Awal Pertemuan dengan Cinta Pertamaku
PoV Belia
Aku baru saja menyelesaikan perkuliahan sore. Masih kuingat hari itu hari Senin, karena saat itu aku mengenakan jas almamater kampusku.
Jas warna abu-abu yang baru beberapa Minggu ini secara resmi aku kenakan. Kakak kelasku bilang, aku maba alias mahasiswa baru. Ya mahasiswa baru karena aku memang baru jadi mahasiswinya.
Namaku Belia Putri, usiaku baru menginjak 19 tahun. Tinggi badanku sekitar 165 cm dan berat badanku sekitar 60 kg. Kulitku kuning langsat Mata belo, hidung lumayan bangir. Bibir pink tipis yang tak pernah memakai lipstik, ditambah rambutku yang hitam lurus, menjadi nilai plus, begitu kata-kata pujian dari keluarga dan teman-teman yang ku.
Aku merupakan seorang anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuanku bekerja sebagai bidan di sebuah rumah sakit pemerintah, dan sudah menikah, serta telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang berusia 2 tahun. Sedangkan kedua orang tuaku adalah petani sayuran. Di mana segala kebutuhan kami hanya mengandalkan dari hasil panen kebun sayuran kami, yang akan dijual ke pasar juga warung-warung terdekat di sekitar rumah kami.
Mereka membesarkan aku dengan penuh kasih sayang yang tiada duanya menurutku. Sejak aku kecil, segala keinginanku selalu mereka turuti. Namun hal itu tidak membuat aku menjadi sosok yang manja dan pemalas. Pemberian dari mereka selalu dibarengi dengan segala nasihat yang mudah aku pahami. Hingga aku tamat SMA, aku berniat untuk melanjutkan pendidikanku di universitas di daerahku sendiri karena tidak ingin berjauhan dengan keluargaku.Kabupaten Purwakarta yang merupakan kota kelahiranku.
Aku mahasiswi semester 1 di universitas negeri yang ada di daerah Jawa Barat. Kata orang-orang, aku cantik dan imut. Padahal menurutku, wajah dan penampilanku sih biasa saja, malahan kakakku yang jadi primadona di kampungku.
Sebetulnya banyak pria yang dengan terang-terangan mengajak aku untuk berpacaran. Tapi aku menolaknya dengan alasan aku ingin kuliah dulu. Kata ema dan abah, jangan dulu ada acara pacar-pacaran. Nanti bisa-bisa mengganggu kuliahku. Bagiku sih itu tidak masalah, karena aku sendiri memang belum berminat untuk pacaran.
"Bel, kamu yang rajin ya kuliahnya supaya aku bisa segera datang ke rumah orang tuamu untuk melamarmu nanti," begitu kata-kata para pria yang selalu menggodaku ketika mereka menyatakan cinta padaku.
"Insyaallah Kang jika berjodoh," jawabku agar mereka tidak merasa tersinggung.
"Aamiin," sahut mereka serempak, membuat aku jadi ingin tertawa mendengarnya.
Begitulah aku menjawab setiap kalimat pertanyaan dari mereka. Aku tidak ingin mereka menjudge aku sebagai perempuan yang sombong dan sok cantik. Dan akupun tidak ingin menyakiti hati orang lain karena penolakanku itu.
"Hai, sendirian aja nih?" sapa seorang pria kepadaku saat aku sedang berjalan di area parkir kampus. Aku berniat pulang seusai mata kuliah terakhir pukul 16.00.
"Eh, iya Kang," jawabku sambil memperhatikan pria yang mengajak bicara itu. Sepertinya pria itu merupakan mahasiswa di kampus ini juga, karena kulihat dari penampilannya menandakan seperti dugaanku itu.
"Sendirian aja nih?" tanyanya lagi sambil serta-merta mendekatiku.
"Iya, mau pulang soalnya," jawabku lagi sambil berjalan melambat, karena aku pun menghargai pria tersebut.
"Emangnya ke mana pulangnya,. Boleh aku anter kamu pulang?" tanya dia menawarkan diri.
"Apa tidak merepotkan si Akangnya gitu?" jawabku.
"Enggaklah makanya aku nawarin juga, gimana boleh enggak aku anterin pulangnya?" dia bertanya lagi untuk memastikan.
"Ya sudah kalau Akang enggak masalah mah aku mau deh dianterin pulang," jawabku setengah malu tapi mau. Ha ha ha ... tawaku di dalam hati.
Bagaimana aku tidak malu, aku mau-mau saja diantar pulang oleh pria yang baru saja ketemu dan belum aku kenal. Tapi kan lumayan dapat tumpangan gratis dari pria setampan dan segagah dia. Ibarat pepatah orang, kesempatan emas tidak akan datang dua kali. Sikaaaaaat ... Beliaaaaa!!!
"Kalau begitu, ayo kita ke parkiran motor, aku mau ambil sepeda motorku di sana", ajaknya kepadaku.
"Ayo," sahutku mengiyakan sambil terus berjalan mengikuti pria yang baru kutemui itu, tanpa rasa ragu atau sungkan sekalipun.
Setelah kami sampai di parkiran sepeda motor, dia mulai menyalakan sepeda motor RX King hitamnya.
"Ayo naik!" ajaknya sambil memakai helm hitamnya.
"Iya," jawabku.
Kami mulai meninggalkan area kampus. Dia mengendarai sepeda motornya dengan santai. Sambil tak lupa ada perbincangan di antara kami sepanjang jalan.
"Eh, lupa aku nih. Ngomong-ngomong koq kita belum sempat berkenalan yah ha ha ha," kata dia sambil ketawa kencang mungkin saking doa merasa lucu dengan tingkah kami ini. Akupun jadi ikut-ikutan Tertawa.
"Oh iya ya. Aku juga malah sama, kelupaan. Namaku Belia Putri, biasa dipanggil Belia. Salam kenal ya," kataku mengawali perkenalan kami.
"Aku Rama, Ramadhan Perkasa lengkapnya. Kamu kuliah semester berapa, Bel?" tanya Rama sok akrab kepadaku.
"Baru masuk, Kang. Masih semester satu," jawabku.
"Jurusan apa?" tanya dia lagi.
"Seni Tari, kalau Kang Rama sudah semester berapa dan jurusan apa?" aku balik bertanya.
"Aku semester akhir. aku ambil administrasi. Eh ... ngomong-ngomong aku anterin kamu ke mana nih? Takutnya nanti kelewat rumahmu," mendadak dia mengingatkan aku.
"Oh iya ya. Nanti turunkan aku di gang samping Apotik Sudirman yang depan Toserba Yogya itu. Tahu kan? Kalau Kang Rama di mana tinggalnya?" Sambungku.
"Aku mah kost belakang kampus. Kalo aku sih aslinya dari Jakarta sebetulnya," ujar dia.
"Lho jadi aku ngerepotin dong kalau begitu," kataku malu.
"Enggak juga. Sekalian aku mau ambil uang ke ATM di BRI cabang Pasar Rebo. Jadi kamu enggak ngerepotin aku sih," kata dia.
"Oh ya, Bel. Aku kan orang Jakarta alias Betawi nih. Kamu panggil aku dengan sebutan Abang ya. Biar cucok gitu lho," pinta Rama.
"OK deh Abang Rama, siap!" kataku menyanggupi permintaannya.
"Sudah di sini saja aku turunnya. By the way udah sampai nih!" pintaku ketika gang rumahku sudah terlihat di depan mata.
"Apa enggak sampai depan rumahmu saja supaya kamu enggak cape, Bel?" tawarnya serius.
"Enggak usah Bang. Makasih ini juga sudah mau anterin aku," jawabku sambil menangkupka kedua belah telapak tanganku di depan d**a.
"Iya sama-sama. Oke kalau gitu aku pamit dulu ya, Bel. Sampai jumpa besok. Assalamu'alaykum," kata Bang Rama sambil menjalankan sepeda motornya lagi.
"Iya Bang Rama hati-hati juga di jalan," pesanku kepadanya.
Sejak saat itu kami jadi sering bertemu di kampus. Walaupun hanya untuk sekedar saling senyum dan saling menyapa. Namum ternyata hal-hal kecil itu lambat-laun menumbuhkan benih-benih cinta di antara kami berdua. Walaupun kami belum berani untuk mempublikasikan ke teman-teman sekampus. Karena kami merasa itu belum begitu penting. Dan yang utamanya karena aku masih merasa malu kalau nanti ketahuan aku sudah punya pacar. He he he.
To be Continued.