Hari pertama tinggal dalam satu rumah, Cecille menghindari Nicho seakan pria itu adalah dewa wabah.
Gara-gara k****m yang tidak sengaja diambil. Cecille jadi tidak punya wajah untuk bertemu Nicho.
Dia ingat sewaktu kasir menghitung benda itu dan memasukkannya ke dalam kantong belanjaan, Nicho juga ada di sana. Pria itu pasti juga melihatnya
Tetapi kenapa dia tidak bilang apa-apa? Minimal ditanya kek buat apa Cecille membeli benda ini?
Sekarang dia ngeri membayangkan apa isi pikiran pria itu tentangnya?
Mendadak kotak pengaman dalam genggamannya menjadi panas dan membuat tangannya basah karena keringat.
Kemana dia harus membuang benda sialan ini?
Cecille melihat ke pintu untuk memastikan Nicho nggak masuk, lalu membuka laci meja sebelah tempat tidur, dan melempar kotak panas itu ke sana kemudian menutupnya.
Ingatkan untuk membuangnya besok!
Karena urusan k****m sudah beres, dia mulai sedikit santai.
Cecille mengambil ponselnya, duduk bersandar ditempat tidur dan mengetik sesuatu yang berhubungan dengan surat kontrak dan perjanjian menikah yang dia buat untuk Nicho.
Yang mengejutkan adalah, lumayan lama juga Cecille mengurung diri dalam kamar. Sekarang langit di luar gelap, tetapi tidak sekapun NIcho masuk untuk menganggunya.
Ini di luar kebiasaan pria itu dan membuatnya memiliki pertanyaan, Nicho di rumah atau nggak sih?
Karena penasaran, Cecille akhirnya memutuskan untuk keluar dan mencari tanda-tanda keberadaan pria itu.
Lagian perutnya butuh diisi kan?
Cecille membuka pintu kamar setelah memakai sandal, dan sesosok tinggi keluar dari dapur, membuatnya kaget.
“Ya Tuhan!” pekiknya sambil mengusap d**a.
Nicho berhenti, menatapnya dengan sedikit heran, suara magnetisnya terdengar, “Sudah bangun?”
“Aku nggak tidur.” Sahut Cecille, pandangan matanya berhenti pada kedua tangan Nicho yang membawa sesuatu.
Satu mangkok berisi potongan ikan sarden yang sudah dicuci dan segelas s**u, dua kombinasi makan malam yang aneh.
Nicho mengucapkan oh, kemudian kembali berjalan ke kamar yang tadi dia bilang untuk bisnis dan pekerjaan.
Mungkinkah karena seharian ini dia kerja, jadi nggak punya waktu untuk mengganggunya?
Nggak sangka dia tekun juga, dewi batinnya memuji.
Cecille nggak tahu dan nggak mau tahu berapa gaji Nicho. Tetapi kayaknya lumayan besar, kalau nggak, masa dia berani menyicil rumah semewah ini.
Tanpa sadar Cecelle menyayangkan sikap Nicho yang lebih memilih rumah bagus daripada kesehatan perutnya
Lihat saja asupan gizi yang masuk ke tubuhnya, tadi mie, sekarang cuma sardin kalengan dan s**u. Entah gizi apa yang terkandung di dalamnya, kenyang pun juga nggak.
Mengingat itu nggak cukup untuk makan malam Nicho, Cecelle menghentikannya dengan aga berteriak saat memanggil, "Nicholas!”
Nicho berhenti, pandangannya penuh pertanyaan.
“Aku beli Wagyu, mau steak untuk makan malam?”
Nicho nggak berpikir lagi saat menjawab, “Boleh kalau nggak ngerepotin.”
“Santai aja, bikinnya gampang kok”
Pikir Cecille, Nicho akan melihat ikan dan s**u di tangannya dan menganggap itu sudah tidak lagi menggugah selera makannya.
Tetapi pikirannyan salah, Nicho nggak kembali ke dapur untuk mengembalikan lagi makanan di tangannya, melainkan membuka pintu kamar kerja dengan menggunakan sikunya. .
“Kamu masih mau makan itu?” pertanyaan itu terlontar bagitu saja dari mulut Cecille.
“Kenapa?”
“Aku udah bilangkan mau bikin steak buat makan malam? Aku khawatir perutmu nggak muat kalau kamu masih mau makan itu.”
Nicho cuma mengucapkan oh, dan tersenyum cerah pada wanita yang sedang menancapkan dominasinya di rumah tangga mereka, “Ini untuk bisnis dan pekerjaan.”
“Bisnis dan pekerjaan?” ulangnya.
Kepala Nicho mengangguk.
Jenis pekerjaan apa yang butuh ikan kalengan dan s**u? Atau jangan-jangan ini cuma akal-akalan Nicho yang sudah kelaparan.
Rasa penasaran membawanya mendekati Nicho. Begitu pintun terbuka lebar, pupil mata Cecille membesar dua kali lipat saat mendapati dua kucing berkaki pendek berlari mendekati Nicho. Pria itu berjongkok untuk menuang s**u kedalam dua mangkok kecil.
“Nicholas, ini?”
Menggaruk telinga salah satu kucing, Nicho memberitahu, “Inilah pekerjaan dan bisnisku. Sore tadi diantar pulang sama orangnya Marcel.”
Dan jawaban itu membuat Cecille takjub.
Akhirnya dia tahu kenapa Tuhan memberi manusia dua tangan. Pasti yang satu buat menjambak, satunya lagi buat nabokin orang yang ngeselin.
Macam Nicho ini!
Nicho tidak tahu Cecille sedang kesal, dan biang dari semua kekesalan wanita itu adalah dirinya mendongak, dan dengan polosnya bertanya, “Katanya mau bikin steak, jadi nggak? Perutku sudah lapar nih.”
Ketika berjalan ke dapur, Cecille bertanya-tanya apakah dia punya utang ke Nicho di kehidupan terakhir, kalau nggak, bagaimana dia bisa begitu sial memilih pria itu sebagai suaminya dalam kehidupan ini!
Moodnya buat bikin steak seketika ambyar karena dia kesal.
Meskipun begitu, Cecille tetap sibuk di dapur untuk memasak sesuatu yang mudah. Potong cabai rawit, goreng bawang merah yang sudah di iris tipis, campur keduanya lalu tambah kecap.
Ceplok telor dia sengaja menambah exra garam untuk membalas NIcho, kemudian goreng tahu, dan voila! Makan malam selesai dalam sekejap.
Sembari mengelap tangannya yang basah dia kembali ke ruang kerja.
Dari luar pintu dia mendengar suara Nicho yang sepertinya lagi mengobrol, mungkin dengan kucingnya. Tetapi ketika pintu dibuka, dia melihat Nicho yang duduk depan komputer sedang bicara di telepon melalui earbuds.
“Mawar aja, warna merah. Ada kan 99 batang?”
Sambil mengerutan kening. Cecille tidak tahu apakah harus menguping atau mengetuk pintu untuk menghentikan panggilannya.
99 mawar merah? Apakah dia punya pacar?
Biarpun itu membuatnya penasaran, tentu saja Cecille nggak akan bertanya, karena itu privasi Nicho.
Seingatnya Nicho pernah bilang dia single dan tidak sedang terikat hubungan dengan gadis lain waktu menikah dengannya.
Tapi siapa yang tahu itu benar atau ngga? Tahu sendirikan, laki-laki itu salah satu spesies di muka bumi yang susah di percaya,
Buat jaga-jaga supaya nggak dikatai sebagai setan dalam hubungan romantis seseorang, nggak ada salahnya di memasukkan pasal tentang Nicho yang masih single dan tidak sedang terikat hubungan dengan wanita lain waktu mereka menikah.
Memikirkan itu, dia mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, tetapi pintu keburu terbuka.
“Makan malamnya udah siap.”
“Hah, serius!” Nicho terkejut, “hebat banget, nggak sampai setengah jam sudah mateng.”
“Cepat makan, nanti keburu dingin.”
Ketika mereka berjalan, kucing abu-abun didalam segera keluar mengikutin di belakang.
Melihat makanan di atas meja makan, Nicho mencari-cari sesuatu. Sementara Cecille, dia sudah duduk dengan santai.
“Cecille,”