8. Mama

1495 Kata
Aku terbangun dengan sakit yang menyerang setiap inchi kepalaku. Telingaku bahkan berdengung.             Ketika aku membuka mata, aku sadar kalau aku tidur dalam posisi duduk, hanya mengenakan boxer kain tipis. Setelah ku teliti lebih jauh, ada Akmal duduk di sofa di hadapanku, dan tanganku terikat ke belakang kursi kayu yang kududuki.             "Bangun juga lo akhirnya!!" Seru Akmal dengan suara marah.             Aku mencoba memahami apa yang terjadi di sini. Kenapa aku terbangun seperti ini, kenapa Akmal marah, dan kenapa kepalaku sakit?             "Ke-kenapa Mal?" Tanyaku. Akmal bangkit, ia mendekat lalu dengan gerakan yang sangat cepat aku ambruk ke lantai, Akmal baru saja menghajarku.             Kurasakan darah keluar dari pipi bagian dalamku yang sobek, lalu kepalaku makin terasa sakitnya.             "Lo gak inget? b******k! Adik gue!"             Aku mencoba mengingat apa yang terjadi padaku sebelum aku tertidur. Aku mendatangi unit Akmal dan Melani, makan nasi goreng sama Melani. Lalu, aku izin meminta minuman Akmal karena aku sudah gak kuat mikirin Vissa dan lain sebagainya.             Sudah, aku hanya mengingat itu. Aku gak tahu apa alasan aku berakhir seperti ini.             "b*****t lo!" Makian Akmal bersamaan dengan tendangan ke perutku, dan aku langsung memuntahkan cairan berwarna merah dari mulutku.             "Ke-napaaah!" Suaraku hanya berupa desisan, bersamaan dengan keluarnya ludah dan darah.             Tidak ada jawaban dari Akmal, ia hanya terus menendangku. Aku berusaha menahan sakit yang sekarang menjalar ke seluruh tubuh.             Kucoba membebaskan tanganku yang terikat, tapi aku seperti tidak ada tenaga sedikitpun.             Lalu Akmal membetulkan posisi kursi tempat aku terikat. Aku melihat matanya yang memerah, mungkin karena marah, atau entah apa.             Aku tak mengerti kenapa aku mendapat perlakuan seperti ini. Apa salahku?             "Lo pergi dari sini! Sejauh-jauhnya! Sebelum gue bunuh lo!" Desis Akmal sambil membuka tali kekang di tanganku.             Aku ambruk di lantai ketika mencoba berdiri. Kukuatkan diri untuk tegak, begitu aku sudah berdiri di depan Akmal, aku langsung memukul wajahnya.             Akmal terjatuh, dan detik berikutnya ia menyerangku kembali!             Aku terjatuh tapi kali ini aku bisa melindungi orang-oran vitalku dengan tangan sementara ia terus memukulku.             "Apa? Gue ngapain sampe lo pukulin gue?!" Seruku dengan suara yang samgat tidak enak didengar.             "Lo perkosa adik gue! Anjing!" Ada kemarahan di suaranya, namun aku tak percaya begitu saja.             "Gak mungkin! Gue gak inget sama sekali!"             "Lo mabuk b******k! Kalo lo gak biasa minum jangan minum! Orang gila lo dasar!" Serunya.             "Gue gak mungkin perkosa Melani! Gak mungkin!"             "Gue masuk ke apartment nemu adek gue pingsan telanjang berantakan di samping lo yang mabuk! Lo bersyukur gue gak nyuruh temen-temen gue ikut mukulin lo sekarang!"             "Gue gak percaya!" Kataku.             Akmal makin semangat memukulku, tapi sudah tidak sekencang tadi. Mungkin tenaganya sudah melemah.             Akmal melepasku, ia terduduk di lantai. Aku berusaha bangkit dan duduk di seberangnya.             "Gue gak inget apa-apa, gue gak percaya sama omongan lo!" Kataku.             "Lo kira gue ngarang? Lo kira gue mukulin lo tanpa sebab? Hah? Gila lo!"             "Mana Melani? Gue mau liat, gue mau dia sendiri yang bilang kalau gue emang ngapa-ngapain dia!"             "Gak! Gue gak bakal izinin lo ketemu Lani lagi!"             "Mana Melan?!!" Seruku kesal.             Akmal menggeleng.             "Kalo gitu, lo bohong! Gue gak ngapa-ngapain Melani dan gue bakal lapor lo ke polisi karena sudah mukulin gue tanpa sebab!"             Aku mencoba berdiri, kulihat ponselku ada di meja, aku menyambarnya lalu keluar dari unit Akmal, menuju tangga lalu kembali ke unitku sendiri.             Aku langsung merebahkan diri di sofa begitu sampai. Ku keluarkan ponsel dan menghubungi dokter pribadi yang sudah disewa Papi Rafi untukku selama berada di sini.             Satu jam kemudian, seorang dokter datang, beliau memeriksaku dan mengatakan kalau aku mengalami cidera di bagian tubuh, tapi untuk lebih jelasnya, beliau memutuskan memanggil ambulance dan akan membawaku ke rumah sakit. Aku menurut karena sudah tidak punya tenaga lagi untuk bicara.             Diafragmaku cidera, begitu juga lambung dan entah apalagi, aku tak terlalu memerhatikan ketika dokter Arthur membacakan hasil pemeriksaanku. Yang jelas, aku perlu menginap di rumah sakit ini selama minimal dua malam. Aku mengangguk.             "Apa aku perlu menelefon Pak Rafi, atau kau akan melakukannya sendiri?" Tanya dokter Arthur.             "Aku akan menelefonnya sendiri. Dan, soal pembayaran kau bisa mengambil kartu dari dompetku." Aki menunjuk dompet dan ponselku yang tergeletak di atas kabinet di sampingku.             "Oke, Gara. Sementara kau akan di rawat oleh dokter Hudson, saat ini aku bertindak sebagai walimu."             Aku mengangguk.             "Istirahatlah!"             Begitu dokter Arthur pergi, aku langsung memejamkan mataku. Aku lelah dan seluruh tubuhku sakit. Tadi aku suda minta painkiller, namun dokter Hudson berkata aku tidak memerlukannya. ***             "Kita bisa bersenang-senang, Mel. Lo jarang bersenang-senang, kan? Yang lo lakukan hanya belajar dan terus belajar. Ayo! Mumpung gak ada Akmal!"             "Gara! Lo mabuk! Bukan gila! Jadi jangan betingkah kaya orang gila!" Melani mendorongku.             Aku menenggak kembali cairan pahit dari botol yang kugenggam ini.             "Come on! A little cuddle wont hurt nobody, Mel!" Aku kembali mendekat kepadanya, lagi-lagi Melani mendorongku.             Kesal, aku membuang botol minuman ke lantai hingga terdengar suara pecahan kaca. Kucengkram lengan Melani ketika ia berteriak.             Melani ingin lari tapi aku membawanya kepelukanku agar ia tidak bisa kemana-mana, lalu aku menariknya ke kamar berpintu biru.             Mataku terbelalak, nafasku naik-turun tak teratur karena mimpi barusan. Apa tadi? Itu hanya mimpi kan? Gak gak mungkin potongan kejadian yang kulupakan beberapa minggu lalu. Gak, gak mungkin!             Aku turun dari kasur, keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Kuambil sebuah botol air berisi air putih dingin dari kulkas, meminumnya langsung tanpa perlu memindahkannya ke gelas terlebih dulu.             Aku masih berusaha mengatur nafasku, kududukan pantatku di kursi yang ada di dapur. Masih tak percaya dengan mimpi tadi.             Pindah ke sofa bed, aku merebahkan diri sambil seskali mengusap wajah.             Benarkah? Benarkah mimpi tadi? Aku berusaha memperkosa Melani? Rasanya tidak mungkin.             Aku tidak merasa apapun, tidak ingat apapun juga. Karena setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk tidak menemui Akmal dan Melani lagi.             Kalau memang aku melakukan itu, harusnya Akmal menjelaskan semuanya padaku, meminta pertanggungjawabanku, bukannya menyuruhku pergi.             Dan Melani, terakhir kali aku ingat bertatap muka dengannya itu ya saat kami makan bersama, sisanya hanya bayangan ketakutannya yang menghantui tidurku setiap malam.             Aku bangkit menuju kamar, mengambil ponselku lalu melakukan panggilan.             "Hallo, kakak? Bukannya ini masih malem di sana, Kak?" Mama, orang paling aku rindukan saat ini, nada suaranya terdengar khawatir di kejauhan sana.             "Gara kebangun, kangen Mama!" Kataku.             "Ya ampun, Kak! Kamu mau Mama ke sana? Belum libur kan? Ah pas libur juga kamu gak pulang."             "Mama apa kabar?"             "Baik, kamu gimana?"             "Baik Ma." Jawabku bohong. Badanku masih memar di berapa bagian, dan jiwaku? Entah bagaimana aku menjelaskan apa yang kurasakan saat ini.             "Kakak mau Mama ke London gak?" Tanya Mama.             "Kalo Kakak pindah gimana, Ma?"             "Pindah? Ke Bali? Ke Sambadha University lagi?"             "Gak Ma, tetep di Inggris, tapi gak London."             "Ih kamu mah aya-aya wae ge deuh! Kenapa sih? Mama kesono aja ya?" Logat sunda Mama keluar, membuatku semakin rindu.             "Ma, Kakak bingung."             "Pegangan!"             "Ma, ihhh!"             "Nanti Mama bilang Papa deh ya? Enaknya gimana? Kamu beneran mau pindah? Kenapa? Katanya betah di sono! Sering ujan gak kaya di Bali! Ah kan, Mama jadi kangen Bogor!"             "Ara kangen suaranya Mama deh."             "Kamu mau Mama ngedongeng? Jam berapa di sana sekarang?"             "Jam setengah 2 pagi, Ma."             "Mau tidur gak kamu?"             "Mau, Mama cerita ya?" Pintaku.             "Yaudah, cerita adek-adekmu aja ya? Mama rasanya pengen rante-in Yuri deh! Kelayapan mulu, kaya kucing!"             Aku tersenyum mendengar itu.             "Sasi, Ma?"             "Sasi kan di Bandung, sama Mami Bian, ga eling ade kamu yang itu, harusnya bisa kuliah dari dua tahun lalu, eh malah milih pengangguran, sekarang mau kuliah, malah kuliah ke Bandung. Padahal kan si Rafi kunyuk bikin sekolahan biar anak-anak gak usah jauh-jauh, ehh malah pada pergi-pergi. Kamu ge, segala ke London. Kaya Harry Potter aja!             "Papa kamu ya, kemaren pulang-pulang mabuk masa? Yaudah Mama kunciin, suruh tidur di sofa. Ehh Yuri kampret, malah ditemenin coba. Kan jadi kaya Mama yang dimusuhin."             "Papa mabuk?" Tanyaku, seingatku Papa bukan peminum kaya Papi Rafi.             "Iye sama Rafi, ada proyek yang berhasil gitu dah, tau tuh si kunyuk mau bikin properti di mana lagi, gak tau apa dia Bali udah sumpek, kebanyakan hotel. Mama rasa kalo di langit bisa dibikin perumahan, Rafi langsung beli lahan tuh!"             "Ma, Ara kayanya bikin salah!" Kataku.             "Hah? Salah? Salah apa?"             "Ara gak tau, Ma. Belum yakin."             "Ih kamu jangan bikin Mama risau dan gelisah gini ah! Bikin salah kumaha?" Tanya Mama.             "Mama percaya kan sama Ara?"             "Ya percaya lah, kamu kan anak baiknya Mama."             "Makasih Ma." Kataku.             "Mama lanjut cerita ya?? Kemarin Jani pamer mobil baru. Gak baru sih. Dia dipinjemin mobilnya Kunyuk Rafi yang limited edition gitu. Ya ampun, kayanya se-Bali dia klaksonin deh kemarin. Emang ya itu anak, cocok kalo main sama Spongebob sama Patrick, sama gilanya."             Mama terus bercerita, tentang Nini, Kakiyang, bahkan Vissa yang ngabisin uang sampai 500 juta untuk belanja online, gimana rusuhnya Mami Cici dan lain sebagainya.             Aku terlelap ketia cerita Mama masuk ke Kama-Kala yang gebugin anak orang karena.... entah karena apa.             Malam ini, aku tenang karena Mama. Semoga di mimpi aku gak dihantui potongan-potongan kejadian mengerikan lainnya, yang belum kupercayai kebenarannya.             Amin. *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN