"Kakak kalo ada apa-apa telefon, gak ada apa-apa juga telefon, pokoknya harus telefon!" Mama memelukku erat.
"Iya Ma, Gara pasti telefon mama." Kataku, Mama melepas pelukannya lalu mengecup keningku.
"Papa percaya kamu bisa jaga diri baik-baik di sini. Keluar dari zona nyaman, pisah dari keluarga, Papa yakin ini akan mendewasakanmu, Nak." Giliran Papa yang memelukku singkat, lalu meremas bahuku pelan.
"Makasih, Ma. Pa!" Kataku.
Keduanyanya mengangguk, kemudian masuk ke bagian dalam bandara. Ya, aku melepas Mama dan Papa kembali pulang ke Indonesia, setelah selama seminggu ini menemaniku beradaptasi dengan hiruk-pikuk kota London. Aku memandang punggung Papa dan Mama sampai tak terlihat, setelah itu baru aku berbalik, kembali ke apartmentku dan mulai menata hidup.
22 tahun, akhirnya aku berkesempatan menjalani hidupku sendiri. Gak ada lagi omelan Mama yang menyuruhku bangun pagi untuk sarapan. Gak ada lagi rentetan pertanyaan dari Papa yang selalu ingin tahu bagaimana hariku berlangsung, dan gak ada lagi dua adik cerewet yang sering menggangguku.
Kehilangan? Tentu. Dan sudah pasti aku akan merindukan mereka semua, tapi, aku punya kesempatan menjadi diriku sendiri, aku tak perlu berpura-pura jadi anak dan kakak yang baik. Aku bebas!
Sekian puluh menit di perjalanan, aku sampai di apartmentku. Langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri di atas kasur.
Ponselku berbunyi, kurogoh saku celanaku lalu mengecek notifikasi yang tertera di layar.
Mama:
Take care, Kakak
I love you xx
Me:
I love you Ma
Aku membuka room-chat lainnya, ada pesan dari Vissa.
Jino:
Udah sendiri?
Me:
Udah
Jino:
Jadi VC gak kita?
Me:
Di sana masih siang,
emang boleh kamu
kunci kamar sama Papi?
Jino:
Hehehehhehe
Me:
Nanti malem aja,
gimana?
Jino:
Lama dong?
Me:
So? Gapapa
Demi liat....
Jino:
Okay!
Aku tersenyum memandang layar ponselku. Meskipun tahu kalau ini salah, aku masih belum rela melepaskan Vissa begitu saja. Sudah banyak moment yang kami lewati berdua dan aku tak ingin meninggalkan itu semua. Kalo kata slank sih, terlalu manis untuk dilupakan.
Jadi, kubiarkan saja seperti ini, tak tahu siapa yang nanti akan menyakiti siapa.
****
"Akmal!" Pemuda asing ini memperkenalkan diri.
"Gara, kau dari mana?" Tanyaku.
"Dari Gorontalo, kau?"
"Bali!"
Aku berkenalan dengan anak lainnya, hanya sebatas menyebutkan nama, lalu aku kembali duduk di samping Akmal, entah kenapa aku merasa sreg dengannya.
Sore ini, aku menyempatkan diri datang ke perkumpulan mahasiswa Indonesia di London. Kata Papi Rafi sih biar temenku makin banyak, biar gak berasa sendirian di negara orang, dan aku setuju.
"Tahun pertamamu?" Tanya Akmal.
Aku mengangguk, lalu menjelaskan sedikit tentang diriku. Kemudian Akmal juga menjelaskan kalau dia juga tahun pertama pascasarjana, sama sepertiku, hanya saja dia mengambil jurusan science.
"Hay!" Seorang wanita datang menghampiri kami, tampak begitu akrab dengan Akmal.
"Dari mana saja kau?" Tanya Akmal.
"Aku ada kelas, jadi telat sedikit. Oh iya, siapa ini?"
"Dia teman baruku, Gara."
"Hey, Gara! Aku Melani."
Aku menjabat lengan si Melani. Setelah itu ia duduk dan mengobrol dengan kami. Beberapa anak lainnya bergabung, lalu kami saling bertukar cerita. Hari ini memang tak ada bahasan khusus, cuma kumpul doang, itu kata Kak Hanli, ketua himpunan ini.
"Kau mau ikut?" Ajak Akmal.
"Kemana?"
"Aku dan Melani mau keluar sebentar, jalan-jalan."
"Boleh." Jawabku.
Kami jalan bertiga, aku merasa jadi obat nyamuk kalau seperti ini. Melani dan Akmal tampak sangat akrab, mereka saling bergandengan tangan, meledek masing-masing, dan lain sebagainya.
Saat kami mampir di kedai minuman hangat, barulah aku tahu kalau Akmal dan Melani ini kakak-adik. Melani tahun terakhirnya, dia sudah 3 tahun di sini, jadi dia berencana mengenalkan London lebih dekat untuk kakaknya, dan aku dipersilahkan bergabung kalau mau ikut. Tentu saja aku mau.
"Kita ngobrol pake bahasa Indo aja ya?" Ujar Melani. Aku dan Akmal mengangguk setuju.
"Jadi, Gara. Apa yang lagi seru di Bali?" Tanya Akmal.
"Gak ada, Bali gitu-gitu aja, rame!"
"Tapi Bali tuh keren, Mathew Daddario aja liburannya ke sana." Sambar Melani.
Aku nyengir. Banyak emang sih seleb hollywood yang nginep di resort punya Mami Bian. Tempatnya asik, sepi dan ya, keren sih. Tapi aku bosen, dari lahir kayanya aku udah akrab sama pemandangan kaya gitu. Aku mau cari yang beda, dan aku suka hujan, London sering hujan meskipun gak deras.
"Rasain deh tinggal di Bali, kalo gue sih bosen. Pantainya bagus-bagus, tapi sekelilingnya udah hotel mewah semua. Gak bisa dinikmatin siapa aja. Cuma yang punya uang doang yang bisa duduk-duduk ngaso di private beach. Sisanya? Nongkrong di Kuta."
Mereka berdua mengangguk.
"Tetep aja Bali punya daya tariknya sendiri." Ujar Melani, kali ini aku yang mengangguk.
Menyesap teh hangat milikku, aku memerhatikan jalanan di luar yang ramai, langit sudah gelap. Gini ya rasanya sendiri, asik.
"Apartment lo di mana, Gar?" Tanya Akmal.
"Deket sini kok,"
"Jangan bilang kita ada bangunan yang sama?" Ujar Melani.
"Kalian bareng?"
"Iyalah." Sahut Akmal.
Aku mengangguk. Kemudian tanpa sengaja berharap kalo pas Yuri lulus, dia gak mendadak pengin ke London.
Ponsel di saku celanaku bergetar, aku mengambilnya lalu membuka pesan yang baru saja masuk.
Jino:
Aku sebel Kak sama Mami
Masa Mam minta aku jadi Joki biar Jani masuk SU
Aku tersenyum membacanya, lalu mengembalikan ponsel ke saku. Lanjut mengobrol soal Indonesia dengan Akmal dan Melani.
****
Jino:
Kok Kakak gak bales?
Me:
Nanti ya, No
Lagi sibuk
Jino:
VC deh
Me:
Nanti yaa
Beneran sibuk ini
Jino:
Yaaa kakakkk
Aku tak membalas pesan tersebut. Sudah sebulan lebih aku tinggal di sini, dan aku senang. Aku sedang menikmati kesendirianku dan mulai memikirkan banyak hal.
Dua hari lalu, aku mimpi dipukuli oleh Papa dan Papi Rafi, jujur itu membuatku takut. Mimpi itu sukses membuat aku terjaga sepanjang malam karena perasaan gelisah. Aku tahu aku sayang sama Vissa, tapi aku juga paham kalau ini tak bisa dibiarkan. Kami gak boleh terus-terusan menjalin hubungan seperti itu.
"Hey there!" Kepalaku mengadah. Ada Melani di seberangku, aku tersenyum padanya.
"Gimana, kerasan di London?" Tanyanya sambil meletakkan barang-barangnya di kursi sebelah lalu duduk di seberangku.
"Yak, asik. Kota impian."
"Tau gak kota impian gue apa?" Ujarnya.
"Apa?"
"Oslo!"
"Norway? Kenapa?" Tanyaku.
"Aman. Tadinya mau kuliah di Norwegia, cuma Inggris itu gak makan banyak waktu buat kuliah, cuma 3 tahun. Jadi ya mending cepet aja deh. Sayang umur."
Aku mengangguk.
"Maaf kalau gak sopan, tapi emang berapa umur lo?"
"18!"
"What???"
"Yaps, akselerasi terus beasiswa ke London."
"Ah gila, berarti dari umur 15 dong?" Tanyaku tak percaya.
"Iyaa."
"Emang boleh anak underage sendirian di negara orang?"
"Baru 5 bulan gue tinggal di apartment, sebelumnya ya sama orang tua asuh gitu."
Aku mengangguk mengerti. Keren juga dia. 18 tahun dan sudah punya pengalaman banyak. Lha aku?
"Lo tahu? Untuk merasa bodoh dan pintar di waktu yang sama, lo harus coba tinggal di negara orang. Negara yang budayanya beda jauh sama budaya tempat lo berasal, yang bahasanya beda, prilakunya beda. Dan semuanya beda. Itu yang bikin gue berani umur 15 tinggal sama orang yang gak gue kenal." Katanya tiba-tiba.
"Maksudnya bodoh sekaligus pintar?" Tanyaku.
"Yaa bodoh akan pengetahuan tempat baru. Pintar karena pengetahuan yang kita punya dari tempat sebelumnya. Kita bisa belajar dan mengajar."
Aku mulai merasa kalau pikiran Melani ini agak unik.
"Akmal mana?"
"Lagi godain cewek, gue disuruh cari makan sendiri. Nemu lo di sini, ya ikutan dari pada gak ada temen. Lo ngapain sendiri di sini?" Tanya Melani.
"Lagi menikmati hidup."
"Menikmati hidup di kedai eskrim? Good!" Ujarnya dengan nada sarkas, membuatku tertawa.
"Eskrimnya enak." Kataku.
"Ya ya ya, terserah!" Serunya sambil tersenyum. Dan setelah kulihat-lihat. Senyumnya Melani ini manis, banget.
"Mel, sore ini ajak jalan dong. Tapi ke tempat yang anti mainstream." Pintaku.
"Yaudah, tapi lo yang bayarin cab, oke?"
"Gak naik kereta aja?" Aku menawarkan angkutan lain yang sedikit lebih murah.
Sumpahnya, di sini apa-apa mahal banget. Meskipun Papa ngasih aku credit card unlimited, tetep aja aku merasa harus berhemat.
"Yaudah. Tapi gue mau pesen sandwich dulu oke."
"Okay, but lunch on you!" Kataku.
"Yailah, itu eskrim belum dibayar? Kampret dasar!" Serunya.
Aku tertawa.
*******