OwG 24

1500 Kata
Cecille meratakan bibirnya, dan bertanya dengan kaku, "Mengapa kamu di sini?" Evan maju dua langkah, dan mereka berdiri berhadapan. Ketika dia mengulurkan tangan untuk memeluknya, tunangannya itu menghindar. Pada akhirnyadia hanya bisa menatap lurus ke arah tunangannya, dengan emosi yang campur aduk di matanya. "Aku datang datang ke tempat pernikahan, tetapi kamu nggak ada di sana." Cecille merasa jantungnya berdetak kosong untuk beberapa saat, kemudian bibirnya yang biasanya tersenyum lembut mencibir, “Pernikahan itu seharusnya diadakan semalam.” Cecille mengatakan itu dengan  acuh tak acuh, tanpa sedikit pun senyuman. Sikapnya Ini membuat Evan  terlihat kaku, tangan di samping tubuhnya mengepal saat gambar pasangan pria dan wanita yang mengucapkan janji di depan altar melewati pikirannya. “Lalu apa yang kamu lakukan dengan Nicho semalam?” Cecille berjalan ke sofa tanpa sedikitpun memandang Evan, dan berkata dengan tenang, “Seharusnya sudah ada salah satu dari teman-temanmu yang lapor!” Ada beberapa rekan bisnis dan teman dekat Nicho yang diundang ke pernikahan. Sebagian besar dari mereka tetap tinggal di resort meskipun tahu acara ditunda. Dan ketika Cecille mengikuti Nicho berkeliling mengucapkan terima kasih ke tamu, dia juga menemui undangan dari pihak Evan yang memandangnya dengan ekspresi tercengang. Cecille percaya laki-laki juga suka bergosip, dan Evan pasti sudah tahu apa yang terjadi Evan mengikutinya, dan berdiri diam. Saling memandang sebentar, jantung Evan berguling, dan dia berkata dengan nada  seperti orang yang sedang menginterogasi tersangka, "Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri!” Cecille mengangkat matanya, saling memandang dalam diam selama beberapa detik, dan kemudian tiba-tiba tersenyum.  "Apa lagi yang mau kamu dengar?  Bukannya semua sudah jelas, kamu meninggalkanku dan aku mengganti mempelai pria supaya pernikahan itu tetap dilaksanakan sesuai jadwal. Bukankah itu solusi yang bagus buat kita berdua?” Evan merasa jantungnya sakit, seolah-olah ada tangan yang meninjunya dengan keras di ddada. Dia tidak pernah berpikir Cecille akan melakukan hal ini. Menikah dengan seseorang yang dianggap musuh tunangannya.       Evan mengerutkan kening, dan berkata dengan nada yang dalam, “Cecille, aku sudah bilang, pernikahan akan ditunda. Itu cuma sehari, kenapa kamu nggak mau menunggu?! Pernikahan ini bukan cuma menyangkut kita, tapi melibatkan banyak pihak terutama perusahaan---“  "Menunggu?” Cecille memotongnya dengan sinis, dan dia berkata dengan emosi, “Evan, kamu sendiri yang meninggalkanku di altar untuk Anye! Dan kamu masih menyuruhku menunggu?! Ambil kaca, dan lihat. Layak nggak kamu ngomong begitu!”   Semua orang di sekitarnya selalu menganggap Cecille pintar mengatur emosi, dia  tidak pernah menanggapi orang yang membencinya, juga tidak suka perselisihan yang membuang-buang waktu. Tetapi, bukan berarti dia tidak bisa marah. Dua hari ini dia punya banyak masalah, pernikahan yang berantakan, harus berurusan dengan tamu dan khawatir tentang kakek, dan dia benar-benar capek! . Kemarahan akibat Evan yang melarikan  diri  dari pernikahan hanya bisa disembunyikan dan tak diumbar kemana-mana demi nama baik keluarga dan kepercayaan investor. Dan sekarang,ketika dia mendengar kata-kata Evan yang terkesan menyalahkannya, akhirnya Cecille meledak, dia tidak bisa lagi menahan emosinya. “Sewktu berangkat ke Surabaya, ingat nggak kamu sama perusahaan? Sama keluargamu, kakekku, yang paling penting sama perasaanku? Ingat nggak?!” “Aku---“ “Nggak ingat kan?!” Evan belum pernah melihatnya kehilangan kesabaran seperti ini, dia  mengerutkan kening dan menautkan alisnya, tidak tahu bagaimana harus menghadapi orang sabar yang marah selain diam dengan isi kepala yang tidak berhenti berpikir. Mengetahui bahwa tunangannya dan Nicholas sudah menikah, dia belum bisa menerimanya. Di dunia ini, tak ada satu laki-laki pun yang bisa tenang saat tahu kekasihnya menikah dengan laki-laki lain meskipun itu cuma pernikahan palsu. Tetapi, mau tidak mau, suka tidak suka, Evan harus menerima dan mengerti kenapa Cecille menikah dengan orang lain. Karena ini langkah tidak berdayanya dalam situasi sulit yang wanita itu hadapi, dan Evan sadar, ketidakhadirannya yang tidak disengaja yang menyebabkan situasi ini terjadi. Memikirkan hal ini, Evan  menurunkan nada suaranya dan mengulurkan tangan untuk memegang tangannya,  "Ce, aku minta maaf, oke? Harusnya aku buru-buru pulang, tapi Anye dia—" "Cukup, aku nggak tertarik dengan masalah kalian!" Cecille tiba-tiba menampar tangannya dengan suara dingin Ketika Evan menyebut nama Anye, Cecille secara reflex menolak untuk mendengar. Dia tidak mau terlibat dan kembali masuk ke dalam suasana menyesakkan dari perselisihan yang dulu. Dia sudah berhasil melarikan diri  dengan menikahi Nicho, dan tidak berminat menghadapinya lagi. Evan mengamati tunangannya yang bersandar di sofa menutup kedua matanya yang lelah.    Dia  mengira Cecille tidak mau mendengar penjelasannya karena dia masih marah. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah, pergi dari sini dan membiarkan wanita muda itu sendirian. Biasanya, setelah emosinya mereda dan kepalanya dingin, nanti dia baik sendiri melupakan perselihan, menghubunginya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Begitulah pola hubungan mereka sejak kembali ke Jakarta. Berantem, diam, baikan, lalu lupakan. Evan melirik alisnya dengan ringan, dan berkata dengan empati, “Kamu istirahatlah dulu. Jangan khawatirkan hal lain.” Cecille menghela napas lega. Akhirnya manusia ini pergi, dia bisa mengganti kata sandi apartemennya , lalu tidur. Ketika dia menunggunya segera keluar, Cecille mendengar Evan berkata lagi. “Jangan temui Nicholas lagi. Biar aku yang menemui dia besok.” Kelopak mata Cecille segera terbuka, “Buat apa kamu nemuin dia?” Seolah akhirnya membuat tekad, Evan menarik napas dalam-dalam, “Aku mau ngasih dia sejumlah uang sebagai tanda terima kasih karena sudah mau menolongmu. Sekalian minta dia menandatangani surat pembatalan pernikahan!” Cecille menegakkan punggung, sedikit mendongak untuk melihat mantan tunangannya, “Nggak usah ikut campur urusanku, dan aku nggak berniat batalin pernikahan kami!” “Kamu harus batalin, setelah ini aku akan memberimu pernikahan yang berkesan.” “Evan, kamu lupa?Cecille memberi pria itu tatapan mencemooh, “Kamu sudah ngasih aku pernikahan yang berkesan, dan nggak akan bisa aku lupain seumur hidup. Aku bukan orang yang serakah, sekali cukup buatku. Jangan lupa, aku wanita bersuami sekarang!” Evan  hanya merasa bahwa hatinya dipegang dengan keras, dan itu penuh dengan masam, “Ce, yang kamu nikahi itu Nicholas!” Cecille mengangkat matanya ke mata Evan, dengan sedikit mengejek, “Masalahnya dimana?” “Dia nggak pantas buatmu! Keluarganya hampir bangkrut, kerjaannya nggak jelas, kasar---“ “Berhenti menghina suamiku!” dia menunjuk ke pintu keluar yang belum sepenuhnya tertutup "Kamu bisa pergi sekarang, dan aku akan mengubah kata sandinya, tapi aku harap kamu tidak datang lagi di masa depan!” *** Nicholas menurunkan Cecille di lobi depan gedung apartemen tempat tinggalnya. Dahinya yang halus sedikit terlipat saat melihat unit milik Cecille lampunya menyala. Tetapi dia mengabaikan itu dan mengira saking senangnya mau menikah, dia lupa mematikan lampu sewaktu berangkat ke resort tempat acara. Lumayan lama juga Nicho di sana, duduk dalam mobil melihat ke kamar Cecille. Kegiatan itu sudah seperti ritual buatnya. Saat memundurkan mobil, dia melihat ke belakang, dan menemukan kotak thermal milik Cecille tertinggal di bangku belakang. Matanya yang dalam berkilat senang. Dia segera mengembalikan mobilnya ke posisi parkir, mengambil kotak itu dan naik ke atas. Ketika pria itu keluar dari lift dan berjalan ke unit yang di tuju, dia menemukan pintu tidak sepenuhnya tertutup, dan Nicho menyadari ada Evan di sana.   Dia tidak khawatir tentang Evan atau apa pun di hati Cecille, tetapi si sana cukup lama sebelum akhirnya bergegas pergi. Nicho melihat bahwa lampu di unit Cecille akhirnya mati, dan kemudian melihat Evan mengendarai mobilnya pergi dari sana. Mata pria itu  sedikit menyipit dan dia menyalakan mobil dan mengikuti dengan pelan. Nicholas tahu dimana Evan tinggal, tetapi dia masih mengikuti dengan sabar sambil sesekali mengirim pesan. Supaya tidak ketahuan sedang dikuntit, NIcho menjaga jarak sejauh mungkin.   Evan tinggal di apartemen mewah yang keamanan dan privacy penghuninya di jaga ketat, dan Nicho yang tidak bisa masuk menunggu sejauh seratus meter dari pintu pemeriksaan, Setelah menunggu selama sepuluh menit, Fortuner hitam berhenti di sebelah Sigra yang ia kendarai. Nicho masuk ke kursi di sebelah kiri pengemudi. “Ada ‘kan?” tanyanya tanpa ada basa basi. Pria muda yang mengendarai mobil mengangangguk, “Beres, untungnya belum diturunin.” Di depan gerbang tempat pemeriksaan, fortuner berhenti. Setelah kartu tanda penghuni bisa di scannig barulah mereka diijinkan masuk. “Hati-hati, Pak, ada pemeliharaan di tempat parkir khusus penghuni lantal lima belas sampai dua puluh.” Security memberi tahu. “Oke, Terima kasih, Pak infonya.” Mobil berukuran besar  itu memutari tempat parkir dua kali sebelum akhirnya Nicho menyuruh berhenti. “Stop di sini aja, Nggo.” Setelah mobil berhenti, Nicho berjalan di belakang mobil tanpa ekspresi, memberi perintaha supaya Inggo mengeluarkan barang yang ia minta. Itu alat pancing dan satu set kail dengan macam-macam ukuran. Inggo penasaran, Nicho mau apa, tetapi pemuda itu segan bertanya. NIcho menyipitkan matanya, mengeluarkan sekitar dua puluh kail pancing yang  paling tebal dari dalam, pura-pura tidak ada apa-apa, dan berjalan santai mendekati mobil Evan, keluaran terbaru mobil Eropa yang mahal. Nicho mencibir, begini nih,  resiko jadi orang kaya, mobilnya gampang di kenali. Melihat ke sekeliling, tidak ada siapa-siapa, dengan cepat mengambil pancing dan mengikat ban mobil Evan dengan kuat, dan menusuknya dengan puluhan kail pancingan. Setelah menariknya keluar, dia menendangnya beberapa kali lagi, memastikan ban sudah benar-benar kempes, setelah menghapus semua jejaknya. Dia menyuruh Inggo mengganti mobil yang barusan mereka kendarai. Kemudian pergi tanpa beban perasaan bersalah.     .****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN