Pulang Bareng Lagi

702 Kata
PoV Belia Duo sahabatku sudah pamit pulang duluan setelah mata kuliah terakhir selesai, dengan alasan akan ke salon untuk potong rambut dulu katanya. "Eh ... Belia, tuh ada yang nyari kamu di depan kelas," kata Dinda. "Pantesan kamu balik lagi, Mbak," sahutku. "Emangnya siapa yang nyariin aku, perasaan aku enggak ada janjian sama orang," tanyaku penasaran. "Ya ... elah. Baru tadi siang sudah ketemu di kantin, sekarang sudah lupa lagi dia ... ck ... ck ... ck, kamu mah Bel, sudah mulai pikun kaya Mbah gue aja , ha ... ha ... ha !" jawab Dinda ngakak tambah ngeledekin. "Ya udah, aku jadi duluan ya, itu kasihan Mpok Nani, takut kelamaan nungguinnya," ucap Dinda lagi sambil keluar kelas, menyusul Nani yang menunggu agak jauh dari kelas kami. "Hai, Bang Rama. Sudah lama nunggunya?" tanyaku basa-basi ketika sudah di luar kelas dan melihat Bang Rama sedang duduk di bangku di bawah pohon. "Enggak sih, baru aja aku nyampe. Kamu udah bisa pulang sekarang kan, Bel ?" jawabnya sambil bertanya memastikan. " Iya udah bisa pulang koq. Tapi ngomong-ngomong ada apa ya Abang nyariin aku ke sini ?" tanyaku lagi. "Aku mau ngajak kamu pulang bareng lagi, kan tadi siang aku udah bilang sama kamu waktu di kantin," jawab Bang Rama lagi. "Eh ... kirain tadi Abang cuma bercanda aja ngomongnya ke aku, enggak taunya beneran toh, he he he," kataku terkekeh malu. "Beneran dong, kebetulan aku rencananya mau beli bensin nih, dari pada besok pagi aku ngantri di pom bensin, bisa-bisa nanti aku terlambat masuk kelas," Bang Rama menjelaskan alasannya. "Ya udah ayo, Bang. Takutnya kesorean aku pulangnya !" ajakku "Ayo !" sahutnya semangat. "Eh ... by the way, Bang Rama tau dari mana ruang kelas aku sih, koq bisa pas gitu yt ?" tanyaku heran. "Oh yang itu, tadi kan pas aku lagi di parkiran ketemu sama dua teman kamu yang waktu di kantin makan bareng itu. Ya ... jadi sekalian aja aku nanyain, ehh ... malah aku dianterin sampai ruang kelas kamu itu. Jadi enak ke akunya he ... he ... he," ujarnya sambil terkekeh kecil. Sesampainya di parkiran sepeda motor, aku dan Bang Rama segera menuju sepeda motornya yang terparkir di sana. Lalu sepeda motor yang kami tumpangi melesat meninggalkan area kampus menuju ke arah yang sama saat enam bulan yang lalu. "Perasaan koq kaya baru kemarin ya kita boncengan begini," kataku di sela-sela perjalanan kami. "Iya betul, sama persis ya. waktunya juga sama seperti enam bulan yang lalu," sahutnya juga. "Jangan-jangan kita berjodoh ya, he ... he ... he ... ," dia tergelak sendiri. "Bisa aja deh si Abang ini, ngehalu wae hobinya, ha ... ha ... ha ... ," aku pun terbawa geli mendengar candaan Bang Rama itu. "Ya siapa tau, kan jodoh mah di tangan Tuhan, Bel," kilahnya. "Iya juga sih," sahutku sekenanya. "Kalo gitu, ada kesempatan dong buat aku deketin kamu, Bel?" tanya Bang Rama keterusan yang seketika membuat aku menjadi bingung. "Idih... si Abang malah tambah ngawur ngomongnya, fokuslah bawa motornya. jangan bercanda terus. Bahaya ih !" tegurku mengingatkan dia karena kita masih di jalan raya. "Ok deh nanti kita bikin janji lagi buat ketemuan, untuk ngobrol lebih lanjut," katanya. "Udah nyampe nih Bang, aku turun di sini aja !" pintaku ketika gang rumahku sudah terlihat. "Aku anterin sampai depan rumahmu, sekalian mampir, ya.? Itu juga kalo boleh," tawarnya. "Enggak usah, Bang Rama. orang tuaku lagi ga ada di rumah," tolakku. "Emangnya kenapa kalo di rumah enggak ada orang tua kamu, kan kita ga ngapa-ngapain juga , Bel ?" tanyanya heran. "Takut jadi fitnah Ujung-ujungnya, paham kan, Bang?" jelasku sambil turun dari sepeda motornya. "Mohon maaf, lain'kali aja ya, Bang," ucapku lagi meminta pengertian dia. "Siap, aku ngerti koq. Kamu enggak usah kuatir aku akan tersinggung. No problem. Ya udah, aku lanjut jalan ya. Assalamu'alaykum," pamitnya. "wa'alaykum salam. Iya hati-hati di jalan !" teriakku karena Bang Rama sudah mulai kembali mengendarai sepeda motornya itu. Dia tersenyum sambil mengacungkan Ibu jarinya ke arahku. Dan aku pun melanjutkan langkahku menuju ke rumah yang jaraknya cuma beberapa meter saja dari mulut gang. "Ah ... Bang Rama, bisa-bisanya ngomong yang aneh-aneh kaya gitu. Hadeuuhh," gumanku dalam hati mengingat obrolanku dengan Bang Rama tadi selama di perjalanan. To Be Continues
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN