OwG 26

1448 Kata
Ketika Nicholas selesai mandi, menyeka rambut hitam basah dan berjalan keluar kamar bertelanjang dadda, telepon miliknya berdering pelan. Dia mengangkat alisnya, mengambil telepon untuk membuka kunci layar, lima panggilan tak terjawab telah muncul di layar ponsel. Detik berikutnya telepon kembali bergetar beberapa saat. Saat pria itu menundukkan kepalanya dan membuka layar kunci, tetesan air menetes ke ujung rambut yang sedikit berantakan, berguling di atas batang hidung yang tinggi. Ibu jarinya menggeser tombol hijau, sebelum dia bilang halo, pertanyaan dari Cecille menyapa gendang telinganya. "Uang atau menikah, mana yang kamu pilih?” Reaksi pertama Nicho adalah,dia mengangkat kedua alisnya. Entah karena pertanyaan Cecille yang tidak pakai basa-basi, atau karena dua Russian blue yang menumpahkan sekaleng bir hitam dari atas meja kemudian menjilati tumpahannya yang berceceran di lantai. Di sisi lain, setelah Cecille selesai bertanya, detak jantungnya bergemuruh, seperti seorang tahanan yang menunggu hasil persidangan. Saat mengembalikan ancaman ayahnya kedengaran dia santai, tetapi siapa yang tahu dalam hatinya sedikit cemas. Hartono relatif terkendali dan menurut kakeknya dia adalah orang yang cakap dan jujur. Jadi Liemanto tidak ragu-ragu untuk pensiun dan menyerahkan perusahaan kepada menantunya.  Bisa dibilang, perusahaan Liemanto telah lama berada di tangan ayahnya. Hanya saja dia tidak leluasa bergerak selama Liemanto masih hidup. Apalagi ada kesepakatan bahwa Hartono harus menyerahkan perusahaan yang bertahun-tahun ia kelola kepada anaknya, begitu Cecille menikah. Ketika Cecille menikah dengan Evan, Hartono tidak perlu mengkhawatirkan perusahaan akan berpindah tangan. Keluarga Muljadi dua tingkat diatas keluarga Liemanto. Dengan banyaknya anak usaha yang harus dia urus, mustahil Evan mau merusuhi mertuanya. Siapa yang bisa menebak kalau endingnya Cecille malah menikah dengan Nicholas. Cecille tahu ketika mengancamnya, Hartono  memperingatkannya bahwa ketika kakeknya meninggal, dia hanya bisa mengandalkan ayahnya. Dengan kata lain, Hartono tidak akan memberikan apa-apa karena pernikahannya palsu.     Ayahnya patriarkal dan ibunya adalah wanita yang terlalu percaya dan menurut apa yang dibilang oleh suaminya. Cecille tidak akan heran kalau di masa depan, bukan dia yang akan mengambil alih keluarga Liemanto, tetapi adiknya, Joseph. Itu membuatnya kepikiran, khawatir untuk kedepannya, grup Liemanto yang susah payah dirintis dari nol oleh kakeknya akan berubah nama menjadi Tan, nama keluarga ayahnya. Karena ibunya tidak peduli, maka dirinyalah yang harus peduli. Hal yang pertama harus dia lakukan adalah memastikan bagaimana anggapan Nicholas tentang pernikahan mereka yang mendadak ini. Jadi, begitu mengakhiri panggilan dari ayahnya, dia kembali menggesek layar ponsenya, dan menghubungi Nicholas. Setelah panggilan yang kelima,Cecille mulai mengeluh. ”Kemana sih ini orang,dari tadi nggak  diangkat-angkat!” Lalu dia ingat, Nicholas jarang mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal. Soalnya pertama kalinya dia menelepon Nicho juga begini, harus menunggu lama sebelum aknirnya diangkat. Tapi itu kan dia belum tahu nomor kamu, hati kecilnya berkata. Detik berikutnya, hati yang sama kembali mengeluh, “Masa iya sih dia nggak nyimpen nomorku?” Cecille berguling di atas tempat tidur dengan gusar, tangannya yang masih memegang ponsel kembali menyentuh nomor yang sama, dan kali ini tersambung. Wanita muda itu segera duduk dengan sikap formal ketika langsung bertanya. "Uang atau menikah, mana yang kamu pilih?” Namun, setelah satu detik pertanyaan itu diajukan, masih tak ada jawaban dari pihak lain. Mengira sambungan terputus, cecille melihat layar ponselnya. Ketika dia menemukan panggilannya masih tersambung, dia kembali bersuara. “Hei, Nicholas, kamu dengar kan?” Telinganya tidak lepas dari  layar ponsel dan menunggu dengan napas tertahan. Tiga detik kemudian, suara malas pria itu terdengar, “buat apa kamu nanya itu?” “Nggak ada alasan khusus, cuma mau tahu.” Nicholas tidak bertanya lagi, dan hanya menjawab asal-asalan,”Uang, tapi karena aku---“ Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, nada sambung panjang terdengar. Tuuuut… Menutup telepon Nicholas, Cecille duduk di tempat tidur sambil memegang ponselnya. Malam di luar jendela padat, dan gedung-gedung bersinar terang, kota yang makmur secara ekonomi ini tampaknya selalu hidup, tetapi mengungkapkan kesepian yang aneh. Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela, menarik tirai tebal, mengambil napas dalam-dalam saat mulai menyesali pilihannya. Pria ini benar-benar tidak bisa diandalkan! Keesokan harinya, Cecille bangun tanpa membunyikan jam alarm. Dia menggosok dahinya, setengah menyipitkan matanya dan mengulurkan tangannya di kepala tempat tidur untuk menemukan telepon, dia meraihnya dan melihat waktu dengan cerah. Pukul sebelas tiga puluh empat. Dia bangun kesiangan. Lebih dari selusin pengingat pesan ditampilkan di layar ponsel. Dia mengklik dan memindai matanya di grup WA, Arling dengan penuh semangat berbagi gosip dengan Unge. Cecille mengklik tautan, itu forum gosip yang dulu pernah ramai. Ada dua foto di thread gosip tersebut. Yang pertama, tentang Anye yang datang ke acara valentine dan kedua, berita enam bulan yang lalu tentang Anye yang datang ke Infotainment Award sebagai nominasi Most Charming Female Celebrity. Yang menjadi perhatian dari dua foto itu bukan isi beritanya, tetapi berlian klasik riviere yang melingkar di leher Anye yang jenjang. Itu berlian yang sama persis dengan punya istri sultan yang pernah viral sebelumnya. Katanya sih harganya sampai delapan M. Dulu netizen bertanya-tanya dapat darimana Anye berlian yang harganya sampai 8 M? di kolom komentar atau di forum juga di bahas, dan ada yang bilang itu dari Evan. Tetapi segera dibantah sama yang lain, secinta apa sih Evan sama mantan pacarnya, sampai ngasih berlian yang harganya M-M an? Dan dari semalam, thread yang sudah lama tenggelam diangkat lagi ke permukaan oleh orang yang sama yang pertama kali bilang berlian Anye itu dari Evan. Cecille membaca halaman terakhir, lalu menutupnya. Lalu mengetik ke grup, “gosip basi!”   Iya, basi. Karena dari awal Cecille sudah tahu berlian itu memang punya Evan, lebih tepatnya sih salah satu koleksi perhiasan milik mendiang neneknya. Dua tahun yang lalu, sebelum meninggal nenek pernah bilang, berlian itu dan beberapa koleksi perhiasannya yang lain akan diberikan ke Cecille saat dia menikah dengan cucunya. Entah bagaimana ceritanya, berlian itu bisa dipakai Anye, dan saat dia protes Evan hanya menjawab. "Anye cuma pinjam sebentar, Ce. Buat datang ke acara itu aja... ini semacam support perusahaan ke karyawannya. Masa begitu aja kamu marah sih?” Untuk ini, Cecille tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula, benda itu bukan miliknya. Begitu meihatnya online, Unge langsung melakukan panggilan video. Wajah tersenyum Unge muncul di layar, “Enak bener jam segini baru bangun.” Cecille menutup mulutnya saat menguap, “Nggak bisa tidur semalem.” Unge menunjukkan ekspresi bergosip di wajahnya, “Nggak bisa tidur karena gituan ya?” “Gituan apaan? Kami tidur di rumah masing-masing!” Unge menunjukkan wajah kecewanya di layar. “Yaaah, padahal nungguin testimoninya, kepo gimana hebatnya Nicho di ranjang!” Keduanya saling memandang dalam diam untuk beberapa saat.   Cecille berdecak dan yang pertama berkata.“Penasaran sama kehebatan cowok lain di ranjang, kamu nggak takut apa pas ngomong begitu kedengeran Refly?” Refly yang dia bicarakan itu suami Unge, senior mereka di sekolah. Unge ketemu lagi sama Refly di universitas, pacaran sebentar terus akhirnya menikah. Unge melirik kanan kiri sebelum berkata, “Biar aja! Udah dua hari dia aku diemin.” “Eh, kenapa?” “Abisnya kesel aku, dia bilang nggak tau terus waktu aku korek informasi tentang Evan sama Anye!” Cecille bertemu dengan ekspresinya yang hati-hati dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Ya emang nggak tau kali. Udah lah, Nge. Biar aja. Ini urusanku sama Evan. kamu baikan sana sama Refly, ntar dia cari yang baru nangis.” Unge terkekeh pelan, “Nggak bakal berani, bisa miskin mendadak dia kalau berani cari yang baru!” Setelah mengobrol dengan Unge sebentar, Cecille mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk menyikat gigi, dan mandi, lalu keluar untuk membuat sarapan. Sandwich telur dan keju baru keluar dari panggangan ketika dia mendengar suara bel pintu yang berdering. Cecille berjalan ke pintu dan membuka pintu. Dan melihat pria muda seumuran Joseph berdiri di depannya. Orang itu datang dengan wajah lembut dan wajah hormat, mengenakan setelan rapi, dan dua pria lebih kokoh berdiri di belakangnya. Inggo tersenyum tepat dan berkata, "Bu, saya suruhan Ko Nicho, datang untuk membantu Anda pindah." Inggo  sudah mengikuti Nicho sejak dia lulus SMA, dan tidak pernah mendengar pria itu punya pacar. Semalam, dia terkejut ketika Nicho menyuruhnya menyiapkan satu rumah di pusat kota untuk istrinya. Sebagai pengikutnya, Inggo bukan cuma sekali dua kali dia membantu Nicholas menggagalkan kencan untuk perjodohan yang diatur oleh kakeknya. Saking seringnya dia melihat Nicholas menolak gadis-gadis cantik yang mau dikenalin ke dia, Inggo sampai mengira orientasi seks agak bosnya nggak normal. Setahu Inggo, selain game, kayaknya belum ada yang menarik perhatian Nicho. Tetapi saat dia melihat wanita yang masih cerah dan menawan meski tidak menggunakan riasan, tebakan aslinya akhirnya terhapus. “Pindah?” Cecille menatap pria muda di depannya dengan curiga. “Dia nggak ada bilang apa-apa tentang pindah.” Pada saat ini ponsel dalam genggamannya bergetar, dia menggeser tombol hijau dan mendengar suara serak yang malas menyapa telinganya. “Turun, aku diparkiran!”      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN