****
Cecille berbaring di tempat tidur dalam keadaan insomnia.
Bukan karena memikirkan tentang kedatangan Evan barusan. Sejak kata putus keluar dari mulutnya kemarin,Cecille sudah tidak menganggap pria itu sebagai bagian penting dalam hidupnya lagi. Dan dia sudah melakukan hal yang sama kepada orangtua dan adiknya sejak bertahun-tahun yang lalu.
Begitulah caranya untuk move on dari orang-orang yang sudah menyakitinya.
Hal yang memenuhi pikirannya sekarang adalah,segala kemungkinan yang terjadi kalau Evan menemui Nicholas.
Tidak diragukan lagi. Nicholas, pria itu muda, tampan,dan cakap. Kekurangannya adalah kakeknya mewariskan banyak uang, dan ayahnya menyisakan terlalu banyak utang.
Dari banyak selentingan yang ia dengar, Nicholas butuh banyak uang dan investor yang mau menanam modal untuk membangun lagi bisnis keluarganya.
Sementara Evan, mantan tunangannya punya banyak uang, dan posisinya berada di puncak piramida dalam rantai modal.
Kalau Evan benar-benar datang menemui pria itu, meminjamkan banyak uang untuk mengambil alih utang Moderna, dan berinvestasi untuk membangun kembali perusahaan yang sedang sekarat, dengan pembatalan pernikahan mereka sebagai syarat, Cecille tidak akan terkejut kalau Nicho setuju.
Siapa yang akan menolak bongkahan emas yang jatuh dari langit? Bahkan jika Cecille berada di posisi Nicho, dia tidak akan berpikir dua kali untuk menerimanya.
Apalagi pernikahan ini dasarnya adalah bisnis dan keuntungan. Besar kemungkinan Nicho akan meninggalkannya demi keuntungan yang lebih besar.
Sebenarnya rekening Cecille tidak kekurangan uang. Dia punya gaji dan posisi bagus di perusahaan. Belum lagi dua persen saham pemberian kakeknya, lebih dari cukup untuk mendukung rumah tangga mereka untuk hidup diatas rata-rata.
Tetapi itu sangat kurang bila digunakan untuk menarik keluarga Tjandra dari jurang kebangkrutan.
Sebenarnya Cecille berpikir untuk meminta bantuan Liemanto. Kakeknya memang sudah mundur dari dunia bisnis, tetapi sebagai tetua dia masih cukup disegani, mustahil dia tidak mau membantu kalau Cecille minta tolong beliau untuk membantu Nicholas.
Minimal dikenalinlah ke generasi pertama atau kedua yang dulu pernah berbisnis dengan kakeknya. Kalau mereka pernah menolak b
Lalu sisi lain dirinya berkata, “Nggak usahlah, itu terlalu berlebihan untuk pernikahan yang cuma seumur jagung.”
Tetapi kalau dia tidak minta bantuan ke kakeknya, bagaimana kalau dia kalah langkah dengan Evan?
Semakin dipikir, semakin gelisah dia membayangkan tentang segala kemungkinan yang terjadi.
Memang dia tidak punya perasaan apa-apa terhadap Nicholas, tetapi itu tidak menghilangkan perasaa cemas kalau-kalau pria itu lebih memilih uang dan meninggalkannya.
Selain kesehatan kakeknya, dia juga memikirkan reputasi dirinya sendiri. Dicampakkan oleh dua pria yang berbeda dalam seminggu, mau ditaruh dimana mukanya nanti?
Terlalu cemas memikirkan sesuatu yang belum terjadi ternyata bisa bikin perut lapar.
Berjalan keluar, Cecille langsung menuju meja tempat ia menaruh barang-barangnya tadi. Seeingatnya,ada makanan yang dibawakan oleh pembantu kakeknya dari villa.
Setelah mencari dan tidak menemukan kotak makannya, Cecille menebak itu ketinggalan dalam mobil Nicho.
Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, rencananya dia mau menelepon Nicho, memberitahunya supaya mengambil makanan dari kursi belakang untuk dia makan, atau disimpan dalam kulkas kalau Nicho tidak mau,
Dan ketika dia menemukan androidnya dalam keadaan mati, mulutnya bergumam.
“Pantesan dari tadi tenang. Ternyata mati toh.”
Melangkah ke dapur, dia menekan tombol power yang ada di kiri atas telepon. Dan alisnya yang indah bertaut saat melihat indikator betere.
“Baterenya penuh, tapi kenapa tadi mati?”
Lalu meletakkan benda itu ke atas meja makan, sembari menunggu ponselnya menyambung ke wifi, Cecille membuka kulkas, mengambil sekotak s**u cokelat. Melihat tanggal kadaluarsa dibungkusan roti tawar, sebelum mengeluarkannya dan satu toples selai cokelat hazelnut.
Drrtt… drrrt… drrtt!
Ketika data sudah menyala, benda itu bergetar tanpa henti berulang-ulang.
Cecille melirik nama kontak, yang merupakan nomor asing.Ia hanya membacanya sekilas, lalu menghapusnya, kemudian membuka kontak yang sengaja ia blokir dan mengapusnya dari daftar blokir.
Lalu mengoleskan selai keatas roti, memakannya dengan santai.
Baru menyedot setengah dari s**u, ponsel di samping piring roti kembali berdering.
Dia melirik, seperti yang dugaannya, panggilan itu dari ayahnya.
Cecille tidak segera mengangkat panggilan tersebut, dia menggigit sepotong roti, mengunyahnya dengan santai sampai orang yang meneleponnya capek, dan berhenti sendiri.
Ponsel di atas meja kembali diam, dan bunyi lagi sedetik kemudian.
Barulah pada panggilan yang ketiga, Cecille mengangkat ponselnya, dan menggesek tombol hijau.
“Halo.” Suaranya tidak hangat atau dingin.
“Cecille, kenapa kamu nggak mendiskusikan masalah penting ini dengan kami?”
Nada bicara Hartono penuh perhatian seperti layaknya seorang ayah.
Cecille menjilat selai yang menempel di sendok sambil terkekeh.
"Masalah penting? Memangnya ada masalah penting? Kok aku nggak tahu, memangnya masalah penting apa, Pi?” dia pura-pura b**o.
Dari sisi lain, Hartono menjawab dengan, “Pernikahanmu, kenapa kamu nggak mendiskusikannya dengan kami?”
“Pernikahanku?” Cecille bersuara seolah dia kaget, ‘Sejak kapan itu jadi masalah penting? Kan papi sendiri yang kemarin bilang, keselamatan Anye yang lebih penting darpada pernikahanku. Jadi, yaa… aku pikir nggak perlulah diskusi dengan kalian. Toh ini nggak penting.” Cecille manaikkan alisnya, lalu bertanya dengan nada yang sedikit mengejek, “Papi nggak berpikir aku akan diam saja dan pasrah waktu ditinggal Evan kan?”
Hartono tidak menyangka Cecille akan menyindirnya secara langsung, dan dia terdiam beberapa saat, dan suaranya menjadi dingin, “Kamu bisa membohongi kakekmu. Tetapi jangan pikir papi percaya kalau Nicholas membantumu tanpa ada imbalan apapun!”
"Memang nggak, aku menukarnya dengan tanah di sebelah selatan kota!” sahut Cecille, dia sengaja tidak menyembunyikan apapun kepada ayahnya.
"Kamu gila?!”
Hartono benar-benar terkejut, itu adalah tanah terluas milik mertuanya, lokasinya strategis. Menurut ahli fengshui, tanah itu berada tepat dikepala naga yang membawa banyak keberuntungan.
Mertuanya memang belum memberikan amanat apapun tentang tanah tersebut kepadanya, tetapi secara diam-diam Hartono sudah menerima sejumlah uang dari investor untuk membangun mall sekaligus apartemen di sana.
Itu adalah jumlah yang sangat besar, dengan keuntungan yang bisa dibilang tidak sedikit.
“Papi nggak setuju! tarik perjanjian itu, dan jangan terlibat lagi dengan Nicholas!”
Cecilla nampak tenang, mengambil sedikit selai dengan sendok dan kembali memakannya, dan tersenyum ringan, "Tanah itu milik kakek, dan aku secara alami memiliki hak untuk memutuskan. Bagaimanapun, Nicholas sekarang adalah suamiku, dan aku yakin kakek nggak akan keberatan.”
Ketika perhitungannya gagal, Hartono berhenti dan menggertakkan giginya dengan sedikit mengancam, "Papi akan memberitahu kakekmu, kalau pernikahanmu dengan Nicholas itu pernikahan palsu!”
Diancam begitu, Cecille tidak takut atau mundur, dan malah tersenyum, dan suaranya jauh lebih sembrono.
“Silakan, menurut papi, sama siapa kakek lebih percaya? Aku yang sudah membawa Nicho ke sana? Atau sama papi yang secara nggak langsung juga punya andil besar di gagalnya pernikahan ku kemarin?”
"Kamu…!" Hartono sangat marah sehingga dia tidak bisa berbicara. Apakah gadis yang tidak berbakti ini ingin membuatnya kesal?
“Kalau kamu lebih bersabar, pernikahan itu nggak akan gagal!”
“Sayangnya perasaanku sudah telanjur hilang.” Cecille berkata dengan ringan, “nggak ada salahnya aku mengingatkan, papi sama mami sudah menikah selama hampir 25 tahun. Aku harap perasaan salah satu dari kalian nggak hilang. Kalau iya, itu bisa berdampak besar pada perusahaan.”
Wajah Hartono berubah.
Dan Cecille tahu. Ayahnya pasti mengerti maksud dari kata-katanya.
~~~~~~~