OwG 34

1001 Kata
Karena skandalnya, Evan menjadi lebih sibuk seharian ini. Proyeknya dengan beberapa rekanan mencapai momen kritis, dan dia harus menenangkan hati para pemegang saham minoritas dan berjanji bahwa masalah pribadinya tidak  akan mempengaruhi perusahaan. Pikiran Evan sepenuhnya fokus pada pekerjaan. Pada hari ini, setelah menggoreskan tanda tangannya pada kontrak kerjasama terakhir, pekerjaannya sudah sepenuhnya selesai. Evan kembali ke kantor, menarik dasinya, dan memikirkan Cecille. Seharusnya dia sudah menerima bunga dan cokelat yang dikirim ke apartemennya pagi tadi. Tetapi masih belum ada kabar dari wanita itu hari ini Dia bersandar di sofa, mengangkat telepon memutar nomor yang sudah dia hapal di luar kepala. Lagi-lagi nada sibuk yang terdengar. Nomornya masih diblokir, dan pada saat ini hati Evan mulai rumit. Setahun belakangan ini hubungan mereka memang sedikit memanas. Cecille menjadi tidak masuk akal dan lebih mudah marah hanya karena cemburu, selama bertahun-tahun, dia telah terbiasa menangani semuanya dengan mudah. Selama ini dia tidak pernah mengambil inisiatif untuk datang dan meminta maaf setiap kali mereka berantem. Biasanya Cecille yang pertama kali mengambil inisiatif. Dan semua masalah dia anggap selesai begitu Cecille kembali menghubunginya dan bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Dalam persepsinya, Cecille tidak bisa hidup tanpanya. Tapi kali ini, sepertinya benar-benar salah. Evan menelepon toko bunga dan bertanya, "Bunga dan cokelat yang saya pesan tadi, sudah dikirim?" Pegawai toko memeriksa resi, sebelum menjawab, "Semua sudah dikirim ke sana, penerimanya Inggo.” “Oke, thank’s!” Evan berpikir keras lagi, semua hadiah diberikan, dia juga sudah datang untuk meminta maaf dan berjanji memberikan pernikahan yang mewah, mengapa dia masih marah dengannya? Evan sedikit tidak nyaman, tetapi bagaimanapun dia benar-benar ingin Cecille kembali padanya. Setelah meninggalkan pesan pada Kenny untuk secepatnya mencari kontak Nicholas dan membuat janji dengan pria itu, Evan mengendarai kendaraannya menuju gedung tempat tinggal Cecille. Dengan yakin Evan menekan enam kombinasi angka yang terdiri dari tanggal, bulan, dan tahun saat dia melamarnya. Hasilnya, pintu sama sekali tidak bergerak. Pria itu langsung tertegun, hampir tidak berpikir. Kenapa Cecille mengganti passwordnya? Bukannya dia bilang tidak akan pernah melupakan tanggal itu seumur hidupnya? Evan mulai panik. Dia akhirnya tidak bisa melakukan hal lain kecuali menekan bel dan menggedor pintu samnbil berteriak seperti orang gila. “Cecille!” “Ce, buka pintunya. Ada yang mau ku omongin!” “Cecille!” Sampai tangannya sakit, dan mulutnya kering, pintu itu tidak bergeming sama sekali. Malam-malam gedor pintu orang sambil teriak-teriak, Evan seperti tidak sadar kalau perbuatannya itu mengganggu penghuni lain yang mau istirahat dalam keadaan tenang setelah capek dengan kegiatannya seharian. Petugas keamana langsung naik ke atas begitu mendapat laporan dari penghuni lain, segera menegur Evan, “Orangnya sudah pindah, Pak.” Evan mengangkat dahinya yang menempe di pintu, memutar tubuhnya dengan mata menyipit, “Pindah? Kapan? Pindah kemana?” Mendapat pertanyaan beruntun itu, security yang seragamnya mirip polisi itu menggeleng, “Saya juga kurang tahu, bapak bisa tanya ke resepsionis di bawah.” Tanpa ba bi bu lagi, Evan segera masuk lift  dan turun ke bawah, bertanya kemana Cecille pindah. Gadis yang ditanyai itu juga menggeleng, “Mereka nggak bilang apa-apa. Cuma bawa barang-barang, terus pergi.” Mengira calon mertuanya tahu sesuatu, dia langsung menghubungi Hartono, dan hanya mendapat jawaban yang mengecewakan “Pindah? Om nggak tahu, anak itu belum ke rumah dari kemarin.” Rasa panik ini semakin bertambah. Ini di luar kebiasan Cecille. Bahkan dia tidak bisa mengerti mengapa ini terjadi, ketika dia sudah terbiasa dengan hidupnya di sisinya, dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan meninggalkannya. Tatapannya yang mengembara jatuh pada rangkaian bunga yang cokelatnya sudah berkurang di sudut bawah meja. Seharusnya itu karangan bunga yang sama yang tadi pagi dia kirim buat Cecille. “Panggil Inggo, suruh dia ke sini sekarang!” Resepsionis tidak tahu Inggo mana yang dia maksud, dan bertanya dengan sopan, “Kalau boleh tahu, Inggo yang mana ya, Pak?” “Security yang jaga tadi pagi!” sahut Evan. Dahi wanita muda itu berkerut samar, setahunya tidak ada security yang namanya Inggo. Biarpun begitu, dia tetap menjawab. “Ditunggu sebentar ya, Pak.” Sesuai SOP, dia membuka komputer, mencari nama yang dimaksud oleh Evan, dan tidak menemukan nama itu dalam daftar penjaga keamanan. Dua menit setelahnya, dia mengangkat kepalanya, menatap Evan. “Mohon maaf, tapi dalam daftar, nggak ada security yang namanya Inggo.” “Itu!” Evan menunjuk rangkain di sudut, tekanan di seluruh tubuhnya rendah dan wajahnya sangat dingin, “Bunga dan cokelat itu saya yang kirim, tokonya bilang yang terima security dan tanda tangannya ditanda terima namanya Inggo!” Pandangan resepsionis mengikuti tangan Evan, kemudian seruan ‘Ahh’ pelan keluar dari mulutnya. Sekarang dia tahu dimana masalahnya. “Tunggu sebentar,” setelah berkata begitu resepionis mengangkat telepon, bicara sebentar. Tidak lama kemudian, petugas keamanan yang sama dengan yang menegur Evan masuk mendekati meja depan. “Kenapa Mbak Oila?” Sebelum menjawab, resepsionis yang dipanggil Olla mengambil rangkaian bunga di pojokan, membawanya ke meja. “Begini Pak Hatta, bisa tolong dijelasin  nggak ke Pak Evan, bapak nemuin bunga ini dimana?” “Di tempat sampah, Pak?” Kedua alis Evan terangkat tidak percaya, “Tempat sampah?” “Bener, Pak. Tadi saya yang antar bunga ini ke unit yang pintunya bapak gedor, yang terima cowok yang lagi pindahin barang Pas dia turun, ini dibuang gitu aja di tempat sampah belakang. Saya tanya kan, mas kok itu dibuang? Dia jawabnya gini, iya pak orangnya nggak mau terima katanya suruh buang aja. Yaa, daripada mubazir masih bagus dibuang, saya pungut  buat anak saya nanti.” Dia membuangnya! Cecille membuang hadiah darinya. Meskipun penjaga keamanan itu berkata jujur, Evan masih belum bisa mempercayainya. Cecille mencintainya. Mustahil dia melakukan hal itu dengan sengaja. Itu pasti karena dia masih marah, dan Evan akan segera menebusnya. Setelah dia membatalkan pernikahan, dia akan mengembalikan pernikahannya, pernikahan yang seharusnya milik mereka berdua. Evan sekarang mengerti apa yang dia inginkan dan bertekad untuk bersamanya.   Ketika mereka menikah, dia akan memperlakukannya dengan baik dan mencintainya dengan baik. Evan akan melakukan apapun yang Cecille minta, termasuk memutuskan kontrak dengan Anye.  Adapun konsekuensinya, dia akan menanggung semua konsekuensi untuknya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN