OwG 23

1607 Kata
Villa  keluarga liemanto mencakup area yang luas. Masing-masing cucunya punya bungalo yang terpisah dari villa utama, termasuk Anye yang dibuatkan satu bungalow oleh Clara. Tentunya setelah dia mengeluh merasa tidak nyaman datang ke villa Liemanto karena tidak tahu dimana dia harus tidur. Bukan perkara mudah bagi Clara mendapatkan ijin membangun satu bungalo tambahan untuk Anye dari ayahnya. Liemanto selalu mempertimbangkan perasaan Cecille ketika memutuskan sesuatu. Apalagi ini menyangkut Anye. Liemanto tahu bagaimana perasaan Cecille terhadap Anye, biarpun mereka terlihat tidak ada masalah di permukaan, mereka berdua bersaing sengit, terutama bersaing memperebutkan perhatian dan kasih sayang orangtua dan saudara laki-lakinya. Cecille mulai sadar bahwa usahanya sia-sia, dan akhirnya memilih menyerah dan meninggalkan lingkaran persaingan itu, sejak dia dan Anye  diculik beberapa tahun yang lalu. Hal itu jugalah yang membuat Liemanto menolak permintaan Clara untuk membangun satu bungalo lagi di tanahnya buat Anye. Pada saat itu, Liemanto juga memberitahu Clara untuk tidak terlalu dekat dan menyayangi Anye untuk menjaga perasaan Cecille. Tetapi pada saat itu, Clara mengemukakan alasan yang sedikit menusuk. “Pah, Anye itu aku yang rawat dari kecil, aku yang besarin. Kita besarin kucing dari bayi aja pasti sayang sampai gede, ini lagi manusia. Nggak mungkin lah kalau nggak sayang apalagi Anye ini masih keponakan Har, dia nggak punya siapa-siapa lagi. Kita orang nggak bisa nyuekin dia gitu aja!” “Papa paham. Nggak masalah kamu orang pada sayang sama Anye. Tapi gimana sama Cecille? Dia anak kamu juga, Ra.” “Dari pada anak, aku sih kayak lebih nganggep dia sebagai adek.” Ketika melihat wajah gelap ayahnya, dia segera menambahkan, “Jangan salahin aku nganggep dia begitu, kan papa yang nggak kasih aku rawat dia. Dari umur setahun Cecille sudah papa ambil, dan aku dapetin Anye. Jadinya impas kan?”      Hubungan baik ayah dan anak itu sempat tegang untuk beberapa saat. Sampai akhirnya Cecille mengajak kakeknya mengobrol, dan di akhir dia  bilang begini. “Ya udah Kong, kasih aja kalau mami mau buat bungalow satu lagi buat Anye lagian  tanah di sini masih cukupkan buat bikin sepuluh lagi? Atau kita buat aja yang banyak, biar kita bisa buka tempat peristirahatan sekalian?” “Masalah bungalow selesai dengan mudah setelah dia bilang begitu.” Kata Liemanto sembari menunjuk ke arah bukit “Cecille punya yang ada di sana, dan itu yang paling banyak disewa buat bulan madu. Sama dia dirapiin lagi, katanya buat ambil foto pre wedding.” Saat mengatakan itu, Liemanto terkekeh.  Nicho menoleh di sepanjang garis pandang lawan, mata persik itu menyeduh kelembutan yang memanjakan, tetapi suaranya tenang dan ringan, “Otak bisnisnya memang nggak diragukan lagi.” “Kamu juga bisa,” Liemanto menepuk bahu Nicho dengan keras, “Nggak ada salahnya suami belajar bisnis dari istri, nggak usah gengsi. Nggak ada yang tahu nasib orang ke depan, asal kamu rajin, ulet. Akong  yakin, kamu bisa berkembang.” Nicho hanya terdiam. “Tetapi Cecille, anak itu kasihan.” Liemanto mendesah, napasnya terasa berkat karena batu berwujud perasaan  bersalah dan menyesal menghimpit hati dan jantungnya. Setiap kali ingatannya kembali ke masa lalu, orang tua itu akan dihantui penyesalan dan perasaan bersalah kepada cucunya.   “Semua orang menganggap Anye yatim piatu, dan memperlakukannya sebagai gadis lemah yang harus selalu di lindungi. Tetapi…sebenarnya yang pantas dibilang yatim piatu Cecille, dia nggak punya orangtua selayaknya orangtua. Itu semua karena kesalahan Akong, umur orang nggak ada yang tahu. Kalau akong mati, dia sendiri.” Nicho  tidak menjawab untuk waktu yang lama, dan Cecille yang tidak sengaja mendengar ucapan itu beranjak dari tempatnya menguping dengan mengusap sudut matanya yang berair. Pada saat itu dia mendengar Nicho berkata, “Dia masih punya aku. Akong jangan khawatir, Cecille sekarang tanggung jawabku.” Senyum diwajah keriput merekah, “Bagus, bagus. Akong bisa mati dengan tenang.” “Apanya yang tenang?” Kepala Cecille muncul di pintu, “Ayo, makan.” Bu Narti menata meja di halaman belakang, dekat kolam ikan koi. Ada dua sup, satu sayuran tumis, ayam goreng, dan ikan asam manis yang semuanya menggugah selera. Nicho duduk di sisi kanan Cecille, kakek yang duduk berhadapan, memandang keduanya dengan senang. “Ayo, Nicholas, cicipi semua. Kamu beruntung hari ini bisa icip masakan Cecille. Kamu nggak tahu kan kalau istrimu pintar masak? Rasanya enak, sayangnya dia males.” “Aku  tahu, aku sudah makan masakannya.” Cecille sedang menuang sup, ketika mendengar itu gerakan tangannya berhenti, kepalanya yang cantik menggeleng ke sisi kanan, pandangannya menyeledik. “Jangan karang, aku nggak pernah masak buat orang lain selain kakek.” Dan  NIcho menjawab dengan santai, “Bekalmu di laci, itu aku yang memakannya.” Cecille ingat, karena malas pergi ke kantin saat jam istirahat, dia bangun pagi-pagi buat bikin bekal makan siang. Karena dia ketua kelas, setiap kali kelas berakhir, dia pergi ke kantor guru untuk membawakan tugas siswa. Dan setiap dia balik ke kelas, bekalnya hilang, yang hilang cuma setengah. Setelah bertahun-tahun, akhirnya si pencuri mengaku. “Jadi itu kamu? Orang yang tega bikin aku kelaparan?” NIcho menelan makanannya sebelum menyahut, “Kan selalu aku sisain setengah.” “Siapa yang mau makan sisaan orang nggak jelas!” Gerutu Cecille, kemudian dia ingat satu bagian. Pernah saking  kesalnya masakannyan dia kasih garam banyak-banyak, dan anehnya setiap kalui masakannya sengaja dia buat keasinan atau terlalu pedas, bekal yang ia bawa habis. “Kenapa waktu itu bekal yan enak kamus sisain? Yang lain kamu habisin?” Nicho mengangkat matanya sedikit dan bertanya, “Yang kadang asin, kadang pedas, atau nggak ada rasa itu?” Cecille mengangguk. “Iya yang itu.” “Itu sengaja aku makan semua biar  kamu nggak makan.” Cecille  menatap Nicho dengan heran, “Kenapa begitu?” “Kalau yang nggak enak kamu makan, nantinya sakit perut, kamu nggak masuk, aku nggak bisa makan gratis lagi dong.” Jawaban macam apa itu? Mendapat jawaban yang menurutnya mengesalkan itu, Cecille mendengkus, “Dasar!” Kakek Cecille  dalam suasana hati yang baik, dan wajahnya yang pucat gembira. Dia tertawa dan bertanya, “Dimana rencananya kalian tinggal?” “Tempatku!” sahut Nicho. “Apartemenku!” kata Cecille. Dua orang itu bertukar tatapan, sebelum pertanyaan kembali terlontar keluar “Aku nggak sudi ke tempatmu?” “Aku nggak mau tinggal di apartemenmu!” Lagi-lagi Liemanto terkekeh, “Oke, diskusikan baik-baik mau dimana. Yang penting suami istri bersama, kalau nggak ada jalan keluar, pilih salah satu rumah Akong.” Nicho buru-buru menolak, “kalau sekadar rumah sederhana aku punya, tapi kalau Cecille mau yang besar, aku akan usahain buat dapatinnya, ini sudah kewajibanku. Nggak mungkin aku bebanin orang tua.” Liemanto menggut-manggut. Orang tua itu semakin tua dan sakit lagi. Setelah makan, duduk dan berbicara sebentar, dia tidak bisa menahan diri untuk tidur. Perawat yang menjaganya bilang,Liemanyo bangun pagi-pagi hari ini, dan dia mungkin akan tidur sampai malam.   Setelah minum teh sore, keduanya menaiki mobil Nicho untuk pulang. Dalam perjalanan kembali, Cecille tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata, “Sebaiknya kita tinggal di apartemenku.” “Aku nggak suka tinggal di apartemen. Pengap!” “Oke, kalau gitu dimana rumahmu?” Nicho menyebutkan nama kelurahan, dan Cecille langsung mengeluh, “Itu jauh banget, Nicho. Makan waktu banget Dari sana ke kantorku!” Nicho meliriknya dan berkata dengan ringan, "Sebutkan criteria rumah yang kamu mau, nanti aku yang cari.” “Daripada ngontrak, buang-buang duit. Mending kita tinggal di apartemen, toh pernikahan kita ada jangka waktunya.” Bulu mata Nicho bergerak sedikit, dan dia terdiam sejenak, suaranya dingin ketika dia berkata,  "Kita menikah belum ada dua hari, jangan bahas perceraian.” Cecille tidak mau kalah, “Bagaimanapun, perjanjian tetap harus di buat, dan  disitu harus ditulis jangka waktunya.” Setelah berkata begitu, dia melirik ke sebelahnya. Cahaya bersinar melalui tirai mobil di batang hidung yang lurus, mencetak visual yang memanjakan mata. Tetapi alis dan matanya terlihat lelah. Ya, pernikahan itu sibuk sepanjang hari, dan dia lelah karena kurang tidur sepanjang malam. Lalu menyetir  sendiri  ke rumah kakeknya. Masih bagus dia nggak tepar. Nicho  menoleh dan melirik Cecille yang mencemaskannya, lalu bibirnya yang ceroboh tertawa kecil dan berkata, “Jangan lupa, janjimu yang mau ngasih apapun yang aku minta.” Cecille mengerutkan bibir bawahnya dan bertemu dengan pandangan lawan, “Jangan memakainya buat menolak cerai, aku nggak mau!” Saat mobil berhenti di lampu merah jalan simpang empat, Nicho menoleh, menatapnya dengan matanya yang gelap, dan sudut  bibir yang terangkat. “Aku nggak selicik itu.” Ketika dia berkata begitu, barulah Cecille menarik napas lega. Mobil maju perlahan ketika melewati pos pemeriksaan, ketika Nicho mengantarnya kembali ke apartemen, waktu sudah menunjukkan jam sepuluh. . Cecille menyeret kakinya dan badannya yang kecapekan. Satu-satunya yang mau dia lakukan adalah, membersihkan tubuhnya yang lengket, gosok gigi, lalu tidur nyenyak sampai besok  siang. Cutinya masih ada tiga hari, jadi dia bisa santai tanpa harus dikejar pekerjaan. Matanya sisa lima watt saat tangannya menekan kata sandi, setelah beberapa kali  di tekan, ada bunyi ‘pip’ dan pintunya terbuka. Setelah mengganti sepatunya dengan sandal rumah, dia biasanya langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tetapi baru beberapa langkah, kakinya berhenti ketika menyadari lampu tengah apartemen yang seharusnya mati sudah menyala. Matanya yang setegngah mengantuk membulat saat  mendapati punggung  tegap yang berdiri membelakanginya. Cecille mengutuk pelan. Dia tahu begitu pulang dari Surabaya Evan pasti mencarinya. Tetapi dari banyaknya waktu,, kenapa dia harus datang malam ini? Dengan enggan Cecille melangkah masuk. Pria itu masih berdirin di depan jendela yang menghadap lobi dengan posisi membelakanginya, kepalanya sedikit menunduk dan melihat ke bawah, Mendengar pintu terbuka dan langkah kaki yang mendekat di belakangnyam, pria itu  perlahan-lahan berbalik, alis dan matanya yang biasanya lembut terlihat berkerut. Tatapannya menyelidik saat dia bertanya dengan suara yang dingin. "Cecille, bisa kamu jelaskan kenapa Nicholas yang mengantarmu pulang?”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN