PoV Belia
"Duh ... romantisnya, pantesan kemarin kita ajak, kamu enggak mau ikut nyalon. Enggak taunya ada yang nganterin pulang nih," ucap duo sobatku, siapa lagi kalau bukan Nani dan Dinda. ucapnya buat aku kaget, karena saat itu saking seriusnya aku membaca modul di perpustakaan kampus.
"Ihh ... kalian tuh ya kebiasaan banget kalo ngagetin orang, enggak kira-kira. Bikin jantung aku mau copot aja sih !" sahutku kesal.
"Waduh sorry-sorry strawbery say. Kita enggak niat bikin kamu kaget lho. Suer deh," balas Nani sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah ke arahku.
"Iya, Bel. Beneran sumpah deh," timpal Dinda mendukung Nani agar aku enggak jadi marah kepada mereka berdua.
"Iya deh, aku maafin. Tapi jangan seperti itu lagi ah. Enggak resep aku mah !" kataku.
"Ok my friend, kita janji deh," sahut mereka berdua.
Akhirnya kami pun serius membaca buku pilihan masing-masing, dengan tertib. Tidak mau lagi kena teguran ibu petugas perpustakaan karena ulah berisik kami bertiga tadi.
Hari-hari berlalu tanpa terasa karena memang kesibukanku dengan mata kuliah yang aku ikuti. Dan sudah beberapa hari ini juga aku tidak melihat Bang Rama. Pun di kantin kampus, tempat biasa kami bertemu, dia tidak nampak batang hidungnya. Entah ke mana orang itu.
"Eh ... ngomong-ngomong babang tampannya ke mana ya, Bel ?" tanya Nani padaku ketika kami bertiga sedang istirahat di kantin.
"Ho'oh Bel, perasaan udah beberapa hari ini aku enggak lihat tuh yang namanya Abang Rama," Dinda ikut menimpali.
"Huss ... ngapain nanyain ke aku sih, emang aku siapanya dia ?" aku balik tanya.
"Lah kan Lo calonnya, Bel," sahut Dinda dan Nani serempak.
"Sembarangan aja kesimpulan kalian mah. Disangka orang mah aku kege'eran ding," kataku geli.
"Enggak gitu juga keles. Pan aku sudah amati selama ini perhatian dia ke kamu," ucap Nani.
"Bener tuh apa yang dibilang Mpok Nani. Masa kamu enggak ada curiga sama sekali sih ? deuh parah nih anak TK," tambah Dinda.
"Kalian tuh ya bikin kesimpulan yang bisa bikin heboh orang se-Indonesia aja, ... ha ... ha ... ha ... ," canda aku sekalian.
Memangnya aku siapanya dia. Terserah dia mau ada atau tidak ada di kampus, itu tidak ada hubungannya dengan aku.