7. Jinora

1650 Kata
Ketika Melani pulang, aku langsung menghubungi Vissa, tapi via telefon, bukan video call.             "Hay Kak! Kenapa?"             "No, kayanya kita harus berhenti deh." Aku langsung mengutarakan niatku.             "Halah, Kakak mah gitu. Dari dulu bilang berhenti tapi sampe sekarang masih lanjut aja."             "Dulu karena Kakak gak yakin. Tapi sekarang, ya Kakak yakin."             "Apa? Kenapa? Kakak nemu cewe lain di sana?"             "Engga, Jino. Kakak sayang sama kamu, makanya ini gak bisa dilanjut. Oke?"             "Kalo aku gak mau?"             "Ya harus mau." Paksaku.             "Kak Gara gitu ya! Suka mutusin sepihak. Dulu waktu aku gak mau, Kak Gara maksa sampai aku mau. Sekarang, malah maksa berhenti." Serunya dengan nada kesal.             "Kakak gak maksa kamu, No. Kita sama-sama mau waktu itu!"             "Kak Gara yang ajak!"             "Iya oke, salah Kakak! Tapi berhenti, ya?" Pintaku lagi.             "Aku udah sayang sama Kakak!"             "Sama, Kakak juga. Tapi kita harus berhenti, No. Papi kamu tahu, kamu sadar gak?"             "Hah? Pa--papi tau?" Ucapnya terbata.             "Papi minta Kakak jauhin kamu. Anggep kamu selayaknya adik. Kakak bilang iya, meskipun hati Kakak maunya beda, dan setelah dipikir ulang, kita emang harus berhenti. Hubungan kita gak ada ujungnya, No."             Tidak terdengar balasan di seberang sana. Hanya suara isakan tangis yang ditahan. Aku menrlan ludah. Ini salah satu alasan kenapa aku dari awal gak menolak Jinora, ini juga alasan kenapa aku gak bisa berhenti dari hubungan gila ini. Aku tak bisa melihatnya menangis, aku gak bisa mendengar suara tangisannya. Aku tak pernah tega menyakiti hatinya.             "No? Maaf ya!"             "Kak Gara jahat! Aku udah ngasih semua buat Kakak, tapi Kakak tega!"             Kali ini giliran aku yang diam. Ya, aku tahu aku salah. Dan aku jugalah yang harus menghentikan ini semua. Hubunganku dengan Vissa tak punya masa depan. Daripada menjalani hubungan seperti itu, ya lebih baik diakhiri saja.             "No, maaf! Kakak ngehargain semuanya kok. Masa-masa sama kamu itu bakal Kakak kenang terus. Maaf!"             "Janji, kakak gak inget janji kakak?"             Aku diam lagi. Aku baru 22 tahun. Tapi aku punya nasihat untuk siapapun di luar sana.             Jangan pernah membuat janji dalam 4 kondisi; 1. Saat sedang marah, 2. Saat sedang bahagia, 3. Saat akan melakukan hubungan s*x, 4. Saat sudah melakukan hubungan s*x.             Ya, itu semua moment rentan di mana manusia akan mengucapkan kata-kata termanis di dunia hanya untuk memuaskan egonya.             "Maaf, janji itu harus Kakak ingkarin. Kamu gak salah apa-apa, No. Nanti Kakak berdoa, biar Kakak yang nanggung semua dosa-dosanya. Maaf! Mulai hari ini, kamu adik Kakak, sama kaya yang lain dan selamanya akan seperti itu. Maaf!"             Aku buru-buru memutus sambungan telefon sebelum Vissa mengatakan hal-hal yang membuatku membatalkan niat baikku ini. Napasku tertahan sembari melihat profile picture Vissa yang memenuhi layar ponsel.             No more Vissa, Gara! No more Vissa! Seruku kepada diri sendiri. ***             Sore ini, ketika aku sedang mengerjakan tugas di sebuah cafe, ponselku berdering. Nama Rinjani muncul. Aku bengong memandang nama itu. Seumur hidup, Jani belum pernah menelefonku. Kami gak dekat yang sampai harus telefonan atau chat-chatan, kami dekat hanya sebatas becanda dan bermain di rumah Nini, di rumahku atau di rumahnya. Bisa juga saat aku dan adik-adikku yang lain main keluar bersama. Karena pada dasarnya, Jani itu tipe orang yang kalo ada perlu apa-apa langsung nyamperin.             "Om Swastiastu!" Suara Jani terdengar di kejauhan sana ketika aku mengangkat panggilannya.             "Swastiastu!" Sahutku.             "Kak Gara lagi sibuk gak?"             "Engga, Jan. Kenapa?" Ujarku berbohong. Aku menutup jurnal dan beberapa buku yang sedang k****a. Sedikit menyesap cokelat hangat yang kupesan agar tenggorokanku lancar.             "Oke deh, Kakak apa kabar?" Tanyanya.             "Baik, Jan. Kamu gimana? SU gimana?"             "Gitulah, Kak. Jadi MaBa, gak enak. Apalagi nama belakang aku sama nama universitasnya samaan. Ya jadi bahan omongan."             "Kakak ngalamin itu, gak usah didenger, Jan."             "Iya Kak, udah deh omongin itunya. Aku tuh nelefon ada tujuannya tau!" Jani membuka obrolan. Yak, aku sudah tahu pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakannya.             "Apaan dek?"             "Vissa kenapa ya Kak? Ya aku tau sih dia emang pendiem. Tapi, akhir-akhir ini tuh lebih pendiem. Makin-makin freak gitu loh!"             "Ah, perasaan kamu aja itu."             "Emang perasaan aku Kak! Feeling aku sama Vissa tuh kadang connect, Kak!"             "Ya Kakak gak tau lah, Jan. Kakak kan di Inggris."             "Kak Gara gak usah sok gak tau apa-apa deh, aku tuh tau loh Kakak sama Vissa saling suka. Aku diem dan pura-pura gak tau karena aku gak mau Vissa dimarahin. Tapi sekarang aku gak bisa diem aja kalau kembaranku jadi freak yang doyan menyendiri."             Aku kembali menelan ludah. Seberapa jauh kah orang-orang mengetahui hubunganku dengan Vissa?             "Dek, Kak Gara boleh jujur?"             "Ya boleh!"             "Tapi nanti ya? Ini Kak Gara lagi di kedai minuman. Kak Gara beresin barang-barang, pulang ke apartment, terus Kak Gara telefon kamu lagi, oke?"             "Yaudah iya, aku cancel jadwal gym aku malem ini. Tapi Kak Gara harus jujur!"             "Iya, Jan. Udah yaa, nanti Kakak telefon!"             "Bye, Kak!" Jani memutus sambungan telefon. Aku menyesap lagi minuman cokelatku, lalu memasukan buku dan jurnal ke tas jinjing yang kubawa.             Setelah semua barang-barang masuk ke tas dan ponsel kembali ke saku celana, aku keluar dari kedai minuman langgananku ini. Berjalan menuju apartmentku yang berjarak dua blok dari sini.             Sesampainya di unit apartmentku, aku meletakkan semua barang-barangku di sofa bed ruang tengah, aku berjalan menuju dapur, mengambil bir yang kusimpan di dalam lemari. Aku meminum cairan itu banyak-banyak, sengaja agar nanti lancar menceritakan semuanya ke Jani.             Satu botol habis hanya dalam waktu beberapa menit, aku membula botol kedua lalu berjalan ke kamarku. Kurogoh ponsel dari saku depan celana, lalu menghubungi Rinjani.             "Udah sampe apartment Kak?" Katanya tanpa basa-basi.             "Udah dek."             "Yaudah, mumpung aku di rumah Malik nih, cerita aja."             "Intinya sih semua kecurigaan orang-orang bener Jan, Kakak sama Jino ada hubungan, lebih dari Kakak-Adek. Kita sering abisin waktu berdua, seneng-seneng berdua. Dan itu sembunyi-sembunyi. Semua alasan Jino ke toko buku lalu minta ditinggal Mas Yusuf, itu keluarnya sama Kakak. Kita janjian di toko buku, lalu keluar. Nanti Kakak anter dia ke toko buku lagi, baru dia dijemput sama Mas Yusuf. Gitu terus."             "Dari kapan?" Jani menyela kalimatku.             "Dari Kakak mulai kuliah di SU aja."             "Jadi pas aku sama Vissa masih kelas 3 SMP??"             "Yaa gitu deh!"             "Terus sekarang kenapa Vissa kaya orang aneh?"             "Tiga hari lalu Kakak bilang ke Vissa kalau kita harus berhenti. Kita harus sadar kalau hubungan ini sia-sia."             "Jadi Vissa patah hati nih ceritanya?"             "Bisa dibilang gitu, tapi bukan cuma Vissa aja, Kakak juga Jan, ini bukan siapa yang nyakitin siapa. Kakak tahu perasaan Vissa ke Kakak, and this decision breaks my heart my heart too. Kakak gak mungkin gak sayang sama Vissa, jujur, Kakak sayang sama Vissa. Cuma...." aku sengaja tak meneruskan kalimatku.             "Cuma Kak Gara sekarang waras, dan itu malah bikin kembaran aku gila, yeah! I got it!"             "You name it!"             "Yaudah, Vissa urusan aku di Bali. Tapi Kak Gara harus janji satu hal sama aku!"             "Apa, Jan?" Tanyaku.             "Jangan ada apapun yang berhubungan dengan perasaan sama Vissa. I'm gonna try to make my twin sane, awas aja kalo Kak Gara ngerusak itu."             "Oke janji!"             "Aku pegang janjinya, kalo Kak Gara ingkar, liat aja nanti!"             Aku menelan ludah. Sebuah ancaman dari Jani, itu bukan main-main. Dia lebih parah dari pada Papi Rafi.             "Iya, Jan. Kak Gara janji."             "Oke! Makasih Kak udah mau cerita."             "Yeah Jan, makasih udah mau denger dan nerima ini semua."             "Aku cuma gak mau Vissa sedih, gak mau ngerasain sakit yang dirasain Vissa. Kak Gara gak cuma nyakitin Vissa, tapi aku juga Kak! Kalo Vissa milih terpuruk, aku milih cari solusi buat dia, buat kita berdua."             "Sorry, sist!"             "Yeah keep your regret for someone who care about it, Kak! Aku cuma peduli sama Vissa."             "Pokoknya maaf, Jan. Kakak sekarang cuma mau membenahi semuanya di tempat baru ini. Biar pas pulang ke Bali, Kakak jadi pribadi yang baru."             "Bagus kalo gitu. Udah ya Kak? Malik dateng nih, entar dia denger lagi."             "Oke Jan, makasih!"             "Ya sama-sama, semesta memberkati!" Telefon terputus sebelum aku membalas salamya.             Kuletakkan ponsel di kasurku yang luas, lalu duduk di kasur. Meraih botol bir yang tadi kuketakkan di atas nakas, aku mulai menenggaknya lagi.             Aku mengacak rambutku. Setidaknya biarkan saja rambutku yang berantakan, bukan hidupku. Aku bahkan tak tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku bingung.             Aku sedih melepas Vissa, tapi aku tahu ini yang terbaik untuk kami. Tapi, jika ini yang terbaik, kenapa harus sesakit ini? Aku bahkan tidak bisa menjelaskan rasa sakitku. Semua perasaanku tertutup oleh rasa bingung.             Gak banyak orang yang bisa kuceritakan, karena masalah ini adalah aib. Aku gak bisa cerita sama Mama, apalagi Papa. Nini? Nini pasti akan syok kalau tau kelengkapan ceritanya. Aku gak punya siapa-siapa kali ini. Bahkan sama Jani tadipun aku sengaja gak menceritakan semuanya. Aku takut.             Panggil aku pengecut atau apalah itu karena tak berani berterus terang akan kesalahan yang sudah kulakukan. Tapi aku benar-benar tak bisa jujur. Aku bukan takut diriku akan terkena masalah jika aku jujur, aku takut melihat raut kecewa di wajah seluruh keluargaku. Aku takut mengecewakan mereka.             Aku menenggak habis minumanku ketika ponselku berdenting. Kuraih benda segiempat kecil itu, lalu membukanya, sebuah pesan masuk. Melani: Gar! Sini lo ke unit gue Ekspress yaaa!             Kuletakkan botol di meja, lalu memasukan kembali ponsel ke dalam saku. Dengan tingkat kewarasan yang mungkin hanya 60%, aku keluar dari unitku. Turun dua lantai ke tempat Melani dan Akmal.             Aku mengetuk pintu kayu bercat putih ini, kemudian terdengar seruan tunggu dari dalam. Tak berapa lama, pintu terbuka, Melani menyambutku dengan sebuah senyuman lebar.             "Gue masak nasi goreng buat lo! Gantiin beras sembahyang lo yang gue masak itu. Yuk masuk!" Serunya ramah.             Kenapa? Kenapa aku gak bisa jatuh cinta kepada orang lain, seperti kepada Melani misalnya. Kenapa harus Vissa? Orang yang sudah jelas ditakdirkan menjadi adikku.             "Woy Gar? Kok bengong? Masuk ayok!"             Aku mengangguk dan melangkahkan kaki masuk ke apartment Melani. Bisakah aku memaksakan hatiku untuk jatuh cinta kepada orang lain seperti Melani?             Okay, lets try! *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN