“Mana steiknya? Kok nggak kelihatan penampakannya?”
Cecille yang menuang segelas air menjawab. “Dagingnya masih beku. Jadi aku goreng telur aja. Sama-sama mengandung protein kan?”
“Jauh banget dari Wagyu A5 ke telur.”
Ketika Cecille mendengarnya menggerutu, sudut bibirnya bergerak sedikit, dan dia hanya meliriknya dengan wajah lurus.
Ketika menarik kursi, pandangan Nicho tidak lepas dari setengah lusin telur dalam piring keramik berbentuk oval.
Cuma telur dan kecap, nggak ada yang lain.
Bahkan tuna kalengan yang dimakan kucingnya tadi, jauh lebih menggiurkan daripada ini.
Keduanya duduk saling berhadapan. Cecille menyerahkan peralatan makan padanya. Ketika Nicho belum juga menyendok nasinya, kedua alisnya ditarik keatas saat Cecille bersuara.
“Kenapa? Kamu nggak doyan nasi telur sama kecap?”
Doyan?
Nyicipnya saja sekalipun dia belum pernah!
“Bagaimana kalau kita pesan makanan dari luar?” Nicho megusulkan.
“Terus ini?” Cecille menunjuk meja dengan dagunya, menatap Nicho , dan mengeluh, “Aku paling benci goreng telur, asapnya bikin rambut bau, tapi tadi kamu bilang sudah kelaparan. Demi membangun hubungan suami istri yang normal kayak pasangan lain yang menikah karena cinta, aku nggak keberatan rambutki bau asap telur, tapi kalau kamu lebih suka beli makanan dari luar. Aku bisa apa?”
Membangun hubungan suami istri yang normal?
Nicho mengira telinganya salah dengar, tetapi saat melihat wajah serius Cecille dia merasakann perasaan hangat yang mengaliri hatinya, dan tidak tahan untuk membiarkan usahanya sia-sia.
“Oke, demi rambutmu aku makan ini aja.”
Nicho mengulurkan tangan dan mengambil nasi putih yang baru matang, tuang sambal kecap diatas nasi dan telur, wajahnya seperti genangan air halus, saat merasakan suapan pertama.
Ini telur ketumpahan garam atau memang gorengnya pakai air laut?
Menggeser sedikit telur yang sudah dia cicipi ke pinggiran piring, NIcho mengambil satu lagi, dan yang kedua rasanya sama.
Asin!
Di jamin, orang yang sakit darah tinggi langsung kejang-kejang begitu dia makan ini.
Biarpun rasanya seperti menelan garam, nggak sedikitpun Nicho protes atau mengatakann sesuatu yang buruk tentang masakan Cecille.
Dia mengunyah dan menelan makannanya tanpa sedikitpun menunjukkan ekspresi tertekan.
Cecille masih duduk dan melihat simpul tenggorokannya naik dan turun, tetapi dia tida memuntahan makanannya dia bayangkan, dan hatinya mulai bertanya-tanya.
Aneh, kayaknya dia ngasih garam banyak-banyak deh tadi. Kok Nicho nggak protes, dan makannya malah lahap banget?
“Kamu nggak makan, Ce?” Nicho mengangkat wajahnya, “Nggak mungkin kan aku habisin ini semua sendiri?”
“Kamu nggak merasa ada yang aneh gitu sama makanannya?” Dia memandangnya, bertanya dengan ragu.
“Haruskah ada masalah?” Nicho bertanya balik.
“Haha, nggak ada, aku bercanda!” Cecille tersenyum dan melambai.
Aneh, jangan-jangan yang dia tuang tadi bukan garam. Tapi apa dong kalau bukan garam, masa iya tepung sih?
Dia mengambil satu teur dengan rasa ingin tahu dan memakannya dengan satu potongan besar.
“Oh!” Ketika telur itu masuk ke mulutnya dan dikunyah, Cecille merasa seperti sedang mengunyah satu sendok garam, dan lidahnya melengkung, tidak bisa menelan atau muntah. Lagi pula, terlalu beresiko kalau dia muntah, ketahuan nanti dia lagi ngerjain Nicho.
Dalam keputusasaan, dia menelan semua rasa asin yang luar biasa dalam mulutnya!
Cecille merasakan lidahnya kebas, rasa asin itu seolah-olah terus menempel di lidahnya, membuat mulutnya merasa sedikit tidak nyaman.
Dia segera menuang air dan meminumnya dalam sekali teguk buat menetralkan lidahnya.
Gilaaa, asin banget! Tadi berapa sendok sih yang dia masukin? Empat atau lima?
Tapi kenapa dia nggak merasa keasinan? Atau jangan-jangan ada telur yang kelupaan dia kasih garam, dan itu dimakan sama Nicho. Kalau memang iya, ini sih namanya senjata makan tuan.
Ahhhhh, SIALl!!!
Cecille menepuk pahanya dengan kesal.
Semua ini tidak lepas dari mata Nicho yang menonton penampilannya yang lucu, dia menahan keinginan untuk tertawa, dan bertanya dengan acuh tak acuh, “Kenapa wajahmu, bukannya ini enak?”
Enak kepala bapakmu! Omelnya dalam hati, dan di permukaan dia menjawab dengan senyum saat memuji dirinya sendiri.
“Enak lah, aku yang masak.”
“Kalau gitu, tambah lagi.”
“Hah! Nambah?” Cecille tercengang saat Nicho sudah menaruh satu telur lagi diatas piringnya, dan dia menolak dengan cepat, “Jangan, jangan. Bisa mati kena darah tinggi aku!”
“Nggak ada ceritanya telur bikin darah tinggi. Makanlah. Atau, jangan-jangan kamu naruh sesuatu di telur ini?”
“Nggak ada ... Nggak ada apa-apa!” Cecille mengelak terlalu cepat. Dia sengaja menaruh banyak garam ke telur yang dia goreng untuk mengerjai Nicho, tapi malah berbalik ke dirinya sendiri.
Kalau pria itu tahu, dia pasti menertawainya sampai mati.
Dia saja yang tidak melihat dari tadi Nicho sudah menyeringai dan paru-parunya hampir meledak karena menahan ketawa. Tetapi dia berpura-pura tidak tahu apa-apa saat sengaja menyuruhnya nambah.
Lucu saja lihat dia meringis saat menelan makanan yang ketumpahan garam, tetapi masih bertahan, berpura-pura makanan itu enak.
Setiap kali dia menelan satu suapan, dia meringis kemudian minum setengah gelas air.
Setelah menelan tiga atau empat suap besar, Cecille akhirnya menghabiskan lagi satu telur tambahan, dia menggeser piringnya kedepan, kemudian minum banyak air untuk mencegah dehidrasi.
“Makanya, kalau masak jangan kebanyakan garam biar nggak haus.”
Mata Cecille membesar dua kali dari ukuran normal “Kamu… kamu tau?”
Nicho benar-benar tidak bisa menghentikan dorongan untuk tertawa “Tau apa dulu nih? Tau telur ini asin, atau tau lagi kamu kerjain?”
Dua pertanyaan itu punya inti yang sama, dan Cecille tidak tahu bagaimana harus mengelak.
“Lain kali jangan coba-coba ngerjain aku.” Kata Nicho lagi, dia mengangkat kelopak matanya, melihat Cecille dengan serius, “Ilmumu belum sampai untuk itu.”
Pria yang sangat beracun! Cecille merasa seluruh tubuhnya terbakar dan hampir mati karena kesal.
Setelah kembali ke kamar tidur, dia mengunci pintu dari dalam, dan dia mengeluarkan kunci kamar di laci di luar dan memasukkannya ke dalam laci.
Terserahlah Nicho mau tidur dimana!
Selesai mandi dia rebahan di tempat tidur dengan ponsel di tangannya.
Di grup yang isinya cuma tiga orang, Arling membagikan foto Anye yang memegang rangkaian bunga.
“Dia bilang ini dari Evan. Kalian percaya?”
Unge yang hanpir dua puluh empat jam standby dengan ponselnya menjawab, “Kenapa nggak? Berlian neneknya yang harusnya buat Cecille aja dikasih, apalagi ini cuma bunga?”
Cecille membaca riwayat obrolan dari atas, untunglah tidak terlalu panjang. Kemudian memberi komentar, “Kemarin Evan datang ke apartemen.”
“Mau apa dia?”
“Ngapain?”
Cecille mengetik jawaban untuk dua pertanyaan yang sama. “Apalagi kalau bukan minta maaf.”
“Dihh nggak tahu malu!” Unge menanggapi.
Arling hanya mengirimi stiker muntah.
“Dia juga nyuruh aku batalin pernikahan dengan Nicho…”
Arling mengirim balasan, “terus kamu jawab apa?”
“Nggak jawab apa-apa.”
“Nggak usah jawab. Langsung aja bilang nggak, Ce!” diantara mereka bertiga, Unge orang yang paling marah dengan Evan.
“Terus dia bilang, mau atur ulang pernikahan kami jadi lebih besar dan mewah dari yang kemarin.”
“KAMU MAU?”
“Kamu mau?”
Cecille sengaja menggoda teman-temannya, “Masih mikir-mikir”
Begitu jawaban itu terkirim, panggilan video segera masuk. Cecille menggeser tombol hijau, wajah Arling dan Unge yang langsung ngomel muncul di layar.
“Nggak usah mikir lagi, bilang aja nggak mau!”
“Halonya mana?” Cecille menegur Unge, yang langsung menurut dan bilang.
“Halo!”
Setelah mengobrol sebentar tentang topik Evan, yang intinya Cecille dilarang kasih kesempatan kedua buat mantan tunangannya, Arling yang jeli bertanya.
“Kamu dimana, Ce? Kayaknya ini bukan tempat tidur di apartemenmu.”
“Aku pindah kemarin.”
“Hah? Pindah kemana?’
“Ke rumah Nicholas.”
Dari layar dia melihat ekspresi Arling dan Unge yang terkejut.
“Serius?” tanya Unge, “Bukannya kemarin kamu bilang nggak serumah sama dia?”
“Dia yang minta aku pindah.”
“Bagus deh, biar Evan nggak gangguin lagi.” Kata Arling.
Unge mulai kepo, “Jadi kalian malam pertamanya di situ?”
Cecille tercekik dan dengan cepat menjawab, “Ya nggaklah.”
“Yakin?”
“Serius. Ini kamarnya udah aku kunci.”
“Loh, kenapa?’
Cecille menceritakan perselisihannya dengan Nicho barusan masih dengan perasaan yang mendongkol.
Arling menanggapi ceritanya dengan, "salah kamu sendiri mau ngerjain dia. Resek-resek begitu, dia yang nolongin kamu pas lagi kejepit masalah.”
Kebalikan dengan Evan yang dikutuk dengan kejam oleh mereka berdua, Nicho mendapat kredit dari kedua temannya.
Setelah mengakhiri panggilan video, Cecille mengirim surat perjanjian yang sudah dia buat ke kontak Nicho untuk minta pendapatnya.
Semua isinya masih sesuai dengan deal pertama mereka, meskipun tadi Unge di telepon bilang begini.
“Menurutku Nicho baik, nggak ada salahnya meningkatkan hubungan dari sekadar nikah kontrak sama dia.”
Untuk lamanya kontrak, itu di sesuaian dengan kontrak yang dibuat Nicho.
Jadi untuk satu pernikahan, masing-masing punya dua kontrak yang berbeda.
Konyol kan?
Selesai mengirim surat kontrak, dia berselancar ke dunia maya. Pada saat itu satu pesan masuk
Itu dari Anye, dia pakai nomor yang untuk kerjaan.
Sepupunyan mengirim tautan, dan dia harus mengklik untuk melihat fotonya.
Adegannya sangat mesra, Evan memeluk Anye dan berbaring di tempat tidur di apartemennya dengan mata tertutup.
Pakaian keduanya berantakan, dan cahaya redup membuat mereka lebih ambigu.
Sangat memesona.
Cecille keluar setelah mengambil screenshoot foto, dan ketika dia mengklik tautannya, itu berubah menjadi halaman iklan biasa.
Dia tidak tahu apa maksud Anye mengirim foto seperti ini sekarang,
Kalau dulu, iya dia pasti marah dan ujung-ujungnya dia berantem sama Evan yang mengira dia cemburu buta dan menuduhnya selingkuh tanpa bukti.
Bahkan jika dia menyimpan foto itu, tidak ada cara untuk membuktikan bahwa foto itu dikirim oleh Anye. Karena link yang di kasih sudah berubah menjadi iklan.