PoV Rama
Menjelang sore kereta api yang membawaku ke stasiun Purwakarta ini sudah sampai. Tadi siang sebelum berangkat, aku meminta restu kepada kedua orang tuaku untuk menemui seorang gadis yang sudah berhasil mencuri hatiku. Aku harus segera mengobati rinduku ini padanya. Hanya dia yang punya penawarnya. Aku jadi tersenyum sendiri.
"Tapi ingat, Rama. Status kamu belum bisa dikatakan tepat untuk mendekati gadis itu. Masalah kamu belum beres. Terlalu beresiko untuk saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai orang tua, kami hanya bisa mendoakan dan merestuimu. Semoga apa yang kamu perjuangkan segera terwujud," begitu pesan ayah.
"Betul, Rama. apa yang dikatakan oleh ayahmu itu benar adanya. Carilah waktu yang tepat untuk menjelaskan tentang kondisimu kepada gadis itu. Semoga berhasil, Nak," ibuku pun menimpali perkataan ayah.
"Baiklah ayah dan ibu. Aku berangkat dulu. Doakan terus ya. Semoga aku bisa berhasil membawa calon menantu untuk kalian," sahutku semangat.
Dan di sinilah kini aku berdiri di depan kampus yang kurindukan, eh ... maksudnya gadis yang kurindukan.
Tadi sesampainya di stasiun, segera aku pesan gojek motor untuk mempercepat perjalananku ke kampus.
Semoga dia belum pulang.
Aku sengaja tidak langsung ke tempat kost-an, karena berniat menunggu gadis pujaanku di parkiran. Ah ... lama bener dia, biasanya jam segini dia sudah bubar kelas. Sambil mataku melirik ke arah jam tanganku yang menunjukkan pukul 15.30 itu.
Sekilas mataku seperti melihat bayangan dua orang yang sangat aku kenali. Ya itu memang duo sahabatnya. Aku senang bukan kepalang. Tapi, di mana Belia gadisku, koq dia tidak nampak bersama mereka ya?
Dan akhirnya aku bangkit dari dudukku, lalu segera menghampiri mereka.
"Maaf Dinda dan Nani, kalian sudah selesai kuliahnya ?" tanyaku tanpa basa-basi.
"Eh ... Abang ganteng baru ketemu lagi kita, ke mana aja nih ?" tanya Dinda.
"Iya ya, ngilang gitu aja, enggak ada kabar. Sampai kangen aku, he ... he ... he," timpal Nani sambil cengengesan.
"Aku beneran lagi sibuk banget nih. Ini juga baru bisa ke sini lagi," jawabku.
"Pasti lagi nungguin Belia, kan ?" tanya Nani tepat sasaran.
"Shuttts, kamu sok tau deh, Mpok," sahut Dinda.
"Tapi bener koq apa yang dikatakan Nani. Aku memang lagi nungguin Belia. Mana dia, koq enggak kelihatan bareng kalian sih ?" tanya.
"Doi emang enggak masuk hari ini. Lagi enggak enak badan, sudah beberapa hari ini," jelas Dinda membuat aku jadi mengkhawatirkannya.
"Sakit apa dia ?" tanyaku lagi.
"Malarindu kayanya, ha ... ha ... ha ... ," jawab Nani sekenanya.
"Serius dong , Nan," sahutku.
"Dia rius aku malahan," katanya bikin aku gemes aja nih.
"Itu dia kehujanan terus hampir tiap hari Kalo pulang ngampus, jadinya ya ngedrop dia," kelas Dinda.
"Kalian tau rumahnya kan, tolong anterin aku ke rumahnya, please," pintaku memelas agar mereka mau membantuku.
"Ok, Bang. Kebetulan kami juga mau ke rumahnya untuk nganterin nilai semester punya doi," kata Nani sambil memperlihatkan selembar kertas berisi transkrip nilai milik Belia itu.
"Ayo kita berangkat sekarang, Bang. Takut kesorean. Abang bawa motor ga ?" tanya Dinda.
"Enggak. sepeda motorku ada di kost-kostan, " kataku.
"Ya udah, Abang pake motorku aja ya, biar aku dibonceng Nani, "kata Dinda menawarkan.
"Ok makasih banget nih udah mau bantuin aku," sahutku gembira.
"It's Ok. Demi sahabat aku yang cantik, apa pun aku lakukan, he ... he ... he ... ," kata Dinda dan Nani serempak, membuat aku jadi ikut tersenyum.
Kami pun segera meninggalkan area parkiran kampus untuk menuju rumah pujaan hatiku. Semoga kamu menerima kehadiranku, Bel. Batinku berbisik mengharap.