Karena tidak membawa mobilnya ketika pindah, Cecille tidak menolak Nicho yang menawarkan diri untuk mengantarnya ke kantor.
“Aku nganggur.” Katanya tadi, tidak memberi kesempatan Cecille untuk menolak, dia mengatakan satu alasan yang masuk akal, “Sebagai pasangan yang tiba-tiba menikah, kita harus memainkan pasangan yang penuh kasih sayang di depan publik supaya nggak ketahuan ini settingan.”
Sepanjang jalan, tidak ada satupun obrolan yang keluar dari mulut mereka.
Cecille bersikap acuh tak acuh sejak dia duduk di kursi sebelah sopir.
Nicho melihat ekspresinya, lalu dalam hatinya memutusan, dalam situasi begini sepertinya jauh lebih baik kalau diam.
Mobil melaju di jalan raya dan berhenti di depan gedung perkantoran milik Liemanto. Kawasan perkantoran yang dulu dikembangkan Moderna, letaknya di pusat kota dan bisa diibaratkan sebagai segitiga emas.
Ketika Cecille membuka sabuk pengamannya, Nicho membuka mulutnya, “Kasih kabar kalau sudah mau pulang.”
Setelah itu, dia mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan kartu kredit tambahan kepada Cecille.
Cecille tidak mengambilnya, dan menolak, "Buat apa, aku punya uang."
Nicho terkekeh dan mengangkat alisnya, alisnya terkulai, dan dia berbicara dengan acuh tak acuh, “Kita sudah sepakat membagi kerjaan rumah, dan tugasku buat cuci piring. Belilah piring atau apapun yang kamu butuhkan, dan bayar pakai kartu ini.”
Itu terdengar seperti, bersiaplah aku akan menghancurkan semua barang pecah belah yang ada di dapur.
“Kamu tau nggak berapa harga barang itu per itemnya?”
Nicho mengangkat kedua bahunya seakan tidak peduli, “Jangan khawatir masalah harga, berapapun itu pasti ku bayar. Aku nggak mau lihat tampangmu yang terus-terusan cemberut cuma gara-gara piring.”
“Yaah, awas aja kalau aku ikutan dikejar debt collector!” Cecille memasukkan kartu panas ke dalam tasnya.
“Nggak akan,” Nicho ketawa, “Aku sudah masukin nomor Marcell buat kontak yang bisa dihubungi.”
Cecille memiringkan kepalanya untuk melihat ke samping, Nicho sudah membuka pintu dan keluar lebih dulu, kemudian dia melewati bagian depan mobil untuk membukakan pintu buatnya.
Wanita itu menatap profil pahatannya untuk beberapa saat, lalu mengedipkan mata dengan sangat lambat.
Dia dan pria ini sudah saling kenal selama lima atau enam tahun, dan mereka telah menjadi teman sekelas selama dua tahun.
Dan baru dengan Nicho lah dia mendapat perlakuan seperti ratu.
“Kamu langsung pulang?”
“Aku ada janji dengan teman.”
Pria itu menggeleng dengan santai, ekspresinya acuh tak acuh, dan dia sepertinya tidak berniat melaporkan jadwalnya. Jadi Cecille tidak bertanya lebih jauh.
Perasaannya bilang, Nicho akan menemui wanita yang dia bicarakan di telepon tadi pagi.
Setelah berdiri di sana menyaksikan mobil yang mengantarnya pergi, Cecille berbalik dan berjalan ke gedung Liemanto.
Tidak punya waktu untuk menyapa orang, dia segera masuk begitu pintu lift terbuka.
ketika Cecille memasuki ruangannya, karyawan melihatnya dengan sorot mata yang terang-terangan menunjukkan rasa kasihan.
Tentu saja dia sudah siap untuk menghadapi ini. Meskipun temperamennya yang arogan sudah dipermalukan karena pernikahannya, kebanggaan di tulangnya tidak dapat ditusuk, apalagi dikasihani oleh orang lain.
Mengangkat dagunya sedikit, dan bertanya kepada orang-orang itu dengan sedikit senyum, “Kenapa? Kalian belum pernah melihatku sebelumnya?”
Satu dari mereka tersenyu, dan menyapa Cecille, “Cici udah masuk ternyata. Kami kira cutinya masih lama.”
Yang lain ikut tersenyum, mengubah wajah mereka lebih cepat daripada membalik buku
Cecille berkata dengan santai, “Cuma nikah, ngapain cuti lama-lama.”
Hanya sekretaris yang berani datang, tersenyum, dan bertanya sambil bergosip, “Cici diantar suaminya ya? Aku tadi lihat di bawah, ganteng juga ternyata.”
Cecille melangkah ke ruangannya ketika menjawab, “Cakep apanya? Biasa aja deh perasaan.”
Alina membuat wajah mabuk dan berkata pada dirinya sendiri, "Cakep tau, Ci. Tau nggak, waktu tadi dia turun bukain pintu buat cici, hati ini langsung mleyot lihat kegantengannya.”
Cecille merinding entah kenapa, dia duduk di kursinya dan menatap sekretarisnya dengan serius, "Alina, percaya nggak, kalau kamu terus mengoceh di sini dan nggak segera pergi bekerja, aku akan memotong gajimu?"
Mendengar ancaman Cecille, Alina nampak tidak berdaya, kenapa bos nya ini pelit?
Pada saat dia mengeluh, interkom telepon di atas mejanya berbunyi.
“Halo, Alina di sini… oh iya, jam berapa?” Sambil menjepit telepon diantara telinga dan bahu, dia mengetik di laptop, “Oke, nanti saya sampaikan.”
Segera telepon ditutup, lalu dia memberitahu Cecille, “Ada meeting di ruangan Pak Hartono.”
“Terus?”
“Katanya Mbak Mielda, Cici di suruh naik dan ikut.”
Ekspresi Cecille agak sangsi. Setelah menyelesaikan sekolah dan masuk ke perusahaan, Cecille menjabat sebagai wakil direktur di perusahaan.
Yang paling terkenal di bawah Grup Liemanto adalah perhiasan, dan Perhiasan Mutiara mereka sudah terkenal lebih dari setengah abad.
Di bawah manajemen Hartono, Grup Liemanto juga mulai terlibat dalam bisnis barang mewah termasuk tas dan jam tangan mewah di tahun-tahun awal.
Sekarang perusahaan sudah menjadi kolega bisnis beragam merek fashion mancanegara. Dengan segala produk berkelas yang ditawarkannya, tampak jelas ia membidik target market masyarakat menengah ke atas, terutama kaum hawa.
Parfum, tas, perhiasan, dll., kini telah menjadi kekuatan utama penjualan harian Liemanto.
Kini mereka sudah memiliki Mall yang ada di kota-kota besar di Indonesia.
Meskipun Cecille adalah wakil direktur, Hartono tidak pernah membiarkannya campur tangan dalam bisnis penting. Semua ditangani langsung oleh Hartono dan orang-orang kepercayaannya yang senga ditempatkan di posisi strategis menggantikan orang kepercayaan kakeknya.
Dan Cecille diabaikan sampai dia memberi kabar akan menikah dengan Evan.
Mau tahu apa yang akan dilakukan oleh ayahnya, Cecille segera beranjak dari tempatnya dan membawa alat perekam ke ruang rapat.
Bukan hanya perusahaan Liemanto yang hari ini sibuk.
Salah satu perusahaan rintisan e-commerce dan game yang sedang naik daun juga tidak kalah sibuk. Datangnya bos besar secara tiba-tiba menyebabkan pertanyaan diantara para karyawan.
Nicho selalu bertanggung jawab di balik layar, dia tidak akan pernah muncul meskipun keadaan mendesak. Dia menyerahkan urusan yang berhubungan dengan publik ke tangan Marcel.
Gadis-gadis muda di perusahaan menjadi lebih aktif, hanya ingin melihat penampilan bos besar dengan matanya sendiri.
Beberapa pegawai berkumpul di pantry, berebut ingin membuatkan kopi untuk bos besar.
Pada saat ini, Rachel , yang mengenakan gaun putih, melangkah maju, dan dia cantik dan anggun. Dia mengerut kan bibirnya sedikit, mengambil kopi dan berkata, “Aku yang akan mengantarnya. Kalian kembali kerja!”
Para gadis segera berkecil hati dan menatap punggungnya.
"Aku benar-benar iri, aku harus bekerja keras untuk dipromosikan untuk bertemu bos besar, dengar-dengar dia ganteng banget!"
"Katanya bos besar baru saja menikah.."
"Kata siapa? Kok kita nggak diundang ya—"
“Kemarin aku nggak sengaja dengar Ko Marcell bilang gitu ke tim IT.”
"Kalau beneran sudah nikah, kok Rachel masih caper ya? Atau dia lagi cari celah buat masuk?”
Rachel membawa kopinya ke ruang rapat.
Hanya ada sedikit orang yang duduk melingkar di sekitar meja, dengan masing-masing laptop yang menampilkan profil selebriti dan selebgram yang akan dikenalkan sebagai Brand Ambassador baru saat Big Sale TV Show pada malam puncak 11.11 yang mengusung NCT sebagai bintang tamu utama.
Yang paling mencolok adalah pria yang memakai hoodie abu-abu duduk di sudut seolah tidak mau terlihat. Matanya yang langsing tampak lengah, tidak tahu apa yang dia pikirkan.
“Siapa yang ngide masukin Kareen?”
Pertanyaan Marcel dijawab sendiri oleh pelakunya, Rey, “Dia dimasukin karena pertimbangan jumlah pengikut di media sosialnya. Sekarang ini, anak muda mana sih yang nggak follow Aw Karrung?”
“Aku nggak.”
Respon yang menjatuhkan itu segera mendapat balasan yang tidak kalah kejam, “Aku bilang anak muda, bukan fosil tua berumur duapuluh delapan tahun kayak kamu.”
“Hei! Jangan salah, gini-gini aku sering dikira masih SMA, nggak kek kamu.”
Sebelum debat kusir itu semakin panjang, Marcel segera menjadi penengah.
“Fokus ke kerjaan!” Dengan satu kali klik dari Marcel, profil Kareen Novina menghilang dari daftar, “Sorry, Rey, yang ini skip aja. Pengikut Kareen memang banyak, tapi sensasi yang dia buat selalu bikin ibu-ibu yang punya anak gadis ngucap amit-amit. Menurutku dia nggak cocok buat target pasar kita.”
“Vania Rahel?”
“No, publik speakingnya nggak bagus.”
Dari enam nama berkurang menjadi dua, empat menjadi tiga, dan akhirnya mengerucut menjadi dua orang.
“Tinggal Sabria Konno dan Anye Tan. Selisih pengikut mereka nggak terlalu jauh, Anye unggul di sss, sarangnya ibu-ibu dan bapak-bapak yang main media sosial, tapi video Sabria belakangan ini menguasai Fyp TikTok.”
Marcel memutar-mutar pena di tangan kanannya saat menjelajah internet, mencari berita terbaru tentang Anye dan Sabria.
Yang mengherankan adalah, dengan tersebarnya berita batalnya pernikahan Evan karena Anye sebagai orang ketiga, tidak membuat gadis itu di hujat.
Entah karena manajemennya yang pintar menangani berita buruk, atau memang Anye yang disukai. Netizen yang biasanya sadis seperti memaklumi Anye, dan berkata cinta sejati akan selalu menemukan jalan pulang.
“Menurutku yang paling cocok Anye Tan. Dia masuk ke semua segmen pasar, tapi…”
Sengaja memotong kata-katanya, Marcel menatap Nicho untuk mendengar bagaimana pendapatnya, “Nggak akan ada masalah denganmu kan, Bro?”
Kelopak mata Nicho terangkat malas, “Apa hubungannya denganku!”
“Bukan sama kamu, tapi istrimu.” Marcel menyusun kata-katanya, “bukan rahasia lagi istrimu gagal menikah karena Anye, tapi perusahaan malah pilih dia sebagai BA. Bagaimana kalau istrimu tersinggung?”
“Dia nggak akan tersinggung.” Nicho bersandar acuh tak acuh.
“Jadi dia sudah maafin Anye?” pertanyaan itu mewakili yang lain.
“Keren ya, nggak semua orang bisa maafin orang yang bikin Malu dan sakit hati.”
“Bukan,” Nicho meluruskan, “Itu karena dia nggak tahu aku ikut terlibat di perusahaan ini.”
Jawaban yang mengejutkan semua orang.
Semua pertanyaan yang siap keluar tertahan karena bunyi notifikasi yang berasal dari ponsel milik Nicho.
Dia menatap layar ponsel untuk waktu yang lama, dan bahkan dengan perilaku aneh itu, Marcel juga lupa apa yang dia mau tanyakan dan diam-diam pandangan mengarah ke arah Nicho yang lagi senyum-senyum melihat layar ponsel.
Yang lain juga melihat ke arah pria itu, termasuk Rachel , yang memasuki pintu, dan dengan hati-hati menarik beberapa helai rambut, sehingga dia terlihat lebih menggoda.
Jari-jari ramping NIcho dengan cepat mengetik beberapa kali pada layar ponsel dan mengklik pesan untuk mengirimnya.
Dia perlahan mengangkat kepalanya, menghadapi tatapan sekelompok pemakan gosip, ekspresinya jelas, "Aku pergi, kalian nggak usah lembur malam ini."
“Punya acara apa, Bos? Kenapa terburu-buru?” Pertanyaan Marcel mewakili suara para bujangan.
Melihat ekspresi bawahannya yang luar biasa, Nicho menunjukkan pemberitahuan pada layar ponselnya, dan mengangkat alisnya dengan sengaja,
"Pulang, dan menjemput istriku yang sedang berbelanja.”
Para bujangan yang masih jomlo tercekik, dan kemudian melolong dengan mengenaskan.
"Ya Tuhan, itu cuma pemberitahuan transaksi, tapi Bos langsung buru-buru menjemput. Apa dia sudah berubah jadi b***k cinta?”
"Setelah belanja, apa kalian langsung pergi kencan, makan atau nonton gitu?”
Namun, pihak lain jelas tidak ingin mendengar jawabannya Setelah menghela nafas, NIcho dengan lembut menggelengkan kepalanya—
Inggo yang tahu bagaimana enggannya Cecille waktu diajak pindah langsung menjentikkan jarinya, “Sudah ku duga. Cici nggak suka kelihatan berduaan sama Ko Nicho.”
“Siapa yang bilang?” Dia berhenti, lalu pamer dengan berkata, “Kami lebih suka menghabiskan waktu berduaan di rumah. Dia yang masak, aku bagian cuci piring. Setelah itu kami menghabiskan waktu dengan ngobrol atau nonton TV.”
Sekelompok jomlo dari lahir menangis dan melolong. Setelah memasuki industri It, waktu mereka dihabiskan di depan komputer untuk pengembangan sistem jaringan, mereka juga ingin menikah, tetapi lebih gampang menemukan istri virtual di dunia maya daripada di dunia nyata.
Hanya Rachel memegang cangkir kertas kopi di tangannya, dan suhu panas dari air yang baru mendidih sangat tinggi membuat telapak tangannya panas untuk sementara waktu, tetapi dia tidak menyadarinya, dan senyumnya agak kaku.
“Bos, memangnya kamu tau cara mencuci piring?”
Nicho mengingat nasib piring-piring tadi pagi lalu menjawab, “Kenapa nggak bisa? Itu pekerjaan paling gampang.”