4. Hello, London!

1808 Kata
Tiga hari setelah selesai wisuda, Papi Rafi akan menemaniku ke London. Katanya sih mau ngurus soal kuliah, dan tentu saja semua kebutuhanku di sana.             "Ma? Udah laah!" Kataku ketika Mama memelukku erat.             "Kangen nanti Mama."             "Ini cuma beberapa hari terus balik lagi, nanti kan pergi benerannya bulan depan, Ma."             "Iya tau, cuma belum rela aja." Mama mengecup keningku untuk kesekian kalinya.             "Kak Gara tuh perginya masih besok kali, Ma!" Ujar Yuri yang baru bergabung dengan kami. Duduk di samping Mama lalu menyalakan TV di depan kami.             "Ahh kamu mah gitu, Yur. Suka banget ledekin Mama."             "Hahahah anak laki yang pergi, berasa ngelepas anak gadis ya Ma?" Yurika makin-makin meledek.             Aku tersenyum. Gak ngerti kenapa, di hadapan Papa terutama Mama, aku gak pernah bisa bersikap sok jagoan kaya Yuri, aku gak mau membantah perkataan Mama-Papa karena takut menyakiti hati mereka berdua. Maka dari itu, aku akan berperan menjadi anak yang sebaik mungkin untuk keluargaku ini.             "Gausah didenger, Ma." Kataku, Mama mengangguk.             "Hebat, bisa pada gak punya kuping mendadak gitu yee?" Sahut Yuri.             "Bisa lah, ngapain juga denger ocehan kamu."             Kemudian, ponsel di tanganku bergetar, ada notifikasi chat masuk. Aku sedikit menjauh dari Mama lalu membuka chat tersebut. Jino: Besok pergi? Kok gak bilang-bilang aku? Kak Gara bener-bener ya! Me: Niatnya mau bilang nanti malem Kan entar Kak Gara nginep, No Berangkatnya bareng Papi kok Jino: Aku ikut, boleh??? Me: Mana bisa dadakan? Cuma beberapa hari doang kok Nanti ketemu lagi Ya ya ya? Jino: Yaudah! Cepetan ke rumah! Me: Oke okeee             Kukantongi ponselku di celana yang kukenakan lalu mendekat kembali ke Mama.             "Kakak emang udah packing?" Tanya Yuri.             "Udah dong, entar jam 7-an tunggu Papa pulang, baru Kakak ke rumah Papi." Kataku.             "Awas salah masuk kamar!"             "Hah? Kamar apa?" Tanya Mama.             Aku pucat sementara Yuri tersenyum meledek. Aku tahu ia becanda, hanya saja, untukku itu konteksnya gak becanda.             "Kak Gara, kali aja gendeng pengin tidur di kamar mandi." Ujar Yuri.             "Ngaco aja, masa anak gantengnya Mama tidur di kamar mandi?"             "Denger Yurrrr!" Seruku.             "Ah Mama mah gitu mulu ke Kakak!"             "Sirik aja sih, Yur!"             "Apaan sirik-sirik, Mama kan sayang sama semuanya!" Mama merangkul aku dan Yuri bersamaan.             "Mwach!" Yuri mengecup Pipi kiri Mama.             "Gara makan malem di rumah Papi ya? Biar langsung istirahat." Kataku ke Mama saat rangkulannya terlepas.             "Ihhh? Yaudah kita semua nginep aja deh di rumah Kunyuk Rafi."             "Mama kenapa sih manggil Papi kunyuk mulu?" Tanya Yuri.             "Abis, waktu kalian kecil-kecil nih ya, kalian dipanggil curut tau, makanya Mama dendam."             Aku dan Mama tertawa mendengarnya. Ya, Papi Rafi mah anak sendiri juga kadang dikatain cecunguk. Gak ngerti lagi lah sama Papi.             "Jadi malem ini nginep nih?? Yuri gak ah, ada kerjaan."             "Kerjaan apa?" Tanyaku.             "Kepo deh Kakak!"             "Kamu udah siapin nanti mau pameran apa Yur?" Tanya Mama.             Tahun depan, harusnya Yuri lulus. Tapi, dia banyak banget ulang mata kuliah, terlalu santai dan menikmati perannya sebagai mahasiswa dan anggota-anggota himpunan.             "Pusing Ma, nanti aja lah."             "Jangan kebanyakan gambar aktor Korea mangkanya!" Ledekku.             "Ihh biarin, ganteng-ganteng tauu!"             "Setuju Mama, banyak yang ganteng."             "Lha? Gara aduin Papa loh!"             "Gak Mama transfer duit nanti pas di London." Ancam Mama.             "Biarin, kan ada Papi Rafi."             "Nanti, bulan depan gak Mama transfer."             "Hahahha sukur!" Ledek Yuri             "Iya-iya, gak jadi."             Mama dan Yuri tersenyum menang. Saat itu, Sasriya pulang, bajunya belepotan tanah dan lumpur.             "Adekkkk kamu apa-apaan?" Tanya Mama kaget.             "Training jadi Babi, Ma." Jawabnya santai, pake senyum pula.             "Guling-guling di lumpur?" Tanyaku.             "Yoi, Kak. Jatoh tadi dari sepeda, kotor."             "Luka gak?" Mama bangkit, suaranya terdengar panik dan langsung menghampiri Sasi.             Udah deh, Mama emang begitu sama anak bungsunya. Aku dan Yuri lanjut menonton TV sementara Mama ngomel-ngomel nyuruh Sasi mandi sebagai backsound sore hari yang menyenangkan ini.             "Kak, stop lah sama Vissa." Ujar Yuri tiba-tiba.             "Hah? Stop? Stop apa sih? Mulai sesuatu aja engga." Aku mencoba meyakinkannya. Mencoba agar rahasia ini tetap aku dan Vissa yang tahu.             "Halah, suka gak mengakui."             Aku diam, tidak menyauti perkataannya. Memilih fokus menonton TV agar Yuri tidak meneruskan kecurigaannya itu. ****             "Nyaman kan?" Ujar Papi saat kami selesai tour apartment yang dipilihkannya untukku.             "Iya, Pi. Nyaman, ada perapiannya." Aku menunjuk perapian kecil yang menempel di tengah dindin ruang santai ini.             Apartment ini udah kaya rumah sih menurutku. Ada dua kamar, ruang tamu, ruang santai dan dapur. Ada balkon untuk jemur-jemur dan atap yang bisa buat meletakkan barang-barang besar. Terlalu luas memang untuk ditinggali seorang diri. Tapi seperti yang Papi Rafi tadi bilang, tempat ini nyaman dan aku suka. Jadi gak mau cari lain.             "Iya Gar, London itu cuacanya unpredictable, bisa tiba-tiba angin ribut, hujan, terus bisa juga matahari muncul dadakan. Jadi harus siap sama semua cuaca, apalagi kamu kebiasaan mandi sinar matahari di Bali."             Aku menangguk.             Kemudian, Papi Rafi mengeluarkan ponselnya, menelefon penjaga apartment, entah apa yang dibahas karena menurutku, Papi ngomong bahasa Inggrisnya cepat sekali, aku sampai gak menangkap inti obrolannya.             Dari siang menuju sore hari, banyak tukang masuk ke apartmen baruku ini. Memasang rak buku, bawa peralatan masak, dan barang pelengkap lainnya yang aku bahkan gak nyangka. Papi Rafi membelikanku mesin cuci, meskipun tadi sudah menjelaskan kalau di bawah ada jasa laundry.             "Entar baju kamu ditelen mesin pengering, udah percaya aja. Papi udah pengalaman."             Aku mengangguk setuju, lagian masa iya aku menolak lalu mesin cuci itu gak jadi dibeli sama Papi, kan konyol.             Malam harinya, setelah apartmentku sudah rapi dan terlihat makin nyaman, Papi mengajakku mengobrol di ruang santai yang sofanya sudah diganti menjadi sofa bed yang besar.             "Nih!" Papi memberiku sebotol bir, aku menerimanya dengan terbengong-bengong.             "Pi? Seriusan? Dibolehin?" Tanyaku tak percaya. Ini kalo ketauan Papa, bisa digibeng aku.             "Santai, Ara. Di negara ini 18 tahun udah legal age, kamu berapa sekarang 22? Udah bebas ngapa-ngapain." Jawab Papi sambil menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.             Kulirik Papi, beneran deh, ini yang bikin aku kadang curiga, Papi sama Papa tuh beneran adik-kakak atau bukan, beda banget soalnya. Parah sih bedanya.             Karena Papi Rafi terlihat santai, akhirnya aku menenggak minuman yang ada ditanganku ini. Aku memang tidak asing dengan rasa cairan ini, hanya saja aku baru sekali ini aku minum sama orang tua, biasanya sih ya kan bareng temen-temen.             "Kamu tau, Ra? Papi nih bingung." Ujar Papi tiba-tiba.             "Bingung kenapa, Pi?" Tanyaku.             "Papa kamu, si Bison sss itu, beneran anak psikologi gak sih? Kok kaya gak ada tampang lulusan S2 Psikolog gitu."             "Emang kenapa?"             "Ya masa dia gak nyadar."             "Gak nyadar apa?"             "Ah, bener deh, kamu anaknya si ikan julung-julung itu. Lama banget mikirnya." Keluh Papi.             "Apa sih Pi?"             "Kamu sama Vissa."             Aku menelan ludah dan diam.             "Tiga belas tahun lalu, Papi kamu takut kalo Vissa beneran suka sama kamu, Papi mikir kalian masih kecil, masih lucu-lucuan. Lagian, kamu kakak lelaki terdekat di keluarga kita. Karena Evan sama Varde kan jauh di Jakarta.             "Pas Papi bilang ke Papamu kalau 'santai aja, anak gue cewek, gue yang kudu khawatir' Papa kamu relax dan gak mikirin itu lagi. Tapi, Papi merhatiin kalian kalau kita kumpul. Kamu berdua, lebih deket dari saudara, dari kakak-adik. Am I right?"             Aku diam. Kembali menelan ludah dan tak sanggup membalas satu katapun ucapan Papi Rafi.             "Gini, Ara. Kamu masih muda, Vissa apalagi, baru mau masuk kuliah dia. Papi pernah muda, tau lah rasanya jatuh cinta kaya apa. Tapi, jangan biarin hati kamu ambil alih sepenuhnya, hati itu gak bisa dipake mikir. Jadi, ya pake otak. Papi gak marah sama kamu, gak marah sama Vissa. Papi tau ada hal-hal di luar kontrol manusia.             "Dan, Papi gak mau kamu sama Vissa terlalu jauh menjalani apapun hubungan kalian. Papi cuma mau kamu berhenti."             Lagi-lagi, aku menelan ludah. Takjub dengan reaksi Papi Rafi. Gak yakin kalau akan mendapat perlakuan serupa seandainya Papa yang tahu. Meskipun bukan pria kasar, aku yakin aku akan babak belur oleh Papa jika beliau mengetahui semuanya.             "Ra? Ara?" Papi Rafi menyentuh bahuku dengan botol birnya. Aku langsung menoleh dan mengangguk.             "Jauhin Vissa. Oke? Anggep dia adik kamu, gak lebih."             Papi Rafi mengucapkan itu dengan santai, tapi entah kenapa aku menangkapnya sebagai ancaman. Seolah-olah nyawaku taruhannya jika aku mendekati Vissa lebih dari adik.             "Papi bener gak marah?" Tanyaku.             "Sekarang sih engga, tapi kalau kamu keterlaluan... ya beda judul."             "Maaf, Pi."             "Dont, son. Bukan salah kamu, Papi merhatiin dari dulu. Papi tahu Vissa duluan yang naksir kamu, dan kamu cuma gak mau nyakitin dia."             Aku mengangguk.             "Sebenernya, Gara pengin lanjut di luar negeri tuh karena itu, Pi. Pengin jauh dulu dari Vissa." Akuku pada Papi.             "Papi tau, makanya Papi bantu cariin kamu tempat, yang nyaman. Biar betah, biar gak kepikiran pulang mulu."             "Ngalus yaa..." ledekku, Papi tertawa.             "Kalo sama Papi, kamu bisa santai Ra. Tapi kalo Si ikan julung-julung? Ya beda lagi. Papamu tuh kadang santai, tapi ya serius, lebay deh."             "I know it so well, Pi."             "Nah iya, kadang gak konsisten omongan sama perbuatan. Dulu nih pas si Ocha hamil kamu, Papa kamu bilang ke Papi kalau 'santai-selow' etapi Mamamu gak boleh keluar rumah selangkahpun, saking protect-nya. Amit-amit ye??"             Aku tersenyum lalu menenggak bir yang kugenggam.             "Yeah! Bottoms up!" Seru Papi menepuk bahuku.             "Kamu masih muda, Ra. Papi waktu seumur kamu nih, nikmatin hidup banget. Kerja bikin Papi seneng, ya kerja bener-bener sampe badan cape. Cewe bikin Papi seneng, ya main cewe ampe bosen. Gitu terus, sampai akhirnya kenal kata 'sudah' pas ketemu Mami. Kadang, hidup sekonyol itu, Ra. Kamu kerja mati-matian, kamu ketemu ratusan cewe tanpa merasakan apapun. Dan sim salabim, kamu ketemu orang yang saat bersamanya, dikasih dunia sama isi-isinya pun bakal kamu tolak. Karena satu orang, dan kamu gak tau apa alasannya. Terlalu klise abisnya kalo Papi bilang cinta."             "Makasih Pi, kuliah malemnya."             "Yeah, Papi seneng ngobrol ini sama kamu. Sekalian persiapan buat nasehatin Kala-Kama nanti, beberapa tahun lagi."             Aku mengangguk, Papi membuka dua botol bir lagi, lalu memberikannya padaku satu. Kami bersamaan menenggaknya, lalu bersandar kembali ke sofa.             "Nikmatin hidup kamu, selama gak merugikan orang, gak ngusik kebahagiaan orang, gak merebut kebahagiaan orang, jalanin apa yang mau kamu jalanin. Tapi tahu batasan, jangan sampai kamu merugikan diri sendiri. Karena satu yang harus kamu tahu; tubuh kita, diri kita, itu aset paling berharga buat masa depan kita. Jangan ancurin diri kamu, jangan ancurin orang lain, cukup nikmati hidup."             "Gara penasaran, Pi. Papi waktu muda kaya gimana emang sih?" Tanyaku.             "Gimana ya? Papi tuh orangnya penasaran, doyan coba-coba tapi ditekunin. Doyan bisnis, makanya ditekunin. Doyan main cewe, makanya ditekunin juga. Pokoknya konsisten. Kalo setengah-setengah, mending gak usah."             "Ara gitu dong, Pi? Ara ambil S1 sastra, eh sekarang ke bisnis?"             "Haha santai, Nak. Gak semua orang bisa kaya Rafi Orin Sambadha. Sekarang kamu jalanin apa yang kamu suka, Papi selaku orang yang berpengalaman cuma bisa bimbing."             "Makasih Pi!"             "Anytime, kiddo! Just remember one thing!"             "Apa?"             "Jauhi Vissa secara pribadi, anggep dia adik kaya Yuri, Sasi, Elva dan lainnya."             Aku menelan ludah, lalu mengangguk. Papi gak main-main kayanya. Udah ngobrol panjang lebar, masih aja inget soal Vissa.             Baiklah, proses melupakan Vissa dimulai di sini, di London. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN