Sama-Sama Rindu

755 Kata
"Kamu sakit apa, Bel ?" tanya Rama serius pada Belia setelah mereka duduk kembali. Belia yang kebetulan duduk berhadapan dengan Rama tertunduk malu, menetralisir rasa gugupnya karena sedari tadi Rama tiada henti menatapnya. "Cieeeee, langsung diintrogasi aja nih saking kangennya, hi ... hi ... hi ... ," celetuk Nani sambil terkikik geli. "Ah kamu ini bikin rusak suasana aja sih, Mpok," tegur Dinda pura-pura marah. "Kalian ini, bikin aku malu aja," kata Belia dan Rama serempak. "Tuh kan jodoh, wong ngomongnya aja kompak begitu, ha ... ha... ha !" sahut mereka lagi, hingga Belia dan Rama semakin tersipu malu. "Udah ah, kasihan mereka. Jangan digodain terus," kata Dinda menengahi. "Oh ya udah sekalian kita pamit mau pulang duluan, udah sore banget nih," timpal Nani. "Eh ada tamu rupanya, dari tadi nih ?" tanya Abah Belia yang baru pulang dari kebun. "Eh ada Abah. Iya nih, Bah. Udah dari tadi. Kangen sama Belia nih, Bah. Kan udah lama dia enggak ke kampus," jawab Dinda. "Betul, Bah. Ini sekalian nganterin teman kita juga yang mau nengok Belia," Nani menambahkan. "Oh si Aden ini ?" tunjuk Abah dengan ini ibu jarinya kepada Rama. "Betul, Bah. Seratus untuk Abah !" seru Nani sambil tepuk tangan. "Ih, apaan sih kamu, Mpok ? Malu-maluin aja !" sahut Belia dan Dinda bareng. "Idih ... kenyataannya juga kelleesss !" jawab Nani tidak mau kalah. "Udah-udah jangan keterusan bercandanya !" protes Ema. "Ini saking kangennya lho kita sama Belia, Ma," kata Nani beralasan. "Kami pamit dulu ya, Abah, Ema, Belia, juga Bang Rama," Dinda undur diri mewakili Nani. "Iya saya juga pamit. Eh, Bang. jangan grogi sama camer ya !" Nani masih saja menggoda Rama. "It's Ok. makasih banget ya," jawab Rama. "sama-sama. By the way, ditunggu traktirannya lagi ya, Bang !" kata Nani semakin semangat. "Komersil amat sih, Mpok," sahut Belia sambil menahan tawa. "Harus begitu dong. Biro jodoh kan mahal, seperti kami inilah," kata lagi. "Udah ih, ayo pulang !" ajak Dinda lagi kepada Nani. "Kami pamit, assalamu'alaykum," ucap Dinda dan Nani bersamaan. "Wa'alaykumusalam !" jawab Abah, Ema, Belia, dan Rama serempak. "Ayo sambil dicicipi kuenya nak !" tawar Abah kepada Rama yang baru dijumpainya dengan ramah. "Eh ... iya, Bah. Makasih," kata Rama sambil mengambil kue kering yang tersedia di atas meja di hadapannya itu. "Abah tinggal ke belakang dulu. Baru pulang dari kebun, jadi mau bersih-bersih dulu ya, Nak," pamit Abah kepada Rama. "Silakan, Bah," sahut Rama sambil tersenyum. "Ema juga mau nerusin masak dulu ya, tanggung tinggal nunggu Mateng sebentar lagi," Ema pun pamit. Setelah Abah dan Ema tidak ada di ruang tamu, akhirnya Rama kembali membuka obrolannya lagi. "Bel, bagaimana udah mendingan sakitnya ?" tanya Rama. "Udah sehat sih, cuma masih lemes aja badannya," jawab Belia. "Sakit apa sih, sampai nge-drop gitu ?" tanya Rama lagi penasaran. "Sakit perut, tapi enggak terlalu dirasain, udah kelamaan," jelas Belia. "Nanti-nanti lagi jangan kaya gitu lagi, ya. Aku sangat kuatir sama kamu, Bel !" ucap Rama tegas. "Abang koq mirip Abah ngomongnya, hi ... hi ... hi," sahut Belia sambil terkikik geli. "Itu tandanya aku sayang kamu, Bel," tiba-tiba Rama keceplosan hingga Belia dan dia sendiri terdiam beberapa saat. "Maksudnya kata-kata Abang itu apa ?" tanya Belia bingung. "Maksud aku itu, kalo kamu yakin ke aku. Aku tuh sayang sama kamu, Bel," terang Rama semakin membingungkan Belia. "Belum ngerti aku, Bang ?" sahut Belia. "Aku ada rasa sama kamu, Bel. Rasa sayang, rasa rindu, kuatir sama kamu. Aku ... fall in love sama kamu, Bel," penjelasan Rama semakin membuat Belia terdiam untuk beberapa saat. "Sejak kapan ?" tanya Belia pada akhirnya. "Sejak kita bertemu untuk pertama kalinya dulu itu," jelas Rama. "Koq bisa, Bang ?" tanya Belia semakin penasaran. "Ya bisa dong, Bel," ucap Rama. "Kenapa bisa begitu, alasannya karena apa ?" tanya Belia lagi. "Aku juga enggak tau. yang pasti, aku nyaman sama kamu, Bel," Rama semakin memperjelas perasaannya pada Belia dengan tatapan yang semakin tajam membuat rona merah di wajah gadis itu semakin terlihat jelas. "Bagaimana, Bel ?" tanya Rama. "Bagaimana apanya, Bang ?" gadis cantik itu malah balik bertanya membuat Rama tersenyum simpul. "Perasaan kamu ke aku, bagaimana ?" desak Rama ingin mendengar langsung kepastian dari gadis pujaannya itu. "Euh, gimana ya ?" sahutnya bingung. "Kamu bingung mau jawab iya, kan. Sama-sama rindu ke aku, kan ?" tanya Rama menjebak. "Iya, Bang," jawab Belia keceplosan. Dan setelah menyadarinya, dia langsung menutup mulutnya sendiri karena sangat malu pada Rama yang tengah tersenyum dengan sangat manisnya karena secara tidak langsung dia telah mengetahui perasaan gadis pujaannya itu. To Be Continues
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN