. "Mas, minta private room ya." bukannya menenangkanku, Kak Leon malah memanggil pelayan dan meminta ruang khusus untuk kami. "Baik, Pak. Akan kami siapkan terlebih dahulu. Nanti akan saya infokan jika ruangan sudah bisa digunakan." kata sang pelayan. "Udah jangan panik lagi. Kita pakai private room aja kalau lo gak nyaman. Lo beneran gak tau siapa gue?" Kak Leon akhirnya berusaha menenangkanku. Pertanyaannya hanya aku jawab dengan gelengan kepala. "Muka sama penampilan lo gak ada yang salah kok, Sa.. Maaf gue gak bilang sebelumnya. Gue kira lo tau siapa gue." dengan suara lembut Kak Leon berusaha memberiku pengertian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN