PoV Belia
Sudah enam bulan lebih aku menjadi penghuni kampus ini. Perasaan baru kemarin aku lulus SMA dan daftar masuk kuliah. Tidak terasa, padahal tugas-tugas banyak dan pulang dari kampus hampir tiap hari selalu sore. Mungkin karena saking semangatnya aku menuntut ilmu, sehingga segala kesibukan dapat aku lalui dengan senang hati, Alhamdulillah.
"Bel, kita mau istirahat jajan di mana nih?" tanya Nani, teman sebangku aku
"Iya nih Bel. Aku udah laper berat, tadi di rumah enggak sempat sarapan," ujar Dinda menimpali.
"Terserah kalian aja deh. Aku mah ngikut aja," jawabku kepada kedua orang sahabat baruku itu.
"Okelah kalo begitu, kita ke kantin aja. Sambil cuci mata kita he he he," kata Nani sambil cengengesan.
"Dih, kamu mah ada-ada aja niat terselubungnya," cebikku.
"Yeeeh ... dasar anak TK kamu mah, Bel. Belum ngerti sama yang namanya cowok ganteng sih ha ha ha," gurau Dinda sambil tertawa ngakak.
"Heu ... euh, sini Mpok kasih tau ya Dede lucu. Kalo kita makan di kantin tuh, bikin makan kita berselera. Kenapa coba, Mpok Nani?" tanya Dinda kepada Nani yang asli Betawi itu.
"Karena eh karena di sono tuh ada vitamin hidup alias banyak cowok guatengnya yang bikin selera makan kita meningkat, ya kaaannn Din?" jawab Nani sekenanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ah ... kalian tuh ya sebelas dua belas emang," kataku.
"Kalo sebelas dua belas jadi dua puluh tiga dongse ha ha ha iya nggak, Mpok Nani?" candaan Dinda makin ke mana-mana.
"Ish ... udah-udah ah jangan diperpanjang lagi, malu orang-orang pada ngeliatin kita!" kataku lagi mengingatkan mereka berdua.
"Eh ... iya-iya, ayo buruan kita ke kantin, takut Belia pingsan gara-gara Sulastri telat makan," ajak Nani.
"Bukan Sulastri atuh Mpok, tapi salatri kata orang Sunda mah. Si Mpok salah wae kalo ngomong teh," sambungku lagi.
"Berangkat !" ucap kami bertiga dengan kompak.
Setibanya di kantin kampus, kami langsung mencari tempat duduk yang masih kosong. Akhirnya kami menemukan meja dan kursinya di bagian pojok yang belum berpenghuni. Segera kami menuju ke sana.
"Akhirnya kita kebagian duduk juga," sahut kami serempak, hingga mengundang semua mahasiswa dan mahasiswi lain untuk melirik ke arah kami.
"Waduh ... berasa jadi selebritis nih gue diliatin banyak fans," ujar Dinda kocak.
"Selebritis matamu suwe, yang ada sele pisang iya ha ha ha," Nani menimpali.
"Hih ... nih orang sirik mulu bawaannya, dah mending pesenin mie ayam tiga mangkok sama es teh manisnya juga tiga. Kan sekarang giliran Mpok Nani yang persen, iya toh ?" perintah Dinda ke Nani.
"Iyo siap Kanjeng ratu, segera hamba laksanakan," sahut Nani semakin ngakak lihatnya karena dia mengucapkan sambil memperagakan gaya menghormat bawahan kepada atasannya.
"Ha ha ha ... kalian makin menjadi ya kalo udah kelaparan gitu," candaku.
"Ok tunggu kalian di sini, aku mau pesan sekarang !" ucap Nani lagi.
Dan akhirnya kita bisa menikmati makan siang dengan mie ayam favorit kampus yang murah meriah itu.
"Tunggu ya, biar aku yang bayarin kalian. Mumpung baru dapat transferan nih dari bapake !" kata Dinda.
"Wow amazing, mimpi apa aku semalam? Ditraktir Kanjeng ratu nih," sahut Nani senang.
"Sering-sering ya, Mbak," aku menimpali.
"Siap, asal you-you pada nanti mau jadi kakak iparku ya, ha ha ha !" jawab Dinda.
"Siapa takut ?" ucap aku dan Nani kompak.
"Tapi gue yang takut, guys ... ha ha ha," kata Dinda lagi
"Huuuuhhhh!" aku dan Nani menyoraki.
Kemudian Dinda ke kasir hendak membayar bekas jajan kami. Namun tak berapa lama Dinda segera kembali lagi ke tempat duduk kami.
"Total abis berapa bayarnya, Mbak?" tanya Nani.
"Enggak jadi bayar gue," jawab Dinda bingung.
"Lho koq iso, yang serius Mbak?" tanyaku juga penasaran.
"Serius ini juga. Kata Mang Dul, jajanan kita udah dibayarin sama cowok yang duduk di sebelah sana," kata Dinda sambil menunjuk ke arah kumpulan para pria yang sama-sama sedang makan di kantin ini juga.
"Cowok yang mana, banyak tuh?" tanyaku bingung.
"Itu yang pake kemeja biru Dongker," Jawab Dinda lagi spesifik.
"Wow ... yang itu ya. Alamak ... guantengnya tuh cowok. bolehlah untuk jadi pendamping nih," kata Nani semangat.
"Oh ... dia ternyata," sahutku tanpa sadar.
Nani dan Dinda otomatis langsung menatap wajahku penasaran.
"Siapa tuhhhh, koq ke kita enggak ada pengumumannya, iya enggak Mbak?" tanya Nani kepadaku.
"Ho'oh. Pake rahasiaan-rahasiaan ya," timpal Dinda mengkode dengan mengedip-ngedipkan matanya lucu.
"Yeehhh ... aku juga baru kenal. Mungkin dia mau shodaqoh ke kita, hi hi hi," dugaanku.
"By the way, tapi cocok deh sama kamu, Bel," ucap Nani.
"Setuju," sahut Dinda mendukung.
"Ah ... kalian mah bikin heboh aja, malu tau. Nanti disangkanya aku yang kege'eran sama dianya. Sudah yu kita ke kelas lagi !" ajakku.
"Tapi kita belum ngucapin makasih lho ke dia orang, Bel," kata Dinda.
"Ya udah bilangnya sambil lewat mau ke kelas aja," kataku.
"Ok !" sahut mereka berdua.
Dan ketika kami bertiga melewati meja para mahasiswa tersebut, kami pun serempak mengucapkan terima kasih kepada salah satu mahasiswa yang berbaju biru dongker tadi.
"Akang yang berbaju biru dongker, thank you ya atas traktirannya, sering-sering juga ya !" ucap kami.
"Are you welcome, enggak masalah, kapan ?" mahasiswa itu malah balik bertanya geli.
"Eh ... enggak usah remedial traktirnya," sahut Nani sambil cengengesan.
"Mari Akang-akang, kami duluan," pamit kami.
"Bel, nanti pulangnya bareng lagi ya !" ajak mahasiswa berbaju biru dongker itu yang ternyata Bang Rama.
"Insyaallah, Bang," jawabku malu-malu.
"cieeeee !" seru mereka jadinya. Aku pun tambah malu dibuatnya. Hadeuuhhh.
"Sejak kapan nih, koq diem-diem Bae?" tanya duo Sahabatku kepo, ketika kami sudah berada di dalam kelas lagi.
"Ada deh," jawabku kalem.
"Nyuri start ternyata dia, ha ha ha," kata Nani
"Tinggal kita berdua Ding yang masih jomblo, yah nasib," kata mereka berdua kompak. Ada-ada saja kelakuan mereka.
To Be Continues